Kampanyekan Hidup Sehat Bebas Narkoba, 234 SC dan BNN Sleman Gelar Sembada Padel Cup 2026

Sleman – Organisasi kemasyarakatan 234 Solidarity Community (234 SC) Sleman menggandeng Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sleman menggelar turnamen olahraga Sembada Padel Cup 2026. Kompetisi ini diselenggarakan di Kabupaten Sleman pada Kamis (9/7/2026) dalam rangka memperingati Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2026.

Agenda ini dirancang sebagai bentuk sinergi antara komunitas, instansi pemerintah, dan sektor swasta dalam mengampanyekan gaya hidup sehat. Melalui cabang olahraga padel yang tengah naik daun, penyelenggara membidik partisipasi generasi muda agar menjauhi jerat penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang.

Ketua 234 SC Sleman, Marwan Arief Budiman, menegaskan bahwa Sembada Padel Cup 2026 merupakan manifestasi dari komitmen organisasi dalam menekan angka peredaran gelap narkoba di wilayah Sleman. Mengarahkan energi pemuda ke lapangan olahraga dinilai jauh lebih efektif dibanding sekadar sosialisasi satu arah.

“Kami percaya bahwa olahraga bukan hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana membangun karakter, mempererat persaudaraan, serta mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memilih gaya hidup sehat dan menjauhi narkoba. Semoga kegiatan ini menjadi inspirasi bagi berbagai komunitas untuk turut berpartisipasi dalam mewujudkan Indonesia Bersinar,” ujar Marwan Arief Budiman saat memberikan keterangan pers.

Pandangan senada diutarakan oleh Panitia Pelaksana, Kiagus M. Fakhri. Dirinya menekankan bahwa peringatan HANI 2026 tidak boleh terjebak dalam acara seremonial tahunan belaka. Lewat kompetisi ini, ia berharap kepedulian publik terhadap pencegahan bahaya narkotika dapat terus terjaga di kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Kepala BNN Kabupaten Sleman, Teguh Tri Prasetya, menyampaikan apresiasi atas inisiasi gerakan anti-narkoba berbasis olahraga masyarakat ini. Menurutnya, BNN tidak dapat bekerja sendiri dalam memutus rantai pasok narkotika tanpa adanya intervensi dari kelompok masyarakat sipil dan dunia usaha.

“Upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika memerlukan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat melalui berbagai pendekatan, termasuk kegiatan olahraga yang mampu menjauhi berbagai kalangan. Semangat HANI 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas, berprestasi, dan bebas dari narkoba,” kata Teguh Tri Prasetya.

Gerakan sosial ini turut disokong penuh oleh Axeron sebagai sponsor utama. Pemilik Axeron, Sobri Emiga Sando, menyatakan bahwa sektor swasta memikul tanggung jawab moral untuk mendanai ekosistem kegiatan yang memberikan dampak transformatif yang menyehatkan masyarakat.

“Axeron bangga dapat menjadi bagian dari kegiatan ini. Kami berharap kolaborasi antara komunitas, pemerintah, dan sektor swasta dapat terus terjalin dalam menghadirkan program-program yang bermanfaat, sekaligus mendorong masyarakat untuk hidup sehat, aktif berolahraga, dan menjauhi penyalahgunaan narkotika,” ungkap Sobri Emiga Sando.

Turnamen yang berlangsung kompetitif tersebut ditutup dengan apresiasi tinggi dari jajaran 234 SC Sleman kepada seluruh panitia, sponsor, dan mitra yang terlibat. Sembada Padel Cup 2026 diharapkan dapat menjadi barometer kolaborasi berkelanjutan demi menciptakan ruang publik di Kabupaten Sleman yang produktif, sehat, serta bersih dari penyalahgunaan narkoba.




Cegah Stunting Balita, Banyuraden Lakukan Intervensi Gizi

Sleman – Pemerintah Kalurahan Banyuraden terus memperkuat upaya peningkatan kesehatan masyarakat melalui program pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita dan lanjut usia (lansia) sebagai bagian dari intervensi gizi untuk mencegah stunting serta meningkatkan kualitas kesehatan warga. Program tersebut disampaikan berbarengan dengan penyerahan sarana dan prasarana bagi Juru Pantau Jentik (Jumantik) se-Kalurahan Banyuraden, di Ruang Rapat Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kamis (9/7/2026).

Lurah Banyuraden, Sudarisman mengatakan bahwa pemberian makanan tambahan merupakan salah satu langkah strategis pemerintah kalurahan dalam mendukung percepatan penurunan stunting sekaligus menjaga kondisi kesehatan kelompok rentan, terutama balita dan lansia. Menurutnya, intervensi gizi yang dilakukan secara berkelanjutan akan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.

“Pemberian makanan tambahan ini bukan sekadar membagikan bantuan pangan, tetapi merupakan bentuk investasi kesehatan masyarakat. Balita membutuhkan asupan gizi yang cukup agar tumbuh dan berkembang secara optimal sehingga terhindar dari stunting, sementara lansia memerlukan nutrisi yang baik untuk menjaga kesehatan, kebugaran, dan daya tahan tubuhnya,” kata Sudarisman.

Lebih lanjut, Kamituwa Banyuraden, Agus Nurdalmadi menjelaskan bahwa stunting masih menjadi perhatian bersama karena berdampak terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan belajar, hingga produktivitas seseorang pada masa mendatang. Oleh karena itu, pihaknya terus mendorong kolaborasi antara kader kesehatan, Posyandu, keluarga, dan masyarakat agar pemenuhan gizi anak dapat dilakukan secara konsisten sejak masa kehamilan hingga usia balita.

Selain menyasar balita, perhatian terhadap kesehatan lansia juga menjadi bagian penting dalam pembangunan masyarakat yang inklusif. Menurut Agus, meningkatnya usia harapan hidup harus diimbangi dengan upaya menjaga kualitas hidup lansia melalui pemenuhan gizi seimbang, pemantauan kesehatan secara rutin, serta dukungan lingkungan yang sehat agar mereka tetap aktif dan produktif.

Pada kesempatan yang sama, Pemerintah Kalurahan Banyuraden juga menyerahkan sarana dan prasarana kepada Jumantik sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan program pencegahan penyakit berbasis lingkungan. Keberadaan mereka dinilai memiliki peran strategis dalam mengendalikan populasi nyamuk penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui pemantauan jentik secara berkala di lingkungan permukiman warga.

Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Banyuraden, Kwintartiningsih Pospoputri menekankan bahwa upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tidak dapat dilakukan secara parsial. Program intervensi gizi, pencegahan penyakit menular, peningkatan sanitasi, serta pemberdayaan masyarakat harus berjalan secara terpadu agar mampu menciptakan lingkungan yang sehat dan mendukung tumbuh kembang generasi muda.

“Kesehatan masyarakat dimulai dari keluarga. Ketika balita memperoleh gizi yang baik, lansia tetap sehat, dan lingkungan bebas dari jentik nyamuk, maka kita sedang membangun fondasi masyarakat Banyuraden yang lebih sehat, produktif, dan berkualitas. Seluruh elemen masyarakat perlu berperan aktif menyukseskan berbagai program kesehatan yang telah dijalankan pemerintah,” tandas Kwintartiningsih.

Melalui pelaksanaan program pemberian makanan tambahan bagi balita dan lansia serta penguatan peran Jumatik, Pemerintah Kalurahan Banyuraden berharap upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan semakin efektif. Langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat penurunan angka stunting, meningkatkan kualitas hidup kelompok rentan, sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat di Kalurahan Banyuraden secara berkelanjutan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Gus Muwafiq: Jurnalistik Jadi Sarana Duplikasi Pikiran dan Transformasi Pengetahuan

Sleman – Pengasuh Pondok Pesantren Minggir dan budayawan, KH Ahmad Muwafiq menegaskan bahwa pelatihan jurnalistik memiliki peran strategis dalam menduplikasikan pikiran manusia agar dapat ditransformasikan menjadi pengetahuan yang terus hidup dan dipelajari lintas generasi. Hal itu disampaikannya saat membuka Workshop Jurnalistik dan Penulisan Kreatif dalam rangkaian Festival Dunia Santri 2026 di Pondok Pesantren Minggir, Kabupaten Sleman, Kamis (9/7/2026).

Menurut Gus Muwafiq, kemampuan menulis merupakan salah satu pencapaian peradaban yang memungkinkan gagasan seseorang tidak berhenti pada ruang dan waktu tertentu. Melalui karya jurnalistik maupun karya sastra, seseorang dapat menghadirkan kembali pemikirannya sehingga mampu dipahami oleh masyarakat yang tidak pernah bertemu langsung dengan penulisnya.

“Jurnalistik pada hakikatnya adalah upaya menduplikasikan pikiran. Ketika sebuah gagasan berhasil dituliskan dengan baik, maka pikiran itu dapat berpindah kepada orang lain, bahkan kepada generasi yang hidup jauh setelah penulisnya tiada,” katanya.

Gus Muwafiq menjelaskan, tulisan merupakan alat transformasi pengetahuan yang paling efektif karena mampu melampaui batas geografis, budaya, maupun zaman. Berbeda dengan komunikasi lisan yang terbatas pada ruang tertentu, tulisan memungkinkan ilmu pengetahuan terus berkembang melalui proses membaca, mengkaji, hingga melahirkan pemikiran-pemikiran baru.

Ia mencontohkan berbagai karya besar peradaban, mulai dari kitab-kitab klasik hingga ensiklopedia modern, yang lahir dari tradisi menulis. Menurutnya, karya-karya tersebut menjadi sumber rujukan penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan karena mampu merekam pengalaman, pemikiran, serta hasil penelitian manusia secara sistematis.

“Kalau pengetahuan tidak ditulis, ia akan hilang bersama pemiliknya. Tetapi ketika dituliskan, ia berubah menjadi warisan intelektual yang bisa dipelajari, dikritisi, dikembangkan, bahkan melahirkan pengetahuan baru. Itulah mengapa lahir berbagai karya besar, termasuk ensiklopedia yang menjadi rujukan dunia pendidikan,” ujar Gus Muwafiq.

Selain itu, menurutnya, lembaga pendidikan, termasuk pesantren, memiliki tanggung jawab besar untuk membangun tradisi literasi yang kuat. Santri tidak cukup hanya menjadi pembaca, tetapi juga harus menjadi penulis yang mampu mendokumentasikan gagasan, pengalaman, serta khazanah keilmuan Islam dalam bentuk karya.

Untuk itu, workshop ini menjadi bagian dari Festival Dunia Santri 2026, yang diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat budaya menulis di lingkungan pesantren. Dengan semakin banyaknya santri yang menghasilkan karya jurnalistik maupun karya sastra, pesantren diyakini akan semakin berperan sebagai pusat produksi pengetahuan yang melahirkan gagasan-gagasan baru bagi dunia pendidikan, masyarakat, dan kemajuan peradaban Indonesia.

“Menulis itu penting, karena untuk menjaga pengetahuan agar tetap ada. Saya senang kalau masih ada pelatihan jurnalistik yang dianggap oleh beberapa orang sebagai produk analog yang paling tertinggal. Untuk itu, sebagai pengasuh Pondok Pesantren Minggir, saya berharap semoga pelatihan jurnalistik ini menjadi perhatian yang bermanfaat dan barokah,” pungkas Gus Muwafiq. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Paguyuban Pametri Tosan Aji “Tejo Kinurung” Gelar Jamasan Pusaka untuk Lestarikan Warisan Budaya

Sleman – Paguyuban Pametri Tosan Aji “Tejo Kinurung” menggelar kegiatan Jamasan Pusaka di Joglo Jeje, Padukuhan Jombor Lor RT 01 RW 18, Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Kamis (9/7/2026). Kegiatan berlangsung khidmat dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kamituwa Kalurahan Sinduadi, Hadiyan, Pendamping Budaya Kalurahan Sinduadi, Fitri, Dukuh Jombor Lor, Armunandar, perwakilan Sub Unit LPM Jombor Lor, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Tidar Magelang, serta tokoh masyarakat dan anggota Paguyuban Pametri Tosan Aji “Tejo Kinurung”.

Ketua Paguyuban Pametri Tosan Aji “Tejo Kinurung”, Y. Edy Setyoharjo, menjelaskan bahwa paguyuban tersebut didirikan pada 1 Juni 2022. Meski telah berdiri selama beberapa tahun, kegiatan jamasan pusaka baru pertama kali diselenggarakan sebagai salah satu upaya melestarikan warisan budaya sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda.

“Kami berharap melalui kegiatan ini anak-anak muda semakin mengenal dan mencintai Tosan Aji sebagai warisan budaya adiluhung bangsa. Dengan demikian akan lahir generasi penerus yang peduli terhadap pelestarian budaya,” ujarnya.

Sementara itu, Kamituwa Kalurahan Sinduadi, Hadiyan, mengajak masyarakat untuk memandang Tosan Aji dari sisi eksoterinya, yakni nilai sejarah, filosofi, seni, dan budaya yang terkandung di dalamnya, bukan semata dari sisi esoterinya yang kerap dikaitkan dengan hal-hal mistis. Menurutnya, pemahaman tersebut akan membantu masyarakat semakin memahami keluhuran warisan budaya peninggalan para leluhur.

Dukuh Jombor Lor, Armunandar, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap Joglo Jombor Lor dapat terus menjadi ruang bagi berbagai kegiatan pelestarian budaya yang melibatkan masyarakat.

Pada kesempatan itu, Prodjo Waskito, yang pernah menjabat sebagai camat di Kota Yogyakarta maupun Kabupaten Sleman, memimpin prosesi jamasan pusaka. Ia mengaku senang melihat besarnya perhatian masyarakat terhadap upaya pelestarian budaya melalui kegiatan tersebut.

Kegiatan ini juga memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa KKN Universitas Tidar Magelang. Mereka mengaku antusias karena memperoleh kesempatan menyaksikan secara langsung prosesi jamasan pusaka sebagai bagian dari kekayaan budaya Jawa yang sarat nilai sejarah, filosofi, dan kearifan lokal.

Melalui kegiatan jamasan pusaka ini, Paguyuban Pametri Tosan Aji “Tejo Kinurung” berharap kesadaran masyarakat untuk menjaga, merawat, dan melestarikan Tosan Aji sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia terus meningkat. Dengan demikian, nilai-nilai luhur warisan leluhur dapat terus diwariskan kepada generasi penerus. (Edy – KIM Pijar Mlati)




Santri Diajak Tumbuhkan Tradisi Literasi Lewat Penulisan, Pembacaan, dan Kurasi Puisi

Sleman – Menulis puisi bukan sekadar merangkai kata-kata indah. Di tangan para santri, puisi dapat menjadi ruang perenungan, media dakwah, sekaligus cara menyampaikan kegelisahan dan harapan terhadap kehidupan. Karena itu, budaya menulis, membaca, hingga mengkurasi puisi perlu terus ditumbuhkan sebagai bagian dari penguatan tradisi literasi di lingkungan pesantren.

Pesan tersebut disampaikan sastrawan dan penyair, Beni Satria saat menjadi narasumber workshop penulisan puisi dalam rangkaian Festival Dunia Santri 2026 yang berlangsung di Pondok Pesantren Minggir, Kabupaten Sleman, Kamis (9/7/2026). Menurutnya, kehidupan pesantren menyimpan banyak pengalaman yang dapat diolah menjadi karya sastra yang memiliki nilai estetika sekaligus makna sosial.

“Puisi lahir dari kepekaan terhadap kehidupan. Santri setiap hari berinteraksi dengan nilai-nilai spiritual, kebersamaan, dan kemanusiaan. Semua itu merupakan sumber inspirasi yang sangat kaya untuk melahirkan karya yang jujur dan bermakna,” kata Beni.

Ia menjelaskan bahwa kemampuan menulis puisi tidak muncul secara instan. Menurutnya, proses kreatif harus dibangun melalui kebiasaan membaca berbagai karya sastra, memperluas referensi, serta berlatih menulis secara konsisten. Semakin banyak seorang penulis membaca, semakin luas pula perspektif yang dimiliki dalam memilih tema, membangun imaji, hingga menemukan gaya kepenulisan yang khas.

Bagi Beni, puisi juga tidak berhenti ketika sebuah karya selesai ditulis. Tahap berikutnya adalah membacakannya di hadapan publik. Pembacaan puisi menjadi proses penting untuk menghidupkan makna melalui penguasaan vokal, intonasi, tempo, artikulasi, gestur, dan penghayatan sehingga emosi yang dibangun penyair dapat sampai kepada pendengar.

“Membaca puisi bukan sekadar membacakan teks. Pembaca harus mampu menghadirkan ruh puisi itu sendiri sehingga setiap kata memiliki kekuatan dan dapat menyentuh perasaan audiens,” tandasnya bersemangat.

Selain penulisan dan pembacaan, Beni juga memperkenalkan pentingnya kurasi puisi. Menurut dia, kurasi bukan dimaksudkan untuk mencari siapa yang paling baik, melainkan sebagai proses membaca karya secara kritis, memberikan apresiasi, sekaligus menyampaikan masukan yang membangun agar kualitas karya sastra terus berkembang.

Ia menilai budaya kurasi akan membentuk ekosistem sastra yang sehat di lingkungan pesantren. Penulis tidak hanya termotivasi menghasilkan karya, namun juga terbiasa menerima kritik, melakukan revisi, dan meningkatkan kualitas kepenulisan. Tradisi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun literasi yang berkelanjutan.

Workshop berlangsung interaktif dengan memadukan penyampaian materi, praktik menulis puisi, pembacaan puisi oleh peserta, hingga sesi kurasi karya secara langsung. Antusiasme para santri terlihat ketika mereka saling bertukar gagasan, mendiskusikan pilihan diksi, serta menerima masukan atas karya yang telah ditulis.

Melalui kegiatan ini, Festival Dunia Santri 2026 menghadirkan ruang belajar menulis puisi, sekaligus memperkuat budaya literasi kreatif di kalangan santri. Tradisi tersebut diharapkan melahirkan generasi yang mampu mengolah pengalaman spiritual dan sosial menjadi karya sastra yang bernilai, sekaligus menjadikan puisi sebagai medium untuk menyebarkan pesan kemanusiaan, kebijaksanaan, dan perdamaian kepada masyarakat luas. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)