PKKMB Poltekkes Kemenkes Bekali 1.250 Mahasiswa Baru Menata Diri Menuju Masa Depan Gemilang

Sleman – Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) menjadi momentum penting untuk membantu mahasiswa beradaptasi dengan lingkungan pendidikan tinggi sekaligus menyiapkan karakter, kompetensi, dan mental yang dibutuhkan dalam menghadapi tantangan masa depan. Hal itu menjadi semangat dalam pelaksanaan PKKMB Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Tahun Akademik 2026/2027 yang digelar di Grha Bina Husada Poltekkes Kemenkes, Banyuraden, Gamping, Sleman, Rabu (29/7/2026).

Dengan mengangkat tema “Menata Diri untuk Masa Depan yang Gemilang”, PKKMB Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Tahun Akademik 2026/2027 diikuti oleh mahasiswa baru. Kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda penyambutan mahasiswa baru, melainkan menjadi momentum awal untuk membangun kesiapan mereka dalam memasuki lingkungan akademik, memahami nilai dan budaya institusi, menanamkan etika profesi, serta menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab sebagai calon tenaga kesehatan yang profesional dan berintegritas.

Kehadiran pejabat dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Abu Bakar yang didampingi Panewu Gamping, Suyanto, Kepala Kepolisisan Sektor Gamping, AKP Bowo Susilo, Komandan Koramil 17/Gamping, Kapten Bambang Subyantoro dan Lurah Banyuraden, Sudarisman semakin menegaskan pentingnya peran pendidikan tinggi kesehatan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Tema “Menata Diri untuk Masa Depan yang Gemilang” memiliki relevansi kuat dengan perjalanan mahasiswa baru yang memasuki fase kehidupan akademik yang berbeda dari jenjang pendidikan sebelumnya. Mereka dituntut mampu mengelola waktu, membangun disiplin, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, serta beradaptasi dengan lingkungan pembelajaran yang menuntut kemandirian dan tanggung jawab lebih besar.

Dalam sambutannya, Abu Bakar selaku Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman mengingatkan bahwa mahasiswa Poltekkes Kemenkes Yogyakarta memiliki posisi strategis sebagai calon tenaga kesehatan yang nantinya akan berhadapan langsung dengan masyarakat. Karena itu, proses pendidikan harus dimanfaatkan untuk mengembangkan kompetensi sekaligus menanamkan nilai kemanusiaan, empati, tanggung jawab, dan profesionalisme.

Sejalan dengan tema “Menata Diri untuk Masa Depan yang Gemilang”, mahasiswa baru diharapkan mampu menjadikan masa perkuliahan sebagai kesempatan untuk mengenali dan mengembangkan potensi diri.

“Kemampuan beradaptasi, mengelola waktu, membangun jejaring, berpikir kritis, serta mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi tenaga kesehatan yang unggul,” ujarnya.

Menurut Abu Bakar, mahasiswa baru perlu didorong untuk menjadikan masa pendidikan di Poltekkes Kemenkes Yogyakarta sebagai proses pembentukan diri yang utuh, baik dari sisi intelektual, keterampilan, karakter, maupun kepedulian sosial.

Melalui PKKMB Tahun Akademik 2026/2027, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta diharapkan mampu mengantarkan mahasiswa mempersiapkan masa depan gemilang sebagai generasi tenaga kesehatan yang profesional, berintegritas, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Kader Kesehatan Margorejo Didorong Perkuat Edukasi Keluarga dan Perlindungan Sosial

Sleman — Penguatan peran keluarga dinilai menjadi kunci dalam membentuk karakter anak sekaligus meningkatkan ketahanan masyarakat menghadapi berbagai tantangan sosial. Untuk itu, sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, penyuluh keluarga berencana (PLKB), dan kader kesehatan terus diperkuat melalui pembinaan berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan dalam Pertemuan Kader Kesehatan Kalurahan Margorejo di Ruang Rapat Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kamis (30/7/2026). Kegiatan ini diikuti kader kesehatan, PLKB, bidan desa, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas sebagai forum koordinasi lintas sektor.

Narasumber dari PLKB Tempel, Chris Sanjaya, menjelaskan pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter anak. Menurutnya, keluarga merupakan lingkungan pertama yang menanamkan nilai, sikap, dan perilaku sehingga komunikasi yang baik, keteladanan orang tua, serta pendampingan yang berkelanjutan sangat diperlukan.

“Sejumlah program Balai KB terkait dengan pembentukan karakter anak, di antaranya Gerakan Antar Sekolah untuk Ayah yang mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan. Selain itu, tersedia bantuan dari Baznas Kabupaten Sleman berupa pembangunan MCK bagi satu penerima manfaat dan bantuan non-tunai Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi dua penerima manfaat,” jelasnya.

Sementara itu, Kamituwa Margorejo, Anwar Ihsani mengajak kader kesehatan menjadi ujung tombak percepatan berbagai program pemerintah, termasuk sosialisasi Perlindungan Sosial (Perlinsos).

“Ada 37 agen Perlinsos yang telah terbentuk diharapkan mampu memperluas penyampaian informasi kepada masyarakat,” kata Anwar.

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan alokasi honorarium kader kesehatan periode Juni–Juli, meliputi insentif bagi kader Posyandu, bantuan PMT untuk 19 Posyandu, serta honor bagi dua Kader Pembangunan Manusia (KPM).

Melalui pertemuan ini, Pemerintah Kalurahan Margorejo berharap kader kesehatan semakin aktif mengedukasi masyarakat, memperkuat ketahanan keluarga, serta mendukung keberhasilan program kesehatan dan perlindungan sosial secara berkelanjutan.  (SBD KIM TEMPEL)




Sambang Padukuhan, Pemkal Margoagung Perkuat Silaturahmi dan Serap Aspirasi Warga

Sleman – Pemerintah Kalurahan Margoagung menggelar kegiatan Sambang Padukuhan di Padukuhan Nganggrung, Kapanewon Seyegan, Rabu malam (29/7/2026). Kegiatan ini dihadiri Lurah, Carik, perangkat kalurahan, dukuh, BPKal, LKK, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta unsur masyarakat seperti ketua RT/RW, Karang Taruna, kelompok tani, KWT, PKK, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.

Dukuh Nganggrung, Budi Kuncoro menyampaikan apresiasi atas kunjungan Pemerintah Kalurahan. Ia melaporkan kondisi wilayah yang aman, kondusif, serta kehidupan masyarakat yang tetap guyub dan rukun. Berbagai kegiatan kemasyarakatan, seperti PKK, Posyandu, KWT, Karang Taruna, kelompok hadroh, hingga Bregodo Dadap Srep juga berjalan aktif. Ia juga membuka ruang bagi warga untuk menyampaikan usulan dan aspirasi.

Lurah Margoagung, Djarwo Suharto mengatakan bahwa Sambang Padukuhan bertujuan mempererat silaturahmi sekaligus memastikan informasi, program, dan bantuan pemerintah tersampaikan kepada masyarakat.

“Kami mengapresiasi dukungan warga terhadap program Margoagung Bersih Sehat (MBS) melalui kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan setiap Minggu Kliwon,” ujarnya.

Sementara itu, Carik Margoagung, Aditya Arif Perdana menyampaikan sejumlah informasi penting. Pertama, upaya pencegahan stunting melalui gerakan ABCD, yaitu aktif minum tablet tambah darah, ibu hamil rutin memeriksakan kehamilan, mencukupi konsumsi protein hewani, dan datang ke Posyandu setiap bulan.

“Kedua, kami mengimbau masyarakat segera mendaftarkan tanah Letter C menjadi sertifikat resmi karena dokumen tersebut kini hanya berfungsi sebagai catatan administrasi desa,” tandasnya.

Ketiga, Aditya mendorong peningkatan kepemilikan Identitas Kependudukan Digital (IKD). Saat ini capaian IKD di Margoagung baru mencapai 19,53 persen dari total wajib KTP sehingga diperlukan upaya jemput bola untuk meningkatkannya.

Terkait hal itu, operator Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Kalurahan, Endro Purnomo menjelaskan bahwa kepemilikan IKD penting untuk mengakses layanan Perlinsos, portal resmi Kementerian Sosial untuk pengajuan bantuan sosial secara mandiri.

“Saat ini layanan Perlinsos mencakup BPNT dan PKH, serta ke depan akan diperluas untuk layanan bantuan lainnya,” jelas Endro.

Kegiatan berlangsung interaktif dengan banyaknya pertanyaan dan masukan dari warga. Sambang Padukuhan ditutup dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan sebagai wujud sinergi antara pemerintah kalurahan dan masyarakat. (Sulistiyono, KIM Seyegan)




Muskal Banyuraden Jadi Ruang Partisipatif Susun RKP Kalurahan Tahun Anggaran 2027

Sleman – Musyawarah Kalurahan (Muskal) menjadi bagian penting dalam memastikan proses perencanaan pembangunan di tingkat kalurahan berjalan secara partisipatif, transparan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hal itu mengemuka dalam Muskal untuk menyusun Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Kalurahan Banyuraden Tahun Anggaran 2027 yang berlangsung di Gedung Muhammadiyah, Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Rabu (29/7/2026).

Muskal menjadi forum strategis bagi pemerintah kalurahan bersama Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal), lembaga kemasyarakatan, tokoh masyarakat, serta unsur masyarakat lainnya untuk menyepakati arah pembangunan yang akan menjadi prioritas pada tahun anggaran mendatang. Melalui forum tersebut, berbagai usulan dan kebutuhan masyarakat dihimpun untuk kemudian diselaraskan dengan kemampuan keuangan Kalurahan Banyuraden serta kebijakan pembangunan di tingkat Kapanewon Gamping dan Kabupaten Sleman.

Musyawarah dihadiri Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sleman Gustan Ganda, perwakilan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan Kabupaten Sleman, Panewu Gamping Suyanto, Lurah Banyuraden Sudarisman, Ketua Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal) Banyuraden, Bhabinkamtibmas, Babinsa, serta pemangku kepentingan dan masyarakat. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan pentingnya sinergi dalam merumuskan arah pembangunan kalurahan yang mampu menjawab kebutuhan warga.

Dalam forum tersebut dibahas berbagai rencana kerja Pemerintah Kalurahan Banyuraden yang akan menjadi bagian dari penyusunan RKP Kalurahan Tahun Anggaran 2027 yang dikelompokkan dalam empat bidang utama, yaitu bidang penyelenggaraan pemerintahan, bidang pembangunan, bidang pembinaan kemasyarakatan, serta bidang pemberdayaan masyarakat, penanggulangan bencana dan keadaan darurat.

Ketua DPRD Kabupaten Sleman, Gustan Ganda, menyampaikan bahwa Musyawarah Kalurahan memiliki peran penting dalam memastikan perencanaan pembangunan benar-benar berangkat dari kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Menurutnya, Muskal bukan sekadar forum formalitas dalam tahapan penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Kalurahan, melainkan ruang strategis untuk menyatukan berbagai kepentingan masyarakat dengan arah kebijakan pembangunan pemerintah.

Ia menekankan, penyusunan RKP Kalurahan Banyuraden Tahun Anggaran 2027 harus dilakukan secara cermat dan berbasis pada skala prioritas. Setiap program yang direncanakan perlu mempertimbangkan urgensi kebutuhan masyarakat, manfaat yang dihasilkan, serta kemampuan anggaran yang tersedia.

“Dengan demikian, sumber daya yang dimiliki Kalurahan Banyuraden dapat digunakan secara efektif untuk menjawab persoalan yang benar-benar dirasakan masyarakat,” tandasnya.

Gustan mendorong agar proses perencanaan pembangunan tidak hanya berorientasi pada pembangunan infrastruktur fisik. Pembangunan sumber daya manusia, penguatan ekonomi masyarakat, pemberdayaan kelompok masyarakat, peningkatan kualitas pelayanan publik, serta penguatan ketahanan sosial pun perlu mendapatkan perhatian dalam penyusunan program kerja kalurahan.

Menurutnya, partisipasi masyarakat menjadi kunci keberhasilan pembangunan. Aspirasi warga yang disampaikan melalui Muskal harus dapat dipetakan dan diterjemahkan menjadi program yang realistis, terukur, dan memiliki indikator keberhasilan yang jelas. Dengan proses tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga memiliki ruang untuk terlibat sejak tahap perencanaan hingga pengawasan.

Selain itu, Gustan mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan pemerintahan dan pembangunan kalurahan. Setiap program yang telah disepakati melalui Muskal harus dilaksanakan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

“Semoga hasil Muskal Banyuraden dapat menjadi pijakan kuat dalam penyusunan RKP Kalurahan Tahun Anggaran 2027. Dengan perencanaan yang partisipatif, terukur, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat, pembangunan Kalurahan Banyuraden diharapkan dapat berjalan lebih efektif, berkelanjutan, serta mampu meningkatkan kualitas pelayanan dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Lewat Film Pendek, Mahasiswa UII Angkat Isu Kemanusiaan di Balik Pengelolaan Sampah

Sleman – Kesadaran generasi muda terhadap isu lingkungan terus berkembang, tidak hanya diwujudkan melalui aksi bersih-bersih atau kampanye di media sosial, tetapi juga melalui karya audio visual yang mampu menggugah kepedulian masyarakat.

Hal tersebut ditunjukkan oleh Wistara, kelompok mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) yang beranggotakan Eidhar Khalifa Taqiyya, Daffa Izza Muhammad, Ala Fauziah Latif, dan Fatimah Salma Nuha. Mereka menghadirkan sebuah video bertema pengelolaan sampah yang menyoroti pentingnya keselamatan kerja bagi para pemulung.

Saat ditemui pada Rabu (29/7/2026), Eidhar Khalifa Taqiyya menjelaskan bahwa video tersebut mengisahkan Abid, seorang pemulung muda yang setiap hari bekerja di kawasan berisiko tinggi di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) tanpa menggunakan alat pelindung diri (APD).

“Video yang kami garap mengangkat kisah Abid, seorang pemulung muda yang setiap hari bekerja di zona berbahaya di TPA tanpa menggunakan APD. Paparan debu, gas beracun, serta lingkungan kerja yang tidak layak membuat kondisi kesehatannya terus menurun hingga akhirnya meninggal dunia akibat kerusakan paru-paru kronis,” ujarnya.

Menurut Eidhar, kisah Abid merupakan representasi dari realitas yang masih dialami banyak pekerja informal di sektor persampahan. Meski memiliki peran penting dalam mendukung ekonomi sirkular melalui kegiatan memilah dan mengumpulkan material daur ulang, para pemulung masih menghadapi berbagai risiko pekerjaan tanpa perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja yang memadai.

Melalui pendekatan visual yang menyentuh, Eidhar bersama tim berharap masyarakat, khususnya generasi muda, dapat memandang persoalan sampah dari perspektif yang lebih luas. Sampah bukan hanya persoalan kebersihan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan aspek kemanusiaan, kesehatan, dan penghargaan terhadap para pekerja yang berada di ujung rantai pengelolaan sampah.

Video tersebut juga menyampaikan pentingnya langkah nyata dari pemerintah daerah untuk meningkatkan perlindungan terhadap para pemulung, di antaranya melalui penataan lokasi kerja yang lebih aman, seperti di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) maupun TPS 3R. Dengan sistem pengelolaan yang lebih baik, para pekerja diharapkan memperoleh lingkungan kerja yang lebih aman, akses terhadap penggunaan APD, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.

Video ini juga mengajak masyarakat berperan aktif dalam mengurangi risiko yang dihadapi para pemulung melalui kebiasaan sederhana, seperti memilah sampah organik dan anorganik, membungkus benda tajam sebelum dibuang, serta memisahkan limbah berbahaya dari sampah rumah tangga.

Pesan yang diangkat dalam video tersebut sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta SDG 8 mengenai Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.

Melalui karya kreatif ini, para mahasiswa UII menunjukkan bahwa film dan media digital tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga dapat berfungsi sebagai media edukasi dan advokasi sosial. Kisah Abid mengajak masyarakat untuk tidak hanya peduli terhadap lingkungan, tetapi juga menghargai para pekerja yang selama ini berkontribusi dalam pengelolaan sampah. (Arief Hartanto KIM kertomandiri Turi)