Perkuat Langkah Pengurus Baru, Karang Taruna Bakti Sari Sumbersari Diberi Pembinaan Keorganisasian dan Pendataan Potensi Pemuda

Sleman – Pengurus Karang Taruna Bakti Sari Kalurahan Sumbersari masa bakti 2026–2031 langsung menerima pembinaan keorganisasian pascapengukuhan resmi mereka di Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, pada Minggu (26/07/2026). Pembinaan perdana ini diselenggarakan untuk memberikan penguatan kapasitas sekaligus merumuskan arah program kerja pemuda dalam lima tahun ke depan.

Dalam sesi pembekalan, Ketua Forum Karang Taruna Kabupaten Sleman, Destyawan Dwi Nugroho, mengingatkan agar Karang Taruna mampu bergerak responsif dan adaptif terhadap tantangan sosial di tingkat kalurahan. Ia menekankan bahwa peran Karang Taruna tidak hanya terbatas pada kegiatan seremonial, tetapi mencakup cakupan yang luas sebagaimana diatur dalam regulasi kementerian sosial.

“Karang Taruna harus memperhatikan lingkungannya. Jangan sampai ada anak yang putus sekolah dan permasalahan sosial lainnya. Upayakan peningkatan SDM dengan pelatihan keterampilan agar mampu meningkatkan perekonomian,” ujar Destyawan Dwi Nugroho.

Ia juga meminta pengurus Karang Taruna Bakti Sari untuk segera menyusun program kerja terstruktur serta memperkuat sinergi dengan Kamituwa dan Jawatan Sosial Kapanewon guna mengawal penyaluran bantuan sosial tepat sasaran.

Sementara itu, Carik Sumbersari, Junaidi, memaparkan filosofi mendalam di balik slogan Karang Taruna, Aditya Karya Mahatva Yodha, yang bermakna pejuang cerdas yang berkarya nyata dan berbudi luhur. Sebagai pijakan awal kepengurusan, ia mendorong pengurus baru untuk berfokus pada validasi data potensi pemuda di seluruh padukuhan.

“Potensi yang kita miliki adalah modal utama. Akurasi data sebagai pemicu upaya peningkatan SDM,” tutur Junaidi.

Melalui pembinaan intensif ini, Pemerintah Kalurahan Sumbersari berharap Karang Taruna Bakti Sari dapat menjadi motor penggerak pemberdayaan kepemudaan yang inovatif, mandiri, dan berdampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. (Giek/KIM Moyudan)




Belajar Dari SAH Banyu Bening Sleman, Mahasiswa Interfidei Dalami Peran Agama Dalam Menjaga Lingkungan

Sleman – Sembilan mahasiswa Institute for Inter-Faith Dialogue in Indonesia (Interfidei) mendalami integrasi antara nilai-nilai keberagamaan dan kelestarian lingkungan melalui Program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening, Kabupaten Sleman, pada Minggu (26/07/2026). Kegiatan ini diselenggarakan untuk memberikan wawasan aplikatif mengenai pengelolaan air hujan sebagai solusi atas ancaman krisis air dan media perekat dialog antarumat beragama.

Dalam agenda PPL tersebut, para mahasiswa berdiskusi secara interaktif bersama Pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih, di Joglo Sekolah Air Hujan setempat. Didampingi oleh Media and Communication Officer Interfidei, Akbar Hasyemi Rafsanjani, diskusi ini dirancang untuk memperluas perspektif mahasiswa agar tidak hanya memahami dialog lintas iman secara teoritis, tetapi juga melihat aksi nyata kepedulian ekologis di masyarakat.

Selama kegiatan, para peserta mempelajari teknis penampungan, pengolahan, dan pemanfaatan air hujan secara aman sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). Pemanfaatan air hujan ini dipandang sebagai langkah konkrit untuk memperkuat ketahanan air secara mandiri, sekaligus menjadi ruang refleksi atas tanggung jawab moral manusia terhadap alam.

Media and Communication Officer Interfidei, Akbar Hasyemi Rafsanjani, menyatakan bahwa diskusi ini memberikan pemahaman baru bagi mahasiswa mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sebagai bentuk pengamalan ajaran agama.

“Diskusi ini pun menjadi ruang refleksi mengenai konsep ekologi Islam, bahwa merawat bumi merupakan bagian dari amanah manusia sebagai khalifah untuk menjaga dan menghormati seluruh ciptaan Tuhan, termasuk memaknai setiap tetes air sebagai sumber kehidupan yang harus dikelola secara bijaksana,” ujar Akbar Hasyemi Rafsanjani.

Di sisi lain, Pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih, mengingatkan pentingnya mengantisipasi krisis air bersih sejak dini. Menurutnya, kelangkaan air berpotensi memicu persoalan sosial yang kompleks jika tidak ditangani dengan inovasi pengelolaan air yang berkelanjutan.

“Kelangkaan air berpotensi memicu berbagai persoalan sosial apabila tidak diantisipasi sejak dini. Saat ini, sejumlah wilayah mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih dan harus bergantung pada distribusi air atau dropping yang membutuhkan biaya tidak sedikit,” tandas Sri Wahyuningsih.

Melalui program PPL ini, para mahasiswa diharapkan mampu membawa semangat pengamalan nilai-nilai kemanusiaan dan tanggung jawab ekologis ke dalam kehidupan bermasyarakat. Pembelajaran di SAH Banyu Bening menegaskan bahwa pengelolaan air hujan bukan sekadar isu lingkungan, melainkan medium edukasi dan kolaborasi lintas iman untuk membangun masa depan yang berkelanjutan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Pemuda Katolik Sleman Dorong Publik Kawal Pembahasan RUU Perampasan Aset

Sleman – Pemuda Katolik Komisariat Cabang (Komcad) Sleman menggelar diskusi publik bertajuk “Rancangan Undang-Undang Perampasan Aset di Persimpangan Jalan” di Gedung Pusat Pastoral Mahasiswa Pemuda Katolik, Kabupaten Sleman, pada Sabtu malam (25/07/2026). Forum tersebut diselenggarakan untuk mendorong keterlibatan aktif masyarakat sipil dalam mengawal proses legislasi RUU Perampasan Aset agar tetap berada dalam koridor hukum yang adil dan transparan.

Diskusi interaktif yang dipandu oleh moderator Andreas Chandra ini menghadirkan dua akademisi dan praktisi hukum, yakni Dosen sekaligus Ketua Program Studi S3 Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Aloysius Wisnubroto, serta praktisi hukum Albertus Iswadi.

Dalam pemaparannya, Aloysius Wisnubroto menekankan bahwa RUU Perampasan Aset merupakan instrumen penting untuk memutus manfaat ekonomi dari tindak pidana dan mengembalikan kerugian negara. Kendati demikian, ia mengingatkan agar regulasi tersebut disusun tanpa mengabaikan prinsip kepastian hukum dan perlindungan hak asasi manusia.

“Perampasan aset harus ditempatkan dalam kerangka penegakan hukum yang adil. Negara memang memiliki kepentingan untuk memulihkan aset hasil kejahatan, tetapi prosesnya tetap harus menjamin perlindungan hak dan kepastian hukum,” kata Aloysius Wisnubroto.

Senada dengan hal tersebut, Albertus Iswadi menyampaikan bahwa substansi RUU Perampasan Aset wajib memperhitungkan prinsip due process of law, proporsionalitas, serta pengawasan terhadap kewenangan aparat penegak hukum guna mencegah potensi penyalahgunaan kekuasaan.

Sementara itu, Ketua Pemuda Katolik Komcad Sleman, Dionsius Agung, menegaskan bahwa partisipasi aktif elemen pemuda dan akademisi sangat krusial dalam mengawal pembentukan undang-undang agar tepat guna.

“Pengawalan terhadap RUU Perampasan Aset dinilai tidak cukup dilakukan oleh lembaga negara dan aparat penegak hukum, melainkan membutuhkan keterlibatan masyarakat sipil, akademisi, organisasi kemasyarakatan, serta generasi muda,” ujar Dionsius Agung.

Melalui diskusi ini, para peserta sepakat mendorong pengawalan kritis dan konstruktif terhadap RUU Perampasan Aset sehingga regulasi yang disahkan kelak mampu memulihkan keuangan negara sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap sistem peradilan nasional. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Panewu Moyudan Minta Karang Taruna Jadi Pelopor Penanganan Sosial

Sleman – Pengurus Karang Taruna Bakti Sari Kalurahan Sumbersari masa bakti 2026–2031 resmi dikukuhkan oleh Lurah Sumbersari di Pendopo Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (25/07/2026). Pengukuhan ini menandai bergulirnya tongkat estafet kepemimpinan pemuda di wilayah setempat untuk lima tahun ke depan.

Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Panewu Moyudan Muhammad Arif Rahman, Forum Koordinasi Pimpinan Kapanewon (Forkopimkap), Lurah Sumbersari Sukadi beserta jajaran pamong, BPKal, Lembaga Kemasyarakatan Kalurahan, serta Ketua Forum Karang Taruna Kabupaten Sleman.

Panewu Moyudan, Muhammad Arif Rahman, mengapresiasi dedikasi pengurus periode sebelumnya dan meminta kepengurusan baru untuk segera melakukan konsolidasi internal. Ia menekankan bahwa Karang Taruna memiliki peran strategis untuk bersinergi dengan visi dan misi pemerintah kalurahan dalam pembangunan daerah.

“Agar estafeta tidak terputus, pembangunan membutuhkan generasi muda yang tangguh, tanggon, dan berdedikasi tinggi. Karang Taruna harus berintegrasi dan berkolaborasi dengan visi misi Pemerintah Kalurahan. Bangun kerja sama yang baik dengan Pemkal. Mohon kepada Karang Taruna untuk bisa bergabung dalam Perlinsos, agar bisa membantu warga dalam mengakses bantuan sosial,” ujar Muhammad Arif Rahman.

Senada dengan hal tersebut, Lurah Sumbersari, Sukadi, menegaskan bahwa Karang Taruna merupakan elemen penting yang menjadi garda terdepan pembangunan kemasyarakatan, khususnya dalam menyambut berbagai kegiatan momentum kebangsaan.

“Karang Taruna merupakan wadah generasi muda pendukung pembangunan. Jadilah generasi yang tangguh, tanggon, sebagai pelopor pembangunan,” tutur Sukadi.

Melalui kepengurusan yang baru dilantik ini, Karang Taruna Bakti Sari diharapkan mampu melahirkan berbagai program kerja yang responsif terhadap isu sosial dan aktif mengawal kesejahteraan warga Kalurahan Sumbersari. (Giek/KIM Moyudan)




Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman Ajari Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Praktik Sanitasi Air Hujan

Sleman – Sebanyak 58 mahasiswa Semester VII Program Studi Sarjana Terapan Sanitasi Lingkungan, Jurusan Kesehatan Lingkungan, Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Yogyakarta, mengikuti praktik lapangan mata kuliah Inovasi Rekayasa Teknologi Sanitasi. Kegiatan pembelajaran yang berfokus pada inovasi dan rekayasa sanitasi air hujan tersebut diselenggarakan di Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (25/07/2026).

Praktik lapangan ini menjadi tahapan krusial dalam proses pembelajaran mahasiswa untuk memahami penerapan teknologi sanitasi secara langsung di masyarakat. Dengan didampingi empat orang fasilitator, para mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep secara teoritis, tetapi juga terjun langsung melihat proses pengelolaan air hujan sebagai solusi atas persoalan sanitasi dan ketersediaan air bersih.

Salah satu inovasi utama yang dipelajari dalam kegiatan tersebut adalah Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan (ISLAH). Melalui sistem ini, mahasiswa diperkenalkan pada konsep tata kelola air hujan yang sistematis, mulai dari tahap penampungan, pemanfaatan, hingga penyimpanan sebagai alternatif sumber daya air terbarukan. Selain ISLAH, peserta juga mendapatkan pemaparan teknis mengenai teknologi elektrolisa sebagai metode pemecah partikel air guna mendukung proses purifikasi.

Pendiri SAH Banyu Bening Sleman sekaligus narasumber kegiatan, Sri Wahyuningsih, menjelaskan bahwa pembelajaran aplikatif ini sangat diperlukan agar mahasiswa mampu mengidentifikasi dan mengoptimalkan potensi sumber daya alam yang ada di lingkungan sekitar.

“Air hujan, yang selama ini sering dipandang sebagai bagian dari siklus hidrologi, dapat dikelola dan dimanfaatkan melalui pendekatan teknologi yang tepat. Teknologi sanitasi diharapkan tidak berhenti pada aspek teknis, namun mempertimbangkan efisiensi pemanfaatan sumber daya, keberlanjutan lingkungan, serta manfaat yang dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang,” terang Sri Wahyuningsih.

Sementara itu, Ketua Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Bambang Suwerda, mengapresiasi kolaborasi edukasi ini karena memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi pengelolaan air hujan sebagai sumber air bersih yang layak konsumsi.

“Praktik mata kuliah Inovasi Rekayasa Teknologi Sanitasi ini merupakan bagian penting dalam memperkuat kompetensi mahasiswa agar mampu menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan dan persoalan nyata di masyarakat,” ungkap Bambang Suwerda.

Melalui praktik lapangan di SAH Banyu Bening ini, para calon tenaga sanitasi lingkungan diharapkan dapat memperluas wawasan praktis mereka, sekaligus terdorong untuk terus berinovasi dalam menciptakan teknologi tepat guna yang menjawab tantangan sanitasi lingkungan di masa depan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)