Tim KSB Tamanmartani Gelar Safari Edukasi Mitigasi Bencana Bagi Siswa PAUD dan TK di Kalasan

Sleman – Mengisi agenda Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027, Tim Kampung Siaga Bencana (KSB) Taman Siaga Bencana Kalurahan Tamanmartani menggelar safari edukasi mitigasi bencana di tiga lembaga pendidikan anak usia dini. Kegiatan penguatan kapasitas bidang kebencanaan ini dilaksanakan berturut-turut di TK ABA Kenaji pada Rabu (15/07/2026), TK Bakti VI Kowang pada Kamis (16/07/2026), dan TK Setyorini Bogem pada Jumat (17/07/2026).

Carik Kalurahan Tamanmartani, Tomi Nugraha, menuturkan bahwa Tim Relawan Kalurahan Tamanmartani senantiasa siap mendampingi seluruh lapisan masyarakat dalam edukasi penanggulangan bencana, termasuk sektor pendidikan anak usia dini. Dalam safari tersebut, para relawan memberikan pengenalan jenis ancaman bencana serta teknik dasar pemadam kebakaran yang dikemas secara interaktif dan disesuaikan dengan usia anak.

Edukasi disampaikan melalui metode ceramah klasikal dan praktik simulasi di halaman sekolah menggunakan peralatan sederhana. Melalui pendampingan para tenaga pendidik, anak-anak diajak mengenali langkah keselamatan diri secara intuitif dan menyenangkan.

Tomi Nugraha berharap materi edukasi ini dapat menjadi pengetahuan praktis sekaligus menambah keterampilan dasar bagi peserta didik maupun para guru dalam menghadapi potensi bahaya di lingkungan sekitar.

“Kita tidak berharap terjadi bencana, tetapi kita harus selalu waspada dan siaga, agar bila terjadi kebencanaan bisa diminimalisir dampaknya. Kegiatan serupa juga akan dilaksanakan di lembaga pendidikan TK formal dan non-formal yang lain,” ujar Tomi Nugraha.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga menjadi sarana bagi para relawan untuk mengasah kemampuan dan keterampilan lapangan. Pihaknya memastikan Tim KSB Tamanmartani selalu siap mengabdi dan mendampingi masyarakat dalam mewujudkan wilayah yang tangguh bencana. (Tri Joko S/KIM Kalasan Bersahabat)




Bersih Sungai Kali Buntung Gempol, Gotong Royong 100 Warga Angkat 520 Kilogram Sampah

Sleman – Semangat gotong royong ditunjukkan oleh masyarakat Padukuhan Gempol, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman. Sebanyak 100 warga bersama pemerintah daerah, komunitas peduli sungai, dan berbagai pemangku kepentingan turun langsung menyusuri aliran Kali Buntung dalam aksi “Bersih Sungai Kali Buntung Gempol, Lestari Alamku, Lestari Desaku” pada Minggu (19/07/2026) mulai pukul WIB.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Komunitas Kali Buntung Gempol (KKB Gempol) ini mendapat dukungan penuh dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman, Pemerintah Kapanewon Depok, Pemerintah Kalurahan Condongcatur, serta Forum Komunitas Sungai Sleman (FKSS). Aksi ini menjadi bentuk nyata kepedulian masyarakat dalam menjaga kelestarian sungai dari pencemaran sampah di kawasan pemukiman padat.

Hadir dalam aksi tersebut Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, Junaidi, Kepala Seksi Pengendalian DLH Sleman, Sasi Kirana, Panewu Depok, Rakhmat Harinawan, Plt. Lurah Condongcatur, Budi Arto, serta Ketua FKSS Sleman, Sugito. Turut bergabung warga RT 01 dan RT 02 Gempol, warga Krangkungan, jemaah masjid setempat, hingga unsur pemuda dan pemudi di sepanjang bantaran sungai.

Selama hampir tiga jam, para peserta berhasil mengumpulkan 65 karung sampah anorganik berupa plastik, styrofoam, dan limbah rumah tangga dengan total berat mencapai 520 kilogram. Seluruh sampah yang terangkat kemudian dievakuasi oleh UPT Persampahan DLH Kabupaten Sleman untuk diproses lebih lanjut.

Selain pembersihan fisik, acara diisi dengan sarasehan lingkungan. Dalam kesempatan tersebut, Sasi Kirana menegaskan bahwa edukasi dan perubahan perilaku warga menjadi faktor utama dalam menjaga keberlanjutan ekosistem sungai.

“Jangan membuang sampah maupun limbah cair rumah tangga langsung ke sungai tanpa melalui proses pengolahan. Masyarakat diharapkan memiliki sistem pengolahan limbah, seperti septic tank atau resapan yang memadai, sehingga kualitas air sungai tetap terjaga. Kami juga mendorong penanaman pohon di bantaran sungai untuk menjaga debit air, memperkuat tebing, dan mencegah erosi,” ujar Sasi Kirana.

Dukungan senada disampaikan oleh Plt. Lurah Condongcatur, Budi Arto, yang mengajak warga menjadikan pelestarian sungai sebagai gerakan bersama yang konsisten.

“Pohon-pohon di sekitar sungai jangan ditebang sembarangan karena memiliki fungsi penting menahan longsor dan menjaga ketersediaan air. Bila masyarakat membutuhkan bibit pohon, Pemerintah Kalurahan siap memfasilitasi pengajuan kepada DLH Sleman. Selain itu, mari biasakan memilah sampah dari rumah dan bersama-sama mengawasi agar tidak ada lagi pihak yang membuang sampah ke sungai secara sembarangan,” kata Budi Arto.

Ketua FKSS Sleman, Sugito, menambahkan bahwa Kapanewon Depok saat ini memiliki 11 komunitas sungai dari total 32 komunitas di Kabupaten Sleman yang aktif menjadi motor penggerak konservasi. Sementara itu, Panewu Depok, Rakhmat Harinawan, mengapresiasi tinggi keterlibatan aktif warga Gempol.

“Kesadaran warga untuk turun langsung membersihkan sungai merupakan modal sosial yang sangat berharga. Semangat gotong royong seperti ini harus terus dipelihara karena menjaga sungai bukan hanya tugas pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat demi keberlanjutan lingkungan dan kualitas hidup generasi mendatang,” tutur Rakhmat Harinawan.

Aksi bersih sungai ini sejalan dengan Program Kali Bersih (Prokasih) Pemkab Sleman yang mengedepankan kolaborasi berbasis masyarakat. Melalui gerakan ini, warga Padukuhan Gempol tidak hanya menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, tetapi juga memperkuat ikatan kebersamaan dalam melestarikan alam sekitar. (Wasana/KIM Depok)




Dinas P3AP2KB Sleman Perkuat PATBM Guna Tekan Angka Kekerasan dan Lindungi Hak Anak

Sleman – Maraknya kasus kekerasan fisik, psikis, hingga penelantaran anak menjadi perhatian serius berbagai pihak di Kabupaten Sleman. Guna menekan angka kekerasan sekaligus melindungi hak dasar anak, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Sleman menggelar kegiatan “Penguatan Gerakan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM)” di Padukuhan Blambangan, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, pada Minggu (19/07/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, yakni pada Sabtu (18/07/2026) hingga Minggu (19/07/2026), ini merupakan program pokok-pokok pikiran (Pokir) Anggota DPRD Kabupaten Sleman dari Fraksi PKS, Ali Imron. Acara tersebut turut dihadiri oleh pengelola jemaah pengajian Oase Senja, Noferiyatno, yang juga dikenal sebagai pengusaha di bidang fesyen.

Dalam penanganan kasus kekerasan di wilayah Kabupaten Sleman, DP3AP2KB telah membentuk Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas PPA) serta Satgas PATBM. Kedua lembaga ini berfungsi sebagai relawan mitra pemerintah yang bertugas mencegah, menjangkau, mendampingi korban, serta memberikan rujukan penanganan hingga ke tingkat kalurahan guna memastikan pelaporan berjalan cepat dan aman.

Pemerhati anak dari lembaga Anak Bumi, Arief Winarko, menegaskan bahwa penanganan tindak kekerasan terhadap anak tidak boleh diabaikan karena dampaknya membahayakan tumbuh kembang serta kondisi psikis anak dalam jangka panjang.

“Kepedulian dan keberanian masyarakat sangat dibutuhkan dalam memberi perlindungan hak anak. Kasus kekerasan kepada anak harus diproses secara tuntas karena menyangkut masa depan anak,” ujar Arief Winarko.

Senada dengan hal tersebut, perwakilan dari Yayasan Abisatya, Pranasena Nawak Santi, menggarisbawahi pentingnya pemenuhan empat hak dasar anak, yaitu hak hidup, tumbuh kembang, perlindungan, dan partisipasi hingga anak berusia 18 tahun.

“Melindungi hak dasar anak tersebut merupakan bagian dari upaya membentuk generasi masa depan bangsa,” kata Pranasena Nawak Santi.

Sementara itu, pemerhati anak terlantar dan tertolak, Nyadi Kasmoredjo, mendorong penguatan perlindungan anak melalui pendekatan spiritual berbasis komunitas dengan mewujudkan tempat ibadah yang ramah anak.

“Dari tempat ibadah ramah anak akan terbentuk jamaah yang ramah anak. Selanjutnya akan menjadi kawasan yang ramah dan layak bagi anak,” pungkasi Nyadi Kasmoredjo. (Kusnadi/KIM Berbah)




Puncak Pekan Khitobul Qudum Baitul Qawam Tempel, Cetak Generasi Santri Tangguh Berkarakter

Sleman – Halaman Pondok Pesantren dan Panti Asuhan Baitul Qawam di Padukuhan Plumbon, Kalurahan Mororejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, dipenuhi suasana hangat pada Sabtu (18/07/2026) malam. Ratusan santri bersama pengurus yayasan, jajaran dewan guru, donatur, wali santri, dan alumni berkumpul menghadiri puncak Pekan Khitobul Qudum 1447 Hijriah.

Kegiatan yang dimulai pukul WIB tersebut diselenggarakan sebagai ajang silaturahmi sekaligus momentum untuk memperkuat nilai kebersamaan, pendidikan karakter, dan semangat menuntut ilmu bagi para santri baru. Rangkaian acara diisi dengan pembukaan, pembacaan tilawah Al-Qur’an, penampilan kreativitas santri, penyerahan penghargaan santri berprestasi, hingga pemutaran video kegiatan.

Ketua Yayasan Pendidikan Baitul Qawam, Aris Eko Purwanto, menyampaikan bahwa agenda tahunan ini merupakan wadah penting untuk memperkenalkan lingkungan pendidikan pondok kepada para santri baru dan orang tua mereka.

Puncak acara diisi dengan tausiah yang disampaikan oleh Penasihat Yayasan Pendidikan Baitul Qawam, Agus Triyanta. Dalam paparannya, ia mengapresiasi keberanian, rasa percaya diri, dan keceriaan para santri saat tampil di atas panggung. Menurutnya, kebahagiaan merupakan modal awal yang sangat penting dalam menjalani proses pendidikan.

“Saya berkaca-kaca melihat penampilan anak-anak. Bukan semata karena pertunjukannya, tetapi karena saya melihat mereka hidup di sini dengan ceria. Kebahagiaan adalah pintu yang akan membuka banyak keberkahan dan kesempatan dalam hidup,” ujar Agus Triyanta.

Agus Triyanta mengajak seluruh santri untuk tidak menjadikan keterbatasan sebagai hambatan dalam meraih cita-cita. Ia menekankan pentingnya membangun mental pantang menyerah melalui kehidupan yang bersahaja.

“Perjuangan, penderitaan, dan kesedihan adalah batu bata yang membangun fondasi masa depan. Jangan pernah merasa paling susah. Semua orang memiliki ujian masing-masing, tetapi yang membedakan adalah bagaimana kita menyikapinya,” kata Agus Triyanta.

Dalam kesempatan tersebut, ia menceritakan dukungan donatur internasional seperti Good Morning Children Foundation asal Singapura yang kembali memberikan bantuan sarana pendidikan berupa perangkat kamera dan dana pengembangan fasilitas. Ia menyebut para donatur terkesan dengan ketulusan dan energi positif para santri.

Selain itu, Agus Triyanta mengaitkan keberhasilan pola pendidikan di Baitul Qawam dengan banyaknya alumni yang kembali untuk mengabdi sebagai guru dan pembina. Hal ini menjadi bukti nyata proses kaderisasi yang berjalan secara berkelanjutan.

“Keikhlasan adalah kekuatan yang tidak bisa diukur dengan angka. Saya percaya Baitul Qawam terus berkembang karena dibangun oleh orang-orang yang bekerja dengan hati. Ketika niatnya baik, Allah akan membuka jalan pertolongan dari arah yang tidak pernah kita sangka,” ungkap Agus Triyanta.

Rangkaian acara kemudian ditutup secara khidmat dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Agus Triyanta, menandai komitmen bersama dalam mencetak generasi penerus yang berilmu, berakhlak mulia, serta bermanfaat bagi masyarakat luas. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri)




Mitigasi Banjir Bandang Kunci Pengurangan Risiko Bencana Hidrometeorologi Warga Sleman

Sleman – Dosen Departemen Pendidikan Fisika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Febrina Siska Widyaningtyas, menegaskan bahwa mitigasi banjir bandang menjadi kunci utama dalam upaya mengurangi risiko bencana. Langkah ini dipandang sangat krusial, terutama di tengah meningkatnya ancaman bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim dan perubahan tata guna lahan.

Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan warga Perumahan Citra Ringin Mas, Kabupaten Sleman, pada Minggu (19/07/2026). Febrina Siska Widyaningtyas menekankan bahwa penguatan pemahaman masyarakat mengenai penyebab dan karakteristik banjir bandang merupakan langkah awal untuk menekan risiko korban jiwa maupun kerugian material.

“Bencana tidak dapat kita hentikan. Namun korban dan kerugiannya dapat kita kurangi. Kunci utama ketangguhan bukan hanya pada teknologi, tetapi juga pada masyarakat yang sadar risiko, siap menghadapi bencana, dan mampu bekerja sama,” ujar Febrina Siska Widyaningtyas.

Ia memaparkan bahwa banjir bandang umumnya dipicu oleh hujan berintensitas tinggi yang menyebabkan debit sungai meningkat cepat hingga meluap. Potensi bahaya kian membesar ketika daya serap lingkungan menurun akibat deforestasi, alih fungsi lahan, urbanisasi, serta sistem drainase dan pengelolaan sungai yang belum optimal. Di wilayah berbukit, longsoran tanah yang membendung aliran sungai juga berisiko memicu banjir bandang saat bendungan alami tersebut jebol.

Febrina Siska Widyaningtyas juga mengingatkan warga bahwa banjir bandang membawa arus air bertekanan tinggi yang bercampur material berbahaya seperti batu, kayu, dan lumpur. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak menerobos arus banjir dan segera melakukan evakuasi saat muncul peringatan dini.

Dalam kesempatan tersebut, ia membekali warga dengan sejumlah langkah mitigasi praktis, seperti menjaga vegetasi daerah hulu, tidak membuang sampah ke sungai, memantau informasi cuaca resmi dari BMKG, memahami jalur evakuasi, serta memperkuat solidaritas lingkungan.

“Kami berharap masyarakat Sleman semakin memahami pentingnya mitigasi banjir bandang sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana, sehingga mampu meningkatkan kesiapsiagaan dan memperkuat ketangguhan menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi,” katanya. (Athiful/KIM Depok)