Mengabdi Tanpa Batas Usia, Suharno Bagikan Tiga Kunci Utama Bangun Organisasi Relawan Mandiri

Sleman – Meskipun telah memasuki usia 84 tahun, semangat pengabdian Suharno dalam menggerakkan organisasi kemasyarakatan tidak pernah surut. Tokoh senior penggiat informasi publik tersebut membagikan resep dan pengalaman panjangnya dalam membangun organisasi relawan hingga mampu mandiri dan berprestasi di tingkat internasional pada sela-sela Rapat Forum Komunikasi KIM Sembada di Kantor Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (18/07/2026).
Aktivitas keseharian Suharno hingga kini masih tergolong padat. Selain aktif di Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) dari tingkat kapanewon hingga provinsi, ia juga tercatat sebagai pengurus Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI), mengelola koperasi, mendampingi UMKM, serta membina kelompok senam lansia dan berbagai organisasi sosial lainnya.
Suharno menceritakan awal mula kiprahnya membidani lahirnya wadah informasi berbasis masyarakat di Sleman pascabubarnya wadah Klompencapir pada masa era reformasi.
“Saya masih ingat pada April 2002, ketika Klompencapir dibubarkan. Bersama tujuh orang relawan kami tetap melanjutkan kegiatan menyampaikan informasi pemerintah kepada masyarakat. Visi dan misi harus dipahami seluruh anggota sehingga semua bergerak menuju tujuan yang sama,” ujar Suharno saat mengenang perjalanan panjang KIKM yang kini bertransformasi menjadi KIM Kerto Mandiri Turi pada Sabtu (18/07/2026).
Pengalaman berorganisasi yang diasah sejak bangku sekolah hingga menjabat sebagai Kepala Ranting Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Seyegan melahirkan pemikiran bahwa terdapat tiga kunci sukses dalam membesarkan organisasi sosial non-pemerintah.
Kunci pertama adalah keaktifan pengurus dalam menyelesaikan setiap permasalahan secara kolaboratif. Kunci kedua terletak pada kejelasan visi dan misi sebagai arah kompas perjuangan bersama. Sementara kunci ketiga adalah selektivitas dalam merekrut anggota yang memiliki komitmen, integritas, serta jiwa gotong royong tinggi, mengingat anggota merupakan aset terpenting di tengah keterbatasan pendanaan organisasi relawan.
Penerapan tiga prinsip tersebut terbukti membawa KIM Kerto Mandiri Turi berkembang menjadi organisasi mandiri berbadan hukum. Saat ini, organisasi tersebut mengelola unit koperasi dengan aset mencapai ratusan juta rupiah, memiliki kantor sekretariat mandiri, tertib administrasi, serta konsisten menjalankan program pemberdayaan ekonomi warga.
Atas kemandiriannya, KIM Kerto Mandiri kerap menyabet penghargaan di tingkat nasional, menjadi delegasi Indonesia dalam forum internasional, hingga dijadikan rujukan studi tiru oleh berbagai lembaga dari dalam dan luar negeri. Dedikasi tanpa henti yang ditunjukkan Suharno menjadi bukti nyata bahwa usia bukanlah halangan untuk terus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel).



