Dorong Regenerasi Jamaah Muda dan Kemandirian Masjid, Gerakan Suling Naga Digelar di Sariharjo

Sleman – Regenerasi jamaah muda serta penguatan fungsi masjid sebagai pusat peradaban dan pemberdayaan ekonomi menjadi fokus utama dalam gerakan Subuh Keliling dan Pengajian Ngaglik Menjaga Aqidah (Suling Naga). Kegiatan keagamaan tersebut berlangsung khidmat di Masjid Al Mansyurin, Padukuhan Nglempong Lor, Kalurahan Sariharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, pada Minggu (19/07/2026).

Kegiatan sholat Subuh berjamaah yang dilanjutkan dengan pengajian ini dihadiri oleh jajaran pemerintah kapanewon, tokoh agama, hingga pengurus lembaga keuangan syariah lokal. Berbagai pihak menyerukan pentingnya akselerasi pendidikan akidah sejak dini, pembentukan baitul mal di tingkat masjid, serta penguatan kapasitas takmir secara berkelanjutan.

Panewu Anom Ngaglik, Eko Adi Prasetyo, menegaskan bahwa merawat konsistensi jamaah Subuh di era modern membutuhkan strategi khusus, terutama dalam merangkul generasi muda di tengah maraknya distrasi digital dan hiburan malam.

“Tanpa akselerasi pendidikan akidah kepada generasi muda, keberlangsungan kegiatan ini akan terganggu. Kelak anak-anak kita akan menjadi orang tua sehingga pembinaan sejak dini sangat penting. Keberadaan sekolah berasrama memang membantu pembinaan secara internal, namun di lingkungan masyarakat umum masih diperlukan upaya bersama untuk mengajak anak-anak dan remaja memakmurkan masjid,” ujar Eko Adi Prasetyo di hadapan para jamaah pada Minggu (19/07/2026).

Guna memperkuat habituasi tersebut, Eko melontarkan gagasan agar semangat Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah dilengkapi dengan Gerakan Ayah Mengajak Anak Salat Subuh Berjamaah di Masjid. Menurutnya, keteladanan seorang ayah menjadi kunci pembentukan karakter dan benteng akidah anak sejak usia dini.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kapanewon Ngaglik, Hajar Dewantara, mendorong agar masjid meluaskan perannya tidak hanya sebagai sarana ibadah mahdhoh, tetapi juga pusat pendidikan, pembinaan lansia, dan basis ekonomi umat. Ia mengusulkan pendirian unit baitul mal di setiap masjid untuk mengoptimalkan potensi zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf).

“Dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu masyarakat kurang mampu sekaligus mendukung berbagai kegiatan kemasjidan. Banyak masjid di pedesaan masih mengalami kendala regenerasi takmir sehingga diperlukan pelatihan yang berkesinambungan agar pengelolaan masjid semakin profesional,” pukas Hajar Dewantara.

Sinergi penguatan ekonomi berbasis keumatan tersebut turut didukung oleh lembaga keuangan syariah setempat. Ketua BMT Maslahah Mursalah lil Ummah (MUU) Ngaglik menyatakan komitmennya untuk terus membackup kegiatan dakwah dan pemberdayaan sosial di Ngaglik.

“BMT MUU menjalankan dua fungsi utama, yaitu baitul mal sebagai pengelola dana sosial non-profit dan baitut tamwil sebagai lembaga pembiayaan syariah bagi pengembangan usaha masyarakat. Saat ini BMT MUU memiliki lebih dari anggota dengan dana kelolaan mencapai lebih dari 77 miliar rupiah. Selain layanan simpan pinjam syariah, kami juga menjalankan program kepedulian di bidang dakwah, dhuafa, pendidikan TPA/TPQ, hingga lingkungan,” paparnya.

Sebagai bentuk kepedulian sosial yang inklusif, BMT MUU Ngaglik juga mengumumkan rencana pembukaan Sekolah Lansia bagi warga berusia 60 tahun ke atas. Program ini dirancang guna menyiapkan para lansia agar tetap sehat, mandiri, dan aktif bermasyarakat dalam suasana keagamaan yang mendukung (Endarwati/KIM Donoharjo).




Semarak Hari Jadi ke-78, Festival Budaya Kalurahan Sinduadi Sajikan Kirab Bregada Hingga Atraksi Gerobak Sapi

Sleman – Ribuan warga memadati kawasan Kalurahan Sinduadi untuk menyaksikan kemeriahan Festival Budaya dalam rangka memperingati Hari Jadi Kalurahan Sinduadi ke-78 pada Minggu (19/07/2026). Perayaan tahunan yang dipusatkan di halaman Kantor Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman ini melibatkan kontingen dari 18 padukuhan serta pelbagai elemen masyarakat yang menampilkan beragam seni tradisi, kirab budaya, dan kreativitas lokal.

Prosesi kirab budaya diawali dengan parade gagah prajurit bregada khas Yogyakarta yang membuka barisan arak-arakan. Suasana kian semarak dengan hadirnya Maskot Naga Wicaksana sebagai ikon perayaan, yang melambangkan simbol kebijaksanaan, semangat, serta arah kemajuan Kalurahan Sinduadi.

Nuansa nostalgia Yogyakarta tempo dulu terasa kental ketika Lurah Sinduadi, Senen Haryanto, hadir menaiki andong hias bersama sang istri. Rombongan pamong kalurahan menyulut perhatian warga dengan mengendarai gerobak sapi tradisional yang dihias artistik menyusuri rute kirab hingga area display penilaian dewan juri.

Lurah Sinduadi, Senen Haryanto, menyampaikan bahwa festival budaya ini diselenggarakan bukan sekadar rutinitas seremoni ulang tahun wilayah, melainkan wadah pemersatu dan ruang ekspresi kearifan lokal bagi warga Sinduadi.

“Melalui perayaan hari jadi ke-78 ini, kami ingin memperkuat rasa persatuan, melestarikan warisan budaya lokal, serta menumbuhkan kebanggaan masyarakat terhadap identitas daerahnya. Budaya adalah perekat kehidupan bermasyarakat sekaligus modal penting untuk membangun Sinduadi yang semakin maju, berbudaya, dan sejahtera,” ujar Senen Haryanto di sela-sela kegiatan pada Minggu (19/07/2026).

Pemanfaatan gerobak sapi dalam festival ini menyimpan nilai filosofis serta historis yang mendalam bagi masyarakat Jawa. Kendaraan agraris tradisional ini memuat simbol kerja keras, kesederhanaan, dan gotong royong. Pada era perjuangan kemerdekaan, gerobak sapi menjadi moda transportasi vital yang dikemudikan oleh para bajingan—sebutan terhormat bagi kusir gerobak sapi yang dikenal berani dan disegani di jalanan.

Unsur pemuda juga mengambil peran penting dalam pentas budaya ini. Rangkaian perayaan ditutup secara spektakuler lewat pertunjukan tari kolosal yang dibawakan secara energik oleh puluhan remaja Sinduadi di bawah binaan Fitri.

Kemeriahan Festival Budaya Kalurahan Sinduadi ke-78 ini menumpahkan antusiasme tinggi dari masyarakat setempat. Sinergi antara pemerintah kalurahan, tokoh adat, dan generasi muda ini diharapkan dapat terus merawat kelestarian budaya Yogyakarta di tengah derasnya arus modernisasi (Y. Edy/KIM Pijar Mlati).




Tekan Angka Pneumonia pada Anak, TP PKK Margorejo Gembleng Kader dan Keluarga Lewat Edukasi Kesehatan

Sleman – Upaya menekan risiko infeksi saluran pernapasan akut, khususnya penyakit pneumonia pada balita dan anak-anak, terus digalakkan hingga tingkat akar rumput. Tim Penggerak (TP) Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKM) Kalurahan Margorejo menggelar penyuluhan kesehatan komprehensif yang memfokuskan pada penguatan peran kader dan edukasi keluarga di Ruang Pertemuan Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pada Minggu (19/07/2026).

Kegiatan edukatif ini melibatkan puluhan kader PKK serta kader kesehatan padukuhan sebagai garda terdepan di masyarakat. Pertemuan tersebut dibuka langsung oleh Ketua TP PKK Kalurahan Margorejo, Maryana Abdul Azis, yang menegaskan posisi strategis organisasi PKK dalam membangun ketahanan kesehatan keluarga dan mendukung program pencegahan penyakit dari pemerintah.

“Pengetahuan yang dimiliki kader diharapkan dapat diteruskan kepada masyarakat. Edukasi yang sederhana namun dilakukan secara berkelanjutan akan memberikan dampak besar terhadap peningkatan kesehatan keluarga,” ujar Maryana Abdul Azis di sela-sela pembukaan acara pada Minggu (19/07/2026).

Maryana menekankan bahwa kapasitas kader perlu dipupuk secara berkala karena merekalah yang berinteraksi langsung dengan warga melalui kegiatan dasawisma maupun posyandu. Dengan memiliki pemahaman yang mumpuni, kader dapat membimbing orang tua di wilayahnya untuk menciptakan lingkungan rumah yang sehat dan tanggap terhadap bahaya infeksi pernapasan.

Materi inti penyuluhan disampaikan oleh kader kesehatan Pokja 4 Kalurahan Margorejo, Sri Krismiyati. Dalam pemaparannya, ia mengulas secara mendalam bahaya pneumonia sebagai peradangan paru-paru akibat infeksi bakteri, virus, atau jamur yang hingga kini masih menjadi salah satu pemicu utama kematian anak di bawah usia lima tahun jika terlambat ditangani.

“Orang tua perlu mengenali tanda-tanda awal seperti demam, batuk, napas cepat, atau sesak. Jangan menunggu kondisi anak memburuk. Segera bawa ke fasilitas kesehatan agar mendapatkan penanganan sedini mungkin,” tegas Sri Krismiyati.

Sri membeberkan langkah konkret penangkalan pneumonia yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Upaya pencegahan tersebut meliputi pemberian imunisasi dasar lengkap, pemenuhan asupan gizi seimbang, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), penataan ventilasi rumah yang baik, serta perlindungan ketat agar anak tidak terpapar asap rokok maupun polusi udara rumah tangga.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang sesi diskusi interaktif, di mana para kader berkonsultasi langsung mengenai cara membedakan gejala batuk biasa dengan indikasi pneumonia pada balita. Melalui penyuluhan ini, TP PKK Kalurahan Margorejo optimistis tingkat literasi kesehatan masyarakat akan melesat naik, sehingga deteksi dini dan tindakan pencegahan pneumonia dapat berjalan masif demi mencetak generasi muda Sleman yang sehat dan berkualitas (SBD/KIM Tempel).




Jaga Kebugaran dan Disiplin, Anggota Satlinmas Margorejo Ikuti Pembinaan Fisik serta Penguatan Motivasi

Sleman – Kesiapsiagaan anggota Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) dalam menjaga ketenteraman wilayah sangat dipengaruhi oleh ketahanan fisik yang prima, tingkat kedisiplinan, serta tingginya semangat pengabdian. Gna menggembleng performa personel di lapangan, puluhan anggota Satlinmas Kalurahan Margorejo mengikuti kegiatan pembinaan terpadu yang memadukan latihan fisik ringan dan pembekalan motivasi di halaman Kantor Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pada Minggu (19/07/2026).

Rangkaian kegiatan pembinaan diawali dengan arahan mendalam dari Jogoboyo Kalurahan Margorejo, Farhan Mei Ustadza. Ia menegaskan bahwa Satlinmas merupakan garda terdepan sekaligus mitra strategis pemerintah kalurahan yang mengemban tugas penting dalam memelihara ketertiban umum, mengamankan kegiatan warga, hingga mendampingi penanganan kondisi darurat.

“Satlinmas harus selalu siap menjalankan tugas dengan disiplin, memiliki rasa tanggung jawab, dan menjaga semangat pengabdian. Kehadiran Satlinmas yang sigap akan memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat,” ujar Farhan Mei Ustadza di hadapan peserta pembinaan pada Minggu (19/07/2026).

Seusai sesi pengarahan, seluruh anggota Satlinmas langsung diarahkan mengikuti latihan fisik ringan berupa pereregangan otot dan senam kesegaran. Sesi latihan fisik ini dirancang khusus guna melatih kelenturan tubuh, menjaga ketahanan stamina, serta meminimalisasi risiko cedera saat bertugas di area yang dinamis.

Dukungan terhadap penguatan mental dan solidaritas personel juga datang dari unsur TNI dan Polri. Babinsa Margorejo, Anton Sutrisno, menekankan pentingnya membangun jiwa korsa dan gotong royong agar setiap kendala dalam pengamanan lingkungan dapat diselesaikan secara efektif dan efisien.

“Satlinmas merupakan garda terdepan yang selalu hadir di tengah masyarakat. Dengan disiplin, kerja sama yang baik, dan kondisi fisik yang prima, setiap tugas dapat dilaksanakan secara optimal,” kata Anton Sutrisno.

Senada dengan hal tersebut, Bhabinkamtibmas Margorejo, Agung Priyatno, mengajak seluruh jajaran Satlinmas untuk mempererat sinergitas bersama unsur tiga pilar di tingkat kalurahan guna menciptakan kondisi kamtibmas yang aman, tertib, dan kondusif.

“Semangat pengabdian harus terus dipelihara. Satlinmas bukan hanya membantu menjaga keamanan, tetapi juga menjadi mitra masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman, tertib, dan kondusif,” tutur Agung Priyatno.

Melalui program pembinaan berkala yang menggabungkan peningkatan kebugaran dan penguatan mental ini, jajaran Satlinmas Kalurahan Margorejo diharapkan semakin mantap dan profesional dalam memberikan pelayanan pengamanan yang humanis serta responsif bagi seluruh warga Sleman. (SBD/KIM Tempel)




Atasi Kondisi Darurat Sampah, Akademisi UNY Gembleng Warga Kapanewon Depok Kelola Limbah Rumah Tangga

Sleman – Kelompok masyarakat di Kapanewon Depok mendapatkan edukasi intensif mengenai pengelolaan sampah secara mandiri dan berkelanjutan pada Sabtu (18/07/2026). Langkah nyata ini diambil sebagai respons cepat untuk mengatasi kondisi darurat sampah sekaligus meminimalisasi volume pembuangan ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).

Ketua Program Pengabdian Kepada Masyarakat/Dosen Berkegiatan di Luar Kampus (PKM/DLK) FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) 2026, Bernadetta Octavia, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran kolektif dari lingkup terkecil, yaitu rumah tangga. Berdasarkan hasil survei timnya di lapangan, tumpukan sampah domestik yang dikantongi masyarakat di wilayah Depok saat ini masih didominasi oleh perpaduan sampah anorganik sebesar 63 persen dan sampah organik sebesar 57 persen yang belum dipilah dengan baik.

“Masyarakat diedukasi untuk melakukan identifikasi dan pemilahan menjadi tiga kategori utama sejak dari rumah, yaitu sampah daur ulang (recycle), sampah organik, dan sampah residu,” ujar Bernadetta Octavia saat memberikan pemaparan pada Sabtu (18/07/2026).

Lewat program PKM/DLK I ini, warga dilatih mengolah sampah organik rumah tangga menjadi produk yang bernilai guna dan ramah lingkungan. Beberapa metode praktis yang diajarkan meliputi pembuatan kompos, ekoenzim, hingga Pupuk Organik Cair (POC). Guna menunjang keberlanjutan program, setiap peserta difasilitasi dengan stimulan berupa ember khusus, cairan EM4, serta molase sebagai bahan pemicu fermentasi.

Untuk jenis sampah anorganik, warga didorong menerapkan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R). Langkah yang diajarkan meliputi pembuatan ecobrick, pemanfaatan kreativitas kerajinan tangan, hingga pemisahan sampah bernilai ekonomis untuk dijual kembali. Langkah ini dinilai efektif memangkas rantai pembuangan langsung ke TPST sehingga hanya menyisakan sampah jenis residu yang benar-benar tidak dapat diolah lagi.

Tim PKM/DLK menegaskan bahwa edukasi ini tidak berhenti pada teori semata. Satu bulan pascapenyuluhan, tim penilai akan turun langsung ke lapangan guna memantau dan mengecek realisasi kondisi pemilahan sampah di masing-masing rumah tangga sasaran. Pembentukan ekosistem sadar lingkungan ini juga akan didukung dengan apresiasi nyata pada agenda PKM/DLK II mendatang, di mana pemerintah daerah bersama mitra terkait disiapkan untuk memberikan insentif khusus bagi kelompok masyarakat yang paling terampil dan konsisten.

Melalui program edukasi berkelanjutan ini, ketergantungan masyarakat terhadap iuran angkut sampah konvensional diharapkan dapat berkurang dan berganti menjadi kemandirian lingkungan. Gerakan nyata ini ditargetkan mampu membebaskan wilayah Sleman, khususnya Kapanewon Depok, dari potensi banjir akibat sumbatan sampah liar serta menciptakan lingkungan permukiman yang jauh lebih bersih, sehat, dan produktif (Sri Rahayu/KIM Depok).