Muskal Banyuraden Jadi Ruang Partisipatif Susun RKP Kalurahan Tahun Anggaran 2027

Sleman – Musyawarah Kalurahan (Muskal) menjadi bagian penting dalam memastikan proses perencanaan pembangunan di tingkat kalurahan berjalan secara partisipatif, transparan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hal itu mengemuka dalam Muskal untuk menyusun Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Kalurahan Banyuraden Tahun Anggaran 2027 yang berlangsung di Gedung Muhammadiyah, Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Rabu (29/7/2026).

Muskal menjadi forum strategis bagi pemerintah kalurahan bersama Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal), lembaga kemasyarakatan, tokoh masyarakat, serta unsur masyarakat lainnya untuk menyepakati arah pembangunan yang akan menjadi prioritas pada tahun anggaran mendatang. Melalui forum tersebut, berbagai usulan dan kebutuhan masyarakat dihimpun untuk kemudian diselaraskan dengan kemampuan keuangan Kalurahan Banyuraden serta kebijakan pembangunan di tingkat Kapanewon Gamping dan Kabupaten Sleman.

Musyawarah dihadiri Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sleman Gustan Ganda, perwakilan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan Kabupaten Sleman, Panewu Gamping Suyanto, Lurah Banyuraden Sudarisman, Ketua Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal) Banyuraden, Bhabinkamtibmas, Babinsa, serta pemangku kepentingan dan masyarakat. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan pentingnya sinergi dalam merumuskan arah pembangunan kalurahan yang mampu menjawab kebutuhan warga.

Dalam forum tersebut dibahas berbagai rencana kerja Pemerintah Kalurahan Banyuraden yang akan menjadi bagian dari penyusunan RKP Kalurahan Tahun Anggaran 2027 yang dikelompokkan dalam empat bidang utama, yaitu bidang penyelenggaraan pemerintahan, bidang pembangunan, bidang pembinaan kemasyarakatan, serta bidang pemberdayaan masyarakat, penanggulangan bencana dan keadaan darurat.

Ketua DPRD Kabupaten Sleman, Gustan Ganda, menyampaikan bahwa Musyawarah Kalurahan memiliki peran penting dalam memastikan perencanaan pembangunan benar-benar berangkat dari kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Menurutnya, Muskal bukan sekadar forum formalitas dalam tahapan penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Kalurahan, melainkan ruang strategis untuk menyatukan berbagai kepentingan masyarakat dengan arah kebijakan pembangunan pemerintah.

Ia menekankan, penyusunan RKP Kalurahan Banyuraden Tahun Anggaran 2027 harus dilakukan secara cermat dan berbasis pada skala prioritas. Setiap program yang direncanakan perlu mempertimbangkan urgensi kebutuhan masyarakat, manfaat yang dihasilkan, serta kemampuan anggaran yang tersedia.

“Dengan demikian, sumber daya yang dimiliki Kalurahan Banyuraden dapat digunakan secara efektif untuk menjawab persoalan yang benar-benar dirasakan masyarakat,” tandasnya.

Gustan mendorong agar proses perencanaan pembangunan tidak hanya berorientasi pada pembangunan infrastruktur fisik. Pembangunan sumber daya manusia, penguatan ekonomi masyarakat, pemberdayaan kelompok masyarakat, peningkatan kualitas pelayanan publik, serta penguatan ketahanan sosial pun perlu mendapatkan perhatian dalam penyusunan program kerja kalurahan.

Menurutnya, partisipasi masyarakat menjadi kunci keberhasilan pembangunan. Aspirasi warga yang disampaikan melalui Muskal harus dapat dipetakan dan diterjemahkan menjadi program yang realistis, terukur, dan memiliki indikator keberhasilan yang jelas. Dengan proses tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga memiliki ruang untuk terlibat sejak tahap perencanaan hingga pengawasan.

Selain itu, Gustan mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan pemerintahan dan pembangunan kalurahan. Setiap program yang telah disepakati melalui Muskal harus dilaksanakan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

“Semoga hasil Muskal Banyuraden dapat menjadi pijakan kuat dalam penyusunan RKP Kalurahan Tahun Anggaran 2027. Dengan perencanaan yang partisipatif, terukur, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat, pembangunan Kalurahan Banyuraden diharapkan dapat berjalan lebih efektif, berkelanjutan, serta mampu meningkatkan kualitas pelayanan dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Lewat Film Pendek, Mahasiswa UII Angkat Isu Kemanusiaan di Balik Pengelolaan Sampah

Sleman – Kesadaran generasi muda terhadap isu lingkungan terus berkembang, tidak hanya diwujudkan melalui aksi bersih-bersih atau kampanye di media sosial, tetapi juga melalui karya audio visual yang mampu menggugah kepedulian masyarakat.

Hal tersebut ditunjukkan oleh Wistara, kelompok mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) yang beranggotakan Eidhar Khalifa Taqiyya, Daffa Izza Muhammad, Ala Fauziah Latif, dan Fatimah Salma Nuha. Mereka menghadirkan sebuah video bertema pengelolaan sampah yang menyoroti pentingnya keselamatan kerja bagi para pemulung.

Saat ditemui pada Rabu (29/7/2026), Eidhar Khalifa Taqiyya menjelaskan bahwa video tersebut mengisahkan Abid, seorang pemulung muda yang setiap hari bekerja di kawasan berisiko tinggi di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) tanpa menggunakan alat pelindung diri (APD).

“Video yang kami garap mengangkat kisah Abid, seorang pemulung muda yang setiap hari bekerja di zona berbahaya di TPA tanpa menggunakan APD. Paparan debu, gas beracun, serta lingkungan kerja yang tidak layak membuat kondisi kesehatannya terus menurun hingga akhirnya meninggal dunia akibat kerusakan paru-paru kronis,” ujarnya.

Menurut Eidhar, kisah Abid merupakan representasi dari realitas yang masih dialami banyak pekerja informal di sektor persampahan. Meski memiliki peran penting dalam mendukung ekonomi sirkular melalui kegiatan memilah dan mengumpulkan material daur ulang, para pemulung masih menghadapi berbagai risiko pekerjaan tanpa perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja yang memadai.

Melalui pendekatan visual yang menyentuh, Eidhar bersama tim berharap masyarakat, khususnya generasi muda, dapat memandang persoalan sampah dari perspektif yang lebih luas. Sampah bukan hanya persoalan kebersihan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan aspek kemanusiaan, kesehatan, dan penghargaan terhadap para pekerja yang berada di ujung rantai pengelolaan sampah.

Video tersebut juga menyampaikan pentingnya langkah nyata dari pemerintah daerah untuk meningkatkan perlindungan terhadap para pemulung, di antaranya melalui penataan lokasi kerja yang lebih aman, seperti di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) maupun TPS 3R. Dengan sistem pengelolaan yang lebih baik, para pekerja diharapkan memperoleh lingkungan kerja yang lebih aman, akses terhadap penggunaan APD, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.

Video ini juga mengajak masyarakat berperan aktif dalam mengurangi risiko yang dihadapi para pemulung melalui kebiasaan sederhana, seperti memilah sampah organik dan anorganik, membungkus benda tajam sebelum dibuang, serta memisahkan limbah berbahaya dari sampah rumah tangga.

Pesan yang diangkat dalam video tersebut sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta SDG 8 mengenai Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.

Melalui karya kreatif ini, para mahasiswa UII menunjukkan bahwa film dan media digital tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga dapat berfungsi sebagai media edukasi dan advokasi sosial. Kisah Abid mengajak masyarakat untuk tidak hanya peduli terhadap lingkungan, tetapi juga menghargai para pekerja yang selama ini berkontribusi dalam pengelolaan sampah. (Arief Hartanto KIM kertomandiri Turi)




Polsek Gamping Kenalkan Rambu Lalu Lintas Sejak Dini, Bangun Budaya Keselamatan Anak

Sleman – Kesadaran berlalu lintas tidak cukup dibentuk ketika seseorang telah dewasa dan mulai mengendarai kendaraan. Penanaman pemahaman tentang rambu-rambu lalu lintas dan perilaku tertib di jalan perlu dimulai sejak usia sekolah agar keselamatan menjadi bagian dari kebiasaan anak dalam beraktivitas sehari-hari.

Pesan tersebut disampaikan Panit Binmas Kepolisian Sektor Gamping, Aiptu Prastyanto, bersama Bhabinkamtibmas Banyuraden, Aipda Suyanto, saat memberikan edukasi tertib berlalu lintas kepada siswa SD Negeri Demak Ijo 1 Gamping, Sleman, di halaman sekolah setempat, Rabu (29/7/2026).

Di hadapan para siswa, Aiptu Prastyanto mengenalkan sejumlah rambu lalu lintas yang sering ditemui dalam perjalanan sehari-hari. Para siswa diajak memahami fungsi rambu sebagai petunjuk, peringatan, maupun larangan yang harus diperhatikan oleh setiap pengguna jalan. Pengetahuan tersebut diharapkan membuat anak lebih waspada ketika berada di lingkungan lalu lintas.

“Pengenalan rambu lalu lintas kepada anak-anak merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran keselamatan sejak dini. Anak perlu memahami bahwa jalan raya merupakan ruang bersama yang memiliki aturan dan risiko sehingga setiap orang harus bertindak disiplin dan bertanggung jawab,” jelasnya.

Menurut Aiptu Prastyanto, pendidikan lalu lintas tidak hanya ditujukan kepada anak yang kelak akan menjadi pengendara kendaraan bermotor. Sejak sekarang, siswa sudah menjadi bagian dari pengguna jalan, baik sebagai pejalan kaki, penumpang kendaraan, maupun pesepeda. Karena itu, pemahaman mengenai keselamatan di jalan menjadi pengetahuan dasar yang penting dimiliki setiap anak.

“Anak-anak harus dikenalkan dengan rambu-rambu lalu lintas sejak dini. Mereka harus memahami arti setiap rambu dan membiasakan diri untuk tertib ketika berada di jalan, sehingga keselamatan menjadi bagian dari perilaku sehari-hari,” ujarnya dalam kegiatan tersebut.

Lebih lanjut, Aipda Suyanto menekankan pada kebiasaan sederhana yang dapat mencegah terjadinya kecelakaan, seperti memperhatikan kondisi lalu lintas sebelum menyeberang, memilih tempat yang aman untuk menyeberang, memanfaatkan fasilitas penyeberangan, serta tidak bermain atau bercanda di badan jalan. Kebiasaan tersebut dinilai penting karena anak-anak merupakan kelompok yang perlu mendapatkan perhatian khusus dalam aspek keselamatan di ruang publik.

Ia pun mengingatkan pentingnya keterlibatan keluarga dan lingkungan sekolah dalam memperkuat pesan keselamatan berlalu lintas. Menurut Aipda Suyanto, edukasi yang diberikan kepada siswa akan lebih efektif apabila diikuti dengan keteladanan orang dewasa, terutama orang tua dan guru, dalam mematuhi aturan lalu lintas.

“Anak-anak akan lebih mudah meniru apa yang mereka lihat. Karena itu, kepatuhan terhadap aturan lalu lintas harus dimulai dari lingkungan terdekat. Ketika orang tua dan orang dewasa memberikan contoh yang baik, anak akan lebih mudah tumbuh menjadi pengguna jalan yang tertib dan mengutamakan keselamatan,” tegasnya.

Kegiatan edukasi tersebut menjadi bagian dari upaya kepolisian mendekatkan pendidikan keselamatan lalu lintas kepada generasi muda agar memiliki budaya disiplin dan saling menghormati di jalan. Sehingga, anak-anak sejak dini memiliki bekal untuk menjadi generasi pengguna jalan yang berkeselamatan dan turut menekan potensi kecelakaan lalu lintas di masa mendatang. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




KSB Sari Migunani Asah Kesiapsiagaan melalui Simulasi Penanggulangan Bencana

Sleman – Tidak hanya menerima pembekalan teori, anggota Kampung Siaga Bencana (KSB) Sari Migunani Kalurahan Sumbersari juga langsung diterjunkan ke lapangan untuk mengikuti praktik dan simulasi penanggulangan bencana di halaman Kantor Kalurahan Sumbersari, Rabu (29/7/2026).

Kegiatan ini merupakan hari kedua rangkaian pembentukan KSB Sari Migunani sebelum resmi dikukuhkan oleh Bupati/Wakil Bupati Sleman pada Kamis (30/7/2026).

Kegiatan diawali dengan bimbingan teknis yang diberikan oleh para pembina Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Sleman. Setiap divisi KSB memperoleh pembekalan sesuai tugas dan fungsinya, mulai dari divisi posko, logistik, shelter, pertolongan pertama, hingga dapur umum.

Usai pembekalan, peserta mengikuti simulasi penanganan bencana dengan skenario angin kencang. Dalam simulasi tersebut digambarkan situasi darurat ketika warga panik menyelamatkan diri akibat angin yang menyebabkan sejumlah pohon tumbang dan menimpa rumah warga. Skenario juga menghadirkan korban luka yang membutuhkan pertolongan serta evakuasi secara cepat dan tepat.

Melalui simulasi ini, kemampuan anggota KSB diuji, baik dalam hal koordinasi, komunikasi, maupun kecepatan mengambil tindakan sesuai standar operasional. Seluruh peserta dituntut menerapkan materi mengenai direktori kebencanaan, manajemen logistik, hingga penanganan korban yang telah dipelajari pada hari sebelumnya.

Salah satu pembina Tagana Sleman, Wahyudin Hadi menegaskan bahwa simulasi menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana.

“Simulasi penting agar saat kejadian nyata, KSB tidak gagap. Semua mengetahui tugasnya masing-masing dan bergerak sesuai prosedur,” ujarnya.

Dengan selesainya rangkaian praktik dan simulasi tersebut, KSB Sari Migunani dinilai siap untuk dikukuhkan sebagai Kampung Siaga Bencana di Kalurahan Sumbersari. Keberadaan KSB diharapkan menjadi garda terdepan dalam upaya penanggulangan bencana berbasis masyarakat sekaligus memperkuat kesiapsiagaan warga menghadapi potensi bencana di wilayah Kapanewon Moyudan.

Ketua Forum Kampung Siaga Bencana Kabupaten Sleman, Suryono berpesan agar seluruh anggota KSB Sari Migunani senantiasa menjaga semangat, memperkuat kebersamaan, dan memelihara kekompakan dalam menjalankan tugas kemanusiaan.

“Tetap semangat, maju bersama, dan jaga kekompakan. KSB harus menjadi kekuatan masyarakat dalam menghadapi setiap potensi bencana,” pesannya. (Giek / KIM Moyudan)




Kenduri Saparan Warga Donolayan, Lestarikan Tradisi dan Pererat Silaturahmi

Sleman – Ratusan warga Padukuhan Donolayan, Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, berkumpul di Lapangan Donolayan, Rabu (29/7/2026), untuk mengikuti Kenduri Saparan. Tradisi yang diikuti sekitar 250 kepala keluarga dari lima RT tersebut menjadi wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus upaya melestarikan budaya, mempererat tali persaudaraan, dan memperkuat kebersamaan masyarakat.

Dukuh Donolayan, Arif Irnawan mengatakan Kenduri Saparan merupakan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Selain sebagai ungkapan syukur, tradisi ini menjadi momentum untuk membersihkan diri, menyucikan hati, serta mempererat silaturahmi antarwarga.

“Peserta kenduri berasal dari sekitar 250 kepala keluarga dari lima RT. Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, melestarikan budaya luhur, sekaligus memperkuat persaudaraan dan kebersamaan warga,” ujarnya.

Suasana kebersamaan mulai terasa sejak sore hari ketika warga berbondong-bondong datang ke lapangan sambil membawa bungkusan kenduri yang kemudian didoakan oleh Rois, Mbah Wagiman.

Salah seorang warga RT 2, Kristiyanto, mengaku senang karena Kenduri Saparan menjadi ajang mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Donolayan. Menurutnya, tradisi tersebut juga berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya bagi Padukuhan Donolayan maupun Kalurahan Donoharjo.

Ia menilai tradisi seperti Kenduri Saparan tetap relevan dipertahankan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Generasi muda, menurutnya, harus mampu mengikuti kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), tanpa melupakan akar budaya yang diwariskan para leluhur.

“Melalui kegiatan ini, budaya dapat terus dikenalkan kepada generasi muda sekaligus menjadi sarana bagi seluruh warga untuk bertemu dan mempererat silaturahmi,” katanya.

Hal senada disampaikan Tri, salah seorang warga yang terlibat dalam persiapan acara. Meski harus menghabiskan waktu untuk memasak bersama ibu-ibu lainnya, ia mengaku bahagia karena kegiatan tersebut semakin memperkuat semangat gotong royong dan kebersamaan.

“Meski lelah setelah memasak bersama ibu-ibu lainnya, kami merasa bahagia karena kegiatan ini mempererat rasa kebersamaan dan gotong royong,” ungkapnya.

Tradisi ini diharapkan terus menjadi pengingat akan pentingnya rasa syukur, kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian antarsesama dalam kehidupan bermasyarakat. ( Endarwati/KIM Donoharjo )