RS UAD Perkuat Upaya Preventif Kesehatan Masyarakat Sleman Melalui Pemeriksaan Kesehatan Gratis

Sleman – Rumah Sakit Universitas Ahmad Dahlan (UAD) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat upaya preventif kesehatan masyarakat. Komitmen ini diwujudkan melalui kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis yang digelar berkolaborasi dengan Puskesmas Ngaglik I di Padukuhan Wonosobo, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (18/07/2026).

Kegiatan yang berlangsung tertib dan mendapat antusiasme tinggi dari warga ini diikuti oleh 60 peserta. Pelaksanaan pemeriksaan kesehatan di lapangan turut melibatkan kader Posyandu setempat guna mendukung kelancaran pelayanan.

Kepala Bidang Humas, Pemasaran, dan Medikolegal RS UAD, Tata Swastika Ayuningtyas, menyampaikan bahwa layanan ini diselenggarakan untuk meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya deteksi dini terhadap risiko penyakit melalui penyediaan fasilitas kesehatan yang mudah dijangkau.

“Layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan gula darah, asam urat, kesehatan mata, kesehatan tulang, serta konsultasi penyakit dalam. Berbagai layanan tersebut dihadirkan untuk membantu masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya sejak dini,” ujar Tata Swastika Ayuningtyas.

Pemeriksaan medis serta konsultasi kesehatan dipimpin langsung oleh Rifa’i Syarif Abdullah. Dalam kesempatan tersebut, ia turut memberikan edukasi kesehatan secara langsung agar warga terbiasa melakukan pemeriksaan secara berkala.

“Kegiatan ini menjadi langkah preventif untuk mendeteksi faktor risiko berbagai penyakit tidak menular sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin,” kata Rifa’i Syarif Abdullah.

Selain berfokus pada tindakan preventif, Tata Swastika Ayuningtyas menambahkan bahwa agenda ini berfungsi sebagai wadah edukasi mengenai ragam fasilitas dan pelayanan medis yang tersedia di RS UAD. Hal tersebut bertujuan agar warga memperoleh rujukan informasi kesehatan yang tepat dan sesuai kebutuhan.

Melalui sinergi erat antara RS UAD, Puskesmas Ngaglik I, pemerintah kalurahan, dan para kader Posyandu, diharapkan tingkat kepedulian masyarakat terhadap kesehatan diri serta keluarga terus meningkat. Kolaborasi ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam mendorong derajat kesehatan masyarakat yang optimal melalui pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan edukatif. (Athiful/KIM Depok)




Dari Lereng Merapi, Suharno Aktif Menggerakkan KIM di Usia 84 Tahun

Sleman – Di usianya yang telah menginjak 84 tahun, Suharno masih menunjukkan dedikasi luar biasa dalam menggerakkan Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Kertomandiri Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman. Pengabdiannya yang berlangsung lebih dari enam dekade menjadi bukti nyata bahwa semangat melayani publik melalui penyebarluasan informasi tidak terhalang oleh usia.

Saat ditemui di Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (18/07/2026), Suharno mengisahkan perjalanan panjangnya yang dimulai sejak berusia 21 tahun. Kala itu, ia bergabung dengan Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa (Kelompencapir), yaitu program komunikasi desa yang mempertemukan pemerintah dengan kalangan petani dan nelayan melalui forum diskusi.

Seiring dinamika zaman dan perkembangan teknologi, Kelompencapir bertransformasi menjadi Kelompok Informasi dan Komunikasi Masyarakat (KIKM), yang kini lebih dikenal sebagai Komunitas Informasi Masyarakat (KIM). Suharno menekankan bahwa meski nama dan media terus berganti, fokus utama organisasi tersebut tetap konsisten.

“Peran KIM tetap sama, yaitu menyampaikan informasi pemerintah kepada masyarakat sekaligus menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pemerintah. Yang berubah hanya cara dan medianya mengikuti perkembangan zaman,” ujar Suharno.

Sosok yang lahir dari keluarga polisi ini mencatatkan perbedaan tanggal lahir antara ijazah pada 5 September 1944 dan catatan keluarga pada 5 September 1942. Kendati demikian, hal tersebut tak menyurutkan langkahnya untuk terus mengabdi. Saat ini, Suharno dipercaya mengemban amanah sebagai Penasihat Forum Komunikasi KIM Daerah Istimewa Yogyakarta, Wakil Ketua Forum Komunikasi KIM Kabupaten Sleman, sekaligus Sekretaris KIM Kertomandiri.

Suharno menilai keberadaan KIM memiliki nilai strategis sebagai mitra pemerintah dalam menyampaikan kebijakan hingga level tapak, sekaligus menjadi wadah untuk menampung suara warga.

“KIM mempunyai peranan penting bagi negara, nusa, dan bangsa. Pemerintah perlu memperhatikan KIM karena menjadi juru bicara pemerintah dalam menyampaikan aturan sekaligus membawa masukan dari masyarakat,” kata Suharno.

Kiprah konsisten KIM Kertomandiri yang kini beranggotakan sekitar 45 orang dan rutin menggelar pertemuan bulanan ini bahkan telah memikat perhatian luas. Kelompok yang bermarkas di lereng Gunung Merapi tersebut tercatat pernah dua kali menerima kunjungan dari Malaysia, serta menjadi destinasi studi banding dari Sulawesi Barat, Kalimantan Tengah, hingga Kabupaten Gunungkidul.

Bagi Suharno, KIM bukan sekadar wadah pertukaran informasi, melainkan ruang partisipasi aktif dalam pembangunan daerah. Semangat pengabdian tanpa batas usia yang dipancarkan Suharno menjadi inspirasi berharga bagi penguatan literasi informasi masyarakat. (Athiful/KIM Depok)




Ribuan Warga Padati Upacara Adat Saparan Bekakak Gamping, Bupati Sleman Ajak Jaga Warisan Budaya

Sleman – Ribuan warga dari berbagai daerah memadati kawasan Lapangan Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, untuk menyaksikan kemeriahan upacara adat Saparan Bekakak pada Jumat (17/07/2026). Tradisi tahunan yang syarat akan nilai filosofis ini dihadiri langsung oleh Bupati Sleman, Harda Kiswaya, bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Sleman sebagai bentuk komitmen dalam merawat warisan budaya lokal.

Rangkaian prosesi adat diawali dengan ritual yang diikuti secara tertib oleh barisan bregodo (prajurit rakyat). Suasana sakral kian terasa saat Bupati Sleman didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman melakukan ritual pecah kendi, yang kemudian dilanjutkan dengan pelepasan burung ke udara bebas sebagai simbol kebebasan serta keselarasan hidup manusia dengan alam sekitar.

Usai prosesi pembukaan, suasana berubah meriah saat kirab budaya mulai bergerak menyusuri jalanan utama. Pasukan bregodo mengarak sesaji bekakak—yakni replika pengantin yang terbuat dari tepung ketan berisi gula merah—bersama deretan ogoh-ogoh raksasa menuju lokasi puncak upacara adat di kawasan Petilasan Gunung Gamping.

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menegaskan bahwa agenda budaya rutin ini bukan sekadar atraksi seni bernilai tinggi, melainkan sarana krusial untuk mempererat tali silaturahmi dan merawat kerukunan antarwarga lintas wilayah di tengah arus modernisasi.

“Saparan Bekakak ini merupakan simbol rasa syukur masyarakat Ambarketawang kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui tradisi. Harapannya, warga mendapatkan berkah, dijauhkan dari marabahaya, diberikan tanah yang subur, kesehatan, keselamatan, serta rezeki yang melimpah,” ujar Harda Kiswaya di sela-sela acara.

Harda juga mengapresiasi tinggi semangat gotong royong seluruh elemen masyarakat, para pegiat seni, hingga jajaran pemerintah daerah yang konsisten menjaga eksistensi adat tradisi luhur tersebut. Seluruh rangkaian perayaan budaya ini kemudian diakhiri dengan prosesi puncak berupa penyembelihan sepasang bekakak yang berlangsung khidmat di Petilasan Gunung Gamping.




Puskesmas Tempel I Gelar Survey Mawas Diri di Margorejo Perkuat Peran Kader dalam Pemetaan Masalah Kesehatan

Sleman – Ketersediaan data kesehatan yang akurat menjadi fondasi penting dalam menyusun program kesehatan yang tepat sasaran di tingkat masyarakat. Guna mewujudkan hal tersebut, Puskesmas Tempel I menggelar kegiatan pembekalan Survey Mawas Diri (SMD) yang berlangsung di Ruang Pertemuan Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (18/07/2026).

Kegiatan ini dihadiri oleh para kader kesehatan dari seluruh padukuhan se-Kalurahan Margorejo. Mereka dibekali pemahaman mendalam mengenai mekanisme pelaksanaan SMD sekaligus dipersiapkan menjadi ujung tombak dalam menghimpun data kesehatan masyarakat di tingkat keluarga secara presisi.

Materi utama penyuluhan disampaikan oleh Bidan Desa Puskesmas Tempel I, Farida Nurul Aini. Dalam paparannya, ia menjelaskan teknis pelaksanaan SMD beserta tata cara pengisian instrumen survei berbasis digital. Menurutnya, SMD merupakan langkah awal untuk memperoleh gambaran nyata mengenai kondisi kesehatan warga di lapangan.

“Data yang diperoleh melalui Survey Mawas Diri akan menjadi dasar dalam menentukan prioritas masalah kesehatan. Karena itu, ketelitian kader dalam mendampingi masyarakat saat pengisian survei sangat menentukan kualitas data yang dihasilkan,” ujar Farida Nurul Aini.

Farida Nurul Aini menambahkan bahwa pelaksanaan SMD di Kalurahan Margorejo menargetkan minimal 365 kepala keluarga (KK) sebagai responden. Target populasi tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang representatif mengenai peta kondisi kesehatan masyarakat di seluruh wilayah kalurahan.

Ia menerangkan, instrumen survei mencakup berbagai indikator kesehatan penting, seperti keikutsertaan kelas ibu hamil, pemberian ASI eksklusif, konsumsi tablet tambah darah bagi remaja putri, kebiasaan tidak merokok di dalam rumah, pemantauan pertumbuhan balita, aktivitas fisik, penggunaan keluarga berencana, perilaku berobat penderita penyakit tidak menular, hingga pengelolaan sampah rumah tangga.

Sementara itu, Penanggung Jawab Pelayanan Promosi Kesehatan (Promkes) Puskesmas Tempel I, Fuad Masykuri, memberikan penekanan mengenai pentingnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai langkah preventif dalam meningkatkan kualitas hidup warga.

“Perilaku Hidup Bersih dan Sehat harus menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika masyarakat menerapkannya secara konsisten, risiko berbagai penyakit dapat ditekan dan kualitas hidup akan semakin meningkat,” kata Fuad Masykuri.

Melalui perhelatan ini, para kader kesehatan didorong untuk aktif mengedukasi masyarakat sekaligus mendampingi proses pengumpulan data hingga batas waktu yang ditentukan. Pendekatan partisipatif melalui Survey Mawas Diri diharapkan mampu menghasilkan basis data yang valid demi melahirkan kebijakan program kesehatan yang efektif dan berkelanjutan. (SBD/KIM Tempel)




Kamituwo Margorejo Ajak Lansia Tetap Aktif dan Mandiri untuk Menjaga Kualitas Hidup

Sleman – Memasuki usia lanjut tidak berarti berhenti berkontribusi bagi keluarga maupun lingkungan sekitar. Masa lansia justru menjadi fase krusial untuk tetap memelihara kesehatan fisik, mempererat hubungan sosial, serta menjaga semangat hidup agar kualitas dan kebahagiaan di usia senja tetap optimal.

Pesan tersebut ditegaskan oleh Kamituwo Kalurahan Margorejo, Anwar Ihsani, saat memberikan pemaparan materi dalam kegiatan Kelas Lansia bertema “Lansia Sehat dan Mandiri”. Agenda yang diinisiasi oleh Pokja I PKK Kalurahan Margorejo ini berlangsung di Ruang Pertemuan Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (18/07/2026).

Dalam penjelasannya, Anwar Ihsani menekankan bahwa peningkatkan angka harapan hidup di Indonesia harus diimbangi dengan langkah nyata untuk mewujudkan lansia yang sehat, mandiri, dan tetap berdaya. Menurutnya, keluarga dan lingkungan sekitar memegang peranan besar dalam menciptakan suasana kondusif agar para lansia senantiasa merasa dihargai dan dibutuhkan.

“Menjadi lansia bukan berarti menjadi beban. Pengalaman hidup yang dimiliki merupakan modal berharga untuk tetap berkontribusi bagi keluarga maupun masyarakat. Yang terpenting adalah menjaga kesehatan, mempererat silaturahmi, dan tetap aktif dalam berbagai kegiatan,” ujar Anwar Ihsani.

Ia menerangkan bahwa partisipasi rutin dalam aktivitas sosial sangat efektif membantu lansia merawat kesehatan fisik dan mental. Keterlibatan di kelompok kemasyarakatan, kegiatan keagamaan, maupun wadah komunitas lansia dapat menjadi sarana interaktif untuk saling berbagi pengalaman sekaligus mencegah rasa kesepian.

Di samping penguatan mental dan sosial, Anwar Ihsani mengingatkan pentingnya menerapkan pola hidup sehat, seperti menjaga asupan gizi, berolahraga ringan secara teratur, istirahat cukup, dan memeriksakan kesehatan secara berkala guna mengantisipasi penyakit degeneratif.

Menurutnya, perhatian terhadap lansia tidak hanya berfokus pada layanan medis, tetapi juga pada pembentukan lingkungan yang inklusif dan ramah lansia agar mereka memiliki ruang untuk terus berpartisipasi dan tampil percaya diri.

“Ketika lansia merasa dihargai, dilibatkan, dan memiliki ruang untuk beraktivitas, mereka akan lebih optimistis dalam menjalani hari-harinya. Itulah yang perlu dibangun bersama oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah,” kata Anwar Ihsani.

Melalui penyelenggaraan Kelas Lansia ini, kesadaran masyarakat diharapkan kian meningkat bahwa proses menua merupakan siklus kehidupan alami yang perlu dipersiapkan secara matang. Dengan dukungan keluarga serta lingkungan yang peduli, para lansia dapat menjalani masa tua secara sehat, mandiri, produktif, dan inspiratif. (SBD/KIM Tempel)