Pentas Wayang Kulit Lakon Bambang Sembotho Semarakkan Saparan Bekakak Ambarketawang

Sleman – Pergelaran wayang kulit dengan lakon “Bambang Sembotho” menjadi salah satu sajian utama dalam rangkaian Upacara Adat Saparan Bekakak Ambarketawang 2026. Pertunjukan budaya tersebut berlangsung khidmat dan meriah di Pendhapa Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Jumat (17/07/2026) malam.
Penampilan dalang muda, Bayu Gupito, berhasil menyuguhkan tontonan yang memikat masyarakat. Pementasan ini sekaligus merefleksikan komitmen daerah dalam melestarikan seni tradisi serta menanamkan nilai-nilai luhur seperti kejujuran, keteguhan, dan kebijaksanaan kepada generasi muda di tengah arus modernisasi.
Ratusan warga memadati lokasi acara sejak sore hari untuk menyaksikan pergelaran yang telah menjadi bagian integral dari tradisi tahunan tersebut. Kehadiran seni pedalangan dalam Upacara Adat Saparan Bekakak kian menegaskan posisinya sebagai warisan budaya yang memadukan nilai adat, ekspresi seni, dan kearifan spiritual secara berkelanjutan.
Bayu Gupito menjelaskan bahwa pemilihan lakon “Bambang Sembotho” membawa pesan filosofis yang mendalam mengenai kehidupan dan pengabdian.
“Lakon Bambang Sembotho dipilih karena sarat dengan pesan tentang keteguhan hati, keberanian menghadapi cobaan, kejujuran, serta pengabdian kepada kebenaran. Nilai-nilai tersebut dinilai relevan dengan semangat masyarakat Ambarketawang dalam menjaga harmoni kehidupan, mempererat persaudaraan, dan mempertahankan warisan budaya di tengah perkembangan zaman,” ujar Bayu Gupito.
Melalui perpaduan sabetan, sulukan, dialog interaktif, serta iringan gamelan yang harmonis, pertunjukan berlangsung dinamis dari awal hingga larut malam. Penonton dari berbagai lintas generasi, mulai dari anak-anak hingga usia lanjut, tampak antusias mengikuti setiap alur cerita pewayangan.
Bayu Gupito menambahkan bahwa seni pedalangan Jawa tidak sekadar berfungsi sebagai media hiburan, melainkan juga wadah edukasi moral dan kepemimpinan bagi masyarakat.
“Selain menjadi tontonan, wayang kulit juga berfungsi sebagai media tuntunan yang menyampaikan ajaran tentang kepemimpinan, kebijaksanaan, tanggung jawab, dan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, maupun alam. Melalui cerita pewayangan, pesan-pesan luhur disampaikan secara halus sehingga mudah diterima masyarakat tanpa kehilangan nilai estetikanya,” kata Bayu Gupito.
Penyelenggaraan seni tradisional ini turut memperkuat daya tarik pariwisata berbasis kearifan lokal di Kabupaten Sleman. Tingginya partisipasi warga dari berbagai daerah membuktikan bahwa perhelatan Saparan Bekakak mampu menggerakkan potensi ekonomi kreatif sekaligus merawat identitas budaya daerah.
“Di balik setiap adegan pewayangan tersimpan pesan tentang pentingnya menjaga nilai-nilai luhur, memperkuat persatuan, serta mewariskan kebijaksanaan leluhur agar tetap hidup dan menjadi pedoman bagi kehidupan masyarakat di masa mendatang,” tegas Bayu Gupito. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)



