Kenduri Bekakak Teguhkan Tradisi Syukur dan Doa Keselamatan Malam Midodareni

Sleman – Masyarakat Kalurahan Ambarketawang kembali meneguhkan nilai-nilai budaya dan spiritual melalui prosesi Kenduri Bekakak yang menjadi bagian penting dalam rangkaian Malam Midodareni Pengantin Bekakak. Tradisi yang dipimpin langsung oleh Lurah Ambarketawang, Sumaryanto, tersebut berlangsung khidmat di Gedung Serbaguna Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Kamis (16/07/2026) malam.

Acara ini dihadiri oleh tokoh masyarakat beserta warga yang berkumpul dan memanjatkan doa bersama demi keselamatan serta kelancaran penyelenggaraan Upacara Adat Saparan Bekakak 2026. Kenduri Bekakak bukan sekadar ritual pelengkap, melainkan simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki, kesehatan, dan ketenteraman kehidupan yang dirasakan masyarakat.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, kenduri dimaknai sebagai sarana memohon perlindungan dari berbagai mara bahaya atau tolak bala. Nilai tersebut menjadi pesan utama agar seluruh rangkaian prosesi Saparan Bekakak berlangsung aman, tertib, dan membawa keberkahan bagi seluruh warga Ambarketawang.

Lurah Ambarketawang, Sumaryanto, menegaskan bahwa kenduri merupakan warisan budaya yang mengandung filosofi mendalam tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam sekitar. Menurutnya, tradisi ini tidak hanya menjaga kelestarian adat, tetapi juga memperkuat karakter masyarakat yang menjunjung tinggi nilai gotong royong dan rasa syukur.

“Doa-doa yang dipanjatkan dalam kenduri menjadi wujud harapan agar masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, dijauhkan dari bencana maupun berbagai musibah, serta memperoleh keberkahan dalam kehidupan sehari-hari. Filosofi tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari makna Upacara Adat Saparan Bekakak yang telah diwariskan secara turun-temurun,” kata Sumaryanto.

Suasana kebersamaan semakin terasa ketika seluruh peserta duduk melingkar menikmati hidangan kenduri yang disiapkan secara gotong royong. Tradisi makan bersama itu mencerminkan nilai kesetaraan tanpa membedakan latar belakang sosial, di mana seluruh warga hadir sebagai satu keluarga besar yang berbagi doa dan harapan.

Sumaryanto menambahkan bahwa pelaksanaan Kenduri Bekakak juga menjadi momentum penting untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya lokal kepada generasi muda agar keberlangsungan tradisi tetap terjaga di tengah arus modernisasi.

“Sebagai bagian dari Malam Midodareni Pengantin Bekakak, kenduri menjadi penanda dimulainya tahapan sakral sebelum prosesi puncak Saparan Bekakak digelar. Tradisi ini memperlihatkan bahwa setiap rangkaian acara tidak hanya mengedepankan kemeriahan budaya, tetapi juga sarat dengan nilai religius, spiritual, dan filosofi kehidupan yang mengajarkan pentingnya keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta,” ujar Sumaryanto.

Melalui penyelenggaraan Kenduri Bekakak, masyarakat Ambarketawang kembali menegaskan bahwa tradisi merupakan media pemersatu yang ampuh dalam memperkuat fondasi sosial, menumbuhkan rasa syukur, serta melestarikan identitas budaya daerah secara berkelanjutan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Kirab Malam Midodareni Bekakak Satukan Tradisi dan Semangat Kebersamaan Warga Ambarketawang

Sleman – Kirab Malam Midodareni Bekakak menjadi salah satu rangkaian sakral dalam tradisi Saparan Bekakak yang tidak hanya menghadirkan kemeriahan budaya, tetapi juga mengandung makna spiritual, historis, dan sosial bagi masyarakat. Prosesi yang digelar pada Kamis (16/07/2026) malam tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus upaya menjaga keberlangsungan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun di Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman.

Kirab dipimpin langsung oleh tokoh adat, Yudi Pramardiyanto, dengan melibatkan ratusan peserta dari berbagai unsur masyarakat, komunitas budaya, hingga bregada adat. Kehadiran berbagai elemen tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya merupakan gerakan kolektif masyarakat untuk menjaga identitas budaya lokal.

Yudi Pramardiyanto menjelaskan bahwa pelaksanaan Kirab Malam Midodareni Bekakak dibagi menjadi dua jalur sebagai representasi penyatuan berbagai elemen budaya. Jalur Kuning diberangkatkan dari Ndhalem Ardjo Soemitran, Gamping Kidul menuju Gedung Serbaguna Ambarketawang. Barisan ini terdiri atas Bregada Mangkubumi, Bregada Bayu Maruto, Jodang Bekakak, serta barisan Genderuwo yang merepresentasikan unsur simbolik dalam tradisi Bekakak.

Sementara itu, Jalur Merah diberangkatkan dari Pesanggrahan Ambarketawang menuju lokasi yang sama. Rombongan tersebut diikuti Penderek Tirto Donojati, Bregada Songsong Wirosuto, serta Bregada Wirosuto yang berjalan beriringan membawa nuansa kebesaran adat Mataram sekaligus memperkuat nilai historis kawasan Ambarketawang.

“Dua jalur kirab yang bergerak dari titik berbeda dan bertemu di Gedung Serbaguna Ambarketawang menjadi simbol persatuan,” ujar Yudi Pramardiyanto.

Ia menerangkan bahwa filosofi dua jalur tersebut menggambarkan keberagaman latar belakang masyarakat yang dapat berpadu dalam satu tujuan, yakni menjaga kelestarian budaya dan mempererat persaudaraan di tengah kehidupan modern. Kehadiran Jodang Bekakak dalam kirab juga memiliki makna penting sebagai simbol penghormatan terhadap prosesi puncak Upacara Adat Saparan Bekakak.

Di samping itu, penampilan Bregada Mangkubumi, Bayu Maruto, Songsong Wirosuto, dan Wirosuto memperlihatkan kekayaan tradisi keprajuritan Jawa yang sarat nilai kedisiplinan dan keberanian. Sementara barisan Genderuwo menghadirkan simbolisasi kekuatan alam dan unsur folklor Jawa yang hidup di tengah masyarakat.

Rangkaian Kirab Malam Midodareni ini juga memberikan dampak positif terhadap pengembangan pariwisata berbasis budaya di Kabupaten Sleman. Ribuan warga yang memadati sepanjang rute kirab menjadi bukti tingginya antusiasme publik terhadap tradisi lokal.

“Kondisi ini menjadi modal penting untuk memperkuat posisi Ambarketawang sebagai destinasi wisata budaya yang mampu memadukan sejarah, tradisi, kesenian, dan partisipasi masyarakat dalam satu perhelatan yang menarik,” kata Yudi Pramardiyanto.

Melalui perhelatan ini, masyarakat tidak sekadar menyaksikan arak-arakan budaya, melainkan turut merawat memori kolektif pembentuk jati diri daerah agar warisan budaya tetap hidup dan terwariskan kepada generasi mendatang. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Tingkatkan Keterampilan Sosial Remaja, PKB Depok Sleman Dorong Penguatan Komunikasi Positif PIK-R Maguwoharjo

Sleman – Belasan remaja yang tergabung dalam Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) antusias mengikuti kegiatan penyuluhan dan edukasi yang diselenggarakan oleh Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) Kapanewon Depok. Kegiatan tersebut berlangsung di Padukuhan Sambilegi Kidul, Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, pada Jumat (17/07/2026).

Agenda penyuluhan ini difokuskan pada penguatan kemampuan komunikasi sebagai bekal krusial bagi para remaja dalam membangun hubungan yang sehat dan harmonis dengan keluarga, teman sebaya, maupun lingkungan sekitar.

Penyuluh Keluarga Berencana Kapanewon Depok, Ika Novi Astuti, menjelaskan bahwa keterampilan berkomunikasi merupakan salah satu fondasi dasar yang harus diasah sejak dini oleh kalangan remaja. Melalui penyampaian pesan yang baik, remaja dinilai akan lebih mudah mengekspresikan pendapat, memahami karakter orang lain, serta berani mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

“Remaja perlu membiasakan komunikasi yang terbuka dan saling menghargai. Dengan cara itu, mereka akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan sekaligus mampu membangun hubungan yang sehat dengan lingkungan sekitarnya,” ujar Ika Novi Astuti.

Sepanjang kegiatan penyuluhan, para peserta diajak untuk mengenali dan mempraktikkan berbagai prinsip komunikasi efektif. Materi yang dibahas meliputi pentingnya mendengarkan dengan penuh perhatian, menghargai keberagaman pendapat, serta menghindari perilaku menghakimi atau membanding-bandingkan satu sama lain. Selain itu, penekanan juga diberikan pada pembentukan rasa saling percaya sebagai fondasi hubungan sosial.

Tidak sekadar mendengarkan paparan teori, para peserta anggota PIK-R juga diajak berdiskusi secara interaktif mengenai penerapan komunikasi positif dalam kehidupan sehari-hari. Mereka didorong untuk lebih aktif berdialog di lingkungan keluarga, bijak dalam memanfaatkan media digital, serta menumbuhkan rasa empati tinggi dalam pergaulan agar mampu menjadi rol model bagi rekan sejawatnya.

Melalui penyelenggaraan kegiatan ini, jajaran PKB Kapanewon Depok berharap para anggota PIK-R dapat mengoptimalkan peran strategis mereka sebagai sumber informasi sekaligus konselor sebaya. Keberadaan konselor muda yang adaptif ini diharapkan mampu menularkan kebiasaan dan perilaku positif di masyarakat, sehingga tercipta generasi muda yang sehat, berkarakter, dan tangguh dalam menghadapi masa depan. (Sri Rahayu/KIM Depok)




Kunjungi Perpustakaan Istana Kepresidenan Yogyakarta, SMK Muhammadiyah 1 Sleman Perkuat Literasi Wawasan Kebangsaan

Sleman – Perpustakaan Istana Kepresidenan Yogyakarta dinilai memiliki peran strategis dalam memperkuat budaya literasi di kalangan generasi muda. Selain menjadi pusat referensi sejarah dan kebangsaan, perpustakaan tersebut hadir sebagai ruang belajar interaktif yang mendorong para peserta didik untuk memperluas wawasan sekaligus meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

Momen berharga ini dimanfaatkan oleh SMK Muhammadiyah 1 Sleman melalui kegiatan kunjungan pembelajaran di luar kelas yang dilaksanakan pada Jumat (17/07/2026). Agenda ini dirancang secara khusus untuk menumbuhkan minat baca sekaligus memupuk rasa nasionalisme para siswa.

Wakil Kepala SMK Muhammadiyah 1 Sleman, Afifuddin, menyampaikan bahwa kemampuan literasi merupakan bekal krusial yang wajib dimiliki oleh peserta didik, khususnya di jenjang sekolah menengah kejuruan. Menurutnya, penguasaan literasi akan melengkapi kecakapan vokasi sehingga para lulusan tidak hanya unggul secara keterampilan teknis, melainkan juga piawai dalam menganalisis informasi dan beradaptasi dengan tantangan zaman.

“Literasi harus menjadi budaya di kalangan siswa SMK. Mereka tidak cukup hanya memiliki keterampilan vokasi, tetapi juga perlu memperluas wawasan melalui membaca dan memahami berbagai sumber pengetahuan,” ujar Afifuddin.

Selama agenda kunjungan berlangsung, para siswa diajak untuk mengeksplorasi secara langsung berbagai koleksi literatur berharga. Koleksi tersebut mencakup catatan sejarah perjuangan bangsa, rekam jejak perjalanan pemerintahan Indonesia, hingga referensi penting mengenai kepemimpinan nasional.

Afifuddin menjelaskan bahwa literasi era modern tidak sekadar dimaknai sebagai kemampuan dasar membaca dan menulis, melainkan mencakup daya kritis dalam menyaring informasi serta memanfaatkannya untuk memecahkan berbagai persoalan nyata.

“Selama kunjungan siswa dikenalkan dengan berbagai koleksi literatur yang memuat sejarah perjuangan bangsa, perjalanan pemerintahan, serta berbagai referensi tentang kepemimpinan nasional. Kami ingin siswa memiliki kebiasaan belajar yang kuat. Dengan budaya literasi yang baik, mereka akan lebih siap menghadapi tantangan pendidikan lanjutan, dunia kerja, maupun kehidupan bermasyarakat,” kata Afifuddin.

Melalui pengalaman belajar langsung di Perpustakaan Istana Kepresidenan Yogyakarta ini, generasi muda di Kabupaten Sleman diharapkan semakin menyadari bahwa membaca merupakan fondasi utama dalam membangun pengetahuan, membentuk karakter unggul, serta meningkatkan daya saing di masa depan. (Athiful/KIM Depok)




Sasar 24 Titik di 21 RW, Pemerintah Kalurahan Condongcatur Gelar Rakor Pembangunan Jalan Konblok

Sleman – Pemerintah Kalurahan Condongcatur terus memantapkan persiapan pelaksanaan Program Pembangunan Jalan Konblok Tahun Anggaran 2026. Langkah ini diwujudkan melalui Rapat Koordinasi Pelaksanaan Pekerjaan Pembangunan Jalan Konblok yang diselenggarakan di Ruang Wacana Loka Kalurahan Condongcatur, Kabupaten Sleman, pada Jumat (17/07/2026).

Rapat koordinasi ini menjadi langkah strategis untuk menyamakan persepsi, memperkuat koordinasi teknis, serta memastikan seluruh tahapan pembangunan berjalan tertib, transparan, akuntabel, dan tepat sasaran. Kegiatan dipimpin oleh Carik Kalurahan Condongcatur, Riska Dian Nur Lestari, serta dihadiri oleh Plt. Lurah Condongcatur Budi Arto, Ulu-Ulu Condongcatur Murgiyanta, staf kalurahan, para dukuh, Ketua RW, dan Ketua Panitia Pembangunan dari lokasi sasaran.

Program pembangunan jalan konblok Tahun 2026 ini akan dilaksanakan di 24 titik yang tersebar pada 21 RW di 12 padukuhan. Wilayah sasaran mencakup Padukuhan Pondok, Dero, Ngringin, Dabag, Gejayan, Kaliwaru, Soropadan, Pringwulung, Kayen, Pikgondang, Joho, dan Ngropoh.

Pendanaan pembangunan berasal dari tiga sumber utama, yaitu Dana Desa (DD) untuk 9 titik, Pendapatan Bagi Hasil (PBH) untuk 10 titik, serta Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Kabupaten Sleman untuk 5 titik yang saat ini masih dalam proses pencairan.

Plt. Lurah Condongcatur, Budi Arto, menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur masyarakat yang mendukung pembangunan di wilayahnya. Ia menegaskan bahwa bantuan dari pemerintah kalurahan bersifat stimulan sehingga partisipasi aktif warga sangat menentukan keberhasilan program.

“Pembangunan jalan konblok ini bukan sekadar membangun infrastruktur, tetapi juga membangun semangat kebersamaan dan kepedulian warga. Bantuan Pemerintah Kalurahan Condongcatur bersifat stimulan sehingga keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh partisipasi, swadaya, dan gotong royong masyarakat. Saya berharap seluruh pekerjaan dilaksanakan secara transparan, akuntabel, tepat mutu, tepat waktu, serta memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Budi Arto.

Budi Arto juga mengajak para dukuh, Ketua RT/RW, tokoh masyarakat, dan panitia pembangunan untuk aktif menyosialisasikan program tersebut agar proses pembangunan berjalan lancar melalui musyawarah serta meminimalkan potensi kesalahpahaman.

Sementara itu, Ulu-Ulu Kalurahan Condongcatur, Murgiyanta, menjelaskan bahwa pengiriman material ke seluruh lokasi dijadwalkan mulai 10 Agustus 2026. Material yang digunakan berupa konblok tipe Holland ketebalan 6 sentimeter dengan mutu beton K-200 hingga K-250 agar konstruksi jalan kuat dan tahan lama.

“Rapat koordinasi ini menjadi langkah awal untuk menyamakan persepsi seluruh panitia pembangunan sebelum pekerjaan dimulai. Kami berharap setiap tahapan pekerjaan dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis, didokumentasikan secara lengkap, dan didukung administrasi yang tertib sehingga seluruh proses pembangunan dapat dipertanggungjawabkan dengan baik,” jelas Murgiyanta.

Murgiyanta menambahkan, panitia diwajibkan mendokumentasikan progres pekerjaan dari 0 persen hingga 100 persen. Sistem pencairan upah pekerja akan diberikan 50 persen di awal, dan sisanya dicairkan setelah laporan pertanggungjawaban serta kelengkapan administrasi dinyatakan lengkap.

Dalam kesempatan yang sama, Carik Kalurahan Condongcatur, Riska Dian Nur Lestari, kembali mengingatkan pentingnya peran swadaya masyarakat, seperti penyediaan material tambahan semen untuk penguncian sisi konblok agar hasil konstruksi lebih kokoh dan rapi.

“Semangat swadaya dan gotong royong harus terus kita pelihara. Bantuan pemerintah hanyalah stimulan. Apabila terdapat kebutuhan tambahan material di lapangan, seperti semen untuk penguncian sisi konblok agar lebih rapi dan kuat, diharapkan dapat dipenuhi melalui swadaya masyarakat. Dengan kebersamaan, hasil pembangunan akan lebih berkualitas, lebih awet, dan manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” kata Riska Dian Nur Lestari.

Rapat koordinasi tersebut menghasilkan kesepakatan teknis dan administrasi pelaksanaan pekerjaan. Melalui kolaborasi antara pemerintah kalurahan, panitia, dan masyarakat, Program Pembangunan Jalan Konblok Tahun 2026 diharapkan mampu menghadirkan infrastruktur lingkungan yang berkualitas sekaligus memperkuat budaya gotong royong di Kalurahan Condongcatur. (Wasana/KIM Depok)