Psikolog Istiana Tajudin Ajak Guru Ubah Kebiasaan Scrolling Generasi Alpha Menjadi Schooling

Sleman – Psikolog Istiana Tajudin mengajak para tenaga pendidik untuk mengubah kebiasaan scrolling di kalangan generasi Alpha menjadi proses schooling yang lebih bermakna. Menurutnya, metode pembelajaran saat ini perlu memadukan penyesuaian karakter peserta didik di era digital dengan pembentukan karakter serta kedekatan emosional yang kuat.

Pesan penting tersebut disampaikan Istiana Tajudin dalam paparannya yang bertajuk “Dari Scrolling ke Schooling: Menembus Layar, Menyentuh Hati Gen Alpha”. Agenda ini menjadi bagian dari Workshop Persiapan Pembelajaran Tahun Ajaran 2026/2027 SMK Muhammadiyah 2 Sleman yang diselenggarakan di Hotel Wijaya 2 Kaliurang pada Jumat (17/07/2026) hingga Sabtu (18/07/2026).

Dalam penjelasannya, Istiana Tajudin menerangkan bahwa generasi Alpha memiliki karakteristik dan pola belajar yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Anak-anak masa kini cenderung lebih cepat menyerap informasi yang disajikan dalam bentuk visual, video berdurasi singkat, serta melalui aktivitas yang interaktif.

“Karena itu, guru dituntut lebih adaptif dalam merancang proses pembelajaran agar tetap relevan dengan perkembangan zaman,” ujar Istiana Tajudin.

Ia menegaskan bahwa kecenderungan siswa dalam mengakses konten digital tidak semestinya dipandang sebagai rintangan dalam pendidikan, melainkan dapat dioptimalkan sebagai media pembelajaran yang efektif. Integrasi video edukatif, metode gamification, hingga pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) dinilai mampu mendongkrak partisipasi siswa secara aktif di kelas.

Di samping pemanfaatan teknologi, Istiana Tajudin mendorong para guru untuk mulai mengimplementasikan pendekatan deep learning atau pembelajaran yang mendalam dan bermakna.

“Melalui metode tersebut, siswa diajak mengeksplorasi konsep, memecahkan masalah, serta menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari sehingga proses belajar tidak hanya berorientasi pada hafalan,” kata Istiana Tajudin.

Ia juga menggarisbawahi krusialnya menjaga keseimbangan antara interaksi di dunia maya dan kehidupan nyata. Manajemen durasi penggunaan gawai, porsi aktivitas fisik, serta penguatan literasi digital dianggap sebagai kunci utama untuk mencetak peserta didik yang kritis, sehat, dan bertanggung jawab.

Istiana Tajudin memungkas penjelasannya dengan mengingatkan bahwa kunci keberhasilan pendidikan digital tidak semata-mata terletak pada kecanggihan teknologi, melainkan pada kemampuan guru dalam menjalin ikatan emosional yang hangat dengan para muridnya.

“Dengan pendekatan tersebut proses belajar tidak sekadar berlangsung di depan layar, melainkan mampu menyentuh hati dan membentuk karakter generasi Alpha,” tuturnya. (Athiful/KIM Depok)




Cegah Cyber Bullying, SMP Muhammadiyah 1 Prambanan Edukasi Siswa Lewat Nobar Film

Sleman – SMP Muhammadiyah 1 Prambanan mengajak para peserta didiknya untuk memahami bahaya perundungan digital (cyber bullying) melalui kegiatan nonton bersama (nobar) film berjudul Cyber Bullying. Agenda tersebut berlangsung di layar lebar CGV Cinemas Transmart, Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, pada Jumat (17/07/2026).

Kegiatan nobar ini diselenggarakan sebagai langkah nyata sekolah dalam memperkuat pendidikan karakter, sekaligus membekali para siswa menghadapi pesatnya perkembangan teknologi informasi. Melalui tayangan film tersebut, para pelajar diajak menyaksikan secara langsung dampak buruk perundungan di dunia maya serta pentingnya bersikap bijak dan bertanggung jawab dalam bermedia sosial.

Film Cyber Bullying sendiri mengisahkan tentang Neira, seorang siswi SMP berprestasi yang mengalami tekanan psikologis berat setelah video konfrontasinya dengan teman sekolah tersebar luas di platform digital. Peristiwa tersebut menjadikan Neira korban perundungan siber yang berdampak serius pada kesehatan mentalnya, mulai dari munculnya rasa malu, tekanan jiwa, hingga hilangnya semangat hidup.

Kepala SMP Muhammadiyah 1 Prambanan, Daswati Rofiatun Sahifah, menegaskan bahwa pihak sekolah memikul tanggung jawab moral untuk mendampingi para siswa agar mampu membentengi diri di tengah pesatnya era digital.

“SMP Muhammadiyah 1 Prambanan hadir di tengah-tengah para generasi Indonesia. Dengan gempuran teknologi yang semakin pesat, salah satu bekal yang kami berikan adalah mendampingi dan menguatkan karakter mereka,” kata Daswati Rofiatun Sahifah.

Ia menilai bahwa ancaman cyber bullying dapat menyasar siapa saja tanpa mengenal batas wilayah, baik di lingkungan perkotaan maupun pedesaan. Oleh sebab itu, edukasi mengenai etika digital dan bahaya perundungan siber menjadi hal yang krusial untuk terus disampaikan kepada generasi muda.

Menurut Daswati, agenda nobar ini menjadi momentum berharga untuk memperkuat kampanye lingkungan digital yang sehat, sejalan dengan program yang sebelumnya telah digalakkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman.

“Cyber bullying tidak hanya terjadi di perkotaan, tetapi pedesaan pun berpeluang terkena. Maka, melalui nonton bareng film Cyber Bullying ini menjadi momen baik untuk membekali siswa-siswi SMP Muhammadiyah 1 Prambanan,” ujarnya.

Daswati menegaskan komitmen sekolahnya untuk terus mencetak peserta didik yang berkarakter kuat, berprestasi, serta siap menjadi pelopor dalam menciptakan ruang digital yang aman dan positif.

“SMP Muhammadiyah 1 Prambanan mencetak karakter saleh, multitalenta, mendunia, serta siap mengawal gerakan setop bullying,” tegasnya.

Melalui kegiatan edukasi interaktif ini, pihak sekolah berharap para siswa tidak hanya cerdas dalam memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki rasa empati, saling menghargai sesama, dan aktif menciptakan iklim interaksi digital yang kondusif di lingkungan sekolah maupun masyarakat luas. (Athiful/KIM Depok)




Muskal RKPKal 2027 Lumbungrejo Sleman Satukan Prioritas Pembangunan Berbasis Aspirasi Warga

Sleman – Perencanaan pembangunan yang efektif berawal dari ruang musyawarah yang mampu menampung aspirasi masyarakat. Semangat tersebut mewarnai Musyawarah Kalurahan (Muskal) Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Kalurahan (RKPKal) Lumbungrejo Tahun 2027 yang digelar di GOR Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pada Jumat (17/07/2026).

Kegiatan yang difasilitasi oleh Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal) Lumbungrejo itu dihadiri unsur pemerintah kalurahan, lembaga kemasyarakatan, Jaga Warga, tokoh masyarakat, perwakilan perempuan, pemuda, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Kehadiran berbagai elemen ini bertujuan untuk memastikan pembangunan disusun secara partisipatif dan sesuai kebutuhan nyata masyarakat.

Ketua BPKal Lumbungrejo, Sutardi, yang memimpin jalannya musyawarah menegaskan bahwa Muskal merupakan forum strategis untuk menyelaraskan aspirasi masyarakat dengan kemampuan keuangan daerah serta arah pembangunan kalurahan.

“Musyawarah ini bukan sekadar tahapan administrasi, tetapi ruang bersama untuk menentukan prioritas pembangunan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat agar manfaatnya dapat dirasakan seluruh warga,” ujar Sutardi.

Dalam forum tersebut dibahas berbagai usulan prioritas pembangunan untuk tahun 2027, mulai dari penguatan pelayanan pemerintahan, peningkatan kapasitas aparatur, pemeliharaan sarana dan prasarana publik, hingga pemberdayaan masyarakat dan pengembangan sumber daya manusia.

Kepala Bidang Administrasi, Keuangan dan Aset Kalurahan Dinas PMK Kabupaten Sleman, Yohanes Purnama Kristiawan, menekankan bahwa keberhasilan pembangunan desa sangat ditentukan oleh kualitas proses perencanaan.

“Dana desa dan berbagai sumber pembiayaan harus diarahkan pada program yang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, partisipasi warga menjadi unsur penting agar pembangunan tetap tepat sasaran dan berkelanjutan,” kata Yohanes Purnama Kristiawan.

Panewu Tempel, Rasyid Ratnadi Sosiawan, menyampaikan bahwa kalurahan saat ini dituntut tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga penguatan pelayanan publik dan pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, setiap program yang direncanakan harus memiliki dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan warga dan ketahanan sosial di tingkat komunitas.

Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten Sleman, Wahyudi Kurniawan, menilai tingginya partisipasi masyarakat menjadi modal penting bagi keberhasilan pembangunan. Ia menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah, legislatif, dan masyarakat harus terus dijaga agar pembangunan berjalan efektif dan merata.

Rangkaian musyawarah tersebut diakhiri dengan penandatanganan berita acara dan dokumen hasil Muskal oleh para pihak terkait. Prosesi ini menjadi wujud komitmen bersama dalam mengawal proses pembangunan kalurahan yang partisipatif, transparan, dan akuntabel. (SBD/KIM Tempel)




Latih Jiwa Wirausaha dan Kepedulian Sosial, 120 Siswa SMK Muhammadiyah 1 Sleman Gelar Market Day dan Baksos

Sleman – Sebanyak 120 siswa SMK Muhammadiyah 1 Sleman berpartisipasi aktif dalam kegiatan Market Day dan Bakti Sosial (Baksos) yang diselenggarakan di lingkungan sekolah pada Jumat (17/07/2026). Acara tersebut digelar sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Forum Ta’aruf dan Orientasi Siswa (Fortasi) serta Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027.

Wakil Kepala Bidang Humas SMK Muhammadiyah 1 Sleman, Afifuddin, menyampaikan bahwa agenda ini menjadi wahana praktik kewirausahaan secara langsung bagi para siswa baru. Melalui ajang ini, peserta didik dilatih untuk merancang, memproduksi, memasarkan, hingga menjual hasil karya mereka kepada konsumen.

“Beragam produk hasil kreativitas siswa ditampilkan dalam kegiatan ini, mulai dari kuliner, kerajinan, hingga jasa,” kata Afifuddin.

Melalui ajang Market Day, para pelajar mendapatkan pengalaman nyata dalam mengelola sebuah usaha dari skala kecil. Kegiatan ini dirancang untuk mengasah mental kewirausahaan, pemahaman manajemen keuangan sederhana, keterampilan berkomunikasi, serta kemampuan bekerja sama di dalam tim.

“Kegiatan ini bertujuan melatih kreativitas, kemandirian, dan kemampuan siswa dalam mengelola usaha secara langsung. Mereka belajar bagaimana menciptakan produk, mengenalkan kepada masyarakat, hingga melakukan transaksi,” ujar Afifuddin.

Selain menggembleng keterampilan berwirausaha, kegiatan ini sengaja dirangkaikan dengan aksi bakti sosial guna menumbuhkan rasa kepedulian terhadap sesama. Pendekatan ini diterapkan agar para siswa tidak hanya unggul dalam aspek akademik dan kompetensi keahlian, tetapi juga memiliki karakter sosial yang kuat.

Afifuddin menjelaskan bahwa pelaksanaan Market Day dan Baksos ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Kabupaten Sleman dalam memperkuat karakter generasi muda, mendorong kreativitas, serta menumbuhkan jiwa kewirausahaan sejak dini di lingkungan sekolah.

“Harapannya, siswa memiliki bekal untuk menjadi pribadi yang kreatif, mandiri, inovatif, dan mampu menciptakan peluang di masa depan,” tuturnya.

Melalui kolaborasi kegiatan terpadu ini, SMK Muhammadiyah 1 Sleman menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pola pembelajaran yang adaptif. Sekolah tidak hanya berfokus pada penguasaan kompetensi keahlian semata, melainkan juga membentuk mental peserta didik yang siap menghadapi dinamika dunia kerja dan tantangan masa depan. (Athiful/KIM Depok)




Musim Kemarau Tiba, Hamparan Sawah di Tempel Sleman Beralih Fungsi Menjadi Kebun Jagung

Sleman – Memasuki awal musim kemarau, pemandangan hamparan sawah di Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, tampak berubah wajah. Lahan pertanian yang sebelumnya mendominasi tanaman padi kini beralih ditanami jagung hingga menciptakan hamparan hijau di seluruh kawasan tersebut.

Kondisi tersebut terlihat di lahan milik salah seorang petani, Bambang Priyono, di Padukuhan Ngebong, Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, pada Jumat (17/07/2026). Ia tampak sibuk melakukan perawatan rutin dengan merempes atau membersihkan daun-daun bagian bawah pada tanaman jagung miliknya.

“Daun bagian bawah kami buang agar penyaluran nutrisi dari akar lebih banyak menuju tongkol sehingga hasil panen lebih baik. Daunnya juga tidak terbuang karena dimanfaatkan sebagai pakan kambing,” kata Bambang Priyono.

Ia menjelaskan bahwa tanaman jagung yang dikelolanya saat ini telah memasuki usia 40 hari. Jika pertumbuhan berjalan normal, jagung tersebut diproyeksikan siap panen pada umur 105 hingga 110 hari atau sekitar tiga setengah bulan. Sementara untuk varietas jagung manis, masa panennya relatif lebih singkat, yakni berkisar 65 sampai 70 hari setelah masa tanam.

Kendati jagung dikenal lebih tahan terhadap cuaca kering dibandingkan padi, para petani di Tempel mengaku tetap menyimpan kekhawatiran. Tanaman ini pada dasarnya masih sangat membutuhkan pasokan air yang cukup pada fase-fase krusial, terutama saat proses pemupukan awal dan pembentukan tongkol.

“Kalau kekurangan air pada masa itu, hasil panennya bisa menurun,” ujar Bambang Priyono.

Untuk mengatasi ancaman kekeringan, Bambang Priyono sebenarnya telah membuat sumur seluas tujuh meter di tengah lahannya. Namun pengoperasian mesin pompa air berbahan bakar minyak memicu pembengkakan biaya operasional yang sering kali tidak sebanding dengan harga jual jagung saat panen.

“Ya, kami hanya bisa berharap cuaca mendukung. Kalau hujan tidak turun dan tidak mampu menyiram, hasilnya tentu tidak maksimal. Kalaupun gagal panen, setidaknya tanaman jagung masih bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak,” tuturnya.

Sebagai solusi jangka panjang, ia mengaku telah mengajukan permohonan bantuan pembuatan sumur bor yang dilengkapi pompa listrik di dua titik lokasi kepada Dinas Pertanian Kabupaten Sleman dan hingga kini masih menunggu proses realisasinya.

Selain jagung, sebagian kecil petani di wilayah Tempel juga memilih menanam kacang tanah selama musim kemarau. Meski demikian, jagung tetap menjadi komoditas favorit karena alur budidayanya yang relatif mudah, tingkat permintaan pasar yang stabil, serta seluruh bagian tanamannya memiliki nilai guna baik sebagai bahan pangan maupun pakan ternak. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)