Gejok Lesung Prameswari Jaga Kelestarian Seni Tradisi Melalui Inovasi Pertunjukan

Sleman – Di tengah pesatnya perkembangan seni pertunjukan modern, Kelompok Gejok Lesung Prameswari dari Dusun Tegalrejo, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, terus menunjukkan eksistensinya sebagai pelestari warisan budaya. Penampilan mereka dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-78 dan Merti Kalurahan Sardonoharjo, Rabu (29/7/2026), membuktikan bahwa seni tradisi tetap mampu memikat perhatian masyarakat ketika dikemas secara kreatif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Ketua Gejok Lesung Prameswari, Gusyanti, menjelaskan bahwa nama “Prameswari” dipilih karena mengandung makna filosofis yang mendalam. Menurutnya, lesung yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat kini justru memiliki nilai artistik yang unik dan layak dilestarikan.
“Lesung dulu adalah bagian dari kehidupan masyarakat. Sekarang justru menjadi sesuatu yang unik. Kami berusaha menggali kembali, memodifikasi, agar lebih menarik. Prameswari berarti istri raja sebagai penjelmaan perempuan yang mulia, cantik, cerdas, dan kreatif. Kami berharap Gejok Lesung kami juga memiliki karakter seperti itu,” ujarnya.
Untuk menjaga keberlangsungan kelompok, Gejok Lesung Prameswari aktif melibatkan masyarakat, terutama ibu-ibu muda dan lanjut usia. Selain berlatih memainkan irama lesung, para anggota juga mengembangkan pertunjukan dengan memadukan unsur musik, lagu, dan tari sehingga tampil lebih atraktif dan mampu menjangkau penonton dari berbagai kalangan.
Gusyanti menuturkan, kelompoknya selama ini berupaya mandiri dengan mengikuti berbagai kegiatan dan festival seni sebagai sarana memperkenalkan Gejok Lesung kepada masyarakat yang lebih luas.
Meski demikian, regenerasi masih menjadi tantangan utama. Keterlibatan generasi muda belum optimal karena tidak mudah mengajak mereka untuk berpartisipasi langsung sebagai pemain.
“Ada ibu-ibu muda yang sudah bergabung. Namun memang tantangan kami adalah bagaimana menggaet para pemuda agar ikut terlibat. Pemuda-pemudi Tegalrejo sudah ikut membantu, tetapi belum secara langsung tampil dalam pertunjukan,” katanya.
Selain regenerasi, keterbatasan pendanaan juga menjadi kendala dalam pengembangan kelompok. Setiap pementasan memerlukan biaya yang tidak sedikit, terutama untuk mendukung aspek artistik dan kualitas pertunjukan. Hingga kini, seluruh aktivitas masih dijalankan secara swadaya.
“Kami masih mandiri. Padahal setiap pentas membutuhkan biaya yang cukup besar agar penampilan lebih maksimal,” ungkap Gusyanti.
Ia berharap semakin banyak pihak memberikan perhatian terhadap keberlangsungan seni tradisi. Dukungan tersebut tidak harus selalu berupa bantuan pendanaan, tetapi juga dapat diwujudkan melalui penyediaan ruang tampil, pembinaan, serta promosi agar seni tradisi semakin dikenal dan diminati masyarakat.
“Seni tradisi adalah warisan adiluhung yang menyimpan banyak nilai kearifan lokal. Nilai-nilai itu masih sangat relevan dan dapat dikembangkan dalam kehidupan modern. Kami berharap semakin banyak pihak yang peduli sehingga seni tradisi dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tuturnya. (Andy Ahmad – KIM DSN NGAGLIK)



