MPLS SD Negeri Pendulan Tanamkan Sikap Bijak terhadap Dunia Digital Sejak Dini

Sleman – Memasuki tahun ajaran baru, SD Negeri Pendulan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman mengisi kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan penyuluhan bertema “Keadaban Digital dengan Membatasi Bermain Game“, pada Kamis (16/7/2026). Materi tersebut disampaikan oleh Bhabinkamtibmas Sumbersari, Aiptu Endri Destana, yang akrab disapa Desta.

Dalam papanrannya, Desta menjelaskan bahwa game daring merupakan bagian dari perkembangan teknologi yang dapat menjadi sarana hiburan. Namun, jika dimainkan secara berlebihan, game dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi kesehatan maupun proses belajar anak.

“Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengakui kecanduan game sebagai gangguan yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang mengendalikan perilakunya,” jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa kebiasaan bermain game terlalu lama dapat menyebabkan mata lelah, nyeri pada leher dan punggung, gangguan tidur, hingga menurunnya konsentrasi dan prestasi belajar.

“Kalian semua masih dalam masa belajar. Kurangi bermain game agar tetap sehat dan bisa lebih fokus meraih cita-cita,” pesannya kepada para siswa.

Sebagai bentuk motivasi, Desta juga memberikan apresiasi kepada satu siswa dari setiap kelas berupa uang saku yang berasal dari dana pribadinya. Ia berharap perhatian sederhana tersebut dapat menumbuhkan semangat belajar dan meningkatkan minat literasi di kalangan siswa. (Giek / KIM Moyudan)




Kapanewon Depok Perkuat Kapasitas KIM dalam Pengelolaan Informasi Publik

Sleman – Kapanewon Depok menyelenggarakan Rapat Koordinasi Pembinaan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), pada Kamis (16/7/2026) di Ruang Rapat Lantai 2 Kapanewon Depok. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas anggota KIM dalam pengelolaan informasi, meningkatkan kemampuan penulisan berita, serta mempererat sinergi antaranggota KIM di wilayah Kapanewon Depok.

Kegiatan dihadiri oleh Pranata Hubungan Masyarakat Ahli Muda Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sleman, Agastya Dedi Kusuma, Ketua KIM Sembada, Adnan Nurcahyo, Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Depok, Suhyadi, Staf Jawatan Sosial, Subekti Handayani, serta seluruh anggota KIM Kapanewon Depok.

Dalam sambutannya, Agastya, menyampaikan bahwa kegiatan pembinaan seperti ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan kekompakan antaranggota KIM sekaligus mengasah kemampuan dalam menyusun berita yang informatif, menarik, dan mudah dipahami masyarakat.

“KIM memiliki peran strategis sebagai mitra pemerintah dalam menyebarluaskan informasi yang benar, dan harapannya KIM Depok untuk mampu membuat berita serta mengunggahnya di website,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua KIM Sembada, Adnan Nurcahyo, menyampaikan bahwa pertemuan KIM merupakan wadah yang sangat penting untuk memperkuat koordinasi, berbagi pengalaman, serta meningkatkan kompetensi anggota dalam pengelolaan informasi.

“Saya berharap seluruh anggota KIM semakin aktif menghasilkan berita yang berkualitas sehingga keberadaan KIM dapat semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tutur Adnan.

Staf Jawatan Sosial Kapanewon Depok, Subekti Handayani, menegaskan bahwa Kapanewon Depok memberikan dukungan penuh kepada KIM Depok agar terus maju dan berkembang. Menurutnya, KIM merupakan mitra strategis pemerintah dalam menyampaikan informasi pembangunan maupun berbagai kegiatan positif kepada masyarakat. Oleh karena itu, KIM perlu terus didorong agar semakin kreatif, inovatif, dan profesional dalam menjalankan perannya sebagai penyebar informasi publik.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua KIM Depok, Tri Suhartati, menyampaikan harapannya agar melalui kegiatan pembinaan ini KIM Depok semakin kompak, solid, dan memiliki semangat yang tinggi dalam membuat serta mempublikasikan berita. Ia optimistis, dengan kebersamaan, semangat belajar, dan kerja sama yang terus terjalin, KIM Depok akan mampu menghasilkan berita yang informatif, berkualitas, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Sebagai narasumber teknis, Athiful Khoiri memberikan bimbingan kepada seluruh peserta mengenai teknik penulisan berita yang baik sesuai kaidah jurnalistik. Selain itu, peserta juga mendapatkan praktik langsung mengenai tata cara mengunggah (upload) berita ke website, sehingga setiap anggota KIM memiliki bekal untuk menyusun dan mempublikasikan berita secara mandiri melalui media digital.

Kegiatan berlangsung dengan suasana yang interaktif melalui diskusi, tanya jawab, dan praktik penulisan berita. Antusiasme peserta terlihat selama pembinaan berlangsung, mencerminkan semangat anggota KIM untuk terus meningkatkan kapasitas dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Melalui pembinaan ini diharapkan kemampuan anggota KIM Kapanewon Depok semakin meningkat, kekompakan organisasi semakin kuat, serta KIM mampu menjadi garda terdepan dalam menyampaikan informasi yang akurat, edukatif, dan terpercaya guna mendukung pembangunan serta pelayanan informasi publik di Kapanewon Depok.

(Tri Suhartati / KIM Depok)




Bertahan di Tengah Zaman, Sentra Genteng Genitem Tetap Produksi Genteng Tradisional

Sleman – Asap tipis masih mengepul dari tobong pembakaran di Dusun Genitem, Kalurahan Sidoagung, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman. Di balik panas tungku yang terus menyala selama puluhan tahun, tersimpan kisah ketekunan para pengrajin yang tetap setia menjaga warisan industri rakyat di tengah gempuran material bangunan modern.

Sentra Genteng Genitem merupakan salah satu pusat produksi genteng tanah liat tradisional tertua di DIY. Berdiri sejak era 1960-an, kawasan ini dikenal menghasilkan genteng berkualitas melalui perpaduan proses produksi manual dan semi-mekanis yang menghasilkan produk kuat, presisi, dan tahan lama.

Salah satu pengrajin yang masih bertahan adalah Suparman. Di rumahnya yang berada di Dusun Genitem RT 01 RW 16, berdampingan dengan tobong pembakaran miliknya, Suparman menjalankan seluruh proses produksi secara mandiri.

Setiap lembar genteng diawali dari pengolahan bahan baku berupa tanah liat pilihan dari Magelang yang dipadukan dengan lumpur dari wilayah Godean. Setelah dicampur dan digiling hingga menjadi adonan yang homogen, bahan tersebut dicetak menggunakan mesin press menjadi genteng model Paris.

Genteng yang telah dicetak kemudian dijemur selama sekitar dua hari hingga benar-benar kering. Selanjutnya, ribuan genteng disusun rapi di dalam tobong pembakaran yang mampu menampung sekitar buah. Proses pembakaran berlangsung selama kurang lebih 12 jam hingga menghasilkan genteng yang siap dipasarkan.

Dalam satu siklus produksi yang memakan waktu sekitar satu setengah hingga dua bulan, Suparman mengerjakan seluruh tahapan produksi seorang diri tanpa bantuan tenaga kerja.

Namun, mempertahankan usaha ini bukan perkara mudah. Ketersediaan bahan baku tanah liat semakin terbatas, sementara musim penghujan sering menghambat proses penjemuran. Kondisi kayu bakar yang lembap juga dapat memengaruhi kualitas pembakaran sehingga waktu produksi menjadi lebih panjang.

Meski demikian, Suparman mengaku harga genteng saat ini relatif stabil dan persaingan usaha tidak seketat beberapa tahun lalu. Ironisnya, jumlah pengrajin justru terus menurun.

“Dulu pengrajin di Genitem jumlahnya ratusan. Sekarang diperkirakan tinggal sekitar 20 orang yang masih bertahan,” ungkapnya, Kamis (16/7/2026).

Berkurangnya jumlah pelaku usaha membuat keberlangsungan industri genteng tradisional semakin bergantung pada segelintir pengrajin yang masih bertahan. Meski bekerja sendiri, Suparman mampu memasarkan hasil produksinya hingga ke luar DIY, bahkan mencapai Garut, Jawa Barat.

Ia berharap pemerintah terus memberikan pembinaan dan pendampingan kepada para pengrajin agar industri genteng tradisional tetap lestari. Menurutnya, keberadaan wadah atau asosiasi pengrajin juga diperlukan untuk memperkuat kerja sama sekaligus mencegah persaingan harga yang tidak sehat.

Di usianya yang tidak lagi muda, Suparman mengaku tidak lagi memiliki banyak ruang untuk melakukan inovasi besar. Namun, ia tetap memilih mempertahankan usahanya sebagai bentuk kecintaan terhadap profesi yang telah digelutinya sejak kecil.

“Kalaupun tetap berproduksi, ya hanya untuk bertahan hidup,” tuturnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Sentra Genteng Genitem masih memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian masyarakat. Dengan kapasitas produksi sekitar 200–250 lembar genteng per hari atau sekitar lembar setiap bulan, para pengrajin terus memanfaatkan sumber daya lokal untuk menghasilkan material bangunan yang berkualitas dan terjangkau. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Muskal Madurejo Susun RKPKal 2027 dan Daftar Usulan RKPKal 2028

Sleman – Pemerintah Kalurahan Madurejo dalam hal ini Badan Permusyawatan Kalurahan (BPKal) Madurejo, pada Kamis (16/7/2026), di pendapa Ayodya Tulada Kalurahan Madurejo,  melaksanakan musyawarah kalurahan dalam rangka Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Kalurahan (RPKal) Tahun Anggaran 2027 dan Daftar Usul RPKal Tahun Anggaran 2028.

Hadir dalam kegiatan ini Kepala Jawatan Praja, Walyono, Lurah Madurejo, Sumadi, Carik, dan seluruh staf, Kepala Dukuh, Sub Tuwanggana, seluruh  lembaga, serta SKPD se-Kalurahan Madurejo.

Ketua BPKal Madurejo, Pratomo Sapto Hartoto menuturkan kegiatan ini diawali dengan musyawarah padukuhan (Musduk) di seluruh padukuhan sebagai usulan rencana pembangunan  di padukuhan.

“Usulan tersebut selanjutnya dikumpulkan dan dirangkum oleh Kalurahan Madurejo menjadi Rencana Kerja Pembangunan Kalurahan Tahun anggaran 2027 dan Daftar Usul Rencana Kerja Pembangunan Kalurahan  Tahun Anggaran 2028,” jelasnya.

Pratomo juga menyampaikan jeda waktu sebelum pelaksanaan  Musrenbangkal, usulan pembangunan dari padukuhan masih bisa dirubah disesuaikan dengan skala prioritas dan urgensi dari Padukuhan masing-masing.

Carik Madurejo, Hartoto Wahyudi dalam sambutannya menyampaikan pembangunan yang ada di Kalurahan Madurejo. Meskipun dari segi pendanaan dalam Pembangunan ikut terdampak dengan adanya efisiensi, namun tahun ini dari SK Bupati yang sudah turun.

“Dana  pembangunan  fisik mencapai 1,5 milyar, tersebar hampir merata di 16 padukuhan. Dana tersebut berasal dari dana BKK aspirasi dewan, yang diusahakan oleh masyarakat sendiri,” jelasnya.

Kepala Jawatan Praja Kapanewon Prambanan, Walyono dalam sambutannya, menyampaikan ucapan terima kasih, meskipun pelaksanaan Muskalnaudah terlambat. Ia berharap rencana yang sudah diajukan oleh padukuhan, tetap selaras antara  RKPKal, DU RKPKal dengan RPJM Kalurahan Madurejo.

”Mudah-mudahan  yang menjadi rencana Kalurahan, dapat bermanfaat bagi seluruh warga Kalurahan Madurejo,” pungkas Walyono. (Harmaji – KIM Prambanan)




Kampung Nasri III Buktikan Aman, Satpol PP dan Polres Sleman Siapkan “Perisai” untuk Warga

Sleman – Di tengah dinamika kehidupan masyarakat, Kampung Nasri III di Padukuhan Sumbersari, Kalurahan Sumberagung, Kapanewon Moyudan tetap dikenal sebagai lingkungan yang aman dan kondusif. Namun, kondisi tersebut tidak membuat warganya lengah. Sebagai upaya menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan, puluhan pengurus dan anggota Kamling Jagabaya Nasri III mengikuti kegiatan pembinaan yang digelar di Joglo Jetis pada Rabu (15/7/2026).

Kegiatan yang diikuti sekitar 30 peserta tersebut menghadirkan narasumber dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sleman, Kepolisian Resor Sleman, serta anggota DPRD Kabupaten Sleman. Pembinaan ini bertujuan memperkuat peran masyarakat dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan ketahanan lingkungan secara kolaboratif.

Kepala Satpol PP Kabupaten Sleman, Ihsan Waluyo, mengapresiasi kondisi wilayah Nasri III yang relatif aman. Meski demikian, ia mengingatkan agar masyarakat tidak lengah dan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi gangguan keamanan.

“Wilayah ini memang tergolong aman, tetapi jangan pernah mematikan radar kewaspadaan. Keamanan bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat,” tegasnya.

Ihsan juga mengajak masyarakat untuk menjaga kerukunan yang telah terbangun sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap berbagai persoalan sosial, seperti pengelolaan sampah, penyalahgunaan narkoba, hingga kenakalan remaja. Menurutnya, keluarga memiliki peran penting sebagai benteng pertama dalam membentuk karakter generasi muda.

“Jangan sampai anak-anak kita menjadi korban, apalagi pelaku kejahatan jalanan. Perhatikan pergaulan mereka karena itu merupakan investasi jangka panjang,” pesannya.

Selain itu, ia mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menjaga data pribadi, seperti Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan Kartu Keluarga (KK), serta tidak meminjamkannya kepada pihak lain karena berpotensi menimbulkan penyalahgunaan.

Sementara itu, Kasat Binmas Polresta Sleman, AKP Sugiyanto, memperkenalkan pendekatan restorative justice atau keadilan restoratif sebagai salah satu alternatif penyelesaian persoalan di tingkat masyarakat.

“Apabila terjadi permasalahan ringan di lingkungan RT atau RW, penyelesaiannya dapat diupayakan secara musyawarah dengan melibatkan Bhabinkamtibmas dan tokoh masyarakat. Tidak semua persoalan harus diselesaikan melalui proses hukum, yang terpenting sinergi tetap terjaga,” jelasnya.

Anggota DPRD Kabupaten Sleman, Untung Basuki Rahamat, turut mengingatkan bahwa meningkatnya kesejahteraan masyarakat sering kali diikuti dengan tantangan sosial yang semakin kompleks. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh warga untuk terus menjaga kekompakan dan memperkuat ketahanan keluarga.

“Pengalaman menunjukkan bahwa banyak persoalan sosial, termasuk kenakalan remaja, berawal dari keluarga yang kurang harmonis. Karena itu, menjaga keutuhan keluarga merupakan fondasi utama dalam menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif,” ujarnya.

Melalui kegiatan pembinaan ini, diharapkan semangat gotong royong dan sinergi antara masyarakat, pemerintah, serta aparat keamanan terus terjaga sehingga keamanan dan ketertiban lingkungan dapat dipertahankan secara berkelanjutan. (Edy – KIM Sumber BIwara Moyudan)