Jamasan Jodhang Bekakak Jadi Simbol Penyucian dan Pelestarian Warisan Budaya Leluhur

Sleman – Prosesi jamasan atau memandikan jodhang yang menjadi bagian penting dalam rangkaian Upacara Adat Saparan Bekakak kembali digelar masyarakat Gamping Kidul, Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Rabu (15/7/2026). Tradisi yang dipandu oleh Yudi Pramardiyanto tersebut menjadi simbol penyucian sarana upacara sebelum digunakan dalam prosesi adat, sekaligus menegaskan komitmen masyarakat dalam menjaga kelestarian warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Jodhang merupakan perangkat utama yang digunakan untuk membawa pengantin bekakak serta berbagai perlengkapan ritual dalam Upacara Saparan Bekakak. Sebelum difungsikan, jodhang terlebih dahulu menjalani prosesi jamasan sebagai bentuk penyucian lahir dan batin. Tradisi ini tidak sekadar membersihkan benda secara fisik, melainkan juga mengandung makna spiritual sebagai persiapan memasuki rangkaian upacara yang dianggap sakral oleh masyarakat.

Yudi Pramardiyanto menjelaskan bahwa jamasan merupakan simbol penghormatan terhadap nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para leluhur. Menurutnya, setiap tahapan dalam prosesi memiliki filosofi tentang pentingnya menjaga kesucian hati, ketulusan niat, serta rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sebelum melaksanakan tradisi adat.

Ia menuturkan bahwa masyarakat Gamping Kidul memandang prosesi jamasan jodhang dalam rangkaian Upacara Adat Saparan Bekakak bukan sekadar kegiatan membersihkan tandu yang akan digunakan untuk mengusung perlengkapan upacara. Lebih dari itu, jamasan merupakan simbol penyucian lahir dan batin sebagai bentuk penghormatan terhadap benda budaya yang menjadi bagian penting dari tradisi leluhur.

“Penyucian tersebut mencerminkan keyakinan bahwa setiap prosesi adat hendaknya diawali dengan niat yang bersih, hati yang tulus, serta rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,” tandas Yudi.

Prosesi jamasan berlangsung dengan penuh khidmat. Air yang digunakan untuk membersihkan jodhang disiramkan secara hati-hati ke seluruh bagian Jodhang, kemudian dilanjutkan dengan pembersihan menggunakan kain bersih hingga seluruh permukaannya kembali rapi dan siap digunakan dalam puncak pelaksanaan Saparan Bekakak. Seluruh tahapan dilakukan dengan penuh kehati-hatian sebagai bentuk penghormatan terhadap benda budaya yang memiliki nilai sejarah.

Air yang digunakan dalam jamasan memiliki makna filosofis sebagai lambang kehidupan, kesucian, dan pembaruan. Saat air membasuh setiap bagian jodhang, masyarakat memaknainya sebagai ikhtiar membersihkan segala hal yang kurang baik sekaligus mempersiapkan sarana upacara agar layak mengemban amanah dalam prosesi Saparan Bekakak. Makna tersebut tidak hanya ditujukan pada benda yang dibersihkan, tetapi juga menjadi pengingat bagi setiap orang untuk senantiasa menjaga kebersihan hati, pikiran, dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

“Di balik setiap tetes air yang mengalir saat jamasan berlangsung, tersimpan doa-doa yang dipanjatkan agar masyarakat senantiasa memperoleh keselamatan, ketenteraman, dan keberkahan. Air menjadi simbol harapan bahwa kehidupan akan terus mengalir dengan membawa kebaikan, kesuburan, serta kesejahteraan bagi seluruh warga,” terang Yudi.

Sementara itu, setiap langkah dalam prosesi jamasan mengandung pesan tentang pentingnya kebersamaan. Tradisi ini tidak pernah menjadi milik individu, melainkan lahir dari kerja kolektif masyarakat yang saling membantu mempersiapkan seluruh rangkaian upacara. Semangat gotong royong yang tercermin dalam prosesi tersebut menjadi warisan sosial yang terus dipelihara lintas generasi.

Yudi menambahkan, keberlangsungan tradisi tidak cukup hanya dipertahankan melalui penyelenggaraan upacara tahunan, tetapi juga harus diiringi dengan pemahaman terhadap makna filosofis yang terkandung di dalam setiap prosesi. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mewarisi bentuk tradisinya, tetapi juga memahami nilai-nilai yang menjadi fondasi keberadaannya.

Melalui pelaksanaan jamasan tersebut, masyarakat Gamping Kidul kembali menegaskan bahwa Upacara Adat Saparan Bekakak bukan sekadar agenda budaya tahunan, melainkan ruang untuk merawat identitas, memperkuat ikatan sosial, dan mewariskan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi penerus.

“Tradisi ini diharapkan terus lestari sebagai bagian dari kekayaan budaya Kabupaten Sleman yang memiliki nilai sejarah, spiritual, dan kebersamaan yang tinggi,” pungkasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Ki Empu Sungkono: Penjaga Terakhir Keris Jogja di Gatak Moyudan

Sleman – Di tengah arus modernisasi, masih ada tangan-tangan terampil yang setia menjaga warisan budaya leluhur. Salah satunya adalah Ki Empu Sungkono Harumbrodjo, satu-satunya empu keris di Daerah Istimewa Yogyakarta yang kini menetap di Padukuhan Gatak, Kalurahan Sumberagung, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman.

Keahlian Ki Empu menarik perhatian wisatawan mancanegara. Pada Rabu (15/7/2026), ia menerima kunjungan Patrick dan Natali, pasangan wisatawan asal Prancis yang berkesempatan menyaksikan secara langsung proses pembuatan keris tradisional. Keduanya tampak antusias mengamati setiap tahapan pengerjaan yang sarat makna dan nilai budaya.

Ki Empu menjelaskan bahwa pembuatan satu bilah keris membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan waktu yang tidak singkat. Prosesnya memakan waktu sekitar satu bulan, terdiri atas 20 hari untuk penempaan besi dan sekitar 10 hari untuk tahap penyelesaian (finishing).

“Harga keris paling rendah sekitar Rp20 juta. Pernah juga ada pesanan keris dengan hiasan tretes emas yang nilainya mencapai Rp200 juta,” ungkap Ki Empu.

Tahap penyelesaian menjadi bagian yang paling istimewa sekaligus sakral. Pada proses ini, bilah keris dicelupkan ke dalam air yang berasal dari tujuh sumber berbeda sebagai bagian dari pembentukan pamor. Selanjutnya, keris menjalani prosesi warangan, yakni tahap akhir yang bertujuan memunculkan motif pamor sekaligus memberikan perlindungan pada bilah keris.

Patrick mengaku terkesan dengan ketekunan dan nilai filosofi yang terkandung dalam proses pembuatan keris. Ia berharap warisan budaya tersebut terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Mohon budaya ini terus dilestarikan dengan mengajarkannya kepada generasi muda atau kepada putra-putra penerus,” ujar Patrick.

Keberadaan Ki Empu Sungkono Harumbrodjo menjadi bukti bahwa Kapanewon Moyudan tidak hanya dikenal sebagai kawasan pertanian, tetapi juga memiliki kekayaan budaya yang bernilai tinggi. Melalui dedikasinya, tradisi pembuatan keris tetap hidup sebagai bagian dari identitas budaya yang patut dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang. (Giek / KIM Moyudan)




Kenali Tumbuh Kembang Remaja, Langkah Awal Membangun Generasi Tangguh

Sleman – Masa remaja merupakan periode yang penuh perubahan sekaligus menentukan arah kehidupan seseorang. Pada fase ini, seorang anak tidak hanya mengalami pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan emosi, cara berpikir, hingga pembentukan karakter. Karena itu, remaja membutuhkan lingkungan yang mampu memahami sekaligus mendampingi proses tersebut secara tepat.

Pesan itu disampaikan dokter spesialis anak, dr. Bambang Edi Susyanto, dalam Kajian Sehat Rohani Jasmani (Seroja) yang digelar di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Rabu (15/7/2026). Menurutnya, keberhasilan mendampingi remaja berawal dari kemampuan orang tua dan lingkungan untuk mengenali setiap tahapan tumbuh kembang yang mereka alami.

Ia menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi pada masa remaja merupakan proses alamiah. Pergeseran suasana hati, keinginan untuk lebih mandiri, hingga munculnya rasa ingin tahu yang tinggi merupakan bagian dari pencarian jati diri. Kondisi tersebut seharusnya dipahami sebagai proses perkembangan, bukan semata-mata dipandang sebagai perilaku menyimpang.

“Remaja membutuhkan ruang untuk bertumbuh, tetapi tetap memerlukan pendampingan yang hangat dan konsisten. Kehadiran orang tua sebagai tempat berdialog menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan mental maupun emosional anak,” ujarnya.

Menurut dr. Bambang, komunikasi yang terbuka di lingkungan keluarga menjadi fondasi utama dalam membangun hubungan yang sehat antara orang tua dan anak. Sikap mau mendengar, menghargai pendapat remaja, serta memberikan teladan dalam kehidupan sehari-hari akan menumbuhkan rasa percaya sehingga anak tidak ragu menyampaikan persoalan yang dihadapinya.

Pendampingan tersebut, lanjutnya, tidak dapat dibebankan kepada keluarga semata. Sekolah memiliki peran yang sama pentingnya dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, menghargai perbedaan, serta mendorong peserta didik mengembangkan potensi akademik maupun nonakademik. Kolaborasi antara guru dan orang tua dinilai menjadi kunci untuk mengawal perkembangan remaja secara berkesinambungan.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, dr. Bambang juga mengingatkan pentingnya literasi digital bagi remaja. Akses informasi yang semakin terbuka membawa banyak peluang untuk belajar, tetapi juga menghadirkan risiko apabila tidak disertai kemampuan menyaring informasi dan mengendalikan penggunaan media sosial secara bijaksana.

Ia menilai remaja perlu memperoleh ruang yang lebih luas untuk menyalurkan energi dan kreativitas melalui berbagai aktivitas positif, seperti olahraga, kegiatan seni, organisasi, aktivitas keagamaan, maupun pengabdian kepada masyarakat. Beragam kegiatan tersebut dapat menjadi sarana membangun kepercayaan diri, kepemimpinan, serta kemampuan berinteraksi dengan lingkungan sosial.

Melalui Kajian Seroja, masyarakat diajak memahami bahwa keberhasilan membentuk generasi masa depan merupakan tanggung jawab bersama. Sinergi antara keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, masyarakat, dan pemerintah menjadi fondasi penting agar setiap remaja dapat tumbuh secara sehat, matang secara emosional, serta memiliki karakter yang kuat untuk menghadapi tantangan kehidupan di masa depan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




MAN 4 Sleman Bekali Murid Baru Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

Sleman – Memasuki lingkungan sekolah baru menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus menantang bagi banyak remaja. Untuk membantu proses adaptasi tersebut, MAN 4 Sleman membekali 180 murid baru dengan materi Mental Health for Best Future: Belajar Beradaptasi, Mengenali Diri, dan Menjaga Kesehatan Mental di Sekolah Baru dalam rangkaian Masa Ta’aruf Murid Madrasah (Mata Muda) 2026, Selasa (14/7/2026).

Kegiatan menghadirkan psikolog sekaligus akademisi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Maya Rindhany. Melalui sesi yang interaktif, ia mengajak para murid memahami bahwa kesehatan mental memiliki peran penting dalam mendukung proses belajar dan kehidupan sehari-hari.

Maya menjelaskan bahwa rasa cemas saat memasuki lingkungan baru merupakan hal yang wajar.

“Saat memasuki sekolah atau lingkungan baru, muncul pertanyaan seperti apakah akan mendapat teman atau mampu mengikuti pelajaran. Perasaan seperti itu sangat manusiawi,” ujarnya.

Menurut Maya, kesehatan mental yang baik membantu seseorang beradaptasi dengan perubahan, mengelola tekanan, serta mengembangkan potensi diri. Mengacu pada definisi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kesehatan mental adalah kondisi ketika seseorang mampu mengenali kemampuannya, menghadapi tekanan hidup, bekerja secara produktif, dan memberikan kontribusi positif bagi lingkungannya.

Ia menambahkan bahwa kesehatan fisik dan mental harus dijaga secara seimbang. Jika kesehatan fisik dirawat melalui olahraga, makan bergizi, dan istirahat yang cukup, maka kesehatan mental dijaga dengan mengenali emosi, berpikir positif, mengelola stres, serta berani mencari bantuan ketika dibutuhkan.

Dalam kesempatan tersebut, Maya juga mengajak peserta memahami bahwa setiap emosi memiliki makna.

“Emosi adalah respons alami terhadap suatu peristiwa. Yang terpenting bukan menghindarinya, tetapi mengenali dan mengelolanya dengan baik,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa kemampuan mengelola emosi merupakan keterampilan penting agar remaja mampu mengambil keputusan secara bijak dan membangun hubungan sosial yang sehat.

Menutup sesi, Maya berpesan agar para murid tidak ragu mencari bantuan ketika menghadapi masalah.

“Meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, tetapi bentuk keberanian. Jangan memikul semua persoalan sendirian,” pesannya.

Menurutnya, siswa dapat berbagi cerita kepada orang tua, guru Bimbingan dan Konseling (BK), wali kelas, teman yang dipercaya, maupun tenaga profesional apabila diperlukan.

Melalui pembekalan ini, MAN 4 Sleman berharap para murid baru mampu beradaptasi dengan lingkungan belajar yang baru, membangun rasa percaya diri, menjaga kesehatan mental, serta tumbuh menjadi generasi yang sehat, tangguh, dan berkarakter. Kegiatan ini juga menjadi wujud komitmen madrasah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peduli terhadap kesejahteraan psikologis peserta didik.

(Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)




Kapanewon Depok Layani 110 Dokumen Kependudukan Melalui Jebol Target

Sleman – Pemerintah Kapanewon Depok Kabupaten Sleman mencatatkan 110 layanan administrasi kependudukan dalam kegiatan Jemput Bola Tertib Administrasi Kependudukan (Jebol Target) di Kolaboratif Space, Padukuhan Jenengan, Kalurahan Maguwoharjo, Rabu (15/7/2026).

Layanan tersebut meliputi 41 aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD), 40 penerbitan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el), 28 pengurusan Kartu Keluarga (KK), serta 1 penerbitan Surat Keterangan Pindah Warga Negara Indonesia (SKPWNI).

Kepala Bagian Umum Kapanewon Depok, Benyamin Dalung, mengatakan bahwa kegiatan jemput bola ini merupakan bagian dari upaya Kapanewon Depok untuk memperluas akses pelayanan administrasi kependudukan sehingga masyarakat dapat mengurus dokumen penting dengan lebih mudah, cepat, dan dekat dari tempat tinggalnya.

Menurutnya, program Jebol Target dirancang untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik sekaligus mendorong masyarakat memiliki dokumen kependudukan yang lengkap dan mutakhir.

“Kami ingin memastikan masyarakat memperoleh layanan administrasi kependudukan secara lebih mudah dan tepat waktu. Melalui pelayanan jemput bola, berbagai kebutuhan dokumen dapat diselesaikan lebih dekat dengan lingkungan tempat tinggal warga,” ujarnya.

Ia menjelaskan, keberhasilan pelaksanaan kegiatan didukung oleh kolaborasi antara Kapanewon Depok, Pemerintah Kalurahan Maguwoharjo, serta kader dan tokoh masyarakat setempat. Sinergi tersebut membuat pelayanan berlangsung lancar dan mampu menjangkau lebih banyak warga.

“Kami akan terus mengembangkan pelayanan administrasi kependudukan yang inovatif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Melalui program ini, kami selalu berharap semakin banyak warga memperoleh dokumen kependudukan secara mudah sehingga tertib administrasi di wilayah Kapanewon Depok dapat terus meningkat,” harapnya. (Athiful/KIM Depok)