Jamasan Kyai Ageng Nolobondo, Upaya Masyarakat Madurejo Lestarikan Warisan Budaya

Sleman – Tradisi Jamasan Kyai Ageng Nolobondo kembali digelar sebagai bagian dari upaya memetri kabudayan atau melestarikan warisan budaya leluhur. Kegiatan ini berlangsung di Padukuhan Kebondalem, Kalurahan Madurejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Selasa (14/7/2026).
Acara tersebut dihadiri perwakilan Kundha Kabudayan DIY, Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman, serta tokoh masyarakat dan pegiat budaya Kalurahan Madurejo.
Antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya pusaka yang dibawa untuk dijamas. Selain pusaka Kyai Ageng Nolobondo berupa payung dan tombak, kegiatan ini juga diikuti dengan jamasan empat tombak, 25 keris, satu trisula, serta dua cambuk berbahan rotan milik warga.
Kepala Seksi Adat, Tradisi, Lembaga Seni, sekaligus Budaya Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman, Ari Bowo Laksono, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap tradisi memetri kabudayan dapat terus dilestarikan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur.
“Melalui kegiatan ini kita diajak untuk terus melestarikan budaya sekaligus menghargai dan menghormati perjuangan para pendahulu yang telah mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi penerus,” ujarnya.
Sementara itu, tim monitoring dan evaluasi Kalurahan Budaya dari Kundha Kabudayan DIY, Tri Jaka Saptono mengapresiasi semangat swadaya masyarakat Padukuhan Kebondalem dalam menyelenggarakan tradisi jamasan pusaka setiap tahun.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, khususnya generasi muda.
“Kami berharap tradisi siraman pusaka ini terus dilaksanakan setiap tahun dan semakin melibatkan kaum muda agar nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur tetap lestari dan tidak terputus oleh perkembangan zaman,” katanya.
Melalui penyelenggaraan Jamasan Kyai Ageng Nolobondo, masyarakat Kalurahan Madurejo menunjukkan komitmennya dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya sebagai bagian dari identitas daerah. (Harmaji / KIM Prambanan)



