Cegah Risiko Jatuh, Mahasiswa UNISA Yogyakarta Teliti Kekuatan Otot Lansia di Banyuraden

Sleman – Tujuh mahasiswa Program Studi Fisioterapi Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta melaksanakan penelitian sekaligus pemeriksaan kesehatan yang berfokus pada kekuatan dan daya tahan otot ekstremitas bawah bagi lanjut usia (lansia). Kegiatan riset lapangan ini dipusatkan di Ruang Rapat Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Senin (13/7/2026).

Penelitian ini dirancang untuk memetakan hubungan antara tingkat partisipasi lansia dalam berbagai kegiatan komunitas dengan kekuatan serta daya tahan otot bagian bawah mereka. Kedua aspek fisik tersebut merupakan indikator krusial yang menentukan kemampuan fungsional lansia dalam menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri, sekaligus menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko jatuh yang sering kali menjadi pemicu cedera hingga kecacatan pada usia senja.

Perwakilan mahasiswa UNISA Yogyakarta, Nurul Khoiriyah, menjelaskan bahwa stimulasi sosial melalui kelompok keagamaan, seni, maupun olahraga di tingkat rukun tetangga terbukti memiliki korelasi positif terhadap kondisi fisik para lansia.

“Partisipasi aktif lansia dalam berbagai kegiatan komunitas diyakini dapat memperkuat hubungan sosial, sekaligus berkontribusi terhadap peningkatan aktivitas fisik yang berdampak pada kekuatan dan daya tahan otot ekstremitas bawah. Interaksi sosial yang sehat mampu mendorong lansia tetap aktif bergerak sehingga kualitas hidup mereka dapat terjaga lebih baik,” ujar Nurul Khoiriyah saat memaparkan latar belakang risetnya.

Dalam praktiknya, tim mahasiswa melakukan pengukuran kemampuan motorik lansia menggunakan metode uji fisik terstandar. Data yang diperoleh dari pemeriksaan ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi ilmiah yang konkret bagi pemerintah desa, kader kesehatan, maupun pengelola panti dalam menyusun program pemberdayaan dan pencegahan penyakit degeneratif berbasis masyarakat.

Langkah taktis dari sektor akademisi ini mendapat sambutan hangat dari Manajer Operasional Layanan Lansia Terintegrasi Banyuraden, Sayekti Rahayu. Ia menilai sinergi ini sangat menguntungkan karena membantu pengelola layanan dalam memperoleh data kesehatan warga binaan secara akurat tanpa harus melakukan skrining mandiri dari awal. Hasil riset ini nantinya akan dijadikan kompas evaluasi untuk program pembinaan berkala di wilayah kerja mereka.

Dukungan serupa juga disuarakan oleh Kamituwa Banyuraden, Agus Nurdalmadi. Mewakili pemerintah kalurahan, ia berharap kehadiran para mahasiswa ini mampu memicu kesadaran warga paruh baya di Banyuraden untuk lebih peduli terhadap masa persiapan lanjut usia yang sehat dan produktif.

“Melalui penelitian tersebut, semoga semakin banyak lansia yang terdorong untuk aktif mengikuti berbagai kegiatan komunitas, rutin melakukan aktivitas fisik yang sesuai dengan kondisi kesehatannya, serta memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia,” pungkas Agus Nurdalmadi. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Kampanyekan Gerakan Minim Sampah Plastik, Ratusan Warga Sleman Meriahkan Jalan Sehat Milad ke-109 ‘Aisyiyah

Sleman – Memperingati hari lahirnya yang ke-109, Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Wonokerto 2, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, menggelar kegiatan jalan sehat lintas generasi pada Minggu (12/7/2026). Selain mengampanyekan gaya hidup sehat dan mempererat tali silaturahmi, aksi olahraga bersama ini menarik perhatian karena turut membawa misi pelestarian lingkungan dengan meminimalkan penggunaan sampah plastik sekali pakai.

Acara yang dipusatkan di halaman Masjid Ash-Sholeh, Garongan, Wonokerto ini diikuti oleh sedikitnya 250 peserta yang terdiri dari anak-anak, remaja, hingga kelompok lanjut usia. Antusiasme warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah setempat terlihat sejak pagi hari saat memadati area garis start untuk menyusuri rute pedesaan yang asri.

Ketua PRA Wonokerto 2, Sri Wulanti, menyampaikan bahwa milad kali ini menjadi momentum penting bagi organisasi perempuan Muhammadiyah tersebut untuk terus hadir di tengah masyarakat melalui aksi-aksi nyata yang menyentuh langsung kehidupan sosial warga.

“Milad ‘Aisyiyah kami maknai sebagai momentum untuk semakin mendekatkan organisasi dengan masyarakat. Jalan sehat ini menjadi ruang silaturahmi bagi seluruh warga, dari anak-anak hingga orang tua, sehingga kebersamaan yang telah terjalin dapat terus dipelihara,” ujar Sri Wulanti di sela-sela kegiatan.

Dalam pelaksanaannya, para peserta menempuh rute yang dimulai dari Masjid Ash-Sholeh, melintasi wilayah Cepit, Gardu Projayan, kawasan permukiman Garongan, Pasar Ikan, hingga kembali ke titik semula. Untuk menjamin kedisiplinan rute, panitia menyiagakan tiga pos pemeriksaan di sepanjang jalur guna membubuhkan tanda khusus kepada para peserta yang melintas.

Misi penyelamatan lingkungan yang diusung dalam jalan sehat ini ditunjukkan dengan imbauan keras dari panitia agar seluruh peserta membawa botol minum atau tumbler pribadi dari rumah. Langkah ini dinilai efektif untuk menekan volume penumpukan sampah plastik pasca-acara yang kerap menjadi masalah klasik dalam setiap kegiatan massal.

Sekretaris panitia, Indryasari Widiyanti, menjelaskan bahwa kampanye lingkungan ini direspons positif oleh warga. Sebagai gantinya, panitia secara gotong royong menyediakan belasan dispenser air minum isi ulang dan teh manis hangat di area utama kegiatan.

“Kami ingin kegiatan ini tidak hanya menyehatkan, tetapi juga mengedukasi masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan. Karena itu peserta diminta membawa botol minum sendiri, sementara panitia menyediakan air minum isi ulang dan teh manis di lokasi,” jelas Indryasari Widiyanti.

Kelancaran agenda ini didukung penuh oleh sinergi berbagai elemen, mulai dari Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Wonokerto 2 yang dipimpin oleh Sarno, Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM), mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN), hingga pengamanan dari personel Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) dan Linmas setempat. Tim medis yang digerakkan oleh kader kesehatan ‘Aisyiyah juga disiagakan untuk memantau kondisi fisik peserta lansia.

Setibanya di garis finis, acara dilanjutkan dengan pembacaan sejarah singkat berdirinya organisasi ‘Aisyiyah oleh Kusmiyati, pembagian konsumsi sehat, serta pengundian puluhan hadiah hiburan menarik. Melalui kegiatan sederhana yang sarat makna ekologis dan sosial ini, PRA Wonokerto 2 berharap nilai-nilai dakwah kemasyarakatan ‘Aisyiyah yang telah dirintis sejak 19 Mei 1917 dapat terus hidup dan relevan di era modern (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri Turi).




Sabet Emas Kejurda, Atlet Panahan Muda Asal Sleman Lolos ke Kejurnas Junior 2026

Sleman – Kabar membanggakan datang dari dunia olahraga Kabupaten Sleman. Atlet panahan muda berbakat asal Padukuhan Joho, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Prima Syarif Hidayatullah, sukses mengharumkan nama daerah setelah tampil gemilang pada Kejuaraan Daerah (Kejurda) Junior Panahan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2026.

Dalam kompetisi yang berlangsung di Lapangan Panahan Kopertis, Kota Yogyakarta, pada 4–5 Juli 2026 tersebut, Prima berhasil membawa pulang satu medali emas dan dua medali perak pada Divisi Recurve Putra U-18. Berkat capaian apik ini, ia secara resmi dinyatakan lolos sebagai bagian dari kontingen DIY yang akan berlaga di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Junior Panahan 2026 di Kudus, Jawa Tengah, pada akhir Juli mendatang.

Medali serta penghargaan prestisius tersebut diserahkan langsung oleh Ketua Pengurus Daerah (Pengda) PERPANI DIY pada babak final yang digelar Minggu (5/7/2026). Penyerahan penghargaan ini sekaligus menandai ditutupnya rangkaian kejuaraan daerah yang sekaligus berfungsi sebagai ajang seleksi ketat menuju Kejurnas.

Prima sendiri merupakan atlet binaan Sekolah Panahan WSS Palagan 55, sebuah klub yang dikenal konsisten mencetak pemanah muda berprestasi. Selain aktif berlatih, Prima juga menyeimbangkan perannya di bidang akademis sebagai siswa Kelas X SMA Negeri 2 Ngaglik melalui program Kelas Khusus Olahraga (KKO) Panahan.

“Saya berharap bisa terus berkembang menjadi atlet yang mampu membanggakan orang tua, daerah, dan Indonesia. Mohon doa dan dukungan agar saya dapat memberikan hasil terbaik pada Kejurnas nanti,” ujar Prima mengungkapkan targetnya menjelang laga nasional, Senin (13/7/2026).

Kecintaan pemuda kelahiran Sleman ini terhadap dunia memanah tidak tumbuh secara instan. Prima merupakan putra dari pasangan Sugito dan Sri Kurniasih, yang keduanya dikenal sebagai tokoh dan pegiat aktif dalam Paguyuban Jemparingan Condongcatur (JCC)—komunitas panahan tradisional gaya Mataraman khas Yogyakarta.

Sugito menceritakan bahwa putranya sudah mulai memegang busur sejak duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Perkenalan awal dengan olahraga panahan tradisional tersebut rupanya menjadi fondasi fisik dan mental yang kuat ketika Prima memutuskan untuk menekuni divisi panahan modern.

“Alhamdulillah, Prima mengawali perjalanan dari panahan tradisional jemparingan di Paguyuban Jemparingan Condongcatur. Dari sana tumbuh kecintaan terhadap olahraga panahan hingga berkembang menjadi atlet panahan modern. Kami berharap prestasi ini menjadi pemantik semangat generasi muda untuk mencintai panahan, baik tradisional maupun modern,” ungkap Sugito.

Sugito juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada tim pelatih Sekolah Panahan WSS Palagan 55 yang dinilai berhasil membina kemampuan putranya secara profesional dan terukur. Sinergi antara dukungan keluarga, pembinaan klub, sekolah khusus olahraga, dan pelestarian budaya lokal kini diharapkan mampu mengantarkan Prima meraih podium tertinggi pada ajang Kejurnas Junior di Kudus mendatang (Wasana / KIM Depok).




Tingkatkan Kualitas Mitigasi, BPBD Sleman Gandeng Multipihak Rancang Standar Pelayanan Kebencanaan Baru

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman terus memperkuat kualitas pelayanan publik dan keterbukaan informasi. Langkah ini diwujudkan melalui penyelenggaraan Forum Konsultasi Publik (FKP) Penyusunan Standar Pelayanan Tahun 2026 yang berlangsung di Ruang Rapat Op Room Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman, Senin (13/7/2026).

Pertemuan taktis ini digelar sebagai implementasi amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Dengan melibatkan unsur akademisi, dunia usaha, media massa, organisasi kemanusiaan, serta komunitas relawan, BPBD Sleman berupaya menyusun standar pelayanan yang lebih profesional, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan riil masyarakat.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Bambang Kuntoro, menegaskan bahwa penyusunan draf standar pelayanan kebencanaan tidak boleh sekadar menjadi gugur kewajiban administratif. Evaluasi dan masukan dari seluruh elemen mutlak diperlukan agar instrumen pelayanan yang dilahirkan dapat diakses dengan mudah, transparan, dan akuntabel.

“Forum Konsultasi Publik ini merupakan ruang bersama untuk mendengarkan aspirasi seluruh pemangku kepentingan. Standar pelayanan yang baik harus lahir dari kebutuhan masyarakat, bukan hanya dari perspektif penyelenggara. Oleh karena itu, seluruh masukan hari ini akan menjadi bahan penyempurnaan agar pelayanan BPBD semakin mudah diakses, transparan, akuntabel, profesional, dan memberikan kepastian kepada masyarakat,” ujar Bambang Kuntoro saat membuka forum.

Bambang memaparkan, berdasarkan indikator berkala melalui Survei Kepuasan Masyarakat (SKM), indeks kepuasan publik terhadap kinerja BPBD Sleman terus menunjukkan tren positif. Nilai indeks tercatat naik dari angka 84,84 pada tahun 2023, menjadi 85,41 pada tahun 2024, dan menyentuh angka 86,22 pada tahun 2025. Untuk mempertahankan tren tersebut pada tahun 2026, BPBD meluncurkan pembaruan dasar hukum, penyederhanaan birokrasi, serta penambahan layanan baru seperti pengajuan magang dan optimalisasi pos informasi publik.

Sejumlah masukan strategis mengemuka dalam sesi diskusi kelompok terpilih. Perwakilan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dewi Nurwanti, menyoroti pentingnya kepastian durasi pengerjaan dokumen atau respons darurat agar masyarakat tidak berspekulasi di tengah situasi kritis.

“Masyarakat perlu mengetahui sejak awal bagaimana alur pelayanan berjalan. Bukan hanya batas waktu tujuh hari kerja, tetapi juga kapan permohonan dicatat dalam register, bagaimana respons awal diberikan, serta bagaimana perkembangan proses dapat diinformasikan kepada pemohon melalui surat elektronik atau media komunikasi lainnya,” kata Dewi Nurwanti memberikan usulan taktis.

Senada dengan hal itu, perwakilan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Indra Baskoro Adi, mengusulkan standarisasi alur birokrasi bagi penelitian kebencanaan mahasiswa. Sementara itu, perwakilan SMKN 1 Tempel, Indriani Kurnia, mengapresiasi program magang industri di lingkungan BPBD sekaligus mengharapkan adanya pedoman teknis yang lebih detail terkait pengajuan narasumber Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di sekolah-sekolah.

Aspek tata kelola operasional di lapangan juga menjadi sorotan tajam. Ketua Forum Komunikasi Komunitas Relawan Sleman (FKKRS), Yoga Nugroho Utomo, mengusulkan pembentukan sistem registrasi formal bagi komunitas relawan mitra guna mengantisipasi potensi pungutan liar oleh pihak tidak bertanggung jawab. Ia juga mendesak standarisasi frekuensi bunyi (tone) sirine Early Warning System (EWS) agar tidak disalahgunakan untuk keperluan non-darurat yang memicu kepanikan warga.

“Perlu adanya pendataan dan registrasi komunitas relawan yang aktif sehingga masyarakat mengetahui mana relawan yang benar-benar menjadi mitra BPBD dan mana yang menjalankan kegiatan secara mandiri. Hal ini penting untuk mencegah munculnya persepsi negatif maupun isu-isu yang dapat merugikan nama baik relawan,” tutur Yoga Nugroho Utomo.

Menanggapi berbagai usulan tersebut, Bambang Kuntoro menyatakan komitmennya untuk mengkaji seluruh rekomendasi secara komprehensif. Pihaknya berjanji akan merumuskan hasil forum ini ke dalam draf final Standar Pelayanan BPBD Sleman 2026 agar proses penanggulangan bencana di wilayah lereng Gunung Merapi dapat berjalan lebih optimal, inklusif, dan tangguh. (Wasana / KIM Depok)




Simbol Welas Asih dan Kemakmuran, Pemkab Sleman Gelar Jamasan Pusaka Tombak Kyai Turunsih

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman kembali menggelar upacara adat sakral jamasan pusaka Tombak Kyai Turunsih pada Senin (13/7/2026). Prosesi ritual tahunan yang berpusat di Pendopo Parasamya Kabupaten Sleman ini bertujuan untuk membersihkan, menyucikan, sekaligus merawat aset pusaka milik pemerintah daerah dengan melibatkan para abdi dalem Keraton Yogyakarta.

Ritual jamasan pusaka Tombak Kyai Turunsih ini rutin diadakan setiap memasuki bulan Suro dalam kalender Jawa atau bulan Muharam dalam penanggalan Islam. Senjata pusaka tersebut merupakan pemberian langsung dari Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai petenger atau penanda sejarah pada peringatan Hari Jadi ke-83 Kabupaten Sleman yang jatuh pada 15 Mei 1999 silam.

Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, bersama jajaran pejabat teras di lingkungan Pemkab Sleman turut hadir menyaksikan langsung jalannya penjamasan. Danang menegaskan bahwa upacara tradisional ini merupakan bentuk komitmen daerah dalam melestarikan warisan budaya takbenda sekaligus merawat memori kolektif yang memiliki arti filosofis mendalam bagi masyarakat Sleman.

“Terima kasih kepada para abdi dalem, dan semua pihak, yang telah membantu dalam pelaksanaan jamasan pusaka ini. Semoga kita selalu diberikan kesehatan, dan diberikan kelancaran dalam menjalankan ketugasan kita dalam rangka menyejahterakan warga masyarakat kabupaten Sleman,” ujar Danang Maharsa saat memberikan sambutan resmi.

Secara semantik, nama Turunsih mengemban makna mendalam, yakni “turunnya rasa kasih sayang” atau simbol welas asih. Simbolisme ini diharapkan mampu menginspirasi jajaran birokrasi maupun warga Sleman agar senantiasa mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, cinta kasih, dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

Selain namanya yang sarat makna spiritual, karakteristik fisik tombak ini juga memiliki pamor beraliran Beras Wutah. Corak pamor tersebut merefleksikan realitas geografis Kabupaten Sleman yang memegang peran vital sebagai lumbung pangan utama bagi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui upacara jamasan ini, Pemkab Sleman menegaskan kembali tekadnya untuk terus menjaga nilai-nilai agraris dan kelestarian alam demi kemakmuran rakyat.