Visualisasikan Ayat Al-Qur’an, Mahasiswa UNY Sabet Juara I Kaligrafi Kontemporer di Ajang Internasional

Sleman – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Nauval Udhya Tammimi, sukses menorehkan prestasi gemilang di panggung akademik internasional. Ia berhasil menyabet Juara I Musabaqah Khattil Qur’an (MKQ) Kontemporer pada ajang International Qur’anic Festival (I-QAF) 2026 yang diumumkan pada Senin (13/7/2026).
Penghargaan tertinggi ini diraih Nauval melalui goresan karya kaligrafi filosofis yang mengadaptasi pesan suci Al-Qur’an sebagai penawar dan rahmat bagi orang-orang beriman. Landasan konseptual lukisan religius tersebut merujuk secara spesifik pada teks suci Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 82 yang menjadi tema wajib dalam perlombaan.
Nauval mengungkapkan bahwa mahakarya yang ditampilkannya di hadapan dewan juri lahir dari proses kontemplasi yang mendalam terhadap makna ayat. Setiap diksi keagamaan diterjemahkan secara presisi ke dalam simbol-simbol visual yang saling berkelindan demi memperkuat pesan metafisik kepada penikmat seni.
“Tali yang menjulur dari atas melambangkan diturunkannya Al-Qur’an dari langit, sementara kitab menjadi simbol Al-Qur’an itu sendiri. Balon, kristal, dan simbol kesehatan menggambarkan makna penawar, sedangkan air dan buah anggur melambangkan rahmat yang menghidupkan. Rajutan sajadah menjadi simbol keimanan yang terus terjalin dalam kehidupan seorang mukmin,” ujar Nauval Udhya Tammimi saat membedah makna estetis karyanya.
Guna menghadirkan impresi yang kokoh, Nauval memadukan seluruh elemen simbolik tersebut dengan latar belakang corak batu bergaya realistis. Kombinasi teknik lukis kontemporer ini berhasil mencuri perhatian dewan juri karena mampu menyajikan kedalaman makna visual yang berkarakter kuat.
Di balik kesuksesan besar tersebut, Nauval mengaku harus berjuang ekstra keras dalam manajemen waktu sehari-hari. Di tengah jadwal perkuliahan yang padat di UNY, ia juga aktif bekerja paruh waktu sebagai pekerja lepas (freelancer) sekaligus mengemban amanah sebagai pengurus masjid kampus. Baginya, keahlian seni tidak didapatkan secara instan melainkan lewat metode konsistensi latihan yang repetitif.
Nauval mengaku sangat bersyukur atas pencapaian yang tidak pernah ia duga sebelumnya ini. Baginya, ajang kompetisi internasional berskala besar ini bukan sekadar arena berburu medali kejuaraan, melainkan ruang berharga untuk saling bertukar pengalaman serta mempererat tali silaturahmi antarkaligrafer lintas daerah.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dipercaya meraih juara 1. Pencapaian ini tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya mengucapkan terima kasih kepada panitia, dewan juri, kedua orang tua, keluarga, para guru, sahabat, serta teman-teman yang terus memberikan doa dan dukungan. Tanpa mereka, saya tidak mungkin berada di titik ini,” kata Nauval penuh haru.
Capaian membanggakan ini diharapkan mampu memantik motivasi dan iklim kompetisi yang positif di kalangan mahasiswa tingkat nasional. Kreativitas seni kaligrafi Al-Qur’an kontemporer terbukti tidak hanya bernilai estetis tinggi, melainkan efektif menjadi media dakwah visual, sarana edukasi, sekaligus instrumen pelestarian seni Islam di kancah internasional (Athiful/KIM Depok).



