Buka Keterisolasian Wilayah, Pembangunan Jembatan Pelita Garuda Ngaglik-Mlati Sleman Dikebut

Sleman – Mobilitas warga di perbatasan wilayah Kapanewon Ngaglik dan Kapanewon Mlati akan semakin lancar seiring direalisasikannya pembangunan Jembatan Pelita Garuda. Padukuhan Penen, Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, dipilih menjadi salah satu titik pelokasian infrastruktur penyeberangan ini dalam skema Program Jembatan Garuda gelombang 6 untuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Jembatan yang dirancang memiliki bentang panjang 20 meter serta lebar 4 meter ini diproyeksikan menjadi jalur urat nadi baru. Keberadaannya diyakini mampu memangkas waktu tempuh antarkawasan, melancarkan sirkulasi transportasi publik, serta memicu akselerasi pertumbuhan ekonomi masyarakat di kedua wilayah kapanewon.

Babinsa Kalurahan Donoharjo, Kelik Gunawan, mengungkapkan bahwa proyek infrastruktur ini merupakan bagian dari Program Jembatan Garuda. Agenda tersebut merupakan program strategis nasional yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto bekerja sama dengan TNI Angkatan Darat melalui metode karya bakti untuk membangun jembatan perintis di berbagai daerah.

“Program tersebut bertujuan membuka keterisolasian wilayah, memperluas akses pendidikan dan layanan kesehatan, serta memperkuat konektivitas antarwilayah,” ujar Kelik Gunawan saat ditemui di sela-sela pemantauan proyek fisik di lapangan, Minggu (12/7/2026).

Kelik Gunawan menambahkan, pengerjaan konstruksi jembatan ini sudah mulai digulirkan sejak 25 Juni 2026 lalu dengan target waktu pengerjaan selama 40 hari kalender. Walakin, durasi penyelesaian akhir di lapangan akan tetap menyesuaikan dengan dinamika teknis, termasuk kelancaran suplai material serta tingkat kerumitan geografis bentang sungai yang menghubungkan kedua wilayah.

Dampak positif dari pembangunan jembatan perintis ini pun langsung disambut baik oleh otoritas kewilayahan setempat. Dukuh Penen, Maryanto, menyebutkan bahwa jembatan ini akan mempermudah aksesibilitas anak-anak sekolah yang selama ini harus menempuh rute memutar yang cukup jauh.

“Selain itu, warga juga akan lebih cepat menuju Jalan Palagan, Jalan Mulungan Baru, hingga arah Magelang karena jarak tempuh menjadi lebih singkat. Akses menuju SD Mlati 2 juga akan menjadi lebih mudah dan lebih aman bagi para siswa,” kata Maryanto menerangkan kegunaan jalur tersebut.

Lebih dari sekadar jalur transportasi umum dan pendidikan, keberadaan konstruksi kokoh ini dipastikan bakal memotong mata rantai ongkos logistik sektor agraria. Kemudahan akses dinilai menjadi kunci utama agar hasil bumi milik petani lokal dapat diserap pasar perkotaan secara cepat dan efisien.

“Dengan transportasi yang lebih lancar, biaya angkut diharapkan berkurang sehingga dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan perekonomian warga Padukuhan Penen dan sekitarnya,” tutur Maryanto. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Perkuat Gotong Royong, Warga Tegal Domban Sleman Gelar Kerja Bakti Bersama Keluarga

Sleman – Kegiatan kerja bakti di lingkungan masyarakat biasanya didominasi oleh kaum bapak, namun suasana berbeda terlihat di Padukuhan Tegal Domban, Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman. Warga di lingkungan RT 07 RW 26 kompak menggelar kerja bakti massal dengan melibatkan seluruh anggota keluarga, baik bapak-bapak maupun ibu-ibu, pada Minggu (12/7/2026).

Langkah pelibatan seluruh unsur keluarga ini sengaja diambil untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus meningkatkan rasa kepemilikan warga terhadap kebersihan lingkungan sekitar. Fokus sasaran kerja bakti kali ini dipusatkan pada fasilitas ibadah dan akses mobilitas utama masyarakat.

Ketua RT 07 Tegal Domban, Dwi Dayat, menjelaskan bahwa aksi resik-resik kampung ini merupakan agenda rutin bulanan yang penentuan lokasinya selalu digodok terlebih dahulu melalui mekanisme forum warga.

“Musyawarah RT memutuskan kerja bakti dilaksanakan di Mushola Al Anwar dan sepanjang jalan kampung menuju jalan raya. Kali ini kami juga sepakat mengajak ibu-ibu untuk ikut berpartisipasi agar kebersamaan warga semakin terasa,” ujar Dwi Dayat saat memberikan keterangan di sela-sela kegiatan.

Kehadiran ibu-ibu di lapangan terbukti membuat ritme kerja menjadi jauh lebih efektif dan cepat selesai. Warga bahu-bahu membersihkan rumput liar di halaman mushola, merapikan tanaman peneduh, hingga menyapu bersih sepanjang jalan kampung yang menghubungkan permukiman dengan jalan raya.

Nuansa guyub rukun semakin kental saat memasuki waktu istirahat, di mana warga disambut dengan limpahan aneka hidangan lokal. Secara swadaya, warga menyajikan gorengan, talas rebus, roti, hingga buah pepaya dan nangka yang dipetik langsung dari kebun sendiri. Minuman yang disediakan pun cukup unik, mulai dari teh manis hangat hingga jus sirsak segar buatan rumahan.

Dwi Dayat menambahkan, esensi utama dari gerakan ini tidak sekadar mengejar kebersihan fisik lingkungan, melainkan sebagai media efektif untuk merawat modal sosial pedesaan yang mulai luntur di era modern.

“Selain membersihkan lingkungan, kerja bakti menjadi kesempatan untuk bersilaturahmi, saling mengenal lebih dekat, dan menjaga tradisi gotong royong yang menjadi kekuatan masyarakat,” kata Dwi Dayat memungkasi.

Agenda komunal ini menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai kearifan lokal gotong royong masih hidup subur dan terus diestafetkan antar-generasi di wilayah Sleman. Melalui gerakan berbasis keluarga ini, kesadaran menjaga ruang publik diharapkan dapat terus terjaga secara berkelanjutan. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




Rawat Tradisi di Era Modern, Kalurahan Merdikorejo Sleman Gelar Pelatihan MC Bahasa Jawa Berbusana Adat

Sleman – Pemerintah Kalurahan Merdikorejo bergerak cepat melakukan pembekalan literasi budaya bagi aparatur desa dan generasi muda guna membentengi nilai tradisi dari gerusan disrupsi modernisasi. Langkah konkret tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Pelatihan Master of Ceremony (MC) Bahasa Jawa atau Panatacara yang digelar di ruang pertemuan Kalurahan Merdikorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Jumat hingga Sabtu (10–11/7/2026).

Agenda pembinaan grup kesenian dan kebudayaan tingkat desa ini diikuti secara antusias oleh unsur pamong kalurahan dan pemuda Karang Taruna setempat. Uniknya, suasana pelatihan sengaja dikondisikan sarat nuansa kultural lantaran seluruh peserta diwajibkan hadir mengenakan pakaian adat Jawa gaya Yogyakarta sebagai bentuk praktik langsung tata busana kepanatacaraan.

Lurah Merdikorejo, Agus Prasetyo, menegaskan bahwa pembumian budaya daerah membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat lokal secara terstruktur, terutama kelompok usia muda yang menjadi pewaris estafet kepemimpinan di tingkat tapak.

“Budaya Jawa merupakan identitas yang harus dijaga bersama. Kami berharap pelatihan ini mampu menumbuhkan rasa bangga sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menggunakan bahasa dan tata budaya Jawa pada berbagai kegiatan kemasyarakatan,” ujar Agus Prasetyo saat memberikan keterangannya.

Guna memberikan pemahaman metodologis yang matang, panitia menghadirkan pengurus Paguyuban Panatacara Yogyakarta (PPY) Kabupaten Sleman, Bardono. Ia memaparkan materi inti mengenai teknik sesorah (pidato) serta dasar-dasar kepanatacaraan yang menekankan bahwa seorang pemandu acara adat tidak sekadar bermodal vokal yang baik, melainkan wajib menguasai unggah-ungguh (tata krama) kebahasaan.

“Panatacara adalah wajah sebuah acara. Kemampuan berbicara yang baik harus diiringi dengan pemahaman terhadap tata krama dan nilai budaya agar pesan yang disampaikan memiliki makna dan kehormatan,” kata Bardono membedah etika komunikasi Jawa.

Selain aspek olah vokal dan kebahasaan, pelatihan ini juga membedah arsitektur seni musik pengiring yang dipandu langsung oleh praktisi budaya Kabupaten Sleman, Sugiman Dwi Nurseto. Ia membekali peserta dengan pengenalan tembang dan gending Jawa yang lazim diaplikasikan sebagai penanda sakralitas dalam berbagai prosesi adat pernikahan maupun upacara komunal warga.

“Tembang dan gending Jawa menyimpan filosofi kehidupan yang sangat dalam. Memahami dan melestarikannya berarti menjaga ingatan kolektif serta identitas budaya bangsa,” tutur Sugiman Dwi Nurseto menerangkan keterkaitan seni musik dan pranata sosial.

Penyelenggaraan pelatihan intensif ini diharapkan mampu mengikis kelangkaan figur penutur bahasa Jawa halus di lingkungan masyarakat. Melalui sinergi terarah antara pemerintah desa dan elemen pemuda ini, Kalurahan Merdikorejo optimis dapat mencetak kader-kader praktisi budaya baru yang cakap dan percaya diri dalam mengawal berbagai ritual tradisi di wilayah Sleman. (SBD/KIM Tempel)




Garda Depan Pelestarian Lingkungan, Anak Muda Maguwoharjo Sleman Sulap Sedekah Sampah Jadi Bernilai Ekonomi

Sleman – Kelompok pemuda di Kabupaten Sleman mulai mengambil peran nyata dalam mengatasi persoalan kedaruratan sampah melalui aksi sosial berbasis sirkular ekonomi. Langkah tersebut diwujudkan oleh Gerakan Sedekah Sampah Tani Mulyo di Padukuhan Ringinsari, Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, yang konsisten mengedukasi warga dengan mengumpulkan komoditas limbah anorganik rumah tangga secara massal pada Ahad (12/7/2026).

Gerakan ini mengandalkan kesadaran kolektif warga untuk memisahkan sampah kering yang masih memiliki nilai jual sejak dari dapur masing-masing. Langkah taktis ini menjadi bagian dari resolusi jangka panjang penanganan lingkungan di kawasan padat penduduk Sleman agar beban pembuangan akhir tidak menumpuk di hilir.

Petugas Pendamping Pengolahan Sampah (P3S) Kalurahan Maguwoharjo, Sri Rahayu, mengonfirmasi bahwa seluruh operasional gerakan lingkungan ini murni dinakhodai oleh jaringan pemuda setempat. Mereka secara swadaya menerapkan sistem jemput bola dengan mendatangi satu per satu rumah warga untuk mengambil paket sedekah sampah tersebut.

“Sedekah Sampah Tani Mulyo ini sepenuhnya digerakkan oleh tangan-tangan kreatif anak-anak muda lokal yang memiliki kepedulian luar biasa terhadap isu lingkungan,” ujar Sri Rahayu saat memberikan keterangan di lokasi pemilahan.

Sri Rahayu menjelaskan, komoditas sampah anorganik yang berhasil dikumpulkan kemudian disortir secara detail berdasarkan jenisnya di posko pemuda. Proses pemilahan sekunder ini krusial untuk memastikan material daur ulang dapat masuk ke rantai industri industri sekunder secara optimal dan tidak terbuang sia-sia ke tempat pembuangan akhir.

“Dengan cara tersebut, sampah yang semula dianggap tidak berguna dapat diubah menjadi sesuatu yang bernilai manfaat,” kata Sri Rahayu menambahkan.

Keterlibatan aktif generasi muda ini diharapkan mampu menjadi pemantik perubahan perilaku atau behavioral change bagi masyarakat luas agar lebih disiplin memperlakukan limbah domestik. Melalui konsistensi gerakan Sedekah Sampah Tani Mulyo ini, warga Ringinsari diharapkan makin terbiasa memilah sampah mandiri serta memelopori lahirnya padukuhan hijau yang mandiri dan berkelanjutan. (Athiful/KIM Depok)




Lestarikan Seni Tradisional, Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk Meriahkan Hari Jadi ke-78 Kalurahan Sinduadi

Sleman – Pemerintah Kalurahan Sinduadi menggelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk untuk memperingati Hari Jadi ke-78 Kalurahan Sinduadi. Pentas seni tradisional dengan lakon “Bimo Suci” yang dibawakan oleh dalang Ki Lingga Wisnu Indarto tersebut berlangsung meriah di halaman Kantor Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Sabtu (11/7/2026) malam.

Agenda budaya ini dihadiri oleh Bupati Sleman yang diwakili oleh Kepala Dinas Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman Ishadi Zayid, Sekretaris Dinas PMK Kabupaten Sleman Agung Dwi Maryoto, serta Anggota DPRD DIY Sri Muslimatun dan Dyah Purwanti. Turut hadir pula Panewu Anom Mlati Ignatius Eko Ferianto bersama jajaran tokoh masyarakat setempat.

Lurah Sinduadi menjelaskan bahwa momentum pertambahan usia ini menjadi penanda komitmen bagi jajaran pemerintah kalurahan untuk terus menggenjot roda pembangunan daerah. Orientasi kebijakan ke depan dipastikan akan menyentuh seluruh aspek kehidupan warga secara berimbang.

“Di usia ke-78 ini, Kalurahan Sinduadi terus berkomitmen melaksanakan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga memperhatikan kelestarian lingkungan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta penguatan kehidupan sosial dan budaya,” ujar Lurah Sinduadi saat memberikan sambutan pembukaan.

Apresiasi senada disampaikan oleh Kepala Dinas Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman, Ishadi Zayid, saat membacakan amanat tertulis dari Bupati Sleman. Pemerintah daerah mendorong agar Sinduadi dapat bertransformasi menjadi kawasan yang mandiri tanpa kehilangan jati diri kebudayaannya. Ishadi juga sempat membakar semangat penonton dengan memekikkan yel-yel kebudayaan daerah.

“Salam Budaya!” ujar Ishadi Zayid yang kemudian langsung dijawab serentak oleh ratusan warga dengan seruan, “Lestari Budayaku!”

Sebelum masuk pada acara inti pementasan wayang, suasana malam perayaan diawali dengan penampilan paduan suara dari kader Ibu-ibu PKK Kalurahan Sinduadi yang dipimpin oleh Sriwartini. Selain itu, panitia juga membagikan hadiah kepada para pemenang aneka perlombaan yang sudah digelar sebelumnya, mulai dari Lomba Konten Kreatif, Lomba Aku Hatinya PKK, Lomba Mewarnai Anak, hingga Lomba Baduta (Bayi di Bawah Dua Tahun).

Pementasan wayang kulit dengan lakon “Bimo Suci” ini sengaja dipilih sebagai puncak acara karena kaya akan tuntunan moral, keteladanan, dan kebijaksanaan hidup. Lewat media pertunjukan rakyat ini, nilai-nilai luhur Jawa diharapkan dapat terus diestafetkan kepada generasi muda di tengah gempuran modernisasi era digital. (Edy – KIM Pijar Mlati)