Atasi Darurat Sampah 500 Ton per Hari, DPRD Sleman Dorong Pembentukan Pengelola Mandiri di Tiap Padukuhan

Sleman – Upaya mewujudkan target Sleman Tuntas Sampah 2029 membutuhkan intervensi dan peran aktif masyarakat secara masif di tingkat akar rumput. Hal tersebut menjadi penekanan utama Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Sleman, Bambang Sigit Sulaksono, saat menggelar sosialisasi pengelolaan sampah dalam masa reses di Joglo Margokaton, Susukan II, Kalurahan Margokaton, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Kamis (9/7/2026).

Agenda pembinaan konstituen yang bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman ini diikuti oleh 60 peserta. Para peserta merupakan pengurus dan anggota Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) Katon Resik Margokaton serta KPSM Sampah Bermanfaat Margodadi.

Dalam pemaparannya, Bambang Sigit Sulaksono mengungkapkan fakta krusial bahwa volume produksi sampah di Kabupaten Sleman saat ini telah menembus angka lebih dari 500 ton setiap harinya. Kondisi darurat tersebut dinilai tidak akan pernah mampu ditangani secara tuntas jika pemerintah daerah hanya mengandalkan tiga unit Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang beroperasi saat ini.

“Pemerintah Kabupaten Sleman tidak bisa menyelesaikan persoalan sampah sendirian. Kunci keberhasilannya adalah kesadaran masyarakat untuk mengurangi timbulan sampah sejak dari rumah tangga. Kalau semua bergerak bersama, target Tuntas Sampah 2029 bukan sesuatu yang mustahil,” ujar Bambang Sigit Sulaksono di hadapan warga Seyegan.

Bambang menambahkan, stimulan dari DLH Sleman berupa pendampingan teknis dan bantuan sarana prasarana selama ini harus diimbangi dengan perluasan kelembagaan lokal. Ia mendorong agar setiap padukuhan di Sleman wajib memiliki KPSM, baik yang bergerak dengan skema bank sampah bernilai ekonomi maupun gerakan sedekah sampah. Untuk mendukung hal itu, legislatif berjanji akan mengupayakan pengadaan bantuan fasilitas penunjang seperti gerobak sampah dan kompartemen pilah.

Pada kesempatan yang sama, praktisi sekaligus Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) Kapanewon Seyegan, Sutarto Agus, yang hadir sebagai narasumber menyoroti sejumlah rapor merah di wilayahnya. Ia menyayangkan masih maraknya praktik pembuangan sampah liar di pinggir jalan, aktivitas pembakaran sampah yang mencemari udara, serta belum terbentuknya lembaga pengelola di beberapa padukuhan akibat rendahnya kesadaran memilah.

Sutarto Agus menegaskan bahwa revolusi manajemen sampah harus dimulai dari dapur keluarga melalui pemisahan karakter limbah organik dan anorganik. Fondasi ini dinilai menjadi kunci utama keberhasilan konsep Reduce, Reuse, dan Recycle (3R).

“Pemilahan sampah di tingkat rumah tangga merupakan fondasi pengelolaan sampah. Sampah organik seharusnya selesai di rumah melalui teknologi sederhana seperti jugangan, biopori, biopot, losida maupun komposter,” kata Sutarto Agus menerangkan metode reduksi sampah basah.

Sosialisasi ini diakhiri dengan sesi dialog interaktif mengenai penguatan aspek kelembagaan KPSM agar memiliki manajemen yang berkelanjutan. Melalui penguatan kapasitas di masa reses dprd ini, KPSM di wilayah Seyegan diharapkan mampu bertransformasi menjadi ujung tombak edukasi warga demi mewujudkan lingkungan Kabupaten Sleman yang bersih dan bebas dari timbulan sampah. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Pacu Pelaku Usaha Naik Kelas, Kapanewon Depok Sleman Gelar Sosialisasi Platform Digital SiBakul

Sleman – Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus berkomitmen mendongkrak potensi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar melek digital dan naik kelas. Langkah konkret tersebut diwujudkan melalui agenda Sosialisasi SiBakul bagi UMKM yang digelar di Balai Padukuhan Gejayan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Jumat (10/7/2026).

Acara penting ini diinisiasi untuk memberikan akselerasi digital bagi para pelaku usaha lokal. Agenda ini juga dihadiri langsung oleh Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi DIY, Yan Kurnia, yang memberikan dukungan penuh terhadap penguatan kapasitas ekonomi kerakyatan di tingkat kapanewon.

Dalam arahannya, Yan Kurnia menekankan bahwa era digital yang bergerak cepat menuntut para pelaku UMKM untuk bersikap adaptif. Kehadiran SiBakul, yang merupakan platform market hub serta sistem pendataan resmi milik Dinas Koperasi dan UKM DIY, dinilai bukan sekadar aplikasi pencatatan administrasi biasa, melainkan solusi nyata untuk memotong rantai pemasaran dan memperluas jangkauan produk secara nasional.

“UMKM di Kapanewon Depok ini punya potensi yang luar biasa besar dan sangat variatif. Dengan memanfaatkan SiBakul secara maksimal, pelaku usaha tidak hanya dibantu dalam hal pendataan, tetapi juga mendapatkan fasilitas promosi, kemudahan ongkos kirim gratis, hingga akses pembiayaan,” ujar Yan Kurnia di hadapan para peserta.

Yan Kurnia menambahkan bahwa DPRD DIY akan terus mengawal regulasi dan pembiayaan anggaran yang berpihak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat bawah. Langkah pengawasan ini penting demi memastikan penguatan kapasitas pelaku usaha tetap berjalan konsisten di tengah tantangan ekonomi modern.

Pelaksanaan sosialisasi ini disambut dengan antusiasme tinggi oleh puluhan pelaku UMKM dari berbagai sektor di wilayah Kapanewon Depok, mulai dari pengusaha kuliner, kerajinan tangan, hingga industri fesyen. Selama jalannya acara, para peserta dipandu secara interaktif oleh tim teknis untuk memahami alur kerja SiBakul, mulai dari proses pendaftaran akun, mekanisme kurasi mutu produk, hingga tata cara klaim fitur unggulan gratis ongkos kirim.

Pihak Pemerintah Kapanewon Depok menyambut baik inisiatif dan kehadiran jajaran legislatif dalam mendukung program digitalisasi ini. Sinergi antara legislatif, eksekutif, dan pelaku usaha diharapkan mampu menciptakan ekosistem UMKM Depok yang lebih tangguh dan mandiri. Lewat pemerataan literasi digital ini, seluruh pelaku usaha di Depok diharapkan segera terintegrasi ke dalam sistem Markethub SiBakul Jogja agar dapat menikmati berbagai stimulus program yang disediakan oleh pemerintah daerah. (Lidya/KIM Depok)




Antisipasi Banjir, Pemerintah Kalurahan Condongcatur Matangkan Pembangunan Drainase dan SPAH di 21 RW

Sleman – Pemerintah Kalurahan Condongcatur bergerak cepat memantangkan proyek infrastruktur publik menjelang puncak musim hujan. Langkah ini diwujudkan melalui Rapat Koordinasi (Rakor) Bidang Pembangunan yang khusus membahas detail teknis eksekusi saluran drainase dan Sistem Pengelolaan Air Hujan (SPAH) di Ruang Wacana Loka Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Kamis (9/7/2026) sore.

Pertemuan strategis ini dipimpin langsung oleh Plt Lurah Condongcatur Budi Arto, serta didampingi Carik Condongcatur Riska Dian Nur Lestari dan Ulu-Ulu Murgiyanta. Evaluasi ini juga melibatkan jajaran dukuh, Ketua Tim Pembangunan kewilayahan, serta perwakilan dari 21 Rukun Warga (RW) yang ditunjuk menjadi lokus utama pelaksanaan proyek fisik tersebut.

Plt Lurah Condongcatur, Budi Arto, menginstruksikan kepada seluruh jajaran pelaksana agar tidak bermain-main dalam proses pengadaan barang dan jasa. Ia menekankan bahwa aspek transparansi dan akuntabilitas hukum harus menjadi panglima utama agar proyek penanganan limpahan air hujan ini tidak menyisakan masalah administrasi di kemudian hari.

“Seluruh pelaksanaan pembangunan harus mengacu pada regulasi yang berlaku. Pengadaan barang dan jasa wajib dilaksanakan secara tertib, transparan, akuntabel, dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga hasil pembangunan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Budi Arto saat memberikan pengarahan di depan forum.

Guna menghindari penumpukan komoditas semen dan material konstruksi di pinggir jalan yang berpotensi mengganggu arus lalu lintas warga, forum menyepakati skema pasokan logistik secara bertahap. Pengadaan dan distribusi material disetujui untuk dibagi ke dalam tiga gelombang, menyesuaikan tingkat kesiapan lahan dan ketersediaan tenaga tukang di masing-masing rukun warga.

Ulu-Ulu Condongcatur, Murgiyanta, meminta seluruh ketua wilayah untuk segera melakukan validasi kondisi lapangan dan batas lahan kerja agar tidak memicu konflik sosial dengan pemilik tanah. Pemerintah kalurahan memberikan tenggat waktu pelaporan mutasi data lapangan paling lambat pada Senin, 13 Juli 2026.

“Kesiapan lokasi menjadi faktor penting dalam kelancaran pekerjaan. Apabila terdapat perubahan data atau kondisi di lapangan, segera disampaikan agar dapat segera ditindaklanjuti sebelum proses pengadaan material dilaksanakan,” kata Murgiyanta menjabarkan lini masa proyek.

Revitalisasi jaringan pembuangan air ini dinilai mendesak lantaran Pemerintah Kabupaten Sleman tengah gencar mendorong optimalisasi fungsi jaringan drainase lingkungan sebagai benteng utama pengurangan risiko banjir genangan di kawasan urban urban padat penduduk. Keberhasilan proyek ini diharapkan mampu mendongkrak derajat kesehatan pemukiman sekaligus menciptakan tata ruang kawasan hunian Condongcatur yang lebih tertata dan ramah lingkungan. (Wasana/KIM Depok)




Persiapkan Masa Pensiun Produktif, Karyawan Tambang Berau Kaltim Pelajari Budidaya Lele Terintegrasi di Turi Sleman

Sleman – Sejumlah karyawan perusahaan tambang batu bara asal Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, bersiap menyongsong masa pensiun dengan membekali diri keterampilan wirausaha. Kelompok calon purnatugas ini memilih mempelajari sistem pertanian organik dan budidaya lele terintegrasi di Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Dewaruchi, Padukuhan Karanggawang, Kalurahan Girikerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, Kamis (9/7/2026).

Langkah edukasi hilir ini dirancang sebagai jembatan bagi para pekerja industri berat agar memiliki lini usaha mandiri yang stabil saat kembali ke daerah asal. Pelatihan intensif yang mengangkat tema “Peran Nutrisi untuk Budidaya Lele Terintegrasi dan Solusi Pakan Alternatif” tersebut dipandu langsung oleh Winarta, penggiat pertanian organik sekaligus pengelola P4S Dewaruchi.

Winarta menguraikan bahwa problem klasik yang kerap memicu kegagalan peternak lele pemula adalah ketergantungan mutlak pada pelet pabrikan yang menyerap lebih dari separuh komponen modal operasional. Guna mengamankan margin keuntungan, para calon pensiunan diajarkan teknik formulasi pakan mandiri berbasis nutrisi lokal yang melimpah dan murah.

“Budidaya lele akan lebih menguntungkan apabila peternak tidak sepenuhnya bergantung pada pakan pabrik. Maggot BSF, azolla, dan berbagai hijauan seperti daun talas maupun daun pepaya dapat dimanfaatkan sebagai pakan tambahan untuk menekan biaya produksi,” ujar Winarta di hadapan para peserta magang.

Winarta menambahkan bahwa konsep integrasi ini mengadopsi prinsip ekonomi sirkular, di mana limbah organik dari sisa rumah tangga atau pertanian tidak dibuang, melainkan dikonversi menjadi media tumbuh kembang maggot Black Soldier Fly (BSF). Siklus tertutup ini dinilai sangat efisien, ramah lingkungan, dan mampu mendongkrak profitabilitas usaha perikanan darat.

Koordinator rombongan karyawan tambang, A. Hanafi, menjelaskan bahwa penguasaan keahlian baru di sektor agrobisnis ini menjadi modal psikologis dan finansial yang penting sebelum mereka resmi melepaskan status pekerja kantoran. Sektor perikanan air tawar dipilih karena skema pasarnya dinilai konstan dengan serapan harian yang tinggi di berbagai daerah.

“Kami ingin teman-teman memiliki bekal usaha yang realistis dan mudah diterapkan. Budidaya lele terpadu dengan pakan alternatif menjadi salah satu pilihan yang prospektif karena kebutuhan pasar masih tinggi,” kata A. Hanafi memaparkan target pascapelatihan.

Selama jalannya pelatihan, salah satu perwakilan pendamping, Hari Nurcahyo, menilai metode demonstrasi plot plot mandiri yang diterapkan P4S Dewaruchi memberikan gambaran riil mengenai manajemen pengelolaan kolam dari skala rumah tangga hingga komersial. Para peserta diajak mempraktikkan langsung cara budidaya maggot BSF dan pembiakan tanaman azolla sebagai sumber protein nabati alternatif guna mereduksi beban biaya operasional pakan berkala. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri Turi)




Kampanyekan Hidup Sehat Bebas Narkoba, 234 SC dan BNN Sleman Gelar Sembada Padel Cup 2026

Sleman – Organisasi kemasyarakatan 234 Solidarity Community (234 SC) Sleman menggandeng Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sleman menggelar turnamen olahraga Sembada Padel Cup 2026. Kompetisi ini diselenggarakan di Kabupaten Sleman pada Kamis (9/7/2026) dalam rangka memperingati Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2026.

Agenda ini dirancang sebagai bentuk sinergi antara komunitas, instansi pemerintah, dan sektor swasta dalam mengampanyekan gaya hidup sehat. Melalui cabang olahraga padel yang tengah naik daun, penyelenggara membidik partisipasi generasi muda agar menjauhi jerat penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang.

Ketua 234 SC Sleman, Marwan Arief Budiman, menegaskan bahwa Sembada Padel Cup 2026 merupakan manifestasi dari komitmen organisasi dalam menekan angka peredaran gelap narkoba di wilayah Sleman. Mengarahkan energi pemuda ke lapangan olahraga dinilai jauh lebih efektif dibanding sekadar sosialisasi satu arah.

“Kami percaya bahwa olahraga bukan hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana membangun karakter, mempererat persaudaraan, serta mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memilih gaya hidup sehat dan menjauhi narkoba. Semoga kegiatan ini menjadi inspirasi bagi berbagai komunitas untuk turut berpartisipasi dalam mewujudkan Indonesia Bersinar,” ujar Marwan Arief Budiman saat memberikan keterangan pers.

Pandangan senada diutarakan oleh Panitia Pelaksana, Kiagus M. Fakhri. Dirinya menekankan bahwa peringatan HANI 2026 tidak boleh terjebak dalam acara seremonial tahunan belaka. Lewat kompetisi ini, ia berharap kepedulian publik terhadap pencegahan bahaya narkotika dapat terus terjaga di kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Kepala BNN Kabupaten Sleman, Teguh Tri Prasetya, menyampaikan apresiasi atas inisiasi gerakan anti-narkoba berbasis olahraga masyarakat ini. Menurutnya, BNN tidak dapat bekerja sendiri dalam memutus rantai pasok narkotika tanpa adanya intervensi dari kelompok masyarakat sipil dan dunia usaha.

“Upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika memerlukan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat melalui berbagai pendekatan, termasuk kegiatan olahraga yang mampu menjauhi berbagai kalangan. Semangat HANI 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas, berprestasi, dan bebas dari narkoba,” kata Teguh Tri Prasetya.

Gerakan sosial ini turut disokong penuh oleh Axeron sebagai sponsor utama. Pemilik Axeron, Sobri Emiga Sando, menyatakan bahwa sektor swasta memikul tanggung jawab moral untuk mendanai ekosistem kegiatan yang memberikan dampak transformatif yang menyehatkan masyarakat.

“Axeron bangga dapat menjadi bagian dari kegiatan ini. Kami berharap kolaborasi antara komunitas, pemerintah, dan sektor swasta dapat terus terjalin dalam menghadirkan program-program yang bermanfaat, sekaligus mendorong masyarakat untuk hidup sehat, aktif berolahraga, dan menjauhi penyalahgunaan narkotika,” ungkap Sobri Emiga Sando.

Turnamen yang berlangsung kompetitif tersebut ditutup dengan apresiasi tinggi dari jajaran 234 SC Sleman kepada seluruh panitia, sponsor, dan mitra yang terlibat. Sembada Padel Cup 2026 diharapkan dapat menjadi barometer kolaborasi berkelanjutan demi menciptakan ruang publik di Kabupaten Sleman yang produktif, sehat, serta bersih dari penyalahgunaan narkoba.