Atlet Muda Condongcatur Raih Juara I Kejurda Pencak Silat DIY 2026

Sleman – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan putra terbaik Kalurahan Condongcatur. Ananda Fairus L. (14), warga RT 13 RW 41 Padukuhan Pringwulung, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, berhasil meraih Juara I Kelas A Remaja Putra (30–40 kg), pada Kejuaraan Daerah (Kejurda) Pencak Silat Tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2026.

Kejuaraan yang berlangsung di Graha Wana Bakti Yasa, Yogyakarta, pada 2–8 Juli 2026 tersebut diikuti ratusan pesilat dari berbagai perguruan serta kontingen kabupaten dan kota se-DIY. Berbagai nomor dipertandingkan, mulai dari kategori tanding, seni tunggal, seni ganda, hingga seni regu putra dan putri. Kejurda menjadi ajang pembinaan sekaligus mengukur kemampuan atlet muda untuk dipersiapkan menuju kompetisi yang lebih tinggi.

Prestasi Fairus menjadi semakin istimewa karena ia berasal dari keluarga penerima Kartu Keluarga Miskin (KKM). Di tengah berbagai keterbatasan ekonomi, semangat berlatih, disiplin, dan kerja keras yang dijalaninya membuahkan hasil membanggakan. Dengan teknik bertanding yang matang, mental yang tangguh, dan sportivitas tinggi, Fairus berhasil mengalahkan para pesaingnya hingga meraih gelar Juara I Kelas A Remaja Putra (30–40 kg).

Keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga mengharumkan nama Padukuhan Pringwulung, Kalurahan Condongcatur, dan Kabupaten Sleman di tingkat DIY.

Dukuh Pringwulung, Sahid Fahrudin, menyampaikan apresiasi atas pencapaian warganya tersebut.

“Prestasi Ananda Fairus menjadi bukti bahwa semangat, disiplin, dan kerja keras mampu mengalahkan segala keterbatasan. Kami bangga karena dari Pringwulung lahir atlet muda berprestasi yang mampu bersaing di tingkat DIY. Semoga keberhasilan ini menjadi motivasi bagi anak-anak dan generasi muda lainnya untuk terus berlatih, berani bermimpi, dan tidak pernah menyerah meraih cita-cita,” ujarnya.

Sahid pun berharap keberhasilan Fairus mendapat perhatian dan dukungan dari berbagai pihak agar pembinaan atlet-atlet muda berbakat, khususnya yang berasal dari keluarga kurang mampu.

Puncak kebanggaan itu ditandai dengan penyerahan piala, medali, dan piagam penghargaan kepada para juara dalam seremoni yang digelar di Graha Wana Bakti Yasa, Yogyakarta, pada Selasa (7/7/2026).

Momen tersebut menjadi penutup rangkaian Kejurda Pencak Silat DIY 2026 sekaligus bentuk apresiasi kepada atlet-atlet terbaik dari seluruh kabupaten dan kota di DIY yang telah menunjukkan kemampuan, sportivitas, dan semangat juang sepanjang kejuaraan.

Prestasi yang diraih Fairus diharapkan menjadi awal lahirnya atlet-atlet berprestasi lainnya dari Condongcatur. Kisahnya membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih mimpi. Dengan ketekunan, dukungan keluarga, pelatih, masyarakat, serta pembinaan yang berkelanjutan, generasi muda memiliki kesempatan yang sama untuk mengharumkan nama daerah di tingkat yang lebih tinggi (Wasana / KIM Depok)




Pengurus DPC PKB Sleman Periode 2026–2031 Silaturahmi ke Para Ketua Terdahulu

Sleman – Pengurus definitif Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Sleman masa bakti 2026–2031 yang terdiri atas Ketua, Sekretaris, dan Bendahara (KSB) melakukan silaturahmi kepada para pendahulu yang pernah memimpin DPC PKB Sleman. Kegiatan ini merupakan bentuk penghormatan atas jasa dan pengabdian para senior sekaligus memperkuat kesinambungan kepemimpinan organisasi.

Silaturahmi dilaksanakan pada Selasa (7/7/2026). Rombongan terlebih dahulu mengunjungi Ketua DPC PKB Sleman pertama, KH. Syaifudin Anwar, di kawasan Ambarukmo, Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman.

Pada hari yang sama, rombongan juga bersilaturahmi dengan Ketua DPC PKB Sleman periode berikutnya, Sukamto. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat, penuh keakraban, dan kekeluargaan.

Pada kesempatan tersebut, jajaran Ketua, Sekretaris, dan Bendahara memohon doa restu, masukan, serta arahan sebagai bekal dalam menjalankan amanah kepengurusan DPC PKB Sleman selama lima tahun ke depan.

Ketua DPC PKB Sleman, Tri Nugroho, mengatakan bahwa silaturahmi kepada para pendahulu merupakan tradisi baik yang perlu terus dijaga. Menurutnya, pengalaman, kebijaksanaan, dan dedikasi para ketua terdahulu menjadi modal penting dalam membangun organisasi yang semakin solid dan dekat dengan masyarakat.

“Kami menyadari bahwa kemajuan DPC PKB Sleman saat ini tidak terlepas dari pondasi yang telah dibangun oleh para pendahulu. Karena itu, kami hadir untuk bersilaturahmi, memohon doa restu, sekaligus meminta masukan dan arahan agar kepengurusan yang baru dapat menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Pada pertemuan tersebut, KH. Syaifudin Anwar dan Sukamto menyampaikan berbagai pandangan strategis mengenai penguatan soliditas kader, peningkatan pelayanan kepada masyarakat, penguatan komunikasi dengan para ulama dan tokoh masyarakat, serta pentingnya menjaga nilai-nilai perjuangan PKB yang berlandaskan semangat kebangsaan, keislaman, dan kerakyatan.

Keduanya juga berharap agar DPC PKB Sleman mampu menjaga kekompakan pengurus hingga tingkat kecamatan dan desa, memperkuat kaderisasi, serta semakin hadir memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Kabupaten Sleman.

Tri Nugroho menambahkan, pihaknya juga berencana melakukan silaturahmi dengan Ketua DPC PKB Sleman ketiga, R. Agus Choliq. Namun, hingga saat ini jadwal pertemuan masih dalam proses koordinasi.

“Kami masih berkomunikasi untuk dapat sowan sekaligus berdiskusi dengan Ketua DPC PKB Sleman ketiga, Bapak R. Agus Choliq. Insyaallah akan kami jadwalkan ketika waktunya memungkinkan,” pungkasnya. (Kusnadi KIM BERBAH)




Bekali Kompetensi Kerja, MAN 4 Sleman Terjunkan 56 Murid Tata Busana dan DKV Ikuti PKL

Sleman – Komitmen MAN 4 Sleman mencetak lulusan siap terjun ke dunia kerja kembali diwujudkan melalui pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Sebanyak 24 murid Program Keterampilan Tata Busana dan 32 mruid Desain Komunikasi Visual (DKV) diterjunkan ke berbagai mitra usaha di wilayah Sleman dan sekitarnya.

Hal ini bertjuan untuk mengasah keterampilan, memperluas wawasan, serta membangun karakter profesional.

Koordinator PKL Tata Busana, Esti Winarni, menjelaskan bahwa 24 murid Program Ketrampilan Tata Busana di tempatkan di 10 usaha butik dan konveksi. Menurutnya, PKL memberikan dampak positif, tidak hanya bagi murid tetapi juga bagi mitra industri.

“Melalui PKL ini anak-anak menjadi lebih disiplin, percaya diri, memperoleh banyak pengalaman berharga. Alhamdulillah, para pemilik usaha juga merasa senang karena pekerjaan mereka terbantu. Mereka menilai siswa MAN 4 Sleman rajin, cepat belajar, dan antusias menerima ilmu baru,” ujar Esti usai melakukan monitoring di Modiste Lestari, Selasa (7/7/2026).

Antusiasme yang sama juga dirasakan para peserta PKL. Aviska, murid kelas XI B, mengaku memperoleh pengalaman yang sangat berharga selama mengikuti praktik di dunia usaha.  Bahkan jika diijinkan ia ingin menambah waktu PKL.

“Kami belajar banyak hal, mulai proses pembuatan busana, teknik menjahit yang baik, hingga pentingnya ketelitian, disiplin, tanggung jawab, dan pelayanan prima kepada konsumen. Seluruh karyawan juga membimbing kami dengan sabar sehingga kepercayaan diri kami semakin meningkat,” ungkapnya.

Sementara itu, 32 murid Program Keterampilan Desain Komunikasi Visual (DKV) melaksanakan PKL di 7 perusahaan yang bergerak di bidang desain dan industri kreatif di wilayah Sleman dan sekitarnya.

Salah satu Guru DKV, Muhamad Rijal, menuturkan bahwa pengalaman bekerja secara langsung menjadi bekal penting bagi para murid sebelum memasuki dunia kerja yang sesungguhnya.

“Melalui PKL, anak-anak belajar membangun budaya kerja profesional, mulai dari disiplin, tanggung jawab, kemampuan berkomunikasi, hingga bekerja dalam tim. Mereka juga dapat mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari di madrasah dalam situasi kerja nyata,” jelas Rijal.

Ia menambahkan, para mitra industri memberikan apresiasi tinggi terhadap kinerja murid MAN 4 Sleman.

Sementara itu, Kepala MAN 4 Sleman, Ahmad Arif Makruf, menyampaikan apresiasi atas terlaksananya program PKL bagi murid Tata Busana dan DKV. Menurutnya, pengalaman belajar di dunia industri merupakan bagian penting dalam membentuk lulusan yang kompeten, mandiri, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja.

“PKL merupakan sarana belajar yang sangat berharga. Murid tidak hanya memperdalam keterampilan teknis, tetapi juga belajar membangun karakter kerja, etika profesi, kemampuan beradaptasi, serta budaya kerja profesional. Pengalaman inilah yang akan menjadi bekal penting ketika mereka memasuki dunia kerja maupun berwirausaha,” tutur Arif.

Ia berpesan agar seluruh peserta PKL senantiasa menjaga nama baik madrasah dengan menunjukkan sikap disiplin, tanggung jawab, sopan santun, dan semangat belajar yang tinggi.

“Ikutilah arahan para pembimbing dan pekerja senior dengan sungguh-sungguh. Jadikan setiap tugas sebagai kesempatan untuk belajar dan terus meningkatkan kompetensi. Kesungguhan, kedisiplinan, dan tanggung jawab adalah modal utama untuk meraih kesuksesan di masa depan,” pungkas Arif.  (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)




Partisipasi Difabel Muda Jadi Kunci Mewujudkan Demokrasi yang Inklusif

Sleman – Keterlibatan generasi muda penyandang disabilitas dalam setiap tahapan pemilihan umum dinilai menjadi salah satu kunci untuk mewujudkan demokrasi yang inklusif, partisipatif, dan berkeadilan. Kaum difabel tidak lagi dipandang hanya sebagai kelompok penerima manfaat, melainkan sebagai subjek yang memiliki hak, kapasitas, dan kesempatan yang sama dalam menentukan arah demokrasi Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Ajiwan Arief Hendradi dari Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (Sigab) Indonesia saat menjadi narasumber dalam diskusi bertajuk “Anak Muda Berani Bersuara” yang diselenggarakan Akademi Pemilu dan Demokrasi bersama Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) di Rivea Riverside Cafe and Space, Ngaglik, Kabupaten Sleman, Selasa (7/7/2026).

Ajiwan menegaskan bahwa partisipasi bermakna (meaningful participation) bagi penyandang disabilitas tidak berhenti pada pemberian hak pilih saat pemilu berlangsung. Lebih dari itu, difabel perlu dilibatkan secara aktif dalam proses penyusunan kebijakan, pendidikan politik, pengawasan pemilu, hingga evaluasi penyelenggaraan demokrasi agar suara mereka benar-benar menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan.

“Partisipasi bermakna bukan sekadar hadir atau memberikan suara pada hari pemungutan suara. Difabel muda harus memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi, terlibat dalam proses pengambilan keputusan, serta mendapatkan kesempatan yang setara untuk memengaruhi kebijakan publik. Demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang mampu mendengar seluruh warganya tanpa terkecuali,” ujar Ajiwan.

Menurutnya, generasi muda penyandang disabilitas memiliki potensi besar sebagai agen perubahan karena memiliki pengalaman, perspektif, serta semangat untuk mendorong terciptanya ruang demokrasi yang lebih inklusif. Oleh sebab itu, berbagai hambatan, baik fisik, sosial, maupun informasi, harus terus dihilangkan agar akses terhadap proses politik dapat dinikmati secara setara oleh seluruh warga negara.

Ajiwan juga menekankan pentingnya membangun kesadaran bahwa isu disabilitas bukan hanya menjadi tanggung jawab komunitas difabel semata. Seluruh elemen masyarakat, termasuk penyelenggara pemilu, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, media, dan kalangan muda, memiliki peran strategis dalam menciptakan ekosistem demokrasi yang menghormati keberagaman serta menjunjung tinggi prinsip kesetaraan.

“Ketika difabel muda memperoleh akses informasi yang mudah dipahami, ruang dialog yang terbuka, dan kesempatan untuk berpartisipasi sejak awal, maka kualitas demokrasi juga akan meningkat. Partisipasi yang inklusif bukanlah bentuk belas kasihan, tetapi merupakan pemenuhan hak konstitusional setiap warga negara,” katanya.

Diskusi tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus memperkuat pemahaman peserta mengenai pentingnya keberanian anak muda dalam menyuarakan aspirasi, termasuk memperjuangkan hak-hak kelompok rentan agar memperoleh perlakuan yang setara dalam kehidupan demokrasi. Para peserta juga diajak memahami bahwa demokrasi yang berkualitas lahir dari keterlibatan seluruh elemen masyarakat tanpa diskriminasi.

Melalui forum yang digagas Akademi Pemilu dan Demokrasi bersama KPU RI tersebut, diharapkan semakin banyak generasi muda, termasuk penyandang disabilitas, yang berani terlibat secara aktif dalam proses demokrasi. Partisipasi yang bermakna diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemilu, tetapi juga memperkuat terwujudnya Indonesia yang inklusif, adil, dan menghargai hak setiap warga negara dalam menentukan masa depan bangsa. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Peneliti KISP: Partisipasi Anak Muda di Ruang Digital Perkuat Demokrasi Indonesia

Sleman – Di tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, generasi muda memiliki peluang besar untuk mengambil peran sebagai penggerak literasi demokrasi, penyebar informasi yang bertanggung jawab, sekaligus pengawas jalannya kebijakan publik melalui berbagai platform digital.

Hal tersebut disampaikan Peneliti Komite Independen Sadar Pemilu (KISP), Muhammad Hima El Muntaha, dalam diskusi bertajuk “Anak Muda Berani Bersuara”. Acara yang diselenggarakan Akademi Pemilu dan Demokrasi bekerja sama dengan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) ini berlangsung di Rivea Riverside Cafe and Space, Ngaglik, Kabupaten Sleman, Selasa (7/7/2026).

Menurut Hima, ruang digital saat ini telah berkembang menjadi ruang publik yang memiliki pengaruh besar terhadap proses demokrasi. Oleh karena itu, generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga perlu hadir sebagai warga digital yang aktif, kritis, dan bertanggung jawab dalam menyampaikan gagasan maupun mengawal berbagai isu publik.

“Ruang digital telah menjadi bagian penting dari praktik demokrasi modern. Anak muda memiliki kesempatan yang sangat besar untuk berpartisipasi, menyampaikan aspirasi, mengawal kebijakan, hingga membangun budaya diskusi yang sehat. Karena itu, keberanian bersuara harus diiringi dengan tanggung jawab, etika, dan kemampuan memilah informasi,” katanya.

Hima mengatakan, tingginya tingkat penggunaan internet di kalangan generasi muda menjadi modal besar untuk memperkuat demokrasi apabila dimanfaatkan secara positif. Sebaliknya, tanpa dibekali literasi digital yang memadai, ruang digital juga dapat menjadi medium penyebaran disinformasi, hoaks, ujaran kebencian, maupun polarisasi yang berpotensi melemahkan kualitas demokrasi.

Menurut dia, penguatan demokrasi tidak hanya bergantung pada penyelenggaraan pemilu yang berkualitas, tetapi juga ditentukan oleh keterlibatan aktif masyarakat dalam mengawal kehidupan demokrasi sehari-hari. Dalam konteks tersebut, ruang digital menjadi sarana yang efektif bagi masyarakat, khususnya anak muda, untuk menyampaikan aspirasi, berdialog, serta mengawasi jalannya pemerintahan secara konstruktif.

“Demokrasi membutuhkan partisipasi yang bermakna. Anak muda jangan hanya menjadi penonton, melainkan hadir sebagai pelaku perubahan. Sampaikan pendapat berdasarkan data dan fakta, bangun narasi yang mencerahkan, serta jadikan media digital sebagai ruang kolaborasi untuk mencari solusi atas berbagai persoalan bangsa,” ujar Hima.

Ia pun mengajak generasi muda untuk membangun budaya digital yang sehat dengan mengedepankan sikap saling menghormati, terbuka terhadap perbedaan pandangan, dan menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi. Menurutnya, kualitas demokrasi akan semakin baik apabila ruang digital dipenuhi diskusi yang argumentatif, edukatif, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Diskusi “Anak Muda Berani Bersuara” tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran politik dan literasi demokrasi di kalangan generasi muda. Melalui kolaborasi Akademi Pemilu dan Demokrasi bersama KPU RI, peserta didorong untuk memanfaatkan ruang digital secara bijak sebagai instrumen partisipasi publik, sehingga mampu berkontribusi dalam memperkuat demokrasi yang inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan demi masa depan Indonesia. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)