Dirbinmas Polda DIY Ajak Warga Moyudan Perkuat Satkamling dan Waspada Gangguan Kamtibmas

Sleman – Direktur Pembinaan Masyarakat (Dirbinmas) Polda DIY, Kombes Pol. Bagiyo Hadi Kurniyanto, turun langsung memimpin silaturahmi dan sambang kamling di RW 12 Padukuhan Tumut, Sumbersari, Moyudan, Sleman, Selasa (7/7/2026).

Kehadiran jenderal polisi itu disambut Kapolsek Moyudan, AKP Jarot Hermawan, Danramil Moyudan, Kapten Tosikhin, Panewu Moyudan, Lurah Sumbersari beserta Pamong, Satlinmas, Kelompok Jaga Warga, tokoh dan warga setempat.

Panewu Moyudan, Muhammad Arif Rahman mengaku tersanjung wilayahnya mendapat kunjungan dari Polda DIY. Ia berharap ini jadi motivasi warga tertib jaga lingkungan dan lebih waspada kriminal.

“Jangan sampai terjadi atau warga menjadi pelaku kejahatan jalanan. Kami mengajak warga bijak gunakan media digital, jangan dipakai judol, pinjol, dan berhati-hati terhadap informasi hoaks,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Arif melaporkan bahwa kondisi Kapanewon Moyudan sampai saat ini masih aman, terkendali.

“Kadang saking ayemnya warga menjadi terlena siang padi dipanen malam ditinggal di sawah, pagi malah lenyap,” ujarnya.

Arif menyampaikan sejumlah potensi kerawanan yang perlu menjadi perhatian bersama, salah satunya potensi bentrokan antarsuporter sepak bola. Menurutnya, bergabungnya dua klub asal DIY, PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta, dalam kompetisi liga yang sama berpotensi meningkatkan risiko gesekan antarsuporter.

“Suporter tidak mengenal batas administratif wilayah, sehingga potensi terjadinya tawuran perlu diantisipasi sejak dini,” tegas Arif.

Ia menambahkan, Kapanewon Moyudan merupakan jalur alternatif yang menghubungkan beberapa wilayah antarkabupaten sehingga berpotensi menjadi lokasi terjadinya konflik maupun aksi kriminalitas lintas daerah. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat perlu terus diperkuat.

Sementara itu, Direktur Pembinaan Masyarakat (Dirbinmas), Bagiyo Hadi Kurniyanto menjelaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan wujud nyata sinergi antara Polri dan masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban.

“Kehadiran kami bertujuan memberikan edukasi sekaligus melakukan revitalisasi peran satuan keamanan lingkungan (Satkamling), mengaktifkan kembali jaga warga, serta memperkuat peran Linmas dalam menjaga keamanan lingkungan,” ujarnya.

Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya pencegahan dan pemberantasan kriminalitas. Masyarakat diajak meningkatkan kewaspadaan dan kemampuan deteksi dini terhadap potensi kejahatan jalanan, penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang, serta kejahatan digital seperti judi online (judol) dan pinjaman online ilegal (pinjol).

Bagiyo menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi perkembangan perilaku anak. Perubahan sikap atau kebiasaan yang tidak wajar dapat menjadi indikasi awal penyalahgunaan narkoba maupun keterlibatan dalam perilaku menyimpang.

“Orang tua harus peka terhadap perubahan perilaku anak dan memastikan mereka tidak terlibat dalam tindak kriminal maupun kenakalan remaja,” pesannya. (Giek / KIM Moyudan)




LKiS Ajak Generasi Muda Tingkatkan Literasi Demokrasi dan Jadi Agen Perubahan

Sleman – Di tengah derasnya arus informasi dan dinamika sosial yang terus berkembang, anak muda didorong untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi tampil sebagai warga negara yang aktif, kritis, dan berani menyuarakan aspirasi demi terwujudnya demokrasi yang sehat.

Pesan tersebut disampaikan Program Manager Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS), Tri Noviana, dalam kegiatan sosialisasi sinergitas dan kolaborasi penguatan hubungan antar lembaga dengan organisasi masyarakat Selasa (7/7/2026), di Rivea Riverside Cafe, Ngaglik, Kabupaten Sleman.

Acara yang diselenggarakan Akademi Pemilu dan Demokrasi bersama Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia tersebut mengusung tema “Anak Muda Bersuara, Menguatkan Demokratisasi dan Masa Depan Indonesia”. Kegiatan ini diikuti berbagai unsur organisasi masyarakat, komunitas, serta kalangan muda.

Dalam paparannya, Tri Noviana menegaskan bahwa penguatan demokrasi harus dimulai dengan meningkatkan literasi demokrasi di kalangan generasi muda. Menurutnya, pemahaman yang baik mengenai hak, kewajiban, sistem politik, hingga mekanisme pengambilan kebijakan publik akan membentuk masyarakat yang lebih kritis, rasional, dan mampu berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Anak muda harus memiliki keberanian untuk bersuara. Namun keberanian itu harus dibangun di atas pengetahuan dan literasi demokrasi yang baik. Ketika memahami bagaimana demokrasi bekerja, mereka akan mampu menyampaikan aspirasi secara konstruktif serta ikut mengawal arah pembangunan bangsa,” ujar Tri Noviana.

Ia menjelaskan, keberanian menyampaikan pendapat merupakan bagian penting dari praktik demokrasi. Aspirasi masyarakat, khususnya dari kalangan muda, menjadi masukan berharga bagi pemerintah maupun para pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan publik. Oleh karena itu, ruang dialog dan partisipasi harus dimanfaatkan secara positif dengan mengedepankan etika, data, serta argumentasi yang kuat.

Selain aktif menyampaikan aspirasi, Tri juga mengajak generasi muda untuk bergabung dalam berbagai organisasi maupun komunitas yang memiliki kepedulian terhadap isu-isu sosial, demokrasi, dan pembangunan. Melalui wadah tersebut, anak muda dapat memperluas jejaring, meningkatkan kapasitas kepemimpinan, mengembangkan kemampuan advokasi, sekaligus membangun kolaborasi dalam menyelesaikan berbagai persoalan di masyarakat.

“Perubahan besar tidak lahir dari individu yang bekerja sendiri. Anak muda perlu membangun jejaring, berkolaborasi melalui komunitas, serta bersama-sama mengawal kebijakan publik agar setiap keputusan yang diambil benar-benar mencerminkan kepentingan masyarakat. Demokrasi membutuhkan partisipasi aktif warga negara, terutama generasi muda,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pengawalan terhadap kebijakan publik tidak berhenti pada proses pemilihan umum semata. Partisipasi masyarakat perlu terus dilakukan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi kebijakan. Dengan keterlibatan yang konsisten, masyarakat dapat memastikan setiap kebijakan berjalan secara transparan, akuntabel, serta memberikan manfaat nyata bagi kehidupan publik.

Melalui kegiatan ini, Direktur Akademi Pemilu dan Demokrasi, Masykurudin Hafidz berharap semakin banyak anak muda yang tumbuh menjadi agen perubahan (agent of change) yang mampu memperkuat nilai-nilai demokrasi di Indonesia. Dengan bekal literasi demokrasi yang memadai, keberanian menyampaikan aspirasi, semangat berkolaborasi, serta komitmen mengawal kebijakan publik, generasi muda diharapkan menjadi motor penggerak lahirnya demokrasi yang semakin inklusif, partisipatif, dan berorientasi pada masa depan Indonesia yang lebih baik. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Getuk Kimpul Bu Seno, Jaga Warisan Kuliner dan Pangan Lokal Sleman

Sleman – Di tengah sulitnya menemukan jajanan tradisional berbahan umbi-umbian lokal, Bu Seno, warga Padukuhan Gundengan Kidul, Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, tetap setia memproduksi getuk kimpul. Kuliner tradisional ini menjadi salah satu upaya menjaga keberadaan pangan lokal yang dahulu begitu akrab di tengah masyarakat.

Kimpul (Xanthosoma violaceum) merupakan tanaman umbi-umbian yang sekilas mirip dengan talas (Colocasia esculenta). Namun, keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Talas umumnya hanya menghasilkan satu umbi besar sehingga tanaman harus dicabut saat dipanen.

Sementara itu, umbi kimpul tumbuh bergerombol di pangkal batang. Umbinya dapat dipanen satu per satu dengan cara digali dan dipetik, kemudian tanaman ditimbun kembali sehingga tetap hidup dan mampu menghasilkan umbi baru.

“Rasa umbi kimpul berbeda dengan talas. Kimpul tidak berlendir dan tidak menimbulkan rasa gatal di tenggorokan,” ujar Bu Seno saat ditemui di warungnya, Senin (6/7/2026).

Menurutnya, tekstur umbi kimpul yang lebih padat membuatnya sangat cocok diolah menjadi getuk dengan cita rasa khas.

Bu Seno menuturkan, dirinya tidak memproduksi getuk kimpul setiap hari. Ia hanya membuatnya ketika memperoleh pasokan umbi kimpul segar dalam jumlah yang cukup dari pasar.

“Proses pembuatannya pertama umbi dikupas, dikukus hingga empuk, kemudian ditumbuk menggunakan lumpang bersama garam, gula, dan parutan kelapa hingga tercampur rata,” jelasnya.

Bu Seno juga mengikuti perkembangan zaman dalam penyajiannya. Jika dahulu getuk dipotong menggunakan pisau sebelum disajikan, kini adonan dicetak menggunakan cetakan sehingga tampil lebih rapi, menarik, dan higienis.

Selain dijual di warung kecil miliknya, getuk kimpul juga dipasarkan melalui aplikasi WhatsApp oleh putrinya. Pembelinya tidak hanya berasal dari sekitar Kalurahan Margorejo, tetapi juga dari berbagai wilayah lain yang sengaja datang untuk menikmati jajanan tradisional yang kini mulai sulit ditemukan. Bahkan, sebelum siang hari seluruh getuk yang diproduksi biasanya telah habis terjual.

Bu Seno tidak hanya menjaga cita rasa kuliner tradisional, tetapi juga turut melestarikan keberagaman pangan lokal. Upaya sederhana tersebut menjadi bukti bahwa pelestarian pangan tradisional agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




Data Akurat Jadi Dasar Kebijakan, DLH Sleman Latih KPSM Gunakan SIOSESTU

Sleman – Pengelolaan data yang terintegrasi dapat menjadi refrensi dalam penyusunan kebijakan. Hal ini ditegaskan  Panewu Moyudan, Muhammad Arif Rahman, saat membuka Sosialisasi Sistem Informasi Operasional Pengelolaan Sampah Terpadu (SIOSESTU) di Ruang Abhinaya Kapanewon Moyudan, Selasa (7/7/2026).

Pada momen itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman menyelenggarakan pelatihan pengisian SIOSESTU bagi Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) dari Kapanewon Moyudan dan Godean. Kegiatan ini juga diikuti oleh Petugas Pendamping Pengelola Sampah (P3S) tingkat kalurahan dan kapanewon.

Dalam sambutannya, Arif Rahman menyampaikan bahwa pelatihan tersebut merupakan langkah awal dalam mewujudkan tata kelola persampahan yang lebih baik. Melalui SIOSESTU, ia berharap pengelolaan sampah oleh KPSM dapat dilakukan secara lebih tertata, terukur, dan berbasis data.

” Pemerintah Kabupaten Sleman berkomitmen menjadikan data yang akurat dan valid sebagai dasar dalam penyusunan kebijakan pengelolaan sampah. Semoga pelatihan ini menjadi pijakan untuk menyusun langkah-langkah yang lebih komprehensif dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Sleman,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan DLH Kabupaten Sleman, Murjoko menjelaskan bahwa keterbatasan anggaran menyebabkan pelatihan kali ini baru dapat melibatkan dua kapanewon, yakni Moyudan dan Godean, dengan masing-masing mengirimkan 15 peserta. Meski demikian, ia mengapresiasi antusiasme para peserta selama mengikuti kegiatan.

“Tujuan utama pelatihan ini adalah meningkatkan kemampuan KPSM dalam menyusun dan melaporkan data operasional pengelolaan sampah secara akurat,” ujarnya.

“Akurasi data yang dihimpun melalui SIOSESTU akan menjadi bahan evaluasi sekaligus dasar penyusunan kebijakan untuk menangani berbagai persoalan persampahan di Kabupaten Sleman,” sambung Murjoko.

Penerapan SIOSESTU, diharapkan dapat menciptakan integrasi data operasional yang dihimpun KPSM di lapangan dengan proses pengambilan kebijakan di Pemerintah Kabupaten Sleman, sehingga program pengelolaan sampah dapat dirancang secara lebih tepat sasaran. (Giek / KIM Moyudan)




KUA Berbah Dorong Calon Pengantin Tanam Pohon Alpukat sebagai Syarat Pendaftaran Nikah

Sleman – Kantor Urusan Agama (KUA) Kapanewon Berbah menghadirkan inovasi dalam pelayanan pencatatan pernikahan, yaitu dengan mengajak setiap calon pengantin menanam sedikitnya empat pohon sebagai salah satu persyaratan administrasi pendaftaran nikah.

Kepala KUA Berbah, Dul Rohman menjelaskan bahwa setiap pasangan calon pengantin diminta menanam dua pohon di rumah masing-masing dengan jenis tanaman yang dapat dipilih sesuai keinginan. Sementara itu, dua bibit lainnya dititipkan kepada KUA Berbah dalam bentuk bibit alpukat untuk selanjutnya disalurkan kepada masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Dul Rohman saat menyerahkan bantuan bibit alpukat di Kantor Lazismu Berbah, Sleman, Senin (6/7/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Lazismu Berbah, Ardi Sehami, Ketua PCM Berbah, Achmad Muhajir Hanifi, para penyuluh agama KUA Berbah, Kepala Kantor Lazismu Berbah, Saifu Rijal beserta jajaran, serta seorang petani muda, Prasetyo.

Lebih lanjut, Dul Rohman menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan untuk memberatkan calon pengantin, melainkan sebagai bentuk edukasi serta ajakan untuk meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

“Penanaman pohon ini diharapkan menjadi simbol sekaligus pengingat hari pernikahan mereka. Pohon yang ditanam nantinya tidak hanya memberikan manfaat bagi pasangan, tetapi juga menjadi penopang kehidupan bagi makhluk hidup lainnya,” ujarnya.

Menurutnya, pohon memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Selain menghasilkan oksigen dan menyerap karbon dioksida, pohon juga memberikan manfaat ekonomi apabila menghasilkan buah.

KUA Berbah memilih bibit alpukat karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi serta mudah dibudidayakan di wilayah Berbah dan sekitarnya. Bibit yang terkumpul dari para calon pengantin akan disalurkan kepada kelompok masyarakat, takmir masjid, musala, maupun organisasi kemasyarakatan Islam agar dapat dimanfaatkan secara luas.

“Selain memiliki nilai ekonomi, alpukat merupakan buah yang kaya nutrisi dan dapat dikonsumsi oleh semua kalangan, mulai dari ibu hamil, bayi, anak-anak, orang dewasa hingga lanjut usia,” kata Dul Rohman.

Ia menambahkan, dari sisi budidaya, pohon alpukat dinilai cocok dikembangkan di wilayah Berbah yang memiliki intensitas sinar matahari cukup. Dengan perawatan dan pemupukan yang seimbang, tanaman ini dapat tumbuh optimal dan lebih cepat berbuah.

“Yang terpenting, pohon alpukat tidak boleh tergenang air karena dapat menyebabkan akar membusuk,” pungkas Dul Rohman. (Kusnadi KIM Berbah)