Tekan Pembakaran Liar, DLH Sleman Evaluasi Kinerja Pendamping Sampah Wilayah Barat

Sleman – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) Wilayah Sleman Barat. Agenda kedinasan ini difasilitasi sebagai langkah evaluasi berkala atas performa pendampingan selama tiga bulan terakhir, sekaligus memetakan solusi taktis atas maraknya aksi pembakaran sampah di tingkat rumah tangga.

Pertemuan evaluasi yang berlangsung di Rumah Makan Soto Tan Mriyan, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Jumat (3/7/2026) ini diikuti oleh 29 peserta. Seluruh delegasi merupakan gabungan dari P3S tingkat kalurahan, kawasan, dan kapanewon yang mengampu empat wilayah pelayanan, meliputi Kapanewon Godean, Moyudan, Minggir, dan Seyegan.

Rakor dipimpin langsung oleh Ketua Tim Kerja Pengelolaan Persampahan DLH Kabupaten Sleman, Fitasari Ayu Wardani. Berdasarkan inventarisasi masalah dari laporan para petugas di lapangan, problem mendasar yang masih menjadi tantangan berat di kawasan Sleman barat meliputi kebiasaan buruk warga membakar sampah, pembuangan limbah ke badan air atau sungai, serta munculnya titik-titik tempat pembuangan sampah (TPS) liar.

“Evaluasi ini bertujuan untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi P3S di lapangan. Selain itu, berbagai pengalaman dari masing-masing wilayah dapat menjadi pembelajaran bersama sehingga ketika muncul persoalan serupa di wilayah lain, penanganannya bisa lebih cepat dan efektif,” ujar Fitasari Ayu Wardani saat memimpin jalannya diskusi forum.

Fitasari menjelaskan bahwa dalam agenda monitoring dan evaluasi (monev) kali ini, DLH memfokuskan perhatian pada dua sasaran utama. Fokus pertama diarahkan pada Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) penerima hibah sarana prasarana berupa armada kendaraan roda tiga anggaran tahun 2025. Sementara fokus kedua menyasar penataan KPSM baru yang sejauh ini belum mengantongi Surat Keputusan (SK) resmi dari pemerintah kalurahan setempat.

Dalam prosesnya, tim monev masih membentur sejumlah kendala operasional. Beberapa kelompok baru mengaku belum siap ditinjau karena keterbatasan sumber daya manusia pengelola. Di samping itu, mobilitas tinggi dari armada roda tiga hibah di lapangan sempat menyulitkan petugas dalam melakukan penataan administrasi, khususnya untuk pendataan nomor rangka dan nomor mesin kendaraan. Bahkan, petugas masih menemukan adanya aset kendaraan hibah yang belum difungsikan secara optimal.

Guna mengikis kendala administrasi tersebut, dalam waktu dekat DLH Sleman berencana menggelar pelatihan Sistem Informasi Operasional Pengelolaan Sampah Terpadu (Siosestu). Platform digital berbasis web ini nantinya akan mempermudah sirkulasi data kepengurusan dan volume sampah KPSM di tingkat kalurahan.

“Untuk pelatihan Siosestu, kami berharap peserta berasal dari generasi muda karena aplikasi ini berbasis web, sehingga akan lebih mudah dipahami dan dikembangkan oleh mereka,” kata Fitasari menambahkan terkait rencana digitalisasi data persampahan tersebut.

Guna mempercepat realisasi program di lapangan, DLH Sleman juga menginstruksikan perwakilan dari masing-masing kapanewon untuk segera mengajukan proposal fasilitasi lingkungan agar linier dengan penyusunan jadwal induk kedinasan. Seluruh aspirasi dan hambatan teknis yang diutarakan para petugas P3S ditanggapi secara interaktif oleh pihak dinas bersama Koordinator Pendamping Kapanewon, Sutarno, demi melahirkan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berkelanjutan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Adopsi Filosofi Al-Maun, Warga Girikerto Sleman Gencarkan Gerakan 1.000 Ternak

Sleman – Warga Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Girikerto menyatakan dukungan penuh terhadap implementasi Gerakan Ternak guna membangun kemandirian ekonomi berbasis jamaah. Komitmen tersebut dimatangkan dalam forum konsolidasi mengenai konsep microfarming dan peternakan berjamaah yang berlangsung di Masjid Aisyiyah Ponosaran Lor, Kalurahan Girikerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman.

Program pemberdayaan umat ini diinisiasi oleh TernakMU, sebuah komunitas peternakan di bawah naungan Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Turi. Skema peternakan berskala mikro ini sengaja dirancang sebagai model usaha kolektif yang terstruktur guna memperkuat daya tawar peternak kecil, sekaligus menggantikan pola usaha individualistik yang dinilai rentan terhadap fluktuasi pasar bebas.

Ketua PRM Girikerto, Sumaryanto, mengapresiasi tinggi akselerasi gerakan ekonomi ini di tingkat akar rumput karena mampu menumbuhkan ruang kemandirian yang berakar pada nilai kebersamaan. Sejalan dengan hal tersebut, koordinator TernakMU Girikerto, Sujatmoko, menegaskan bahwa agenda ini bukan sekadar sosialisasi teori melainkan wadah penguat silaturahmi warga yang direkatkan melalui aktivitas produktif nyata.

Ketua TernakMU, Akhmad Khairudin, memaparkan bahwa filosofi Gerakan Ternak ini berakar kuat pada nilai Al-Ma’un yang menekankan keberpihakan nyata pada kelompok masyarakat kecil dan rentan. Menurutnya, corak ekonomi mikro ini sangat kontekstual dengan demografi Kapanewon Turi, mengingat lebih dari 60 persen penduduk setempat menggantungkan hidupnya pada sektor agraris.

“Skema ternak skala rumah tangga yang dilakukan secara berjamaah mampu membentuk kekuatan ekonomi kolektif yang lebih stabil dibandingkan usaha individual. Konsolidasi jaringan peternak kecil ini diproyeksikan dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang terstruktur, adaptif, dan memiliki daya tahan tinggi terhadap fluktuasi pasar,” ujar Akhmad Khairudin saat membedah prospek bisnis peternakan.

Dalam sesi bedah teknis, forum mendiskusikan keunggulan komoditas ayam kampung petelur unggulan seperti strain Elba dan Kuntara 4 yang dikenal memiliki performa produksi telur yang sangat stabil. Analisis studi kelayakan menunjukkan bahwa siklus perputaran arus kas (cashflow) usaha mikro ini berada pada rentang waktu yang relatif cepat, yakni dua hingga tiga bulan saja. Khairudin juga menepis kekhawatiran jamaah terkait isu inflasi harga pakan dengan menyodorkan bukti data stabilitas keuntungan riil dari para peternak alumni gelombang sebelumnya.

Sebagai stimulan awal untuk menggerakkan aksi nyata di lapangan, panitia menutup kegiatan dengan membagikan sejumlah hadiah pembina modal kepada peserta yang beruntung. Hadiah tersebut meliputi 30 ekor anak ayam (day-old chicken/DOC) strain Elba dan Kampung Unggul Balitnak (KUB), satu ekor ayam jantan Komersial Kampung (KOKAM) siap konsumsi usia tiga bulan berbobot hingga dua kilogram, serta satu unit fasilitas kandang microfarming portabel. Penyerahan bantuan awal ini sekaligus menjadi simbol dimulainya pergerakan ekonomi jamaah yang berkelanjutan di wilayah Girikerto. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri Turi)




Genjot Capaian Pajak, Pemerintah Kalurahan Trihanggo Sleman Undi Hadiah Sepeda Listrik Bagi Wajib Pajak Taat

Sleman – Pemerintah Kalurahan Trihanggo, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, meluncurkan strategi inovatif guna menggenjot realisasi penerimaan daerah dan kesadaran hukum warga. Otoritas kalurahan setempat menggelar agenda pengundian hadiah Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Tahun 2026 dengan menyediakan stimulus utama berupa satu unit sepeda listrik di Balai Kalurahan Trihanggo, Jumat (3/7/2026).

Langkah pemberian insentif ini ditujukan sebagai bentuk apresiasi konkret sekaligus edukasi struktural bagi wajib pajak yang telah melunasi kewajibannya tepat waktu sebelum jatuh tempo. Untuk menjaga kredibilitas dan akuntabilitas program, proses pengundian dilakukan secara terbuka dengan disaksikan langsung oleh jajaran perangkat padukuhan, tokoh masyarakat, perwakilan warga, serta aparat teritorial TNI dan Polri.

Penjabat Lurah Trihanggo, Budi Supriyanta, menjelaskan bahwa insentif stimulan ini merupakan bagian dari manajemen strategi untuk mengubah paradigma masyarakat. Melalui pendekatan persuasif ini, pemenuhan kewajiban perpajakan diharapkan tidak lagi dirasa sebagai beban finansial yang kaku, melainkan bertransformasi menjadi bentuk partisipasi pembangunan yang membanggakan.

“PBB memiliki peran strategis sebagai salah satu sumber pendapatan daerah yang mendukung penyelenggaraan pemerintahan serta pembiayaan berbagai program pembangunan. Dana yang berasal dari sektor pajak dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas infrastruktur, pelayanan publik, pemberdayaan masyarakat, hingga berbagai kegiatan sosial yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh warga,” ujar Budi Supriyanta saat memberikan sambutan pembuka.

Budi Supriyanta menguraikan bahwa tata kelola keuangan dari sektor pajak di Trihanggo kini dikawal ketat dengan prinsip transparansi mutlak. Edukasi berkala terus ditekankan agar masyarakat memahami rantai kausalitas di mana setiap rupiah yang disetorkan ke kas daerah akan dikonversi kembali dalam wujud fasilitas publik yang menunjang kesejahteraan lokal.

“Selain menjadi bentuk penghargaan, kegiatan tersebut juga memiliki nilai edukatif. Masyarakat diajak memahami bahwa setiap rupiah pajak yang dibayarkan akan kembali kepada masyarakat dalam bentuk pembangunan fasilitas umum, peningkatan pelayanan administrasi, maupun program-program pemberdayaan yang menunjang kesejahteraan warga,” kata Budi Supriyanta menambahkan.

Faktor stabilitas wilayah turut menjadi perhatian dalam forum tersebut. Bhabinkamtibmas Trihanggo Rusmanto bersama Babinsa Trihanggo Beny Putra Noverianto yang bertugas mengawal jalannya pengundian, memanfaatkan momentum berkumpulnya warga ini untuk memberikan edukasi mengenai pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Kami berharap kegiatan ini semakin mempererat sinergi antara pemerintah kalurahan, aparat keamanan, dan seluruh elemen masyarakat. Kolaborasi yang baik akan menjadi modal penting dalam mewujudkan lingkungan yang aman, tertib, harmonis, dan semakin maju,” tutur Rusmanto terkait pentingnya kondusivitas wilayah.

Melalui modifikasi stimulus hadiah ini, Pemerintah Kalurahan Trihanggo memproyeksikan kurva kepatuhan pembayaran pajak di wilayah Sleman barat akan terus bergerak linear naik pada tahun-tahun mendatang. Ketepatan waktu pembayaran dinilai menjadi kunci vital untuk mengamankan anggaran pembiayaan pembangunan daerah yang berkelanjutan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Gandeng Sektor Swasta, Warga Tiyasan Sleman Matangkan Rencana Renovasi Makam Berbasis Gotong Royong

Sleman – Semangat kolaborasi antara masyarakat dan pelaku usaha sektor swasta terwujud nyata di wilayah Kapanewon Depok. Warga Padukuhan Tiyasan bersama perwakilan manajemen Anahata Residence resmi memulai tahapan awal rencana renovasi Makam Tiyasan melalui agenda peninjauan lokasi serta pengukuran lapangan di Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Sabtu (4/7/2026).

Langkah penataan infrastruktur sosial ini diambil sebagai respons atas kebutuhan mendesak akan fasilitas pemakaman umum yang lebih rapi, bersih, dan representatif. Agenda survei fisik tersebut dihadiri langsung oleh Dukuh Tiyasan Saifullah Arief Budiman, perwakilan Anahata Residence Bima, serta jajaran pengurus Paguyuban Makam Tiyasan yang dipimpin oleh Setyo Purwanto.

Pertemuan di area makam berlangsung dalam suasana kekeluargaan yang kental. Seluruh pihak terlibat aktif mendiskusikan berbagai aspek teknis secara komprehensif, mulai dari pemetaan batas perimeter pekerjaan, penataan sistem drainase penahan banjir, pengaturan akses keluar masuk peziarah, hingga kalkulasi dampak pengerjaan agar tidak mengganggu ritme aktivitas warga sekitar.

“Kami menyambut baik komitmen Anahata Residence yang bersedia bersinergi dengan warga dalam penataan Makam Tiyasan. Semoga proses perencanaan hingga pelaksanaan berjalan lancar, mengedepankan musyawarah, keterbukaan, dan semangat gotong royong sehingga hasilnya benar-benar bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Dukuh Tiyasan, Saifullah Arief Budiman, di sela-sela peninjauan lapangan.

Data detail yang diperoleh dari hasil pengukuran lapangan ini nantinya akan diproses lebih lanjut oleh tim arsitek menjadi cetak biru (blueprint) dan draf gambar perencanaan makro. Dokumen tersebut bakal diajukan ke jajaran manajemen tingkat atas Anahata Residence sebagai basis legalitas dan persetujuan anggaran eksekusi pembangunan fisik.

Perwakilan Anahata Residence, Bima, menegaskan bahwa pihak pengembang berkomitmen penuh untuk menjunjung tinggi transparansi komunikasi dengan warga lokal di setiap fase pengerjaan proyek konstruksi ini. Masukan dari elemen masyarakat dinilai menjadi fondasi utama demi melahirkan tata ruang makam yang ideal.

“Kami ingin seluruh proses renovasi dilaksanakan secara kolaboratif. Masukan dari warga menjadi bagian penting dalam penyusunan desain sehingga hasil akhirnya tidak hanya memenuhi aspek teknis, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kami berharap proyek ini dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi warga Tiyasan,” kata Bima memaparkan komitmen perusahaan.

Gayung bersambut, Ketua Paguyuban Makam Tiyasan, Setyo Purwanto, menyampaikan rasa syukur yang mendalam karena penataan area makam yang telah lama diimpikan warga akhirnya dapat memasuki tahapan realisasi yang terukur dan konkret.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan perhatian terhadap Makam Tiyasan. Renovasi ini menjadi harapan bersama agar lingkungan makam menjadi lebih tertata, bersih, aman, nyaman, dan layak bagi masyarakat yang berziarah maupun melaksanakan kegiatan kemasyarakatan,” tutur Setyo Purwanto.

Berdasarkan kesepakatan forum, proyek renovasi Makam Tiyasan ini ditargetkan dapat langsung digulirkan begitu dokumen gambar teknis disetujui oleh manajemen pengembang. Seluruh rangkaian pekerjaan fisik diproyeksikan dapat rampung secara optimal sebelum memasuki fase musim penghujan. (Wasana/KIM Depok)




DPC PPY Tempel Sleman Cetak Generasi Baru Pembawa Acara Berbahasa Jawa

Sleman – Di tengah derasnya arus modernisasi dan penurunan intensitas penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda, Dewan Pimpinan Cabang Paguyuban Panatacara Yogyakarta (DPC PPY) Kapanewon Tempel mengambil langkah taktis. Organisasi pelestari tradisi ini menggelar Pelatihan Panatacara secara interaktif di Padukuhan Sedogan, Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Jumat (3/7/2026).

Agenda ini dirancang sebagai ruang edukasi publik untuk melahirkan kader pembawa acara (panatacara) baru yang cakap menggunakan bahasa Jawa sesuai kaidah unggah-ungguh dan etika tradisi Mataraman. Mengambil tempat di kediaman Ketua LPMKal Sedogan, Sutardi, pelatihan ini diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai latar belakang sosial, mulai dari pamong padukuhan, ketua RT dan RW, kader PKK, guru PAUD/TK, hingga perwakilan pemuda Karang Taruna setempat.

Dalam sesi inti, perwakilan Bidang Diklat DPC PPY Tempel, Saryanto, hadir sebagai narasumber utama dengan mengusung materi bertajuk “Tuladha Ringkes Paraga Tangguh Wicara”. Ia membedah secara mendalam mengenai teknik vokal, pemilihan diksi (panyandra), gestur tubuh, hingga penerapan tingkatan bahasa Jawa krama yang tepat di hadapan publik sesuai dengan konteks acaranya.

“Seorang panatacara bukan sekadar mampu berbicara di depan umum, tetapi harus mampu menjadi teladan dalam penggunaan bahasa Jawa yang santun, runtut, dan berkarakter. Kemampuan bertutur yang baik akan menjaga martabat budaya sekaligus memperkuat komunikasi di tengah masyarakat. Tantangan terbesar saat ini adalah semakin berkurangnya generasi yang terbiasa menggunakan bahasa Jawa krama dalam kegiatan resmi,” ujar Saryanto saat memberikan simulasi praktik.

Saryanto menambahkan bahwa penguasaan bahasa Jawa yang baik kini menjadi investasi kebudayaan yang mendesak. Melalui forum ini, para peserta tidak hanya dicekoki teori, tetapi juga langsung diminta melakukan praktik mikro pembawaan acara serta menerima evaluasi langsung mengenai intonasi dan sikap tubuh penunjang formalitas adat.

Sementara itu, Ketua LPMKal Padukuhan Sedogan yang juga merupakan pengurus DPC PPY Tempel, Sutardi, menilai pelatihan ini memiliki nilai filosofis dan kemanfaatan sosial yang sangat tinggi. Selain misi penyelamatan bahasa ibu, program ini terbukti efektif dalam menyuntikkan rasa percaya diri masyarakat untuk tampil berbicara di depan forum-forum sosial kemasyarakatan.

“Kami berharap peserta mampu menjadi penggerak pelestarian budaya di lingkungannya masing-masing. Ketika masyarakat semakin percaya diri menggunakan bahasa Jawa yang baik dan benar, maka nilai-nilai budaya akan tetap lestari di tengah perkembangan zaman,” kata Sutardi menjabarkan misi jangka panjang kegiatan tersebut.

Melalui sinergi berkelanjutan antara komunitas pegiat adat, otoritas lokal, dan elemen masyarakat bawah, program edukasi kultural ini diharapkan mampu membentuk karakter sumber daya manusia Sleman yang komunikatif dan berakar kuat pada kepribadian bangsa. Ke depan, model pelatihan terapan ini diproyeksikan menjadi percontohan bagi wilayah lain dalam menjaga eksistensi bahasa daerah sebagai pilar identitas nasional. (SBD/KIM Tempel)