BPKal Margomulyo Tegaskan Tiga Substansi Penyusunan RKP Kalurahan 2027

Sleman – Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal) Margomulyo menegaskan tiga substansi penting sebagai arah penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Kalurahan (RKP Kalurahan) Tahun 2027. Hal itu disampaikan dalam Musyawarah Kalurahan (Muskal) yang digelar di Gedung Serbaguna Kalurahan Margomulyo, Selasa (30/6/2026).

Muskal tersebut dihadiri Lurah beserta pamong kalurahan, perwakilan Lembaga Kemasyarakatan Kalurahan (LKK), Gapoktan, kelompok disabilitas, Babinsa, Bhabinkamtibmas, pendamping desa, tokoh masyarakat, jajaran pengurus BPKal, Kapolsek, Danramil, Puskesmas, Kawat Pemerintahan Kapanewon Seyegan, serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman.

Ketua BPKal Margomulyo, Supriyadi menyampaikan pandangan resmi BPKal yang memuat tiga substansi utama sebagai landasan penyusunan RKP Kalurahan Tahun 2027.

Substansi pertama adalah evaluasi keselarasan dan penentuan skala prioritas pembangunan. Menurut Supriyadi, seluruh rancangan program harus selaras dengan visi dan misi lurah yang telah dituangkan dalam RPJM Kalurahan, sekaligus menjawab kebutuhan dasar masyarakat secara adil dan merata.

“Dokumen RKP Kalurahan harus benar-benar selaras dengan visi dan misi lurah sebagaimana tertuang dalam RPJM Kalurahan. Selain itu, skala prioritas pembangunan harus mengutamakan kebutuhan dasar masyarakat secara adil dan merata,” tegas Supriyadi.

Substansi kedua menitikberatkan pada fokus pembangunan Tahun 2027, yakni penguatan infrastruktur, pemberdayaan masyarakat, pembinaan kemasyarakatan, serta penanggulangan kemiskinan.

Pada sektor infrastruktur, BPKal mendorong pembangunan maupun perbaikan fasilitas umum seperti jalan usaha tani, pasar desa, hingga lapak UMKM. Menurut Supriyadi, peningkatan akses ekonomi tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD).

Selain itu, pemberdayaan masyarakat diarahkan pada pelatihan keterampilan bagi kelompok afinitas, pelaku UMKM, serta pengembangan Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal). Sementara pembinaan kemasyarakatan difokuskan pada kegiatan kepemudaan, keagamaan, olahraga, peningkatan kapasitas LKK, hingga pembinaan sosial, remaja, dan pencegahan penyalahgunaan narkoba.

Di bidang perlindungan sosial, BPKal juga menekankan pentingnya keberlanjutan penyaluran Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD), program ketahanan pangan, serta percepatan penanganan stunting sesuai ketentuan yang berlaku.

Substansi ketiga yang menjadi perhatian BPKal adalah aspek anggaran dan kepatuhan terhadap regulasi. Supriyadi menekankan pentingnya prinsip transparansi, akuntabilitas, serta rasionalisasi anggaran dalam setiap perencanaan kegiatan.

“Transparansi dan akuntabilitas harus menjadi prinsip utama. Setiap usulan kegiatan harus realistis dan disesuaikan dengan pagu indikatif Dana Desa yang tersedia sehingga pelaksanaannya dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Supriyadi juga mengingatkan agar seluruh tahapan penyusunan RKP Kalurahan tetap mengacu pada ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

“Setelah melalui proses pencermatan dan penyempurnaan, dokumen RKP Kalurahan harus ditetapkan menjadi Peraturan Kalurahan paling lambat pada akhir September 2026 sesuai regulasi yang berlaku,” pungkasnya.

Usai menyampaikan pandangan resmi BPKal, Supriyadi secara resmi membuka Musyawarah Kalurahan Penyusunan RKP Kalurahan Margomulyo Tahun 2027 yang selanjutnya membahas berbagai usulan program pembangunan sebagai dasar penyusunan agenda pembangunan Kalurahan pada tahun mendatanya. (Sutarto Agus KIM Seyegan)




Talas Disulap Menjadi Brownies Crispy, Peserta Sekolah Rabu Tempel Antusias Belajar

Sleman – Siapa sangka umbi talas yang selama ini lebih dikenal sebagai bahan pangan tradisional dapat diolah menjadi brownies crispy yang renyah, lezat, dan memiliki nilai jual tinggi. Di tangan seorang chef berpengalaman, talas disulap menjadi kudapan modern yang bahkan pernah meraih juara dalam lomba kuliner tingkat Kabupaten Sleman.

Pelatihan pembuatan Brownies Crispy Talas tersebut disampaikan oleh Joko Supardi kepada peserta Sekolah Rabu di Pendopo Kapanewon Tempel, Sleman, Rabu (1/7/2026). Kegiatan yang diselenggarakan Pokja II PKK Kapanewon Tempel ini diikuti sekitar 35 peserta yang didominasi ibu-ibu dari berbagai kalurahan di Kapanewon Tempel.

“Resep brownies crispy ini dipilih karena pernah menjadi juara lomba kuliner tingkat Kabupaten Sleman pada kategori kue kering,” ujar Joko di sela pelatihan.

Menurut Joko, keunikan kudapan tersebut terletak pada penggunaan tepung talas sebagai bahan utama yang memberikan cita rasa dan aroma khas. Tepung talas dipadukan dengan tepung terigu dan sedikit tepung maizena untuk menghasilkan tekstur yang ringan dan renyah. Adonan juga menggunakan gula, telur, cokelat putih, margarin yang dapat diganti minyak sayur, serta pewarna makanan dan berbagai topping sesuai selera.

Ia menjelaskan, tepung talas memang belum banyak tersedia di pasaran. Namun, saat ini sudah ada pelaku UMKM di Kapanewon Depok yang memproduksinya sehingga lebih mudah diperoleh masyarakat.

“Kalau belum mendapatkan tepung talas, kita juga bisa membuatnya sendiri. Talas diiris tipis, dijemur hingga benar-benar kering, kemudian diblender dan diayak sampai menjadi tepung yang halus,” jelasnya.

Setelah penyampaian materi, peserta langsung mempraktikkan proses pembuatan brownies crispy. Tahap pertama dimulai dengan mengocok bahan-bahan basah hingga sedikit mengembang.

“Tidak harus memakai mixer listrik. Dengan pengocok manual pun bisa, asalkan adonan tercampur rata dan sedikit berbusa,” kata Joko.

Selanjutnya, bahan-bahan kering dimasukkan sedikit demi sedikit sambil terus diaduk hingga menghasilkan adonan yang lembut. Apabila adonan terlalu kental, dapat ditambahkan sedikit minyak sayur agar lebih mudah diratakan.

Adonan kemudian dituangkan ke dalam loyang dengan ketebalan yang tipis agar menghasilkan tekstur renyah setelah dipanggang. Proses pemanggangan berlangsung sekitar 15 menit sambil sesekali memutar loyang agar tingkat kematangannya merata.

Tahap terakhir menjadi salah satu penentu keberhasilan brownies crispy. Kue harus segera dipotong saat masih hangat dan teksturnya masih lunak. Potongan dapat dibuat sesuai selera, baik berbentuk persegi panjang, persegi, maupun bentuk lainnya. Setelah benar-benar dingin, brownies akan berubah menjadi renyah, harum, dan siap disajikan maupun dikemas sebagai produk usaha.

Kepala Sekolah Rabu, Ida Ery Kurniawati, berharap pelatihan semacam ini dapat mendorong masyarakat untuk berkreasi membuat produk modern berbahan dasar sederhana, menjadi produk bernilai ekonomi.

“Melalui pelatihan ini kami berharap peserta terdorong untuk berkreasi membuat produk modern berbahan dasar sederhana, guna menambah penghasilan keluarga,” ujarnya. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




Guru SLB Bhakti Kencana 1 Dibekali Implementasi Papan Sasmita melalui Program PKM-PM UNY

Sleman – Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) SEKAR-AMARTA Universitas Negeri Yogyakarta terus memperkuat keberlanjutan inovasi pembelajaran bagi peserta didik dengan disabilitas intelektual. Upaya tersebut diwujudkan melalui subprogram Dharma Widya Adhikari dengan menyelenggarakan pelatihan bagi guru, serta membentuk Tim Keberlanjutan Sekolah di SLB Bhakti Kencana 1, pada Selasa (30/6/2026).

Tim PKM-PM SEKAR-AMARTA terdiri atas Lituhayu Sasikirana selaku ketua tim, bersama Rihhadatul Aisy, Baiq Nariswari Syifa Rizmanda, Ilham Ramadhan, dan Bagas Yoga Anantyo, di bawah bimbingan dosen pendamping Rizki Arumning Tyas. Sebanyak 14 guru SLB Bhakti Kencana 1 mengikuti kegiatan tersebut sebagai peserta pelatihan sekaligus dipersiapkan menjadi instruktur internal sekolah guna menjamin keberlanjutan program.

Ketua Tim PKM-PM SEKAR-AMARTA, Lituhayu Sasikirana, menjelaskan bahwa pelatihan ini tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan mengenai penggunaan media pembelajaran Papan Sasmita, tetapi juga membangun sistem keberlanjutan program di sekolah.

“Melalui Dharma Widya Adhikari, kami ingin memastikan bahwa inovasi yang kami hadirkan tidak berhenti setelah program PKM selesai. Guru menjadi aktor utama yang akan melanjutkan implementasi Papan Sasmita, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh peserta didik,” ujar Lituhayu.

Kepala SLB Bhakti Kencana 1, Sardiyana, turut memberikan apresiasi atas kontribusi tim mahasiswa dalam menghadirkan inovasi pembelajaran yang mendukung kebutuhan peserta didik dengan disabilitas intelektual.

“Kami mengapresiasi upaya Tim PKM-PM SEKAR-AMARTA yang tidak hanya menghadirkan media pembelajaran inovatif, tetapi juga membekali guru melalui pelatihan. Langkah ini menjadi bekal penting bagi sekolah untuk melanjutkan program secara mandiri,” kata Sardiyana.

Pada sesi pelatihan, peserta memperoleh materi mengenai Orientasi Program dan Implementasi SEKAR-AMARTA yang membahas tujuan program, luaran yang ingin dicapai, serta peran strategis guru dalam implementasi. Selanjutnya, guru dikenalkan dengan konsep dan pengembangan media papan sasmita, meliputi fungsi media, komponen penyusun, hingga penerapannya dalam proses pembelajaran di kelas.

Selain meningkatkan kapasitas guru dalam mengimplementasikan media pembelajaran, pembentukan Tim Keberlanjutan Sekolah menjadi langkah strategis agar inovasi SEKAR-AMARTA dapat terus diterapkan dan dikembangkan secara mandiri di lingkungan SLB Bhakti Kencana 1, sehingga memberikan dampak yang berkelanjutan bagi proses belajar peserta didik. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




TPST Condongcatur Jadi Rujukan Pengelolaan Sampah bagi Kecamatan Pasarkliwon Surakarta

Sleman – Keberhasilan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Condongcatur dalam mengembangkan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat kembali menarik perhatian daerah lain. Kali ini, Kecamatan Pasarkliwon, Kota Surakarta, memilih TPST Condongcatur sebagai destinasi studi tiru untuk mempelajari tata kelola persampahan yang terintegrasi.

Kegiatan bertajuk ‘Sharing Bersama Tata Kelola Pengolahan Sampah Perkotaan’ tersebut dilaksanakan pada Rabu (1/7/2026), di Ruang Wacana Loka Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman.

Sebanyak 31 peserta mengikuti kegiatan yang dipimpin oleh Sekretaris Kecamatan Pasarkliwon, Suparno. Rombongan diterima oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Lurah Condongcatur, Budi Arto, didampingi Carik Condongcatur, Riska Dian Nur Lestari, Jagabaya, Rudi Antariksawan, Ulu-Ulu, Murgiyanta, beserta jajaran Pemerintah Kalurahan Condongcatur.

Plt. Lurah Condongcatur, Budi Arto menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Kalurahan Condongcatur sebagai tujuan pembelajaran pengelolaan sampah

“Atas nama Pemerintah Kalurahan Condongcatur, saya mengucapkan selamat datang dan terima kasih atas kehadiran Bapak/Ibu sekalian. Merupakan suatu kehormatan bagi kami dapat menjadi tujuan kunjungan kerja dalam rangka saling belajar, bertukar pengalaman, serta memperkuat sinergi dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang lebih baik,” ungkap Budi.

Ia berharap kunjungan ini dapat menjadi wadah berbagi praktik baik, bertukar ide, dan inovasi sehingga setiap daerah dapat terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat di bidang pengelolaan lingkungan.

“Melalui kunjungan ini kami berharap dapat saling berbagi praktik baik, bertukar ide dan inovasi, sehingga masing-masing daerah dapat terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat di bidang pengelolaan lingkungan. Semoga kegiatan ini memberikan manfaat yang besar, mempererat hubungan antardaerah, serta menjadi inspirasi dalam menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan,” tutupnya

Sementara itu, Sekretaris Kecamatan Pasarkliwon, Suparno menjelaskan bahwa kunjungan tersebut bertujuan mempererat silaturahmi sekaligus membangun komitmen bersama dalam mencari solusi atas persoalan sampah yang semakin kompleks di kawasan perkotaan

“Kami datang untuk bersilaturahmi sekaligus ngangsu kawruh mengenai pengelolaan persampahan di Condongcatur. Persoalan sampah saat ini menjadi tantangan serius karena volume sampah di tempat pemrosesan akhir terus meningkat,” tuturnya.

“Kami ingin mempelajari sejarah pengembangan TPST, inovasi, teknologi yang digunakan, tantangan yang telah dilalui, hingga strategi keberhasilan dalam pemilahan sampah dari sumber, tata kelola kelembagaan, penyusunan SOP, serta pemberdayaan masyarakat,” sambung Suparno.

Pengelola TPST Condongcatur sekaligus Dukuh Pringwulung, Sahid Fahrudin dalam paparannya mengatakan bahwa Kalurahan Condongcatur memiliki dua depo sampah, dua TPS 3R, serta 41 Bank Sampah dan Sedekah Sampah yang seluruhnya tergabung dalam Jejaring Pengelola Sampah Mandiri (JPSM) Condongcatur “Resik”. Seluruh kelompok tersebut memperoleh pembinaan dan monitoring rutin sebanyak empat kali setiap tahun guna memperkuat gerakan pengurangan sampah sejak dari rumah tangga.

“Keberhasilan pengelolaan sampah di Condongcatur dimulai dari pemilahan sampah di sumber. Sampah organik berupa sisa makanan dimanfaatkan sebagai pakan unggas dan ikan, sedangkan sisa buah diolah menjadi Pupuk Organik Cair (POC) serta eco-enzyme untuk mengurangi bau sampah dan mendukung kegiatan pertanian,” jelasnya.

Sementara itu, sampah anorganik yang telah dipilah diproses di TPS 3R Padukuhan Pondok menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) atau bahan bakar alternatif berupa serpihan sampah kering yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengganti batu bara di industri semen, termasuk PT Solusi Bangun Indonesia (SBI). Pemanfaatan RDF merupakan salah satu bentuk penerapan ekonomi sirkular yang didorong pemerintah sebagai solusi pengurangan timbulan sampah sekaligus pemanfaatan kembali sumber daya.

Usai sesi paparan, rombongan melanjutkan kunjungan lapangan ke TPST Condongcatur di Padukuhan Pringwulung untuk melihat secara langsung proses penerimaan, pemilahan, pengolahan, hingga pemanfaatan hasil olahan sampah yang telah diterapkan.

Kegiatan studi tiru ini diharapkan memperkuat sinergi antardaerah dalam mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang efektif, modern, dan berkelanjutan. Lebih dari itu, TPST Condongcatur terus menunjukkan perannya sebagai pusat pembelajaran pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir, yang memadukan penguatan kelembagaan, partisipasi masyarakat, inovasi teknologi, dan prinsip ekonomi sirkular dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan lestari. (Wasana / KIM Depok)




Sekolah Rabu Tempel Perkuat Pemberdayaan Masyarakat melalui Pendidikan Nonformal

Sleman – Di Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, semangat belajar sepanjang hayat diwujudkan melalui Sekolah Rabu, sebuah kegiatan pendidikan masyarakat yang terbuka bagi seluruh warga tanpa memandang usia, jenis kelamin, maupun latar belakang pendidikan.

Pendopo Kapanewon Tempel tak hanya menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan pemerintahan. Setiap Rabu pada minggu pertama dan ketiga setiap bulan, pendopo tersebut disulap menjadi ruang belajar bersama yang menghadirkan berbagai materi edukatif bagi masyarakat. Kegiatan yang berlangsung pukul – WIB ini menawarkan beragam pembelajaran, mulai dari keterampilan praktis hingga pengetahuan umum yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan kali ini dhadir Panewu Anom Kapanewon Tempel, Eni Yuliani didampingi Ketua Pokja II PKK Kapanewon Tempel, Dewi Sulastri, yang memberikan dukungan sekaligus memantau jalannya kegiatan.

Kepala Sekolah Rabu, Ida Ery Kurniawati menjelaskan bahwa setiap peserta hanya dikenai iuran sebesar setiap kali mengikuti kegiatan.

“Dengan biaya yang sangat terjangkau, masyarakat dapat belajar berbagai keterampilan maupun pengetahuan yang bermanfaat,” ujarnya saat ditemui di sela-sela kegiatan, Rabu (1/7/ 2026).

Pada pertemuan kali ini, sekitar 35 peserta yang didominasi kaum ibu mengikuti pelatihan pembuatan brownies crispy berbahan dasar talas. Selain menambah keterampilan, pelatihan ini juga membuka peluang bagi peserta untuk mengembangkan usaha kuliner rumahan dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar.

Terkait materi pembelajaran, Ida menjelaskan bahwa tidak ada batasan mengenai materi yang dapat diajarkan. “Apa pun yang sedang dibutuhkan masyarakat bisa menjadi bahan pembelajaran. Mulai dari hukum, psikologi, kesehatan, kewirausahaan, kuliner, kerajinan tangan, tata boga, hingga berbagai keterampilan lainnya dapat dipelajari di sini,” tandasnya.

Program yang telah berjalan sekitar 15 tahun ini berada di bawah koordinasi Pokja II PKK Kapanewon Tempel. Keberlangsungannya menjadi bukti konsistensi gerakan pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan nonformal.

“Alhamdulillah, dari hasil usaha yang kami kelola sendiri, penyelenggaraan Sekolah Rabu dapat berjalan mandiri. Kebutuhan bahan praktik, peralatan, hingga kompensasi narasumber dapat kami penuhi tanpa bergantung pada bantuan dari luar,” tutur Ida. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)