Kontingen Kabupaten Sleman Raih Penyaji Terbaik I Festival Kethoprak DIY 2026

Sleman – Kontingen Kabupaten Sleman sukses mengukir prestasi gemilang dengan meraih predikat Penyaji Terbaik I dalam perhelatan Festival Kethoprak Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2026 yang berlangsung di Alun-Alun Sewandanan, Pura Pakualaman, Yogyakarta.
Kepastian raihan prestasi tersebut disampaikan oleh Ketua Komunitas Kethoprak Sleman, Sugiman Dwi Nurseto, saat mengonfirmasi hasil penilaian dewan juri di Studio RRI Pro4 Jogja pada Senin (10/08/2026). Pergelaran yang diselenggarakan oleh Kundha Kabudayan (Dinas Kebudayaan) DIY pada Jumat (07/08/2026) hingga Sabtu (08/08/2026) ini mengusung tema sejarah “Episode Pasca Perjanjian Giyanti – Sebelum Geger Sepehi”.
Dalam kompetisi seni pertunjukan tradisional ini, kontingen Sleman tampil memukau pada hari pertama melalui lakon “Tatu” dan meraih skor tertinggi yakni poin. Sleman mengungguli empat kabupaten/kota lainnya di DIY, yakni Kabupaten Gunungkidul di peringkat kedua ( poin), Kabupaten Bantul ( poin), Kabupaten Kulon Progo ( poin), dan Kota Yogyakarta ( poin).
Selain meraih penghargaan utama sebagai Penyaji Terbaik I, kontingen Kabupaten Sleman juga memborong sejumlah penghargaan individu. Gelar Sutradara Terbaik disabet oleh Giang Bayu Tetuko, Penulis Naskah Terbaik oleh Dicky Dwi Nurseto, Pemeran Putra Terbaik oleh Viko Ciblek, serta Pengeprak Terbaik oleh Dhoni.
Sugiman Dwi Nurseto mengungkapkan bahwa keberhasilan tim Sleman tak lepas dari proses riset mendalam terkait latar belakang sosial, ekonomi, dan historis masyarakat pasca-Perjanjian Giyanti sebelum mengeksekusinya ke atas panggung.
“Riset tidak harus hanya bersumber dari buku sejarah. Cerita tutur dan kunjungan ke lokasi yang memiliki jejak sejarah pun dapat menjadi bahan untuk memperkaya cerita. Berbagai sumber tersebut kemudian perlu dibandingkan dengan catatan sejarah agar tafsir dan pengembangan cerita tetap berada dalam koridor tema festival,” ujar Sugiman Dwi Nurseto pada Senin (10/08/2026).
Ia juga menambahkan bahwa ajang festival tingkat provinsi semacam ini memegang peranan krusial untuk menjaga kelestarian kethoprak serta memikat minat generasi muda agar terus mencintai seni tradisi Jawa.
“Adanya festival kethoprak akan menarik minat anak muda. Harapannya, dengan adanya ketertarikan kemudian anak muda tetap melirik kethoprak. Selanjutnya, kalau sudah melirik, akan timbul rasa sayang dan cinta. Jadi ketoprak tidak punah,” tegasnya. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)



