GEMPAR Pasar Tempel Dorong Masyarakat Belanja di Pasar Rakyat

Sleman — Gerakan Meramaikan Pasar Rakyat (GEMPAR) di Pasar Tempel, Jumat (14/8/2026), menjadi momentum mendorong masyarakat kembali menjadikan pasar tradisional sebagai pilihan berbelanja sekaligus menguatkan ekonomi pedagang.

Kegiatan diikuti lintas organisasi perangkat daerah (OPD) Kapanewon Tempel, jajaran Kodim Sleman, Kantor Urusan Agama (KUA), PKK Kapanewon Tempel, serta berbagai unsur masyarakat.

Panewu Tempel, Rasyid Ratnadi Sosiawan mengatakan kehadiran berbagai unsur tersebut merupakan bentuk dukungan bersama untuk menghidupkan pasar rakyat dan memberi semangat kepada pedagang.

“Alhamdulillah, pagi ini kita hadir di Pasar Tempel bersama lintas OPD dari Kapanewon Tempel. Hadir juga jajaran Kodim Sleman, KUA, PKK Kapanewon Tempel dan seluruh teman-teman untuk menyukseskan program GEMPAR,” ujar Rasyid.

Ia menilai aktivitas perdagangan di Pasar Tempel menunjukkan geliat ekonomi masyarakat yang tetap kuat. Menurut Rasyid, kegiatan GEMPAR bukan sekadar berbelanja, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap pedagang agar tetap bersemangat menjalankan usaha.

“Kita datang ke pasar dalam rangka semangat kita untuk mencintai saudara kita yang sesama pedagang, supaya beliau-beliau tetap semangat dalam berdagang,” tuturnya.

Ia pun mengajak masyarakat Kapanewon Tempel bersama-sama menjaga keberlangsungan pasar rakyat.

“Marilah kita bersama-sama Pasar Tempel kita hidupkan, kita sejahterakan masyarakat Tempel. Harapan kita, seluruh komponen masyarakat mencintai pasar sehingga kita semuanya menjadi sejahtera,” ujarnya.

GEMPAR digelar Pemkab Sleman untuk menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI sekaligus mendukung Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) dan kemajuan UMKM, khususnya pedagang pasar rakyat.

Gerakan ini diarahkan untuk meningkatkan perputaran ekonomi kerakyatan serta membangun kebiasaan berbelanja di pasar rakyat. Pemerintah juga mengimbau masyarakat membawa tas belanja sendiri untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. (SBD / KIM Tempel)




SPPG Sumberrejo Tempel Dorong Pemenuhan Gizi Seimbang bagi Balita hingga Lansia

Sleman – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sumberrejo, Tempel, terus mendorong pemenuhan asupan makanan bergizi bagi kelompok rentan, mulai dari balita, ibu hamil, ibu menyusui, hingga lanjut usia (lansia). Edukasi sekaligus pemberian makanan bergizi tersebut dilakukan di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Kanthil, Padukuhan Semawung, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Jumat (14/8/2026).

Asupan makanan yang berkualitas berperan penting dalam menjaga kesehatan, mendukung pertumbuhan, serta meningkatkan daya tahan tubuh, terutama bagi masyarakat yang memiliki kebutuhan gizi lebih spesifik. Hal tersebut disampaikan Ketua Posyandu Kanthil, Sumini sesaat setelah menerima paket Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disuplai dari Yayasan Persyarikatan Muhammadiyah Tempel.

Menurut Sumini, program dari pemerintah tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi yang seimbang dan sesuai kebutuhan pada setiap kelompok usia. Bagi balita, pemenuhan makanan bergizi menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan.

“Menu makanan bagi balita perlu mengandung sumber karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan anak. Sedangkan bagi ibu hamil, asupan gizi yang cukup diperlukan untuk mendukung kesehatan ibu sekaligus pertumbuhan dan perkembangan janin. Terutama pemenuhan protein, zat besi, asam folat, kalsium, serta berbagai vitamin dan mineral agar kebutuhan nutrisi selama masa kehamilan dapat terpenuhi secara optimal,” jelasnya.

Hal serupa juga berlaku bagi ibu menyusui yang membutuhkan asupan makanan bergizi untuk menjaga kondisi tubuh serta mendukung produksi air susu ibu (ASI). Pola makan yang beragam dan seimbang menjadi bagian penting dalam menjaga kebugaran ibu selama masa menyusui sekaligus menunjang pemberian ASI kepada bayi.

Adapun untuk kelompok lansia, pemenuhan gizi juga perlu mendapatkan perhatian karena kebutuhan dan kemampuan tubuh dalam mengolah makanan mengalami perubahan seiring bertambahnya usia. Makanan dengan kandungan protein yang cukup, sayuran, buah, serta asupan cairan yang memadai dapat membantu mempertahankan kondisi tubuh dan menunjang aktivitas sehari-hari.

Sementara itu, salah satu pengurus Posyandu Kanthil, Yuli Kurniati menyebutkan bahwa pihaknya mengampu 30 Balita, 80 Lansia, serta beberapa ibu hamil dan menyusui. Menurutnya, pemberian makanan bergizi di Posyandu Kanthil sekaligus menjadi sarana untuk memperkuat peran posyandu sebagai pusat pelayanan kesehatan berbasis masyarakat.

“Kehadiran SPPG diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada keluarga bahwa pemenuhan gizi tidak hanya berkaitan dengan jumlah makanan, tetapi juga kualitas, keragaman, keamanan, dan kesesuaiannya dengan kebutuhan penerima,” ujarnya.

Masyarakat juga sarankan untuk memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar sebagai sumber makanan bergizi. Dengan pengelolaan yang tepat, pangan lokal dapat diolah menjadi menu yang sehat, beragam, dan terjangkau sehingga pemenuhan gizi keluarga dapat dilakukan secara berkelanjutan tanpa harus bergantung pada bahan pangan yang mahal. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Kirab Merdeka SMP Ma’arif Gamping Kenalkan Keberagaman Budaya Nusantara

Sleman – Suasana meriah mewarnai halaman SMP Ma’arif Gamping, Jumat (14/8/2026). Seluruh siswa dan guru mengikuti Kirab Merdeka dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Mengusung tema “Membangun Keindahan dan Keharmonisan Nusantara”, para peserta tampil mengenakan beragam pakaian adat Nusantara dan pakaian profesi. Dengan penuh semangat, peserta mengikuti kirab mengelilingi lingkungan sekolah.

Kepala SMP Ma’arif Gamping, Ratna Isti Pratiwi mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi SMP Ma’arif Gamping sebagai sekolah budaya yang memiliki visi Berilmu, Berbudaya, Religius, Terampil, dan Nasionalis.

“Kali ini kami implementasikan dalam bentuk kirab budaya. Harapan kami anak mengenal keindahan budaya, dalam wujud harmoni Nusantara,” ujarnya.

Ratna mengatakan, kegiatan tersebut juga diharapkan dapat menanamkan karakter nasionalisme kepada siswa. Melalui pengenalan keberagaman budaya Indonesia, siswa diharapkan tumbuh menjadi generasi yang memiliki jiwa patriotisme sekaligus menghargai perbedaan.

Hal senada disampaikan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Wijang Wahyu Wiwoho. Ia mengatakan kegiatan Kirab Merdeka menjadi bagian dari pendidikan karakter yang diberikan kepada siswa melalui pengalaman secara langsung.

“Kemajuan negara, dan suksesnya pembangunan, berawal dari adanya persatuan, kesatuan, dan kegotongroyongan,” tegas Wijang.

Menurutnya, proses pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Pembelajaran juga perlu diwujudkan melalui berbagai kegiatan nyata yang memberikan pengalaman langsung kepada siswa.

“Proses pendidikan bukan hanya melalui meja belajar, tetapi juga diwujudkan dengan kegiatan nyata. Dengan praktik langsung akan lebih memberikan kesan dan mudah teringat sepanjang masa,” pungkasnya.

Kirab Merdeka SMP Ma’arif Gamping menjadi salah satu bentuk perayaan kemerdekaan yang memadukan semangat nasionalisme dengan pengenalan kekayaan budaya bangsa. Kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat karakter siswa sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap keberagaman budaya Nusantara. (Giek/ KIM Moyudan)




Indeks Harmoni Sleman Capai 6,95, Kerukunan Umat Beragama Jadi Kekuatan Sosial

Sleman – Kabupaten Sleman mencatat capaian positif dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Berdasarkan pengukuran tahun 2025, Sleman memperoleh Indeks Harmoni Indonesia sebesar 6,95 dari skala 9 dan masuk dalam kategori baik.

Capaian tersebut ditopang oleh sejumlah dimensi, yakni ekonomi dengan skor 6,75, sosial 6,99, budaya 6,90, dan keberagamaan 7,21. Dimensi keberagamaan menjadi komponen dengan nilai tertinggi.

Kepala Bidang Politik Dalam Negeri dan Ketahanan Nasional Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sleman, Achmad Raharjo mengatakan capaian tersebut menunjukkan kehidupan sosial masyarakat Sleman relatif harmonis. Tingkat toleransi dan hubungan sosial antarmasyarakat dinilai berjalan dengan baik.

Hal tersebut disampaikan Achmad saat menjadi narasumber dalam talkshow Pasar Bela Negara Sleman edisi ke-40 yang berlangsung di kawasan Lapangan Pemda Sleman, Jumat (14/8/2026). Talkshow tersebut dipandu Andy Ahmad Akbar dari KIM DSN Sleman.

Menurut Achmad, kerukunan umat beragama menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga kehidupan masyarakat yang damai. Ia mengajak masyarakat terus membangun suasana positif melalui pesan sederhana berupa damai, rukun, dan bahagia.

“Salam damai, rukun, bahagia ini adalah kata-kata kunci yang membangun kerukunan. Ini menjadi afirmasi positif bagi kita semua,” ujarnya.

Ia menambahkan, semangat kemerdekaan Republik Indonesia juga perlu dimaknai melalui penghormatan terhadap kebebasan beragama sebagaimana dijamin dalam Pasal 29 Ayat (2) UUD 1945, yang menegaskan bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya.

Dalam konteks tersebut, Achmad turut menyinggung keberadaan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sleman periode 2025–2030. Menurutnya, kepengurusan FKUB tersebut mencerminkan semangat kebersamaan dan kolaborasi lintas agama, salah satunya ditunjukkan dengan ketua yang berasal dari perwakilan umat Konghucu.

Achmad menegaskan bahwa menjaga kerukunan umat beragama bukan sekadar upaya menciptakan kehidupan sosial yang nyaman, tetapi juga menjadi bagian dari implementasi bela negara.

“Menjaga kerukunan umat beragama juga merupakan salah satu bentuk bela negara,” katanya.

Ia menyebut kehidupan antarumat beragama di Sleman saat ini relatif kondusif dan belum menunjukkan adanya potensi konflik yang menonjol. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu terus dipelihara melalui komunikasi, toleransi, serta sikap saling menghormati di tengah keberagaman masyarakat.

Sementara itu, Pasar Bela Negara merupakan kegiatan yang diinisiasi Badan Kesbangpol Sleman bersama Carya Budhi Cantya, lembaga pendamping UMKM. Kegiatan yang rutin digelar setiap Jumat pagi di kawasan utara Lapangan Pemda Sleman tersebut tidak hanya menjadi ruang promosi bagi pelaku UMKM, tetapi juga menghadirkan talkshow dan berbagai kegiatan yang mengangkat nilai-nilai kebangsaan.

Beragam makanan dan minuman tradisional turut meramaikan pasar tersebut. Selain mendukung pelaku UMKM, kegiatan juga menjadi ruang interaksi antara masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah.

Menutup talkshow, Achmad mengajak masyarakat mengisi kemerdekaan dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tidak cukup hanya diwujudkan melalui upacara dan berbagai perayaan.

“Semangat kemerdekaan jangan hanya diisi dengan upacara dan perayaan. Mari kita isi dengan kehidupan sosial yang rukun dan bersama-sama berjuang membangun Indonesia untuk meraih Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. (Andy Ahmad – KIM DSN Ngaglik)




Sensus Ekonomi 2026 Jangkau Pelaku Usaha Condongcatur

Sleman –  Petugas Sensus Ekonomi 2026 Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Lidya Agustina Kristanti, melakukan pendataan terhadap pelaku usaha sebagai bagian dari Sensus Ekonomi 2026 yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS).

Lidya menjelaskan, sensus tersebut mencakup seluruh pelaku usaha, baik sektor pertanian maupun nonpertanian, perseorangan maupun badan usaha. Pendataan menyasar usaha daring, usaha rumahan, pertokoan, hingga perusahaan besar.

“Semua pelaku usaha menjadi sasaran pendataan agar Sensus Ekonomi 2026 dapat memberikan gambaran perekonomian secara menyeluruh,” katanya, Jumat (14/8/2026).

Petugas juga mendata setiap keluarga untuk mengidentifikasi kegiatan usaha yang berlangsung di rumah tangga sekaligus memutakhirkan data ekonomi keluarga.

Menurut Lidya, pendataan rumah tangga penting karena banyak kegiatan ekonomi berkembang dari rumah, termasuk usaha mikro dan usaha berbasis digital yang tidak selalu memiliki tempat usaha khusus.

Sensus Ekonomi dilaksanakan BPS setiap 10 tahun sekali pada tahun yang berakhiran angka enam. Pada 2026, pendataan berlangsung mulai 1 Mei hingga 31 Agustus.

“Hasil sensus akan mendukung perencanaan dan pengambilan keputusan strategis, memotret tren perekonomian terkini, serta membantu pelaku usaha mengenali peluang dan tantangan bisnis,” ujarnya.

Lidya menjelaskan bagi Kabupaten Sleman, data yang akurat diharapkan mendukung penyusunan kebijakan pembangunan dan pemberdayaan ekonomi yang lebih sesuai dengan kondisi lapangan.

Ia berharap masyarakat dan pelaku usaha memberikan data secara lengkap agar Sensus Ekonomi 2026 menghasilkan informasi yang valid dan bermanfaat bagi pemerintah, pelaku usaha, serta perencanaan pembangunan. (Athiful/KIM Depok)