Literasi Jadi Jalan UMKM Naik Kelas, 115 Peserta Ikuti Bedah Buku

Sleman — Sebanyak 115 pelaku UMKM, pegiat literasi, mahasiswa, dan masyarakat umum mengikuti bedah buku UMKM Naik Kelas: Dari Usaha Kecil Menuju Bisnis Berdaya Saing di Ruang Wacana Loka, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Rabu (26/8/2026).

Kegiatan yang diikuti peserta dari Kalurahan Condongcatur, Caturtunggal, dan Maguwoharjo tersebut menjadi ruang belajar bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas, memperluas jejaring, dan mengembangkan bisnis yang berdaya saing.

Bedah buku diselenggarakan atas kerja sama Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY dengan anggota DPRD DIY, Rahayu Widi Nuryani. Kegiatan menghadirkan penulis buku Tri Darmini dan praktisi UMKM, Afika Rahman sebagai narasumber, dengan diskusi dipandu Subanar Surya Saputra. Kegiatan turut dihadiri Kepala DPAD DIY, Syam Arjayanti.

Rahayu mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menumbuhkan budaya literasi masyarakat sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi melalui penguatan kapasitas pelaku UMKM.

“Gerakan membaca perlu dimulai dari keluarga karena keluarga merupakan tempat pertama untuk menumbuhkan kebiasaan membaca,” katanya.

Menurutnya, pemilihan buku bertema UMKM disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat agar pelaku usaha memperoleh wawasan mengenai pengelolaan usaha, peningkatan penjualan, dan penguatan branding.

Sementara itu, Tri Darmini menjelaskan bahwa UMKM naik kelas tidak hanya ditandai dengan peningkatan omzet, tetapi juga kemampuan membangun fondasi usaha yang sehat dan berkelanjutan.

“UMKM naik kelas bukan sekadar menjual lebih banyak. Pelaku usaha harus memiliki legalitas, pencatatan keuangan yang tertib, kualitas produk yang konsisten, kemasan yang menarik, serta kemampuan memanfaatkan teknologi digital,” ujarnya.

Tri menambahkan, peningkatan kapasitas dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti memisahkan keuangan pribadi dan usaha, mencatat pemasukan serta pengeluaran, menghitung harga pokok produksi, dan melakukan evaluasi secara berkala.

Sementara itu, Plt. Lurah Condongcatur, Budi Arto berharap pengetahuan yang diperoleh peserta dapat diterapkan dalam pengembangan usaha masing-masing.

“Yang lebih penting adalah bagaimana ilmu yang kita dapatkan hari ini dapat dipraktikkan dan menghasilkan perubahan nyata bagi usaha kita masing-masing,” katanya.

Budi menegaskan Pemerintah Kalurahan Condongcatur akan terus mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui peningkatan kapasitas, fasilitasi, promosi, dan perluasan jejaring usaha.

Melalui kegiatan tersebut, literasi diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat mendorong pelaku UMKM untuk berbenah, berinovasi, memperluas pasar, serta membangun usaha yang tangguh dan berkelanjutan.

(Wasana/KIM Depok)




Tuwanggana DIY Perkuat Peran dalam Perencanaan Pembangunan Kalurahan

Sleman — Pirukunan Tuwanggana Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar Pelatihan Perencanaan Pembangunan Kalurahan/Kelurahan dengan tema “Peran dan Fungsi Tuwanggana dalam Reformasi Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan/Kelurahan”. Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, Rabu–Kamis (26–27/8/2026), di Grand Malioboro Hotel, Yogyakarta.

Pelatihan ini menjadi upaya untuk memperkuat kapasitas Tuwanggana agar semakin aktif berperan dalam proses perencanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di tingkat kalurahan maupun kelurahan.

Kegiatan ini diikuti perwakilan Pirukunan Tuwanggana dari lima kabupaten/kota di DIY, masing-masing sebanyak delapan peserta dari Kabupaten Sleman, Bantul, Kulon Progo, Gunungkidul, dan Kota Yogyakarta.

Peserta dari Kabupaten Sleman berasal dari sejumlah kalurahan, yaitu Suharyanto dari Kalurahan Sumberagung, Kapanewon Moyudan; Slamet Haryanto dari Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping; Suradiman dari Kalurahan Tegaltirto, Kapanewon Berbah; FX. Suharmaji dari Kalurahan Madurejo, Kapanewon Prambanan; Sujono dari Kalurahan Umbulmartani, Kapanewon Ngemplak; Naryanto dari Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik; Y. Edy Setyoharjo dari Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati; serta Marjonet dari Kalurahan Sukoharjo, Kapanewon Ngaglik.

Sekretaris Pirukunan Tuwanggana DIY, Ariyadi Bowoleksono dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat kapasitas, kreativitas, dan inovasi Tuwanggana di seluruh DIY.

Menurutnya, pelatihan perencanaan pembangunan tersebut untuk pertama kalinya diselenggarakan sebagai ruang belajar dan berbagi pengalaman bagi para pengurus Tuwanggana.

Ariyadi mendorong seluruh peserta untuk tidak hanya mengikuti materi, tetapi juga aktif berdiskusi, bertanya, berbagi pengalaman, serta memberikan masukan terhadap praktik perencanaan pembangunan yang selama ini dilakukan.

“Pengalaman Bapak/Ibu di lapangan merupakan kekayaan yang sangat penting untuk dibagikan dalam forum ini,” ujarnya.

Ia berharap peserta tidak hanya membawa pulang materi dan sertifikat, tetapi juga memperoleh cara berpikir, keterampilan, serta semangat baru yang dapat diterapkan di wilayah masing-masing.

Selain pelatihan perencanaan pembangunan, Pirukunan Tuwanggana DIY pada tahun ini juga akan menggelar Lomba Inovasi Tuwanggana untuk memperebutkan Sumunar Awards.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, Pirukunan Tuwanggana DIY berharap Tuwanggana semakin mampu mengambil peran dalam mendorong perencanaan pembangunan yang partisipatif, berbasis data, tepat sasaran, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di tingkat kalurahan dan kelurahan.

(Y. Edy Setyoharjo – KIM Pijar Mlati)




Jemput Bola Adminduk, Caturtunggal Layani 58 Warga Seturan

Sleman – Pemerintah Kalurahan Caturtunggal bersama Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Sleman melaksanakan pelayanan jemput bola administrasi kependudukan bagi masyarakat Padukuhan Seturan dan sekitarnya. Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu (26/8/2026), di Gedung Serbaguna Bhakti Warga RW.

Pelayanan jemput bola tersebut dilaksanakan sebagai upaya mendukung Gerakan Indonesia Sadar Administrasi Kependudukan (GISA) sekaligus mendekatkan akses pelayanan administrasi kependudukan kepada masyarakat. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut atas permohonan fasilitasi pelayanan jemput bola yang diajukan Pemerintah Kalurahan Caturtunggal kepada Disdukcapil Kabupaten Sleman.

Kegiatan tersebut melibatkan staf Disdukcapil Kabupaten Sleman, Kapanewon Depok, Pemerintah Kalurahan Caturtunggal, Dukuh Seturan, serta masyarakat Padukuhan Seturan dan wilayah sekitarnya yang membutuhkan layanan administrasi kependudukan.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat dapat mengakses berbagai layanan administrasi kependudukan secara langsung di lingkungan tempat tinggalnya. Berdasarkan hasil pelayanan, tercatat sebanyak 58 layanan berhasil diberikan kepada masyarakat.

Layanan tersebut meliputi pemutakhiran dan penerbitan Kartu Keluarga (KK) sebanyak tujuh layanan, pembuatan Kartu Identitas Anak (KIA) tujuh layanan, pembaruan KTP sebanyak tiga layanan, aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD) sebanyak 36 layanan, serta penerbitan akta kelahiran sebanyak lima layanan.

Kaur Tata Laksana Kalurahan Caturtunggal, Bambang Harjati Susetyo mengatakan pelayanan jemput bola menjadi salah satu upaya Pemerintah Kalurahan Caturtunggal untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses layanan administrasi kependudukan.

“Melalui pelayanan jemput bola ini, kami berupaya mendekatkan pelayanan administrasi kependudukan kepada masyarakat, sehingga warga tidak perlu jauh-jauh datang ke kantor pelayanan. Kami berharap masyarakat dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk memastikan dokumen kependudukannya lengkap dan datanya selalu diperbarui,” ujar Bambang.

Ia menambahkan, tingginya jumlah masyarakat yang memanfaatkan layanan aktivasi IKD menunjukkan meningkatnya kebutuhan terhadap pelayanan administrasi kependudukan berbasis digital.

“Dari 58 layanan yang diberikan hari ini, aktivasi IKD menjadi layanan yang paling banyak dimanfaatkan. Hal ini menjadi bagian penting dalam mendorong masyarakat agar semakin sadar dan tertib administrasi kependudukan, sekaligus mengikuti perkembangan pelayanan publik berbasis digital,” tambahnya.

Aktivasi IKD menjadi layanan yang paling banyak dimanfaatkan masyarakat, dengan jumlah 36 layanan. Hal ini menunjukkan antusiasme masyarakat dalam memanfaatkan identitas kependudukan berbasis digital sekaligus mendukung terwujudnya tertib administrasi kependudukan.

Pemerintah Kalurahan Caturtunggal berharap pelayanan jemput bola administrasi kependudukan dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bentuk komitmen dalam menghadirkan pelayanan publik yang mudah, dekat, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Melalui kegiatan ini, masyarakat juga diharapkan semakin sadar akan pentingnya memiliki dokumen kependudukan yang lengkap, valid, dan selalu diperbarui sesuai kondisi terkini. (Oktaviana/KIMDepok)




Sleman Perkuat Tata Kelola Kalurahan melalui Perbup Pengisian Pamong

Sleman  — Pemerintah Kabupaten Sleman terus memperkuat tata kelola pemerintahan kalurahan melalui sosialisasi Peraturan Bupati Sleman Nomor 27 Tahun 2026 tentang Pelaksanaan Pengisian dan Pemberhentian Pamong Kalurahan. Regulasi tersebut menjadi pedoman penting untuk memastikan proses pengisian jabatan pamong berlangsung secara transparan, objektif, dan profesional.

Implementasi peraturan tersebut turut dibahas dalam kegiatan Bimbingan Teknis yang berlangsung di Ruang Rapat Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Rabu (26/8/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan Jogoboyo Kalurahan Margorejo Farhan Mei Ustadza dan Carik Margorejo Ariyanto Wibowo. Peserta terdiri atas Lurah, Carik, Kasi dan Kaur, Dukuh, staf kalurahan, Babinsa, serta Bhabinkamtibmas.

Perbup Sleman Nomor 27 Tahun 2026 merupakan aturan teknis dari Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 12 Tahun 2025 tentang Pamong Kalurahan. Regulasi ini mengatur mekanisme pengisian hingga pemberhentian pamong kalurahan, termasuk pembinaan dan evaluasi kinerja.

Dalam pengisian jabatan, terdapat dua mekanisme utama, yakni mutasi jabatan serta penjaringan dan penyaringan. Mutasi merupakan perpindahan antarjabatan pamong dalam kalurahan yang sama dan tidak berlaku bagi jabatan Dukuh. Sementara itu, mekanisme penjaringan dan penyaringan terbuka bagi warga negara Indonesia yang memenuhi persyaratan, termasuk untuk pengisian jabatan Dukuh, dengan proses seleksi yang melibatkan perguruan tinggi.

“Pamong itu bukan sekadar mengisi struktur. Dia adalah wajah pertama negara di hadapan warga. Kalau proses pengisiannya asal-asalan, pelayanan akan asal-asalan,” ujar Farhan.

Menurut Farhan, regulasi tersebut juga memberikan ruang bagi kalurahan untuk melakukan rotasi dan penyegaran organisasi melalui mekanisme yang jelas dan terukur.

Sementara itu, Carik Margorejo, Ariyanto Wibowo menilai kepastian regulasi menjadi hal penting untuk mencegah munculnya konflik akibat perbedaan tafsir dalam proses pengangkatan maupun pemberhentian pamong kalurahan.

“Kami ingin semua panitia seleksi tidak ragu dalam bertindak. Semua tahapan sudah diatur secara rinci. Evaluasi kinerja juga dilakukan secara sistematis, objektif, dan terukur,” katanya.

Penguatan profesionalisme pamong kalurahan menjadi bagian penting dalam menghadapi tuntutan pelayanan publik yang semakin kompleks. Melalui tata kelola yang tertib dan aparatur yang kompeten, kalurahan diharapkan mampu menghadirkan pelayanan yang lebih efektif sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat. (SBD / KIM Tempel)




Pengajian Maulid Nabi di Tempel Tekankan Keteladanan Akhlak Rasulullah

Sleman — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum bagi masyarakat untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah sekaligus meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan dalam Pengajian Maulid Nabi di Mushola Nurul Ummah, Kopen, Lumbungrejo, Tempel, Sleman, Selasa (25/8/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Dukuh Kopen Rahmat Budiana dan Ketua MWC NU Kapanewon Tempel Imam Suhadi. Pengajian menghadirkan tausiyah Gus Muhammad Wachid Lutfi Ashari, pengasuh Pondok Pesantren As Sallam Kerisan. Ketua panitia, Suparjan, turut menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan antusiasme jamaah.

Dalam sambutannya, Imam Suhadi mengapresiasi kebersamaan jamaah sekaligus mengingatkan pentingnya menghindari sikap sombong dan merasa lebih tinggi dari orang lain.

Ia mengisahkan Abu Lahab sebagai salah satu contoh bahwa kedekatan dengan Rasulullah tidak serta-merta menjadikan seseorang mulia apabila tidak disertai keimanan dan akhlak yang baik.

“Jangan sampai kita menjadi orang yang sombong. Kisah Abu Lahab menjadi pelajaran bahwa kedekatan dengan Rasulullah tidak cukup tanpa keimanan dan akhlak,” pesan Imam Suhadi.

Sementara itu, Gus Muhammad Wachid Lutfi Ashari menekankan bahwa kecintaan kepada Rasulullah perlu diwujudkan melalui perilaku dan keteladanan akhlak. Menurutnya, Nabi Muhammad SAW merupakan uswah hasanah atau teladan terbaik yang dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan.

“Kalau kita mengaku mencintai Nabi Muhammad, kecintaan itu harus terlihat dari akhlak kita. Rasulullah adalah uswah, contoh yang baik. Apa pun profesi kita, akhlak Rasulullah dapat menjadi pedoman,” tutur Gus Lutfi.

Ia juga mengajak jamaah memanfaatkan momentum Maulid Nabi dengan memperbanyak sedekah sebagai bentuk kepedulian kepada sesama. Selain itu, jamaah didorong untuk memperbanyak membaca shalawat sebagai wujud kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

“Perbanyak shalawat sebagai tanda cinta kepada Rasulullah. Namun cinta itu jangan berhenti di lisan. Ikuti akhlaknya, hidupkan keteladanannya, dan jadikan perilaku Rasulullah sebagai pedoman,” pesannya.

Ketua panitia, Suparjan, menyampaikan terima kasih kepada seluruh jamaah yang telah hadir dan mendukung terselenggaranya kegiatan. Ia berharap pengajian Maulid Nabi dapat mempererat silaturahmi sekaligus memberikan manfaat spiritual bagi masyarakat.

Peringatan Maulid Nabi tersebut menjadi pengingat bahwa kecintaan kepada Rasulullah tidak sekadar diwujudkan melalui perayaan, tetapi juga melalui upaya menerapkan akhlak mulia dalam keluarga, pekerjaan, dan kehidupan bermasyarakat. (SBD / KIM Tempel)