JCova Catat Omzet Rp102 Juta, FORKOM UMKM Sleman Siapkan Event Lebih Besar

 Sleman – Panitia Jogja Cozy Vaganza (JCova) menggelar rapat pertanggungjawaban dan evaluasi pascapelaksanaan kegiatan di Sindoro Sumbing Park, Kertek, Wonosobo, Selasa (25/8/2026). Pertemuan tersebut menjadi momentum mengevaluasi pelaksanaan JCova sekaligus menyusun langkah menuju penyelenggaraan event UMKM yang lebih besar.

Ketua Panitia JCova, Wijangsokno mengatakan Jogja Cozy Vaganza yang berlangsung pada 1–2 Agustus 2026 di Jogja Cozy Space (JOZS), Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, berjalan lancar dan sukses. Kegiatan tersebut diikuti 54 peserta bazar dari Forum Komunikasi (FORKOM) UMKM kapanewon dan kalurahan, tenant sponsor, serta didukung berbagai komunitas dan pelaku usaha.

Selama dua hari pelaksanaan, transaksi penjualan tercatat mencapai omzet Rp102 juta. Capaian tersebut menunjukkan antusiasme masyarakat sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi para pelaku UMKM yang terlibat.

“Keberhasilan JCova merupakan hasil kerja keras seluruh panitia yang telah bekerja dengan penuh dedikasi. Dukungan OPD, para sponsor, pengisi acara, serta seluruh pihak yang terlibat juga menjadi faktor penting sehingga kegiatan dapat berlangsung dengan baik,” ujar Wijangsokno.

Sementara itu, Ketua FORKOM UMKM Kabupaten Sleman, Ardi Suhemi mengapresiasi seluruh panitia yang telah bekerja menyukseskan kegiatan tersebut. Ia menilai pelaksanaan JCova bahkan melampaui ekspektasi karena dapat diselenggarakan secara mandiri tanpa modal awal, tetapi tetap menghasilkan kegiatan yang profesional dan memberikan dampak positif bagi pelaku usaha.

Menurut Ardi, keberhasilan tersebut terangkum dalam filosofi “NEKAD”, yaitu Niat, Energi, Kerja Sama, Adaptif, dan Doa. Kelima unsur tersebut menjadi modal utama dalam menggerakkan panitia selama proses persiapan hingga pelaksanaan kegiatan.

Ardi menambahkan, JCova menjadi langkah awal untuk menyelenggarakan event UMKM dengan skala yang lebih besar. Salah satu agenda yang mulai dipersiapkan adalah peringatan Hari Ulang Tahun FORKOM UMKM Kabupaten Sleman pada Desember mendatang.

“Ke depan kami ingin menghadirkan gelaran yang lebih besar dengan melibatkan lebih banyak pihak, baik pemerintah, dunia usaha, sponsor maupun komunitas. Harapannya, kegiatan tersebut mampu membuka peluang pasar yang lebih luas sehingga memberikan manfaat dan keuntungan yang lebih besar bagi para pelaku UMKM di Kabupaten Sleman,” ungkap Ardi.

Rapat evaluasi ditutup dengan penyampaian berbagai masukan dari panitia sebagai bahan perbaikan untuk kegiatan berikutnya. Keberhasilan JCova diharapkan menjadi motivasi untuk terus menghadirkan event kreatif yang mampu memperluas pasar UMKM sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. (Upik Wahyuni KIM Donoharjo)




Rupautara Gelar Pameran “Merdeka Berkarya” di Desa Wisata Kembangarum

Sleman  – Sebanyak 25 seniman dari wilayah Turi dan Tempel yang tergabung dalam komunitas “Rupautara” menggelar pameran lukisan, kriya, dan seni instalasi di Desa Wisata Kembangarum, Donokerto, Turi, Sleman, Selasa (25/8/2026). Pameran mengusung tema “Merdeka Berkarya” sebagai bagian dari semangat memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kegiatan tersebut dihadiri Lurah Donokerto R. Waluyo Jati, Dukuh Kembangarum Prasetyo Kunto Wibowo, Pengelola Desa Wisata Kembangarum Heri Kustriyatmo, sejumlah seniman Sleman, serta tamu undangan lainnya.

Ketua penyelenggara pameran, Keni Shiro mengatakan komunitas “Rupautara” dibentuk sebagai wadah bagi para pelaku seni, khususnya di wilayah Sleman Utara, untuk bertemu, berkarya, dan menyelenggarakan pameran bersama.

Menurutnya, tema “Merdeka Berkarya” dipilih dengan mengambil semangat kemerdekaan. Para seniman diharapkan dapat terus berkarya secara bebas dan tidak mudah terpengaruh oleh situasi yang tidak menentu.

“Melalui tema ini, kami ingin para seniman tetap memiliki ruang untuk berekspresi dan terus berkarya,” ujar Keni.

Pameran tersebut merupakan kegiatan kedua yang diselenggarakan Rupautara pada 2026. Sebelumnya, pameran pertama digelar di kawasan Embung Kaliaji, Turi, pada 2025.

Pengelola Desa Wisata Kembangarum, Heri Kustriyatmo mengatakan pihaknya terbuka memberikan ruang bagi para pegiat seni di wilayah sekitar untuk berkreasi. Menurutnya, kesenian dapat menjadi bagian dari pengembangan wisata, pelestarian lingkungan, sekaligus penguatan budaya masyarakat.

Dukuh Kembangarum, Prasetyo Kunto Wibowo berharap pameran seni rupa yang turut melibatkan seni musik, tari, dan sastra tersebut dapat menjadi agenda rutin setiap tahun.

Ia juga mengusulkan agar kegiatan pameran seni dapat difasilitasi dalam rangkaian upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI di Kapanewon Turi. Menurutnya, ruang ekspresi seni dalam kegiatan tersebut dapat memperkaya pertunjukan yang selama ini lebih banyak menampilkan kesenian tradisional seperti jathilan.

Lurah Donokerto, R. Waluyo Jati mengapresiasi penyelenggaraan pameran seni rupa di Desa Wisata Kembangarum. Menurutnya, keberadaan desa wisata memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian masyarakat.

Ia menyebut Desa Wisata Kembangarum merupakan salah satu desa wisata perintis di Sleman dan telah meraih prestasi dalam berbagai kompetisi desa wisata tingkat nasional.

Waluyo menegaskan Pemerintah Kalurahan Donokerto mendukung berbagai aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan para seniman. Menurutnya, ruang kreativitas masyarakat perlu terus diberikan agar pembangunan tidak hanya berjalan dari atas ke bawah, tetapi juga tumbuh dari inisiatif masyarakat.

“Kami selalu mendukung semua aktivitas yang berasal dari masyarakat, termasuk seniman. Kami memberikan kemerdekaan kepada masyarakat, karena kemerdekaan bukan hanya milik penguasa,” katanya.  (Sulistiyono – KIM Seyegan)




Maulid Nabi di MAN 4 Sleman Tekankan Pentingnya Akhlak dan Adab

Sleman –Suasana khidmat menyelimuti Masjid An-Najah MAN 4 Sleman saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Senin (24/8/2026). Kegiatan yang diikuti siswa dan guru tersebut menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman tentang pentingnya akhlak dan adab dalam kehidupan generasi muda.

Kegiatan yang digagas Pengurus ROHIS dan OSIS MAN 4 Sleman tersebut menghadirkan penceramah dr. Yogi Tri Sumarno. Dalam tausiyahnya, Yogi mengajak para siswa untuk merenungkan makna menjadi generasi yang unggul, tidak hanya dari sisi kecerdasan, tetapi juga memiliki akhlak yang baik.

“Kecerdasan tanpa akhlak bagaikan tubuh tanpa ruh,” tegasnya.

Yogi kemudian mengisahkan hadis dalam Arbain Nawawi tentang seorang lelaki berpakaian putih bersih yang datang dan duduk di dekat Rasulullah SAW untuk menuntut ilmu. Menurutnya, kisah tersebut mengandung pesan mengenai pentingnya kesucian hati dan adab dalam mencari ilmu.

“Ilmu itu suci. Maka hanya hati dan sikap yang suci pula yang mampu menerimanya dengan sempurna. Saat menuntut ilmu, bersihkan diri. Saat bertemu guru, dekatkan hati. Itulah adab yang sering kita lupakan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan para siswa untuk tetap menghormati guru di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup. Menurutnya, sikap hormat kepada guru merupakan bagian penting dalam proses memperoleh ilmu.

Peringatan Maulid Nabi tersebut turut diisi pembacaan shalawat oleh Hadroh Shoutushofa dan doa bersama. Pembina OSIS MAN 4 Sleman, Agus Musthofah mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk menumbuhkan kesadaran siswa agar meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

“Penting untuk menjaga adab dan etika dalam menuntut ilmu. Jadilah generasi hebat, berilmu, beretika dan berakhlak, serta memiliki semangat pantang menyerah untuk meraih impian,” tegas Agus.

Lebih lanjut, Kepala MAN 4 Sleman, Ahmad Arif Makruf mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang melibatkan ROHIS, OSIS, pembina, guru, dan pegawai. Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan upaya madrasah membentuk generasi yang memiliki keseimbangan antara ilmu dan akhlak.

“Melalui kegiatan ini MAN 4 Sleman berupaya untuk mencetak generasi berilmu dan berakhlak mulia, karena masa depan dimulai dari adab hari ini,” tegasnya.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat diterapkan dalam keseharian siswa melalui kebiasaan menjaga kebersihan, menghormati guru dan orang tua, membangun sikap positif, serta peduli terhadap sesama.

(Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)




Kota Yogyakarta Juara Umum Kejurda Catur DIY 2026

Sleman — Ketua Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) DIY, Iwan Prihastomo resmi menutup Kejuaraan Daerah (Kejurda) Catur DIY 2026 di Aula Pangripta Bappeda Sleman, Selasa (25/8/2026).

Kejurda Catur DIY 2026 berlangsung pada 22, 23, dan 25 Agustus 2026 dengan diikuti 205 atlet dari kelompok junior, senior, veteran, dan kategori terbuka. Pertandingan digelar di dua lokasi, yakni Aula Pangripta Bappeda Sleman untuk kategori junior serta Aula Operation Room Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Sleman untuk kategori senior, veteran, dan terbuka.

Ketua Tim Wasit, Agus Nugroho mengatakan pertandingan yang berlangsung selama tiga hari menggunakan sistem catur klasik atau standar. Berdasarkan hasil pertandingan, Kota Yogyakarta berhasil menjadi juara umum dengan raihan tujuh medali emas, lima perak, dan lima perunggu.

Kabupaten Sleman menempati posisi kedua dengan perolehan empat emas, enam perak, dan enam perunggu. Sementara itu, Kabupaten Gunungkidul berada di posisi ketiga dengan tiga emas, satu perak, dan satu perunggu.

“Selamat kepada para pemenang. Bagi para peserta yang belum memperoleh kemenangan jangan berkecil hati. Jalan masih panjang. Tetap semangat untuk meraih kemenangan,” pesan Agus.

Dalam sambutannya, Ketua Percasi DIY, Iwan Prihastomo menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Sleman dan Percasi Kabupaten Sleman yang telah menjadi tuan rumah Kejurda Catur DIY 2026.

Iwan juga menyampaikan terima kasih kepada panitia dan seluruh pihak yang telah bekerja sama sehingga rangkaian pertandingan dapat berlangsung lancar.

Ia turut mengucapkan selamat kepada kontingen Kota Yogyakarta yang berhasil meraih gelar juara umum. Sementara bagi atlet yang belum berhasil meraih prestasi, khususnya kelompok junior, Percasi DIY berkomitmen untuk terus melakukan pembinaan.

“Bagi atlet yang belum beruntung, khususnya kelompok umur junior, Pengda Percasi DIY telah berkomitmen untuk pembinaan atlet catur Yogyakarta,” ujar Iwan.

Iwan menambahkan, Percasi DIY dalam waktu dekat akan menyelenggarakan Liga Catur Junior. Putaran pertama liga tersebut akan menggunakan hasil Kejurda Catur DIY 2026 sebagai salah satu dasar penentuan peserta. Bersamaan dengan itu, akan digelar pula pertandingan kualifikasi kategori open.

“Harapannya putaran Liga Catur Junior bisa berlangsung tiga putaran dan diakhiri grand final,” tambahnya.

Acara dilanjutkan dengan penyerahan trofi kepada para pemenang oleh tim wasit. Penutupan Kejurda Catur DIY 2026 kemudian diakhiri dengan doa yang dipimpin Ustaz Jais Susilo. (Kusnadi KIM Berbah)




Warga Jragung Gelar Kirab Budaya, Hadirkan Tujuh Gunungan Hasil Bumi

Sleman – Memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, warga Padukuhan Jragung, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, Sleman, menggelar Kirab Budaya, Selasa (25/8/2026). Kirab dimulai dan berakhir di kompleks Tugu Bhinneka Padukuhan Jragung.

Kirab diikuti seluruh warga Padukuhan Jragung yang terdiri atas tiga RW dan sembilan RT. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya masyarakat memperingati kemerdekaan sekaligus melestarikan tradisi dan budaya warisan leluhur.

Dukuh Jragung, Tikno menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga atas partisipasi dan kerja sama sehingga Kirab Budaya dapat terlaksana dengan baik.

Menurutnya, salah satu daya tarik kirab tahun ini adalah kehadiran tujuh gunungan yang dihias menggunakan berbagai hasil pertanian masyarakat.

“Kirab kali ini menampilkan tujuh buah gunungan yang dihias dengan berbagai hasil pertanian,” jelas Tikno.

Sementara itu, Lurah Jogotirto, Mitha Mayasari mengapresiasi antusiasme warga Jragung dalam mempertahankan dan melestarikan adat istiadat warisan leluhur melalui kegiatan Kirab Budaya.

Menurutnya, Kirab Budaya tidak hanya menjadi bagian dari peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, tetapi juga menjadi sarana merawat tradisi, seni, dan falsafah kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi media edukasi bagi generasi muda agar mengenal dan melestarikan tradisi adiluhung.

“Meskipun ada sedikit pergeseran, tidak mengurangi filosofi sebuah gunungan, yaitu wujud syukur dan doa kepada Sang Pencipta,” pungkas Mitha.

Setelah memberikan sambutan, Lurah Jogotirto didampingi Dukuh Jragung Tikno dan Ketua Panitia M. Syamsul secara resmi melepas peserta Kirab Budaya Padukuhan Jragung dengan mengangkat bendera start. (Kusnadi KIM Berbah)