Edukasi Hukum Jadi Benteng Warga Hadapi Jerat Pinjol Ilegal dan Judi Online

Sleman — Ancaman pinjaman online (pinjol) ilegal dan judi online (judol) tidak hanya menyentuh persoalan ekonomi, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan hukum dan sosial di tengah masyarakat. Karena itu, pemahaman hukum dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah warga terjerat praktik digital yang melanggar aturan.

Kejaksaan Negeri Sleman merespons persoalan tersebut melalui kegiatan penyuluhan dan penerangan hukum yang digelar di Aula Kantor Kalurahan Mororejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Senin (24/8/2026).

Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Sleman, Murti Ari Wibowo mengatakan penyuluhan hukum merupakan bagian dari program rutin bidang intelijen yang diarahkan untuk membangun kesadaran hukum masyarakat sejak dini.

“Tujuan penyuluhan dan penerangan hukum adalah melakukan pencegahan penyimpangan hukum melalui edukasi dan sosialisasi mengenai aturan yang berlaku,” ujar Bowo.

Menurut dia, edukasi hukum tidak hanya menyasar masyarakat umum. Kejaksaan juga menggandeng berbagai unsur pemerintahan, mulai dari organisasi perangkat daerah, pemerintah kabupaten, kapanewon, kalurahan, hingga lingkungan sekolah dan perguruan tinggi.

Pada kegiatan tersebut, penyuluhan dilaksanakan di Kalurahan Mororejo, Tempel, dan Kalurahan Ambarketawang, Gamping. Peserta antara lain berasal dari unsur dukuh dan perangkat kalurahan dengan materi yang menitikberatkan pada bahaya judi online serta pinjaman online ilegal.

Bowo berharap penyuluhan semacam ini dapat memperkuat budaya sadar hukum di berbagai lapisan masyarakat. Menurutnya, masyarakat yang memahami aturan akan lebih mampu mengenali potensi pelanggaran sekaligus mengetahui langkah yang tepat ketika menghadapi persoalan hukum.

“Melalui kegiatan ini diharapkan kesadaran dan kepatuhan hukum masyarakat semakin meningkat. Masyarakat juga diharapkan memahami hak dan kewajibannya sehingga dapat mencegah terjadinya pelanggaran,” tuturnya.

Sementara itu, Lurah Mororejo, Jaka Ristanta menilai penyuluhan tersebut relevan dengan persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini. Informasi mengenai konsekuensi hukum, cara mengenali layanan pinjaman yang legal, serta langkah yang dapat ditempuh ketika menghadapi persoalan menjadi bekal penting bagi warga.

“Materi ini sangat efektif untuk menjawab keresahan masyarakat mengenai pinjol ilegal dan judi online, karena memberikan pemahaman tentang sanksi pidana, cara mengenali legalitas, serta langkah hukum yang tepat,” kata Jaka.

Ia berharap pengetahuan yang diperoleh para peserta tidak berhenti di forum penyuluhan. Para dukuh dan perangkat kalurahan diharapkan dapat meneruskan informasi tersebut kepada masyarakat di wilayah masing-masing.

“Dari para peserta, terutama para dukuh dan perangkat kalurahan, kami berharap materi ini bisa disosialisasikan kembali kepada warga,” ujarnya.

Upaya tersebut menunjukkan bahwa pencegahan persoalan hukum di era digital membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan di tingkat masyarakat menjadi bagian penting untuk membangun ruang digital yang lebih aman sekaligus meningkatkan ketahanan warga terhadap praktik ilegal. (SBD / KIM Tempel)




Dukung Gerakan Sleman Ijo Royo-Royo, Bupati Sleman Serahkan 180 Bibit Tanaman untuk KWT se-Moyudan

Sleman — Momentum pembukaan Lomba Gobak Sodor antar-Kelompok Wanita Tani (KWT) di Lapangan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (22/08/2026) diwarnai aksi penghijauan lingkungan. Bupati Sleman, Harda Kiswaya, secara simbolis menyerahkan bantuan 180 bibit tanaman dari Balai Pembibitan Tanaman Hutan (BPTH) Wilayah III Yogyakarta kepada para perwakilan KWT peserta lomba.

Prosesi penyerahan bantuan bibit tersebut didampingi oleh Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman Esti Listyawati, Panewu Moyudan Muhammad Arif Rahman, serta Ketua Komite Permainan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) Kabupaten Sleman Wijang Wahyu Wiwoho.

Dalam arahannya, Bupati Sleman Harda Kiswaya mengimbau para anggota KWT untuk menanam serta merawat bantuan bibit tersebut dengan optimal demi menjaga daya dukung lingkungan dan pasokan pasokan oksigen di wilayah Sleman.

“Tanaman merupakan aset oksigen bagi kita semua. Apalagi ini ada juga tanaman buah, bisa menjadi fungsi ganda, menghasilkan oksigen dan buah untuk dikonsumsi. Kami berharap Sleman berbudaya, sehat, nyaman, dan ijo royo-royo,” ujar Harda Kiswaya di sela-sela pembukaan acara.

Harda menambahkan bahwa kelompok masyarakat, KWT, hingga perorangan dapat mengajukan permohonan bibit secara mandiri ke BPTH guna memperluas kawasan hijau, memelihara cadangan air tanah, dan menjaga kesegaran udara.

Apresiasi senada diutarakan oleh Panewu Moyudan, Muhammad Arif Rahman. Menurutnya, KWT memegang peranan krusial sebagai garda terdepan dalam menjaga kelestarian lingkungan dan ketahanan pangan keluarga.

Di sisi lain, Lurah Sumbersari, Sukadi, turut menyampaikan rasa terima kasih atas penyaluran bibit pohon pinang dari panitia KPOTI Moyudan yang rencananya akan ditanam di sekitar kawasan Gelanggang Olahraga (GOR) Kalurahan Sumbersari guna mempercantik serta mengasrikan area publik desa. (Giek/KIM Moyudan)




Kirab Gunungan hingga Wayang Kulit, Warga Donolayan Ngaglik Gelar Tradisi Merti Dusun

Sleman — Ratusan warga Padukuhan Donolayan, Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, menggelar tradisi adat Merti Dusun pada Sabtu (22/08/2026). Perhelatan budaya yang dipusatkan di Lapangan Padukuhan Donolayan ini diselenggarakan sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan hasil bumi, rezeki, dan kesehatan, sekaligus sarana melestarikan warisan leluhur.

Rangkaian Merti Dusun diawali dengan ziarah ke makam para tokoh pendiri desa, dilanjutkan kirab budaya mengarak gunungan hasil pertanian mengelilingi wilayah permukiman. Barisan peserta kirab yang mengenakan busana adat Jawa dan dikawal pasukan bergada rakyat tampil semarak mengiringi gunungan berisi palawija dan sayur-mayur.

Setibanya rombongan kirab kembali di lapangan, acara dilanjutkan dengan upacara adat dan pelepasan burung ke alam bebas sebagai simbol keharmonisan manusia dengan alam. Puncak acara diwarnai tradisi rayahan gunungan oleh warga, kenduri bersama, serta pementasan wayang kulit semalam suntuk sebagai penutup.

Dukuh Donolayan, Arif Irnawan, menegaskan bahwa Merti Dusun memiliki dimensi spiritual, sosial, dan edukasi budaya yang sangat penting bagi keberlanjutan generasi muda di wilayahnya.

“Gunungan yang berisi hasil bumi merupakan simbol sedekah kepada sesama sekaligus ungkapan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan. Melalui Merti Dusun, kami ingin menanamkan kepada anak-anak dan generasi muda bahwa budaya merupakan identitas yang harus dijaga bersama. Tradisi ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan warisan yang mengajarkan gotong royong, kepedulian sosial, rasa syukur, dan penghormatan kepada leluhur,” ujar Arif Irnawan di sela-sela prosesi adat.

Arif menambahkan, pihaknya optimistis Merti Dusun Donolayan dapat terus dikembangkan secara kreatif tanpa menghilangkan marwah tradisinya. Ke depan, agenda kebudayaan ini diproyeksikan menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu menggerakkan roda ekonomi lokal melalui keterlibatan pelaku UMKM dan potensi kuliner tradisional desa. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




Ratusan Warga Ngancar Cangkringan Semarakkan HUT ke-81 RI Lewat Jalan Sehat dan Pesta Rakyat

Sleman — Ratusan warga dari berbagai tingkatan usia memadati Lapangan Voli Dusun Ngancar, Kalurahan Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, pada Minggu (23/08/2026). Kehadiran masyarakat lereng Gunung Merapi ini dalam rangka mengikuti kegiatan Jalan Sehat dan Pesta Rakyat yang diselenggarakan untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kegiatan yang dimulai pukul WIB tersebut dipusatkan di Lapangan Voli Dusun Ngancar sebagai titik awal (start) dan titik akhir (finish) rute jalan sehat.

Ketua Panitia Penyelenggara, Dani, mengutarakan bahwa agenda tahunan ini dirancang sebagai wadah kebersamaan untuk menyatukan seluruh elemen masyarakat di wilayah Ngancar.

“Semoga jalan sehat ini dilancarkan dan dapat mempererat persatuan antara panitia dan warga,” ujar Dani di sela-sela keberangkatan peserta.

Senada dengan hal itu, Dukuh Ngancar, Teguh, menegaskan bahwa momentum perayaan kemerdekaan sangat penting untuk menjaga keharmonisan dan ikatan silaturahmi antarwarga padukuhan.

“Dengan adanya jalan sehat ini, kita bisa saling bersosialisasi dan berkomunikasi serta mempererat tali persaudaraan,” tutur Teguh.

Usai menyelesaikan rute jalan sehat, suasana kebersamaan berlanjut dengan pengundian aneka hadiah kejutan (doorprize) serta panggung hiburan musik organ tunggal yang mengajak warga bernyanyi bersama. Kesan positif turut dirasakan oleh salah satu pemuda setempat, Azril Nur Rofi, yang mengapresiasi kelancaran jalannya acara.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, para pemuda dan warga Padukuhan Ngancar bergotong royong menggelar aksi bersih lingkungan dengan memungut sampah di sekitar area Lapangan Voli Dusun Ngancar hingga lokasi kembali bersih dan rapi. (Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)




Rawat Tradisi Leluhur, Warga RT 03 Rejosari Gelar Kenduri Syukuran HUT ke-81 RI

Sleman — Warga RT 03 Padukuhan Rejosari, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, menyelenggarakan tradisi kenduri bersama pada Minggu (23/08/2026) malam. Acara yang dipusatkan di kediaman Buyat Kuntolo tersebut digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus wujud doa bersama untuk keselamatan dan kesejahteraan seluruh warga.

Tradisi kenduri yang dipandu oleh Siti Eny Nurjanah ini dihadiri oleh puluhan warga setempat dalam suasana khidmat dan hangat. Acara diawali dengan pemanjatan doa syukur secara islami yang dipimpin oleh Riyan, dilanjutkan dengan makan bersama sajian kuliner khas Jawa yang disiapkan secara swadaya oleh masyarakat.

Meskipun beberapa penyesuaian dilakukan mengikut perkembangan zaman—seperti olahan ayam ingkung yang kini disajikan dalam bentuk potongan bumbu rica-rica agar lebih praktis—nilai-nilai spiritual dan kebersamaan dalam tradisi ini tetap terjaga secara utuh.

Ketua RT 03 Rejosari, Iksan Nurhadi, menegaskan bahwa penyesuaian cara penyajian tidak mengurangi esensi filosofis dari kenduri itu sendiri.

“Meskipun cara masak dan penyajian berubah, tetapi makna dari kenduri tetap terjaga, sebagai ajang silaturahmi, bentuk syukur, serta doa keselamatan, kesehatan, serta limpahan rezeki bagi warga juga seluruh bangsa Indonesia,” ujar Iksan Nurhadi di sela-sela acara.

Iksan juga memanfaatkan momentum kemerdekaan ini untuk mengimbau warganya agar senantiasa merawat ikatan kebersamaan, menjaga keamanan lingkungan, serta membudayakan gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.

“Dengan silaturahmi, kebersamaan, dan gotong royong sebagai modal pembangunan kampung, desa, dan negara,” pungkas Iksan.

Melalui perhelatan kenduri syukuran ini, warga RT 03 Rejosari membuktikan bahwa perayaan kemerdekaan tidak hanya sebatas seremonial hiburan, melainkan juga wahana memperkuat ikatan sosial dan spiritualitas berbasis tradisi lokal. (Kusnadi/KIM Berbah)