Diikuti 205 Atlet, Kejuaraan Daerah Catur DIY 2026 Resmi Dibuka

Sleman — Bupati Sleman, Harda Kiswaya, yang diwakili oleh Ketua KONI Kabupaten Sleman, Haris Sutarta, secara resmi membuka Kejuaraan Daerah (Kejurda) Catur Daerah Istimewa Yogyakarta 2026 di Aula Bappeda Kabupaten Sleman pada Sabtu (22/08/2026). Kejuaraan tingkat provinsi yang diselenggarakan selama tiga hari pada 22, 23, dan 25 Agustus 2026 ini diikuti oleh 205 atlet pecatur terbaik dari empat kabupaten dan satu kota se-DIY.

Acara pembukaan tersebut turut dihadiri oleh Sekretaris Umum KONI DIY Sigit Sapto Raharjo, Ketua Pengda Percasi DIY Iwan Prihastomo, Ketua Percasi Sleman Nuradi Indrawijaya, perwakilan Dispora Sleman Hamzah, serta jajaran panitia pelaksana.

Wakil Ketua Panitia Pelaksana Kejurda Catur DIY 2026, Suranto, menjelaskan bahwa ajang ini dirancang sebagai wadah seleksi resmi untuk menjaring atlet-atlet catur potensial yang nantinya akan mewakili Kontingen DIY pada kejuaraan di tingkat yang lebih tinggi.

“Semoga Kejurda Catur DIY 2026 berjalan lancar serta memberikan manfaat bagi perkembangan catur di DIY,” ujar Suranto saat menyampaikan laporan panitia.

Sekretaris Umum KONI DIY, Sigit Sapto Raharjo, mengapresiasi kesiapan panitia dan menekankan bahwa cabang olahraga catur merupakan salah satu lumbung medali yang diandalkan untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) mendatang. Senada dengan hal itu, Ketua Pengda Percasi DIY, Iwan Prihastomo, mengonfirmasi bahwa Kejurda kali ini menerapkan sistem catur standar agar para atlet terbiasa dengan regulasi pertandingan tingkat nasional.

Sementara itu, Bupati Sleman, Harda Kiswaya, dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Ketua KONI Sleman Haris Sutarta, menyampaikan pesan inspiratif mengenai filosofi olahraga catur bagi pembentukan karakter para atlet.

“Catur bukan sekadar permainan, namun pertandingan yang mempergunakan pikiran di atas 64 petak. Setiap langkah bidak mengajarkan kita untuk berpikir sebelum bertindak. Kejurda ini adalah panggung untuk mencari bibit-bibit terbaik yang kelak mengharumkan nama DIY di tingkat nasional bahkan internasional. Marilah kita jadikan kejuaraan ini sebagai ajang silaturahmi, prestasi, dan pembinaan,” tegas Harda Kiswaya dalam sambutannya.

Bupati juga mengajak seluruh atlet untuk bertanding dengan menjunjung tinggi nilai sportivitas serta menghormati setiap keputusan wasit dan dewan juri, sehingga mampu melahirkan juara yang terhormat di dalam maupun di luar arena pertandingan. (Kusnadi/KIM Berbah)




Gandeng KSM UPN Veteran Yogyakarta, Forkom UMKM Sardonoharjo Latih Pelaku Usaha Gunakan AI untuk Branding Produk

Sleman — Kelompok Studi Mahasiswa (KSM) Pemasaran Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis UPN Veteran Yogyakarta bekerja sama dengan Forum Komunikasi (Forkom) UMKM Kalurahan Sardonoharjo menggelar sosialisasi dan pelatihan digital bertajuk “Inovasi Branding UMKM Berbasis AI di Era Digital” pada Sabtu (22/08/2026). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, ini diselenggarakan sebagai langkah konkret mendorong pelaku usaha lokal naik kelas di era ekonomi digital.

Pelatihan yang berlangsung dari pagi hingga siang hari tersebut menghadirkan narasumber Joko Yugiyanto, Pemimpin Redaksi Kanal Jogja sekaligus Fasilitator Pandu Literasi Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI.

Dalam pemaparannya, Joko Yugiyanto menekankan pentingnya bagi para perajin dan pengusaha lokal untuk menggeser paradigma dari sekadar menjual barang menjadi pembangun merek (brand builder) yang profesional dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

“Tujuan pelatihan ini untuk memahami branding, membedakan jualan dengan membangun brand, mengenal AI sebagai asisten branding, serta membuat konten promosi menggunakan AI,” terang Joko Yugiyanto di hadapan para peserta.

Ketua Forkom UMKM Kalurahan Sardonoharjo, Lina Syafira, menyampaikan bahwa kemitraan strategis ini merupakan modal penting untuk memperkuat daya saing dan ekosistem UMKM Sardonoharjo yang selama ini dikenal sangat aktif.

“Sardonoharjo dipilih menjadi tempat acara karena memang UMKM Sardonoharjo sudah dikenal masyarakat. Dengan adanya kolaborasi ini diharapkan dapat menjadikan UMKM naik kelas,” ujar Lina Syafira.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Kegiatan dari KSM Pemasaran UPN Veteran Yogyakarta, Diah Ayu Kusumaningtyas, menjelaskan bahwa agenda ini merupakan bentuk pengabdian masyarakat guna mentransfer pengetahuan pemasaran modern dari kampus ke tingkat tapak.

“Kegiatan ini merupakan program kerja Project Management Department KSM Pemasaran Ilmu Administrasi Bisnis UPN Veteran Yogyakarta sekaligus sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam bidang pemasaran,” ungkap Diah Ayu Kusumaningtyas.

Manfaat nyata dari pelatihan pemanfaatan AI ini dirasakan langsung oleh salah satu peserta penyandang disabilitas pemilik usaha tas buatan tangan SRED, Endang Sundayani. Menurutnya, instruksi praktis penggunaan AI sangat membantu efisiensi dan kemandirian promosi produk usahanya.

“Pelatihan ini sangat bermanfaat. Hasil editan menggunakan AI lebih keren dan hidup. Sangat membantu untuk kemandirian seorang disabilitas seperti saya,” tutur Endang Sundayani.

Sinergi antara akademisi UPN Veteran Yogyakarta, praktisi literasi digital, dan Forkom UMKM Sardonoharjo ini diharapkan dapat memacu kemandirian para pelaku usaha mikro di Sleman agar mampu menghasilkan materi promosi yang adaptif, kreatif, serta berdaya saing tinggi di pasar digital nasional. (Egi Prayoga/KIM DSN NGAGLIK)




Branding Cerdas UMKM Berkelas, Pelaku Usaha Kecil Sardonoharjo Diajak Manfaatkan AI untuk Garap Pasar Digital

Sleman — Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kalurahan Sardonoharjo didorong untuk mulai mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) guna membangun identitas merek yang kuat tanpa terbebani anggaran operasional yang besar. Pesan tersebut mengemuka dalam pelatihan Brand Development Outreach 2026 bertajuk “Branding Cerdas, UMKM Berkelas” yang diselenggarakan di Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (22/08/2026).

Kegiatan edukatif yang berlangsung sejak pagi hingga menjelang siang ini menghadirkan narasumber Joko Yugiyanto, yang dikenal sebagai Pemimpin Redaksi Kanal Jogja, Pendamping UMKM BAZNAS Sleman, serta Fasilitator Pandu Literasi Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI.

Dalam pemaparannya, Joko Yugiyanto mengungkapkan bahwa hambatan utama yang kerap membuat produk UMKM lokal stagnan bukan berasal dari kualitas barang yang rendah, melainkan akibat ketiadaan diferensiasi serta lemahnya tingkat kepercayaan konsumen.

“Banyak UMKM sulit berkembang bukan karena produknya jelek, tetapi karena produknya tidak dikenal, tidak memiliki pembeda, dan sulit dipercaya oleh pelanggan baru. Dampaknya, pelaku usaha selalu terjebak dalam persaingan harga. Padahal produk yang bagus belum tentu laku, namun produk yang dipercaya jauh lebih mudah dibeli,” ujar Joko Yugiyanto di hadapan puluhan peserta.

Joko menjelaskan, teknologi AI dapat hadir sebagai solusi praktis hemat biaya bagi UMKM skala mikro. Melalui aplikasi kecerdasan buatan, para pelaku usaha dapat mengeksplorasi ide promosi, menyusun narasi pemasaran yang persuasif, hingga memetakan target konsumen secara presisi tanpa harus menyewa jasa konsultan pemasaran profesional.

Salah seorang peserta asal Padukuhan Dayakan, Ajeng, mengutarakan apresiasinya atas materi praktis yang diberikan. Menurutnya, pemanfaatan AI memberi sudut pandang baru dalam mengemas produk lokal agar tampil modern dan menarik perhatian pembeli digital.

“Adanya acara ini agar kami lebih mengetahui cara marketing maupun branding produk menggunakan AI,” kata Ajeng.

Senada dengan hal itu, peserta lainnya asal Kalurahan Sariharjo, Zuardi, merasa mendapat nilai tambah berupa relasi bisnis baru antar-sesama perajin dan pengusaha lokal di wilayah Ngaglik.

“Manfaat acara ini banyak sekali. Kami mendapatkan informasi tentang marketing dan relasi juga bertambah,” ungkap Zuardi.

Melalui penguasaan alat bantu digital seperti AI, pelaku UMKM di tingkat kalurahan diharapkan mampu mentransformasi pola bisnis dari sekadar perang harga menuju persaingan nilai tambah (value-based competition), sehingga produk lokal Sleman makin berkelas dan berdaya saing tinggi di pasar nasional. (Egi Prayoga/KIM DSN NGAGLIK)




Kritik Korupsi Pejabat Lewat Panggung Tradisi, Anak Muda Baransari Pentaskan Ketoprak “Payung Tanpa Tedeng”

Sleman — Kelompok Ketoprak Ngesti Budoyo Baransari menggelar pementasan seni tradisional berlakon “Payung Tanpa Tedeng” di Padukuhan Ngalangan, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (22/08/2026) malam. Pertunjukan seni yang diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia ini menyedot perhatian warga karena mengemas pesan kritik sosial tajam terhadap perilaku koruptif para pejabat publik.

Pementasan tersebut disutradarai oleh Danang Dewo Broto yang juga merupakan pengurus Sanggar Sumbogo Laras RW 42 Baransari. Pertunjukan ini unik karena mengusung kolaborasi erat antara seniman senior sanggar dengan para pemuda dari organisasi kepemudaan Orasi 42 Baransari.

Dalam lakon “Payung Tanpa Tedeng”, panggung ketoprak menggambarkan potret oknum pamong atau penyelenggara negara yang menyalahgunakan wewenang demi memperkaya diri sendiri dan gagal memberikan teladan moril bagi rakyatnya. Melalui dialog jenaka namun menohok, anak-anak muda Baransari berhasil menghidupkan pesan moral di atas panggung seni kerakyatan.

Sutradara pementasan, Danang Dewo Broto, menjelaskan bahwa pemilihan teater tradisional ketoprak sebagai media kritik ditujukan agar kesenian daerah tetap kontekstual dan adaptif menyikapi isu-isu terkini bangsa.

“Ketoprak ini merupakan kolaborasi bersama pemuda Orasi 42 Baransari. Ceritanya Payung Tanpa Tedeng, berupa kritik sosial kepada penyelenggara negara, terutama tentang pamong yang korupsi dan tidak bisa menjadi contoh yang baik,” ujar Danang Dewo Broto di sela-sela acara.

Danang menekankan bahwa pementasan ini tidak sekadar bermaksud memberikan hiburan rakyat semata, melainkan menjadi strategi kebudayaan untuk memicu minat dan keterlibatan langsung generasi muda dalam agenda regenerasi seni tradisi.

“Dengan ketoprak ini kami ingin meningkatkan partisipasi generasi muda untuk melestarikan kebudayaan,” tegas Danang.

Ia menambahkan, tantangan terbesar kelompok seni di tingkat akar rumput saat ini adalah menjaga konsistensi regenerasi pemain, khususnya pada kelompok pengrawit atau penabuh gamelan yang masih didominasi generasi sepuh. Oleh sebab itu, jajaran pengurus telah menjadwalkan program latihan berkala bagi para pemuda Baransari agar regenerasi seniman dapat berjalan secara berkesinambungan.

Melalui pementasan di Padukuhan Ngalangan ini, panggung ketoprak terbukti mampu menjelma menjadi ruang refleksi kritis, tempat bertemunya gagasan lintas generasi, sekaligus benteng pelestarian budaya lokal yang tetap relevan menyuarakan keadilan sosial. (Andy Ahmad/KIM DSN NGAGLIK)




Perkuat Pelayanan Keagamaan dan Kerukunan Warga, 51 Rois Condongcatur Intensifkan Silaturahmi Rutin Selapanan

Sleman — Forum Rois Kalurahan Condongcatur menggelar pertemuan rutin selapanan di Masjid Al-Qona’ah, Krangkungan, Padukuhan Sanggrahan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (22/08/2026). Pertemuan berkala ini diselenggarakan guna mempererat silaturahmi, memperkuat komunikasi, serta mengonsolidasikan pelayanan keagamaan dan sosial bagi warga di wilayah setempat.

Pertemuan yang diampu oleh Rois Krangkungan, Nuryadi, tersebut dihadiri puluhan rois dari berbagai padukuhan. Selain menjadi sarana pembinaan internal, forum rutin yang digelar setiap Sabtu Legi ini dimanfaatkan sebagai wadah bertukar pengalaman terkait dinamika keagamaan serta pelayanan sosial di tengah masyarakat.

Ketua Forum Rois Condongcatur, Tugiyo Abdullah, menegaskan bahwa kekompakan 51 rois yang tersebar di 18 padukuhan se-Kalurahan Condongcatur merupakan modal sosial yang sangat penting dalam menjaga iklim kemasyarakatan yang kondusif.

“Forum ini menjadi ruang bagi para rois untuk terus menjaga silaturahmi, saling belajar, dan berbagi pengalaman. Dengan komunikasi yang baik, kami berharap 51 rois yang tersebar di 18 padukuhan tetap kompak dan dapat memberikan pelayanan keagamaan kepada masyarakat dengan sebaik-baiknya,” ujar Tugiyo Abdullah di sela-sela kegiatan.

Tugiyo menambahkan, peran rois di tingkat tapak tidak hanya terbatas pada ritual keagamaan formal semata, melainkan menyentuh seluruh fase kehidupan warga. Pengabdian rois hadir mulai dari prosesi doa kelahiran anak, tasyakuran, pernikahan, pemulasaraan jenazah, hingga pendampingan sosial keagamaan sehari-hari.

“Rois hadir di tengah masyarakat dalam berbagai momentum kehidupan. Karena itu, selain menjalankan tugas keagamaan, kami juga mempunyai tanggung jawab moral untuk ikut menjaga kerukunan, guyub rukun, kepedulian, serta tradisi baik yang sudah tumbuh di masyarakat,” tegasnya.

Tuan rumah kegiatan, Nuryadi, turut mengamini pentingnya koordinasi yang solid antarrois agar setiap kendala pelayanan sosial di lapangan dapat diselesaikan secara bersama-sama.

“Pertemuan ini bukan sekadar menjadi ajang silaturahmi. Yang lebih penting adalah bagaimana para rois dapat saling berbagi pengalaman, memperkuat kebersamaan, dan bersama-sama meningkatkan pelayanan kepada masyarakat,” ungkap Nuryadi.

Pemerintah Kalurahan Condongcatur sendiri terus memberikan dukungan nyata terhadap dedikasi para rois. Pada tahun 2026, seluruh rois mendapatkan pembinaan berkelanjutan, insentif, hingga jaminan perlindungan kerja melalui kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan yang mencakup program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM). Langkah ini diharapkan semakin menguatkan rasa aman dan motivasi para rois dalam mengabdi kepada masyarakat. (Wasana/KIM Depok)