Bantu Kelompok Rentan, Badan Pangan Nasional Salurkan Bantuan Beras Bagi 1.833 Warga Maguwoharjo

Sleman — Badan Pangan Nasional (BPN) menyalurkan bantuan pangan komoditas beras alokasi bulan Juli, Agustus, dan September 2026 kepada warga Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (22/08/2026). Penyaluran bantuan yang dipusatkan di kantor kalurahan setempat ini ditujukan untuk memperkuat jaring pengaman sosial dan ketahanan pangan warga rentan.

Proses pendistribusian beras tersebut dilaksanakan oleh Perum Bulog Kanwil Yogyakarta bersama Bulog Kabupaten Sleman. Masing-masing Keluarga Penerima Manfaat (KPM) atau Penerima Bantuan Pangan (PBP) menerima alokasi sebanyak 30 kilogram beras sekaligus untuk pemenuhan tiga bulan penyaluran.

Penjabat Lurah Maguwoharjo, R. Hery Subagio, menyampaikan bahwa intervensi pangan dari pemerintah pusat ini menyasar kelompok masyarakat yang sangat membutuhkan guna meringankan pengeluaran harian rumah tangga.

“Bantuan ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga penerima sekaligus mengurangi beban pengeluaran rumah tangga,” ujar R. Hery Subagio di sela-sela pemantauan penyaluran.

Ia menambahkan, program bantuan pangan secara berkala ini juga berperan penting dalam meredam gejolak harga beras di pasaran serta menjaga daya beli masyarakat di tingkat bawah.

“Penyaluran ini tidak hanya membantu masyarakat yang membutuhkan, tetapi juga mendukung upaya menjaga kestabilan harga pangan di tengah kebutuhan rumah tangga yang terus berjalan,” lanjutnya.

Hery juga menegaskan pentingnya validitas data penerima agar tidak terjadi ketimpangan distribusi di lapangan. Pihaknya mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan bantuan beras tersebut secara bijak demi pemenuhan gizi seluruh anggota keluarga.

“Harapannya, bantuan ini dapat memperkuat ketahanan pangan keluarga, menjaga daya beli masyarakat, dan memberikan manfaat nyata bagi warga Maguwoharjo yang masuk kelompok rentan,” pukas Hery Subagio. (Athiful/KIM Depok)




Memetri Bumi Nggulowentah Generasi, Sri Tumuwuh Dorong Regenerasi Penghayat Lewat Sekolah Agama Leluhur

Sleman — Lembaga Sri Tumuwuh kembali menggelar Sekolah Agama Leluhur Tingkat DIY Angkatan ke-4 Tahun 2026 bertajuk “Memetri Bumi, Nggulowentah Generasi” di Sekretariat Lembaga Sri Tumuwuh, Jalan Seyegan–Tempel, Bulak Kenari Kregolan, Margomulyo, Seyegan, Sleman, yang berlangsung selama tiga hari mulai Jumat (21/08/2026) hingga Minggu (23/08/2026). Perhelatan edukatif ini diselenggarakan sebagai ruang belajar sekaligus strategi mematangkan regenerasi pemuda penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Agenda yang diikuti oleh 30 peserta penghayat dari berbagai wilayah di DIY ini terselenggara atas kerja sama Lembaga Sri Tumuwuh dengan Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada, serta didukung penuh oleh Direktorat Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat (BKMA) Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Perwakilan Sekretariat Sri Tumuwuh, Kukuh Tigo Manggolo, menjelaskan bahwa program ini dirancang khusus guna membekali generasi muda penghayat dengan pemahaman kritis mengenai kearifan lokal, spiritualitas ekologis, dan ketahanan pangan berbasis penanggalan pranata mangsa.

“Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas keorganisasian dan kepemimpinan pemuda penghayat Kepercayaan, sekaligus membangun kesadaran kritis lintas generasi mengenai keterkaitan ritual tanam-panen, pranata mangsa, dan praktik spiritual penghayat, termasuk ngrowot,” ujar Kukuh Tigo Manggolo.

Kukuh menambahkan bahwa forum ini juga menjadi momentum untuk mendokumentasikan pengetahuan komoditas pangan lokal yang mulai langka di ingatan generasi muda, seperti tanaman gadung, ganyong, garut, suweg, dan gembili.

Hadir memberikan arahan pada hari kedua kegiatan, Direktur BKMA Kementerian Kebudayaan RI, Syamsul Hadi, menyoroti tantangan mendesak terkait minimnya partisipasi anak muda dalam struktur maupun laku kebudayaan organisasi kepercayaan yang masih didominasi generasi sepuh.

“Tantangan pewarisan pengetahuan leluhur dan eksistensi penghayat Kepercayaan perlu mendapat perhatian bersama. Organisasi kepercayaan masih banyak ditopang oleh generasi sepuh, sementara keterlibatan dan pemahaman generasi muda terhadap ajaran leluhur semakin lemah,” tegas Syamsul Hadi.

Menurut Syamsul, berkurangnya tradisi ngrowot dan pemaknaan pangan lokal bukan sekadar pudarnya sebuah kebiasaan, melainkan hilangnya identitas budaya serta kesadaran keterhubungan manusia dengan alam. Ia berharap Sekolah Agama Leluhur mampu melahirkan kepemimpinan muda penghayat yang memiliki kecakapan organisasi, memahami doktrin spiritualitas ekologis, dan mampu melestarikan pangan lokal sebagai laku hidup sehari-hari.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok mendalam yang membedah kebutuhan dasar manusia yaiut papan, sandang, dan pangan, serta penyerahan rekomendasi program penguatan komunitas penghayat berbasis kearifan lokal. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Bantu Warga Terdampak Kekeringan, Takmir Masjid YAMP Nogotirto Salurkan 85 Tangki Air Bersih ke Gunungkidul

Sleman — Takmir Masjid Yayasan Amalbhakti Muslim Pancasila (YAMP) Nogotirto, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa 85 tangki air bersih ke sejumlah wilayah di Kabupaten Gunungkidul pada Sabtu (22/08/2026). Aksi sosial ini digelar untuk membantu meringankan beban masyarakat yang mengalami krisis air bersih.

Ketua Takmir Masjid YAMP Nogotirto, Djumari, menjelaskan bahwa program tanggap darurat kekeringan ini berhasil terealisasi berkat kolaborasi sinergis antara pengurus masjid, Yayasan Amal Sosial Islam Nogotirto (Yasin), serta Jamaah Pengajian Ibu-Ibu As-Sakinah.

“Jamaah dan masyarakat berhasil menghimpun dana sebesar . Seluruh dukungan tersebut kami arahkan menjadi bantuan air bersih agar manfaatnya dapat langsung dirasakan masyarakat yang membutuhkan,” ujar Djumari di sela-sela pemberangkatan bantuan.

Djumari menguraikan, alokasi 85 tangki air bersih tersebut didistribusikan secara terukur ke empat titik wilayah penerima berdasarkan hasil pemetaan kebutuhan di lapangan. Rinciannya mencakup Padukuhan Kendal dan Padukuhan Songwaluh di Kalurahan Melikan, Kapanewon Rongkop, yang masing-masing memperoleh 15 tangki. Selanjutnya, sebanyak 15 tangki disalurkan ke Padukuhan Bulurejo, Kapanewon Saptosari, sementara 40 tangki sisanya dialokasikan khusus untuk kebutuhan santri di Panti Asuhan Ainul Yaqin, Padukuhan Karangtengah, Kalurahan Sumberwungu, Kapanewon Tepus.

Menurut Djumari, gerakan tanggap bencana ini menjadi bukti konkret bahwa masjid memiliki peran sosial yang sangat luas di luar fungsi utamanya sebagai tempat ibadah ritual.

“Kami ingin semangat berbagi tidak berhenti pada pengumpulan dana saja, tetapi hadir dalam bentuk bantuan nyata. Air bersih merupakan kebutuhan dasar, sehingga kami berharap bantuan ini benar-benar meringankan beban masyarakat,” tegasnya.

Djumari berharap kolaborasi kemanusiaan antara pengurus masjid, lembaga yayasan sosial, kelompok pengajian ibu-ibu, dan masyarakat umum ini dapat terus terjalin secara berkelanjutan demi menjangkau lebih banyak warga yang membutuhkan uluran tangan. (Athiful/KIM Depok)




Pertama di Sleman, Lomba Gobak Sodor Antar-KWT di Moyudan Dibuka Bupati Harda Kiswaya

Sleman — Lapangan Sumbersari dipadati sorak sorai antusiasme warga saat Komite Permainan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) Kapanewon Moyudan sukses menggelar Lomba Gobak Sodor antar-Kelompok Wanita Tani (KWT) se-Kapanewon Moyudan pada Sabtu (22/08/2026). Perhelatan unik yang baru pertama kali diselenggarakan di Kabupaten Sleman ini dibuka secara langsung oleh Bupati Sleman, Harda Kiswaya.

Pembukaan kejuaraan olahraga tradisional tersebut turut dihadiri oleh Panewu Moyudan beserta jajaran Forum Pimpinan Kapanewon (Forpimka) Moyudan, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman Esti Listyawati, serta para lurah se-Kapanewon Moyudan.

Dalam sambutannya, Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada KPOTI Moyudan yang telah menginisiasi lomba gobak Sodor antar-KWT. Ia menekankan bahwa ajang ini bukan sekadar mengejar piala kemenangan, melainkan ajang pelestarian warisan budaya lokal di tengah gempuran era modern.

“Jangan sampai kemajuan teknologi membuat kita lupa akar budaya dan permainan rakyat yang telah diwariskan para leluhur kita. Gobak sodor merupakan salah satu permainan tradisional yang memiliki nilai pendidikan yang luar biasa. Dibutuhkan kekompakan, strategi, kepercayaan, dan semangat pantang menyerah. Harapan saya, melalui kegiatan ini warga bukan hanya kompak ketika di lapangan, tetapi juga kompak dalam kehidupan bermasyarakat,” tegas Harda Kiswaya di hadapan para peserta.

Harda menambahkan, keterlibatan anggota KWT sebagai peserta menjadi kombinasi tepat antara pelestarian budaya, olahraga rekreasi, dan pemberdayaan perempuan. Selama ini, KWT tidak hanya terbukti tangguh dalam mendukung ketahanan pangan serta perekonomian keluarga, tetapi juga menjadi simpul pendorong solidaritas sosial di desa.

“Dalam gobak sodor, kemenangan tidak bisa diraih tanpa kerja sama. Demikian pula dalam membangun masyarakat dan Kabupaten Sleman. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, melainkan memerlukan partisipasi aktif masyarakat. Semangat kebersamaan inilah yang harus terus kita rawat dan jaga,” pungkas Harda Kiswaya.

Rangkaian seremoni pembukaan tersebut diakhiri dengan penyerahan piala bergilir dari Bupati Sleman kepada Ketua Panitia Pelaksana sebagai tanda dimulainya perebutan gelar juara Lomba Gobak Sodor antar-KWT se-Kapanewon Moyudan. (Giek/KIM Moyudan)




Dinas Sosial Sleman Buka Pendaftaran Perlindungan Sosial Digital Bagi Warga Maguwoharjo

Sleman — Dinas Sosial Kabupaten Sleman resmi membuka pendaftaran program Perlindungan Sosial (Perlinsos) berbasis digital bagi warga Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (22/08/2026). Inovasi pendaftaran digital ini diluncurkan guna memodernisasi tata kelola pendataan warga rentan agar lebih transparan, akuntabel, dan efisien.

Penjabat Lurah Maguwoharjo, R. Hery Subagio, mengingatkan masyarakat yang hendak mendaftar untuk mempersiapkan berkas kependudukan secara cermat, termasuk mengaktifkan aplikasi Identitas Kependudukan Digital (IKD) pada gawai masing-masing guna memperlancar validasi data.

“Data kependudukan yang lengkap dan IKD aktif akan membantu proses verifikasi berjalan lebih cepat dan aman. Karena itu, warga perlu memastikan data yang digunakan sudah sesuai,” ujar R. Hery Subagio di sela-sela pemantauan proses pendaftaran.

Ia menjelaskan bahwa program Perlinsos dirancang khusus oleh pemerintah untuk membentengi masyarakat dari berbagai guncangan serta risiko sosial-ekonomi, seperti ancaman kemiskinan ekstrem hingga pemutusan hubungan kerja. Melalui integrasi sistem digital, verifikasi penerima manfaat diharapkan dapat menekan potensi penyaluran bantuan yang tidak tepat sasaran.

“Perlindungan sosial hadir untuk membantu masyarakat menghadapi risiko yang dapat memengaruhi kondisi ekonomi dan kesejahteraan keluarga. Pendataan yang baik menjadi dasar agar program benar-benar menjangkau warga yang membutuhkan,” lanjut Hery Subagio.

Pihak kalurahan menekankan pentingnya kejujuran warga dalam memberikan informasi kondisi ekonomi yang sebenarnya saat mengisi formulir pendataan. Kedisiplinan input data ini penting agar azas keadilan dalam pembagian bantuan sosial dapat dirasakan oleh seluruh warga yang berhak.

“Harapannya, bantuan sosial semakin tepat sasaran, transparan, dan merata. Kami ingin memastikan tidak ada warga yang memenuhi kriteria justru tertinggal dari proses pendataan,” tegas Hery Subagio. Ia menambahkan bahwa prinsip no one left behind menjadi komitmen utama pemerintah kalurahan agar seluruh lapisan masyarakat rentan di Maguwoharjo mendapatkan hak jaminan sosial secara adil. (Athiful/KIM Depok)