Peringati HUT Ke-81 RI, PMI Sleman dan PT Keluarga Sembada Medika Gelar Donor Darah Rutin

Sleman — Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sleman berkolaborasi dengan PT Keluarga Sembada Medika menggelar aksi donor darah di Lantai 2 Klinik dan Apotek Keluarga Sembada pada Sabtu (22/08/2026). Kegiatan sosial ini diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus wadah untuk memupuk kepedulian antarmanusia.

Ketua PMI Kabupaten Sleman, Mafilindati Nuraini, menyampaikan bahwa perayaan hari kemerdekaan merupakan momentum yang sangat tepat untuk menebar kebaikan melalui aksi kemanusiaan yang memberikan dampak langsung bagi warga yang membutuhkan penanganan medis.

“Momentum kemerdekaan dapat kita isi dengan kegiatan kemanusiaan yang memberikan manfaat langsung. Donor darah menjadi salah satu bentuk kepedulian karena setiap kantong darah sangat berarti bagi masyarakat yang membutuhkan,” ujar Mafilindati Nuraini di sela-sela peninjauan kegiatan.

Ia juga menyampaikan apresiasinya kepada manajemen Klinik dan Apotek Keluarga Sembada yang dinilai sangat konsisten menyelenggarakan aksi donor darah secara berkala setiap tiga bulan sekali dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

“Rutinitas ini menunjukkan komitmen yang baik. Donor darah tidak hanya dilakukan pada satu momentum, tetapi telah menjadi agenda berkala sehingga dapat ikut membantu menjaga ketersediaan stok darah di Sleman,” lanjut Mafilindati.

Mafilindati memaparkan, jadwal donor darah rutin tersebut selalu diselaraskan dengan empat momen penting dalam setahun. Agenda pertama digelar pada Februari dalam rangka memperingati HUT Klinik dan Apotek Keluarga Sembada, dilanjutkan agenda Mei untuk memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Sleman, lalu perhelatan Agustus dalam memperingati HUT Kemerdekaan RI, serta agenda penutup pada November mendatang untuk memperingati Hari Kesehatan Nasional.

Melalui keberlanjutan agenda ini, PMI Kabupaten Sleman berharap kesadaran donor darah dapat tumbuh menjadi gaya hidup dan budaya sukarela di tengah masyarakat. Partisipasi aktif warga dalam mendonorkan darah secara berkala akan sangat mendukung terpenuhinya pemenuhan kebutuhan stok darah yang aman serta mencukupi bagi seluruh fasilitas kesehatan di wilayah Kabupaten Sleman. (Athiful/KIM Depok)




Cegah Penyebaran DBD, Kader Jumantik Condongcatur Sisir Rumah Warga Krangkungan

Sleman — Kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) RW 08 Krangkungan, Padukuhan Sanggrahan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, menggelar aksi pemantauan jentik secara intensif pada Sabtu (22/08/2026). Aksi jemput bola ini dilakukan dengan menyisir area pemukiman warga guna menekan risiko penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di lingkungan setempat.

Dalam kegiatan pemantauan tersebut, tim Jumantik menginspeksi berbagai sarana dan wadah penampungan air yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Lokasi yang disasar mencakup bak mandi, ember, vas bunga, wadah penampungan air buangan kulkas, hingga barang bekas di sekitar pekarangan rumah warga.

Ketua Jumantik Krangkungan, Nur Rahayu, menjelaskan bahwa pemeriksaan lapangan secara langsung sangat krusial untuk mendeteksi keberadaan jentik nyamuk sejak dini sebelum mewabah menjadi penyakit.

“Kami memeriksa tempat-tempat penampungan air yang berpotensi menjadi sarang jentik. Pemeriksaan rutin penting dilakukan agar warga dapat mencegah perkembangbiakan nyamuk sejak dari rumah,” kata Nur Rahayu di sela-sela pemantauan.

Selain melakukan inspeksi visual, kader Jumantik turut memberikan penyuluhan serta mengedukasi warga mengenai pentingnya konsistensi menerapkan gerakan 3M, yakni menguras, menutup penampungan air, dan mendaur ulang barang bekas. Warga juga diimbau memanfaatkan bubuk abate pada tempat penampungan air yang sulit dikuras atau memelihara ikan pemakan jentik.

Nur Rahayu menegaskan bahwa upaya pemberantasan sarang nyamuk tidak akan maksimal jika hanya bergantung pada jadwal pemeriksaan rutin kader. Peran aktif setiap kepala keluarga dalam menjaga kebersihan area hunian masing-masing menjadi kunci utama keberhasilan program pencegahan DBD.

“Warga perlu rutin memeriksa lingkungan rumah masing-masing. Jangan sampai ada air yang menggenang terlalu lama karena tempat seperti itu dapat menjadi lokasi berkembangnya jentik. Pencegahan akan lebih efektif apabila dilakukan bersama-sama dan terus-menerus,” tegasnya.

Seluruh data hasil pemantauan rumah warga tersebut dicatat secara rinci oleh kader Jumantik untuk disetorkan secara berkala kepada pihak Puskesmas setempat. Laporan rutin ini nantinya akan digunakan sebagai bahan evaluasi serta pemetaan wilayah rawan jentik guna menentukan langkah penanganan medis maupun lingkungan lebih lanjut. (Athiful/KIM Depok)




Edukasi Kesehatan Mata Sejak Dini, OPSI Sleman Sosialisasikan Metode 20-20-20 di SD Negeri Ngijon I

Sleman — Organisasi Profesi Optometris Sejati Indonesia (OPSI) Kabupaten Sleman menggelar kegiatan sosialisasi edukasi kesehatan mata bagi para siswa di SD Negeri Ngijon I, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, pada Jumat (21/08/2026). Kegiatan ini ditujukan untuk membangun kesadaran sejak usia dini akan pentingnya menjaga fungsi indera penglihatan demi menunjang kelancaran proses belajar mengajar.

Koordinator Divisi Edukasi dan Promosi Kesehatan OPSI Sleman, Ryandi Firdiansyah, menjelaskan bahwa indera penglihatan memiliki peran vital dalam mendukung aktivitas akademis anak. Menurutnya, kemampuan melihat yang prima sangat menentukan efektivitas siswa dalam membaca, menulis, menyerap materi visual di papan tulis, hingga beraktivitas di luar ruang kelas.

Dalam pemaparannya di hadapan para siswa, Ryandi memperingatkan bahaya kelelahan mata akibat penggunaan gawai tanpa jeda istirahat yang cukup. Ia pun memperkenalkan jurus praktis bernama metode 20-20-20 untuk mencegah gangguan penglihatan pada anak-anak.

“Prinsip 20-20-20 adalah aturan yang dirancang untuk memberikan istirahat sejenak bagi mata yang terus-menerus menatap layar komputer, ponsel, atau tablet. Caranya sangat sederhana, yakni setiap 20 menit, alihkan fokus mata dari layar dan lihatlah objek yang berjarak sekitar 20 kaki atau 6 meter selama minimal 20 detik,” jelas Ryandi Firdiansyah.

Selain menerapkan metode 20-20-20, Ryandi mengimbau para siswa untuk selalu menjaga jarak pandang saat membaca buku, memastikan pencahayaan ruangan memadai, mencuci tangan sebelum menyentuh area mata, serta tidak ragu melapor kepada guru atau orang tua jika merasakan keluhan seperti pandangan kabur dan pusing.

“Menjaga kesehatan mata bukan hanya dilakukan ketika mata sudah mengalami gangguan. Justru kebiasaan menjaga kesehatan mata perlu dibangun sejak anak-anak agar penglihatan dapat menunjang aktivitas mereka secara optimal,” tegas Ryandi.

Pihak sekolah menyambut positif inisiatif edukasi dari OPSI Sleman tersebut. Kepala Sekolah SD Negeri Ngijon I, Daris Sukoco, berharap materi sosialisasi ini mampu meningkatkan literasi kesehatan mata di lingkungan sekolah sekaligus memicu peran aktif orang tua dan guru dalam memantau kebiasaan penggunaan gawai pada anak.

“Lewat edukasi kesehatan mata sejak dini, siswa SD Negeri Ngijon I diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga penglihatan sebagai bagian dari pola hidup sehat. Kesadaran tersebut bermanfaat bagi kesehatan mata, sekaligus mendukung kepercayaan diri, aktivitas sehari-hari, dan kualitas proses pembelajaran anak,” ungkap Daris Sukoco. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Historia IV Hadirkan “Sukma Abhinaya”, Semangat Budaya dan Kebersamaan Warga Sedogan

Sleman — Padukuhan Sedogan, Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, menggelar puncak peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia bertajuk Historia IV pada Jumat (21/08/2026). Perayaan malam puncak tersebut dimeriahkan oleh pertunjukan seni kolosal dari komunitas kesenian Sukma Abhinaya asal Magelang yang memadukan tarian, tata busana, visual artistik, dan ekspresi tradisional.

Acara yang memikat perhatian ratusan warga lokal tersebut turut dihadiri oleh jajaran wakil rakyat dan pemerintah daerah. Selain menyajikan hiburan visual, perhelatan budaya ini dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat persatuan warga, mendorong pembangunan desa, serta melestarikan kebudayaan lokal.

Anggota DPRD DIY, Haris Sugiharta, mengapresiasi tinggi konsistensi warga Sedogan dalam merawat tradisi. Ia berharap kehadiran kelompok seni Sukma Abhinaya dapat menjadi pemantik pemuda setempat untuk terus melestarikan grup kesenian lokal, khususnya kesenian Topeng Ireng.

“Kebudayaan merupakan alat pemersatu dari semua perbedaan. Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Kemerdekaan harus kita isi dengan pembangunan, terutama adik-adik muda sebagai motor penggerak pembangunan,” ujar Haris Sugiharta dalam sambutannya.

Senada dengan hal tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Sleman, Wahyudi Kurniawan, menilai pesatnya kemajuan di Padukuhan Sedogan—termasuk perbaikan infrastruktur jalan—merupakan buah manis dari budaya gotong royong masyarakat bersama pemerintah setempat.

“Ini tentu karena panjenengan semuanya dan gotong royong seluruh warga. Mari terus menjaga persatuan dan kesatuan. Kami siap mendukung kegiatan panjenengan dan bergotong royong mewujudkan program pembangunan,” tegas Wahyudi Kurniawan.

Sementara itu, Lurah Lumbungrejo, M. Misbach Al Hakim, mengajak seluruh warganya untuk terus mempertahankan kerukunan agar Padukuhan Sedogan dapat menjadi percontohan bagi wilayah lain di Kalurahan Lumbungrejo.

“Kekompakan masyarakat mohon dipertahankan dan ditingkatkan. Baik senang maupun susah harus tetap kompak. Insyaallah Sedogan akan maju dan menjadi salah satu padukuhan contoh di Kalurahan Lumbungrejo,” tutur M. Misbach Al Hakim.

Melalui perhelatan Historia IV, pertunjukan seni tidak hanya hadir sebagai sarana hiburan rakyat semata, tetapi juga menjadi wadah mempererat tali silaturahmi, memantik kreativitas pemuda, serta memastikan nilai-nilai budaya nusantara tetap lestari di sanubari generasi penerus. (SBD/KIM Tempel)




Dinsos Sleman Dorong PSM Minggir Makin Solid, Tiga Program Prioritas Disiapkan

Sleman — Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sleman menggelar fasilitasi pembinaan sekaligus Rapat Kerja Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Kapanewon Minggir di Resto Unagi dan Udang Kreo, Sendangagung, Minggir, Sleman, pada Jumat (21/08/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan peran PSM sebagai garda terdepan dalam menangani berbagai persoalan kesejahteraan sosial di tengah masyarakat.

Rapat kerja tersebut diikuti oleh pengurus harian PSM Kapanewon Minggir, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), serta Tenaga Pendamping Sosial Kalurahan (TPSK). Turut hadir dalam forum tersebut Ketua Tim Kerja Kelembagaan dan Partisipasi Sosial Dinsos Kabupaten Sleman, Sri Handayani.

Ketua Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) Kapanewon Minggir, Sunu Tri Widada, menyampaikan bahwa fasilitasi dari Dinsos Sleman menjadi momentum krusial untuk mengevaluasi sekaligus merumuskan agenda strategis pengurus. “Fasilitasi Dinsos Sleman ini kami gunakan sebagai Rapat Kerja PSM untuk penyusunan program kerja dalam tahun berjalan,” ujar Sunu.

Senada dengan hal itu, TKSK Minggir, Masykuri, mengapresiasi konsistensi Dinsos Sleman dalam membina para relawan sosial di tingkat bawah. “Tujuan kegiatan ini tentu untuk mengatasi berbagai permasalahan kesejahteraan sosial. Saya berharap Rapat Kerja ini juga menghasilkan program kerja PSM untuk satu tahun mendatang,” tegas Masykuri.

Meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran yang berdampak pada frekuensi koordinasi, pengurus PSM Minggir dipastikan tetap aktif menjalankan aksi nyata di lapangan, seperti penyaluran dropping air bersih bagi warga yang membutuhkan.

Dalam arahannya, perwakilan Dinsos Sleman, Sri Handayani, menyoroti capaian Program Perlindungan Sosial (Perlinsos) yang baru menyentuh angka 20 persen hingga pertengahan Agustus 2026. Pihaknya mendorong adanya percepatan penyaluran serta optimalisasi sistem digitalisasi bantuan sosial agar lebih akurat dan tepat sasaran.

“Kami berharap ada akselerasi di akhir Agustus hingga mencapai 30 persen. Dengan produk Bansos digital, harapannya bantuan sosial bisa semakin tepat sasaran,” ungkap Sri Handayani. Ia menambahkan, Dinsos Sleman juga berencana menggelar Bimbingan Lanjut guna memperkuat kapasitas teknis para anggota PSM.

Dari hasil pembahasan tiga bidang kerja, yakni Bidang Diklat, Datim, dan Kemitraan, Raker PSM Kapanewon Minggir menyepakati tiga program prioritas utama. Ketiganya meliputi peningkatan kapasitas anggota, pendampingan serta bakti sosial masyarakat, dan pembaruan pendataan peserta pelayanan kesejahteraan sosial. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)