Komunitas OPSI Sleman Perkuat Deteksi Dini Gangguan Penglihatan Siswa SDN Sukoharjo

Sleman – Komunitas Optometris Sejati Indonesia (OPSI) Sleman menggelar bakti sosial berupa pemeriksaan mata lanjutan dan edukasi kesehatan penglihatan bagi 95 siswa SD Negeri Sukoharjo, Selasa (18/8/2026). Didukung pendanaan dari Yayasan OneSight EssilorLuxottica yang berkomitmen memperluas akses layanan kesehatan mata dan kacamata bagi masyarakat kurang mampu, kegiatan tersebut menjadi langkah promotif dan preventif untuk meningkatkan kesadaran anak sejak dini sekaligus mendeteksi potensi gangguan penglihatan yang dapat memengaruhi aktivitas belajar.
Menurut Ketua OPSI, Edy Siswanto, pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk memastikan kondisi penglihatan siswa secara lebih menyeluruh, terutama bagi anak yang sebelumnya menunjukkan adanya indikasi gangguan penglihatan. Melalui pemeriksaan tersebut, kondisi mata dan kemampuan melihat siswa dapat dipantau sehingga apabila ditemukan kelainan, dapat segera memperoleh penanganan atau tindak lanjut yang semestinya.
“Kesehatan mata memiliki peran penting dalam mendukung proses belajar siswa. Kemampuan melihat yang baik membantu anak membaca, menulis, mengikuti pembelajaran di papan tulis, menggunakan perangkat pembelajaran, serta beraktivitas secara optimal di lingkungan sekolah maupun di rumah,” jelasnya.
Selain pemeriksaan mata lanjutan, edukasi kesehatan mata diberikan oleh Ryandi Firdiansyah dari Divisi Edukasi dan Promosi Kesehatan OPSI untuk membangun kebiasaan positif pada siswa. Materi edukasi diarahkan pada pentingnya menjaga kebersihan mata, menggunakan gawai secara bijak, memberikan waktu istirahat bagi mata, memperhatikan jarak membaca, serta menjaga pencahayaan yang memadai ketika membaca maupun belajar.
Kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk mengenalkan kepada siswa bahwa gangguan penglihatan tidak selalu ditandai dengan keluhan yang berat. Kesulitan melihat tulisan dari jarak jauh, sering menyipitkan mata, mendekatkan buku saat membaca, sakit kepala, atau cepat lelah ketika belajar dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan dan diperiksa lebih lanjut.
Ryandi mendorong guru dan orang tua siswa untuk ikut berperan dalam memantau kesehatan mata anak. Pengawasan secara berkelanjutan dinilai penting karena anak terkadang belum mampu mengenali atau menyampaikan secara tepat ketika mengalami gangguan penglihatan. Menurutnya, pemeriksaan mata di lingkungan sekolah memiliki nilai strategis karena memungkinkan deteksi dini dilakukan secara lebih dekat dengan siswa.
“Hasil pemeriksaan dapat menjadi dasar untuk menentukan apakah seorang siswa membutuhkan pemantauan lebih lanjut, pemeriksaan profesional lanjutan, atau koreksi penglihatan sesuai kondisi yang ditemukan,” sambungnya.
Melalui kegiatan tersebut, Kepala SD Negeri Sukoharjo, Sri Hariyati Qodriyah berharap edukasi kesehatan mata tidak berhenti pada pemeriksaan, tetapi dapat membentuk kesadaran dan perilaku sehat yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Upaya promotif dan preventif sejak usia sekolah diperlukan untuk menjaga kualitas penglihatan sekaligus mendukung tumbuh kembang dan prestasi belajar anak.
“Pemeriksaan mata lanjutan dan edukasi kesehatan mata ini sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara komunitas profesi, sekolah, guru, dan orang tua dalam membangun generasi yang memiliki kesadaran terhadap kesehatan penglihatan. Dengan pemeriksaan berkala dan kebiasaan menjaga kesehatan mata, berbagai gangguan penglihatan diharapkan dapat diketahui lebih awal dan ditangani secara tepat,” tandasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)



