AI Generatif Buka Jalan Ekonomi Kreator, Literasi dan Perlindungan Data Jadi Kunci

Sleman — Akses masyarakat untuk terjun ke industri kreatif semakin terbuka lebar berkat pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI) generatif. Produksi konten digital yang sebelumnya memerlukan perangkat berbiaya tinggi dan tim khusus kini dapat dieksekusi lebih efisien melalui bantuan teknologi.
Peluang serta tantangan adopsi teknologi tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) nasional bertema “Pengembangan Model Integratif Kesiapan Adopsi Artificial Intelligence Generatif dan Kepatuhan Perlindungan Data pada Content Creator Indonesia” yang berlangsung di Hotel Malioboro Prime, Kota Yogyakarta, pada Sabtu (29/08/2026). Agenda yang merupakan bagian dari Penelitian Fundamental Reguler Hibah BIMA Kemdiktisaintek Tahun 2026 ini menekankan pentingnya kepatuhan perlindungan data pribadi di tengah gempuran teknologi digital.
Ketua Forum Komunitas Informasi Masyarakat (FKIM) Sembada Kabupaten Sleman, Adnan Iman Nurtjahyo Amir, mengutarakan bahwa pemanfaatan AI generatif idealnya diposisikan sebagai instrumen pendamping (co-pilot) dalam proses kreatif, tanpa mengesampingkan kendali dan etika manusia.
“Content creator bukan sekadar orang yang aktif posting. Dia adalah pihak yang mampu menciptakan nilai melalui konten. Nilainya bisa berupa informasi, edukasi, hiburan, hingga solusi. AI bisa mempercepat, tetapi tidak bisa menggantikan rasa, pengalaman, dan penilaian manusia,” ujar Adnan Iman Nurtjahyo Amir di sela-sela kegiatan.
Ia menambahkan bahwa selain membuka peluang monetisasi yang luas mulai dari kerja sama merek, afiliasi, hingga produk digital, para kreator konten dituntut menjaga integritas dan kepercayaan publik dari risiko hoaks, pelanggaran hak cipta, serta kebocoran data.
“Jangan pernah mengorbankan kepercayaan demi views. Data pribadi milik kita dan audiens adalah aset yang harus dijaga. Sekali bocor, reputasi yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh dalam semalam. Setiap orang punya cerita. Setiap cerita punya nilai. Dan setiap nilai bisa menjadi konten. Jangan menunggu menjadi profesional untuk mulai membuat konten. Mulailah membuat konten untuk menjadi profesional,” tegas Adnan.
Model integratif dari hasil penelitian ini diharapkan menjadi panduan strategis bagi pembuat konten di Indonesia dalam mengadopsi AI secara produktif, etis, dan bertanggung jawab demi keberlanjutan ekosistem ekonomi kreatif. (sbd/KIM Tempel)



