Sholawat dan Semangat Kemerdekaan Bergema di Candi Lama

Sleman – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dipadukan masyarakat Candi Lama melalui Safari Sholawat Maulid An Nuur bersama hadroh se-Candi Lama. Kegiatan berlangsung di Lapangan Pasir Luhur, Candi Winangun, Senin (17/8/2026) malam.

Mengusung semangat kemerdekaan melalui sholawat, kegiatan tersebut berlangsung khidmat sekaligus meriah. Warga dari berbagai kalangan hadir untuk bersholawat bersama, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, sekaligus mengisi momentum kemerdekaan dengan kegiatan keagamaan dan kebersamaan.

Rangkaian acara diawali penampilan hadroh ibu-ibu dan pembacaan tahlil. Suasana kemudian semakin semarak dengan lantunan sholawat bapak-bapak yang diiringi penabuh hadroh dari kalangan generasi muda.

Keterlibatan lintas generasi menjadi salah satu kekuatan Safari Sholawat Maulid An Nuur. Selain menjadi sarana memperingati Maulid Nabi, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menjaga tradisi sholawat sekaligus mendorong generasi muda terlibat dalam pelestarian seni hadroh di masyarakat.

Setelah rangkaian sholawat, kegiatan dilanjutkan dengan tausiah oleh Ustaz Anwan. Ia mengajak jamaah memaknai Maulid Nabi dan HUT ke-81 Kemerdekaan RI sebagai momentum untuk meningkatkan keteladanan dan rasa syukur.

“Kita dalam dua momen sekaligus, yakni Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Hari Kemerdekaan Republik Indonesia,” ujar Ustaz Anwan.

Menurutnya, peringatan Maulid Nabi dapat menjadi pengingat untuk meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk nilai persaudaraan, kepedulian, kebersamaan, dan akhlak mulia.

Sementara itu, momentum kemerdekaan dapat dimaknai sebagai kesempatan untuk bersyukur atas perjuangan para pendahulu sekaligus memperkuat persatuan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Perpaduan kedua momentum tersebut terlihat dalam kegiatan Safari Sholawat Maulid An Nuur. Keterlibatan ibu-ibu, bapak-bapak, dan generasi muda menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan sekaligus dapat menjadi ruang silaturahmi dan pelestarian budaya antargenerasi.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu cara masyarakat Candi Lama mengisi kemerdekaan melalui kegiatan positif yang memperkuat nilai spiritual, sosial, dan budaya. Tradisi sholawat dan seni hadroh pun diharapkan terus tumbuh serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

(Egi Prayoga – KIM DSN Ngaglik )




Program Tumandur UGM Olah Sampah Organik Jadi Pupuk

Sleman – Tim PKM-PM Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama ibu-ibu PKK Kampung Jurugsari RW 57, Padukuhan Joho, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Sleman, mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk organik cair (POC) dan kompos melalui Program Tumandur.

Program tersebut memanfaatkan Smart Compost Vessel untuk mengolah sampah organik yang kemudian digunakan sebagai pupuk tanaman pekarangan. POC dipanen pada 28 Juli 2026, sedangkan kompos dipanen pada 14 Agustus 2026.

Ketua Tim PKM-PM Tumandur UGM, Siti Nur Khasanah, mengatakan kegiatan tersebut menunjukkan bahwa sampah organik dapat kembali dimanfaatkan sebagai sumber daya.

“Setelah dikelola dengan benar, sampah organik dapat menjadi pupuk organik cair dan kompos yang bermanfaat untuk tanaman,” ujar Siti, Selasa (18/8/2026).

Menurutnya, Program Tumandur tidak hanya mengenalkan teknologi pengomposan, tetapi juga mendorong kemandirian masyarakat dalam mengelola sampah dari rumah.

Sebanyak 10 anggota PKK Kampung Jurugsari terlibat dalam kegiatan tersebut. Mereka mendapatkan pendampingan mulai dari pemilahan sampah, pengolahan menggunakan Smart Compost Vessel, hingga pemanfaatan POC dan kompos untuk tanaman.

Ketua PKK Kampung Jurugsari, Rini berharap kegiatan tersebut dapat terus dilanjutkan secara mandiri oleh warga.

“Kami berharap ibu-ibu dapat melanjutkan pengolahan sampah organik dari rumah dan memanfaatkan pupuk yang dihasilkan untuk tanaman,” ujarnya.

Ketua RW 57 Kampung Jurugsari, Purwoko menilai program tersebut dapat membantu mengurangi sampah rumah tangga sekaligus mendorong pemanfaatan pekarangan.

“Program ini jangan berhenti ketika kegiatan mahasiswa selesai. Pengetahuan dan teknologi yang sudah diberikan perlu diteruskan oleh warga,” katanya.

Melalui Program Tumandur, sampah organik dari dapur diolah menjadi pupuk, kemudian dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman pekarangan. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi sampah dari sumbernya sekaligus mendukung ketahanan pangan keluarga.

(Wasana/KIM Depok)




Kirab Budaya Merti Dusun Turen, Warga Rawat Tradisi dan Perkuat Kebersamaan

Sleman – Ratusan warga Padukuhan Turen menggelar Kirab Budaya Merti Dusun di Kawasan Wisata Taman Selo Kendel, Padukuhan Turen, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, pada Senin (17/08/2026) mulai pukul WIB.

Perhelatan bertema Nyawiji Ing Budaya, Sinergi Ing Karya ini diselenggarakan sebagai sarana melestarikan tradisi lokal, mempererat silaturahmi antarwarga lintas generasi, serta merawat semangat gotong royong di lingkungan masyarakat. Kegiatan yang diiringi pawai potensi lokal tersebut diikuti secara antusias oleh warga dari lima Rukun Tetangga (RT) dengan mengarak aneka hasil bumi dan mengenakan beragam busana adat tradisional.

Iring-iringan kirab budaya yang memamerkan kreativitas warga dan simbol wujud syukur atas rezeki hasil bumi ini turut disaksikan langsung oleh Lurah Sardonoharjo, Harjuno Wiwoho, beserta jajaran pemerintah kalurahan setempat. Momentum Merti Dusun Turen tersebut terasa makin bermakna karena diselenggarakan bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Salah seorang warga RT 02 Padukuhan Turen, Ghani, menyampaikan bahwa kirab budaya ini bukan sekadar hiburan tahunan, melainkan ajang memperkuat kebersamaan warga dan mengenalkan tradisi kepada generasi muda.

“Bagi kami, kirab budaya ini bukan hanya sekadar kegiatan untuk memeriahkan merti dusun. Ini menjadi kesempatan bagi warga untuk berkumpul, bersilaturahmi, dan menunjukkan kebersamaan. Kami juga ingin ikut menjaga budaya dan tradisi yang sudah ada di masyarakat agar tetap dikenal oleh generasi muda,” ujar Ghani pada Senin (17/08/2026).

Senada dengan hal tersebut, warga RT 02 Padukuhan Turen lainnya, Ipo Lina, menambahkan bahwa keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, termasuk kaum perempuan dan anak-anak, membuat perhelatan Merti Dusun menjadi sangat inklusif.

“Busana yang digunakan menunjukkan keberagaman kreativitas masyarakat, sementara hasil bumi menjadi simbol rasa syukur. Kami ingin menunjukkan bahwa apa yang dimiliki masyarakat, baik budaya maupun hasil bumi, patut disyukuri dan dilestarikan,” tutur Ipo Lina.

Melalui penyelenggaraan Kirab Budaya Merti Dusun ini, warga Padukuhan Turen membuktikan bahwa pelestarian tradisi leluhur dan penguatan kohesi sosial dapat berjalan selaras dalam membangun karakter masyarakat yang ramah, kompak, serta berbudaya. (Egi Prayoga/KIM DSN Ngaglik)




Empat Hari, 322 Warga Berhasil Aktivasi IKD dalam Fasilitasi Perlinsos di Caturtunggal

Sleman – Pemerintah Kalurahan Caturtunggal bekerja sama dengan Kapanewon Depok menggelar layanan fasilitasi aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD) di Pendopo Puspadenta Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, pada Senin (10/08/2026) hingga Jumat (14/08/2026).

Pelayanan kependudukan jemput bola selama empat hari tersebut diselenggarakan untuk mempercepat proses pendaftaran Perlindungan Sosial (Perlinsos) bagi warga setempat. Perhelatan ini bertujuan mendekatkan akses layanan publik, mempermudah pemenuhan dokumen administrasi kependudukan berbasis digital, serta memberikan pendampingan langsung bagi masyarakat yang belum terbiasa memanfaatkan aplikasi IKD.

Rangkaian kegiatan dilakukan secara bertahap, diawali tahap I pada Senin (10/08/2026) melayani 71 pemohon, tahap II pada Selasa (11/08/2026) melayani 91 pemohon, tahap III pada Rabu (12/08/2026) melayani 91 pemohon, dan diakhiri tahap IV pada Jumat (14/08/2026) melayani 69 pemohon. Secara keseluruhan, sebanyak 322 warga Kalurahan Caturtunggal berhasil melakukan aktivasi dokumen digital kependudukan dengan lancar dan tertib.

Kepala Urusan Tata Laksana Kalurahan Caturtunggal, Bambang Harjati Susetyo, menyampaikan bahwa fasilitasi IKD ini merupakan bagian dari akselerasi pemanfaatan teknologi dalam pelayanan publik di tingkat desa.

“Kami berupaya memberikan kemudahan kepada masyarakat dengan menghadirkan fasilitasi aktivasi IKD di Kalurahan Caturtunggal. Selain untuk mendukung proses pendaftaran Perlindungan Sosial, aktivasi IKD juga penting untuk memudahkan masyarakat dalam mengakses berbagai layanan administrasi kependudukan secara digital,” ujar Bambang Harjati Susetyo pada Jumat (14/08/2026).

Ia menambahkan bahwa pendampingan teknis oleh petugas sangat krusial agar masyarakat dapat memanfaatkan fitur digital secara optimal setelah proses aktivasi selesai.

“Kami berharap masyarakat yang sudah melakukan aktivasi IKD dapat memanfaatkan layanan digital kependudukan dengan lebih optimal. Dengan adanya pendampingan ini, masyarakat tidak perlu kesulitan ketika melakukan proses aktivasi maupun memahami penggunaan IKD,” tuturnya.

Melalui keberhasilan program fasilitasi selama empat hari ini, Pemerintah Kalurahan Caturtunggal berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi pelayanan publik yang responsif, mudah dijangkau, serta memprioritaskan kebutuhan dasar masyarakat. (Oktaviana/KIM Depok)




Marching Band Gita Cendekia SD Negeri Nogotirto Warnai Peringatan HUT ke-81 RI di Gamping

Sleman – Marching Band Gita Cendekia dari SD Negeri Nogotirto tampil memukau dalam unjuk kebolehan pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Kapanewon Gamping di Lapangan Nogotirto, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Senin (17/08/2026).

Penampilan atraktif kelompok musik pelajar tersebut diselenggarakan sebagai bagian dari semarak perayaan kemerdekaan sekaligus memberikan warna tersendiri dalam rangkaian upacara pengibaran bendera Merah Putih. Perhelatan ini bertujuan memberikan wadah apresiasi seni bagi siswa, memupuk kedisiplinan dan rasa percaya diri, serta menanamkan jiwa nasionalisme sejak dini melalui keterlibatan aktif di momentum nasional.

Di bawah panduan Mayoret Talita Khairani Shaki, grup yang berstatus Juara Umum Klasemen SD Trinada Competition Tingkat DIY dan Jawa Tengah 2026 ini membawakan lagu “Lathi” dan “Hari Merdeka”. Alunan musik serta ketepatan koreografi yang dibawakan sukses menyedot perhatian dan apresiasi dari seluruh peserta upacara maupun tamu undangan.

Pembina Marching Band Gita Cendekia, Apri Nur Lestari, menyampaikan rasa bangga atas dedikasi para siswa yang tampil maksimal di hadapan publik usai menjalani latihan intensif.

“Anak-anak kami sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Mereka telah berlatih dengan sungguh-sungguh agar dapat memberikan penampilan terbaik. Bagi kami, yang terpenting bukan hanya hasil penampilannya, tetapi proses bagaimana anak-anak belajar disiplin, bekerja sama, dan memiliki keberanian untuk tampil,” ujar Apri Nur Lestari pada Senin (17/08/2026).

Ia menambahkan bahwa kegiatan seni musik ini diharapkan menjadi sarana pembentukan karakter anak bangsa yang tangguh dan mencintai tanah air.

“Semangat kemerdekaan harus kita tanamkan kepada anak-anak melalui kegiatan yang positif. Harapannya mereka tidak hanya mampu bermusik, tetapi juga tumbuh menjadi generasi yang percaya diri, disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki rasa cinta Tanah Air,” ungkap Apri.

Melalui keikutsertaan Marching Band Gita Cendekia SD Negeri Nogotirto dalam seremoni Kapanewon Gamping ini, perayaan kemerdekaan terbukti menjadi ruang bersama yang inklusif bagi tumbuh kembang kreativitas generasi muda. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)