RS UAD Edukasi Ibu Hamil Hadapi Risiko Infeksi Era Perubahan Iklim

Sleman – Rumah Sakit Universitas Ahmad Dahlan (RS UAD) Yogyakarta menyelenggarakan Kelas Ibu Hamil di Aula Kantor Kalurahan Selomartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Kamis (13/8/2026).

Kegiatan tersebut membekali ibu hamil dengan pengetahuan untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi di tengah meningkatnya risiko penyakit infeksi akibat perubahan iklim.

Dokter Kandungan RS UAD, Alfun Dhiya An, menyampaikan materi mengenai upaya membangun ketahanan ibu dan bayi dalam menghadapi penyakit infeksi di era perubahan iklim.

Menurutnya, perubahan suhu, cuaca ekstrem, serta pergeseran pola curah hujan dapat memengaruhi pola penyebaran penyakit, termasuk meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui nyamuk maupun air yang terkontaminasi.

“Ibu dan bayi termasuk kelompok yang perlu mendapatkan perhatian karena lebih rentan terhadap berbagai gangguan kesehatan. Karena itu, upaya pencegahan perlu dimulai dari pemenuhan nutrisi, imunisasi, kebersihan lingkungan, hingga pemantauan kesehatan secara rutin,” ujarnya.

Ia menjelaskan, penguatan nutrisi menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga sistem kekebalan tubuh. Ibu hamil perlu memastikan kecukupan zat besi, asam folat, vitamin D, serta zat gizi lain sesuai kebutuhan dan anjuran tenaga kesehatan.

“Setelah bayi lahir, pemberian ASI eksklusif turut membantu memberikan perlindungan alami terhadap berbagai infeksi,” katanya.

Ketika bayi memasuki usia enam bulan, orang tua juga perlu memperhatikan pemberian makanan pendamping ASI yang bergizi seimbang, termasuk sumber zat besi, untuk mendukung pertumbuhan dan daya tahan tubuh.

Selain nutrisi, Alfun menekankan pentingnya imunisasi sesuai jadwal. Imunisasi dasar dan lanjutan membantu memberikan perlindungan terhadap berbagai penyakit infeksi.

“Ibu hamil juga perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai vaksinasi yang direkomendasikan selama kehamilan sesuai kondisi kesehatan masing-masing,” katanya.

Aspek sanitasi dan ketersediaan air bersih turut menjadi perhatian. Cuaca ekstrem dapat meningkatkan risiko gangguan kualitas air dan penyakit yang ditularkan melalui air. Karena itu, keluarga perlu memastikan air minum aman, membiasakan cuci tangan menggunakan sabun, serta menjaga kebersihan peralatan makan dan perlengkapan bayi.

“Wadah penyimpanan air juga perlu ditutup dengan baik agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk,” katanya.

Alfun menambahkan, meningkatnya suhu dapat memengaruhi persebaran penyakit yang ditularkan melalui vektor, seperti demam berdarah.

“Ibu hamil dan bayi dapat memperoleh perlindungan melalui penggunaan kelambu, pakaian yang menutup tubuh secara nyaman, serta bahan penolak nyamuk yang aman dan digunakan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan,” paparnya.

Keluarga juga perlu menyesuaikan aktivitas ketika menghadapi cuaca ekstrem. Saat cuaca panas, ibu menyusui perlu menjaga kecukupan cairan dan memberikan ASI lebih sering kepada bayi.

“Ketika kualitas udara memburuk, orang tua dapat mengurangi aktivitas bayi di luar ruangan sekaligus memastikan sirkulasi udara di rumah tetap baik,” tegasnya.

Menurut Alfun, ketahanan ibu dan bayi juga membutuhkan dukungan layanan kesehatan yang mudah diakses. Pemeriksaan kehamilan secara teratur serta kunjungan ke posyandu, puskesmas, maupun fasilitas kesehatan membantu tenaga kesehatan memantau kondisi ibu, pertumbuhan bayi, dan mendeteksi gangguan kesehatan sejak dini.

“Pemanfaatan informasi cuaca dan perkembangan penyakit di lingkungan sekitar juga dapat membantu keluarga mengambil langkah pencegahan lebih cepat,” (Athiful/KIM Depok).




Upacara Hari Pramuka ke-65, Kwarran Pakem Dorong Generasi Muda Dukung Swasembada Pangan

Sleman – Kwartir Ranting (Kwarran) Gerakan Pramuka Pakem menggelar Upacara Peringatan Hari Pramuka ke-65 di Lapangan Pojok, Kalurahan Harjobinangun, Jumat pagi (14/8/2026). Kegiatan yang dimulai pukul WIB tersebut diikuti ratusan anggota Pramuka dari berbagai jenjang pendidikan di Kapanewon Pakem.

Upacara dihadiri perwakilan 20 gugus depan yang terdiri atas anggota Pramuka tingkat Siaga, Penggalang, dan Penegak dari SD, SMP, MTs, SMA, SMK, MA, hingga pondok pesantren. Selain menjadi agenda tahunan, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat semangat kebersamaan, pembentukan karakter, dan pengabdian anggota Pramuka.

Peringatan Hari Pramuka ke-65 tahun ini mengusung tema “Berkreasi, Berinovasi, Terampil dan Mandiri untuk Mendukung Swasembada Pangan”. Tema tersebut menegaskan komitmen Gerakan Pramuka untuk terus mendorong generasi muda menjadi pribadi yang kreatif, inovatif, terampil, dan mandiri sekaligus berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan.

Bertindak sebagai pembina upacara, Panewu Pakem, Dewanto Tri Nugroho membacakan amanat Ketua Kwartir Nasional. Dalam amanat tersebut, anggota Pramuka diajak menjadikan peringatan Hari Pramuka sebagai momentum untuk memperbarui semangat pengabdian kepada masyarakat dan bangsa.

“Pramuka adalah wadah untuk membentuk karakter generasi muda yang tangguh, berjiwa sosial, dan siap menghadapi tantangan zaman,” ujarnya.

Rangkaian upacara berlangsung tertib dan khidmat, diawali dengan penghormatan kepada bendera Merah Putih, mengheningkan cipta, pembacaan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila, serta pengucapan Dasa Darma Pramuka sebagai kode kehormatan anggota Gerakan Pramuka.

Kemeriahan kegiatan semakin terasa setelah upacara inti dengan penampilan pencak silat. Para peserta menampilkan berbagai atraksi seni bela diri yang dipadukan dengan gerakan cepat menggunakan api. Penampilan tersebut mendapat perhatian dan apresiasi dari peserta upacara serta masyarakat yang hadir.

Peringatan Hari Pramuka ke-65 di Kapanewon Pakem menjadi momentum untuk memperkuat peran Gerakan Pramuka dalam membentuk generasi muda yang berkarakter, mandiri, terampil, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan serta masyarakat.

Semangat tersebut diharapkan terus diwujudkan melalui berbagai kegiatan nyata, termasuk mendukung ketahanan dan swasembada pangan sebagai bagian dari kontribusi generasi muda bagi kemajuan bangsa.

(Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)




Ulang Janji Pramuka, 34 Kepala Sekolah se-Pakem Perkuat Komitmen Pengabdian

Sleman – Suasana khidmat mewarnai Upacara Ulang Janji Pramuka yang digelar di Aula 2 MAN 4 Sleman, Kamis malam (13/8/2026). Sebanyak 34 peserta yang mayoritas merupakan kepala sekolah dan madrasah se-Kapanewon Pakem mengikuti kegiatan sebagai momentum refleksi sekaligus memperbarui komitmen dalam pengabdian kepramukaan.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari tradisi Gerakan Pramuka untuk mengingat kembali nilai dan janji yang telah diikrarkan, sekaligus memperkuat semangat para pembina dalam membentuk karakter generasi muda.

Pembina Pramuka MAN 4 Sleman, Satria Pradana mengatakan Ulang Janji bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi ruang untuk melakukan refleksi atas pengabdian yang telah dilakukan sekaligus memperbarui komitmen terhadap Gerakan Pramuka.

“Di sinilah kita mematri komitmen, memperbarui semangat, dan menyegarkan ikatan batin terhadap janji moral yang pernah kita ucapkan. Ini juga menjadi ajang evaluasi pengabdian, menilai sejauh mana kesungguhan kita dalam mengamalkan nilai-nilai luhur kepramukaan bagi masyarakat dan negara,” tegas Satria.

Menurutnya, tradisi tersebut diwujudkan melalui upacara renungan dan pengucapan kembali kode kehormatan Tri Satya. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya diharapkan terus menjadi pedoman dalam menjalankan tugas dan pengabdian.

Ketua Kwartir Ranting (Kwaran) Pakem, B. Belariantata mengapresiasi kekhidmatan dan kesungguhan para pembina yang mengikuti kegiatan tersebut. Ia berharap semangat yang diperbarui melalui Ulang Janji dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.

“Semoga kita semua tetap kompak, solid, dan penuh dedikasi dalam menunaikan tugas kepramukaan. Karena dari sinilah, dari kesatuan langkah kita, generasi muda yang tangguh dan berkarakter akan lahir,” pesannya.

Melalui Ulang Janji Pramuka, para kepala sekolah dan madrasah di Kapanewon Pakem diharapkan semakin kuat dalam mengimplementasikan nilai-nilai kepramukaan, khususnya dalam pendidikan karakter dan pembentukan generasi muda yang tangguh.

(Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)




Satlinmas Nogotirto Dibekali Kesiapsiagaan dan Penguatan Kamtibmas

Sleman – Pemerintah Kalurahan Nogotirto, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, menggelar Pembinaan dan Pembekalan Satlinmas Inti Kalurahan Nogotirto Tahun 2026 di Gedung Serbaguna Nogotirto, Kamis (13/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan anggota Satlinmas dalam menjalankan tugas perlindungan masyarakat.

Pembinaan yang diikuti sebanyak 32 peserta dihadiri Kepala Jawatan Keamanan Kapanewon Gamping Bambang Nurdiyanto, Komandan Koramil 17/Gamping Kapten Inf. Bambang Subyantoro, Kepala Kepolisian Sektor Gamping AKP Bowo Susilo, Bhabinkamtibmas Nogotirto Aiptu Eko Yulianto, Babinsa Nogotirto Sertu Surahmadi, perangkat kalurahan, serta para dukuh.

Dalam pembekalan tersebut, anggota Satlinmas menerima pencerahan mengenai tugas dan fungsi mereka dalam membantu menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Selain itu, Satlinmas diarahkan untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan dan kegiatan kemasyarakatan serta turut membantu penanganan kebencanaan di wilayah Kalurahan Nogotirto.

AKP Bowo Susilo menekankan pentingnya membangun sinergi antara Polri, TNI, pemerintah kalurahan, dan Satlinmas. Menurutnya, kolaborasi antarlembaga dan kepedulian masyarakat menjadi modal penting untuk menciptakan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) yang aman dan kondusif.

Ia juga mengingatkan anggota Satlinmas agar meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi gangguan kamtibmas di lingkungan masing-masing. Beberapa hal yang menjadi perhatian antara lain kejahatan jalanan, premanisme, pungutan liar, gangguan yang berkaitan dengan suporter sepak bola, penggunaan knalpot yang tidak sesuai spesifikasi teknis, serta keselamatan berlalu lintas.

“Satlinmas merupakan mitra penting dalam membantu menjaga kamtibmas. Dengan sinergi dan kepedulian bersama, diharapkan wilayah Kalurahan Nogotirto tetap aman, nyaman dan kondusif,” ujar AKP Bowo Susilo.

Selain aspek keamanan, pembekalan juga mencakup materi keselamatan dan kesiapsiagaan dalam membantu penanganan bencana. Anggota Satlinmas diharapkan mampu memahami langkah-langkah dasar dalam mendukung penanganan keadaan darurat sekaligus membantu masyarakat secara terkoordinasi ketika terjadi bencana di wilayah Kalurahan Nogotirto.

Kesiapsiagaan Satlinmas diarahkan untuk mendukung berbagai kegiatan masyarakat, termasuk pengamanan rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Peran tersebut dinilai penting mengingat kegiatan kemasyarakatan biasanya melibatkan banyak warga dan membutuhkan dukungan pengamanan di tingkat kalurahan.

Pembinaan dan pembekalan Satlinmas Inti Kalurahan Nogotirto yang berlangsung selama dua hari tersebut ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, kedisiplinan, serta kesiapsiagaan anggota Satlinmas agar mampu menjalankan peran perlindungan masyarakat secara profesional, dan responsif. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




SPPG Margomulyo Pastikan Kualitas Telur MBG dari Peternak Lokal

Sleman – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Margomulyo, Kapanewon Seyegan, terus memperkuat pengawasan kualitas bahan pangan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satunya dengan melakukan monitoring langsung ke kandang peternak ayam petelur lokal di wilayah Seyegan, Jumat (14/8/2026).

Kepala SPPG Margomulyo, Joni Prasetyo mengatakan peninjauan dilakukan untuk memastikan kualitas, higienitas, keamanan, serta kontinuitas pasokan telur yang menjadi salah satu sumber protein dalam menu MBG.

Menurutnya, pengawasan perlu dilakukan sejak dari tingkat produsen, tidak hanya saat bahan pangan tiba di dapur SPPG. Monitoring mencakup kondisi kandang, pengelolaan ternak, pakan, kebersihan, hingga penanganan telur setelah dipanen.

“Kami ingin memastikan bahan baku yang masuk ke dapur SPPG benar-benar memenuhi standar keamanan dan kualitas. Karena itu, monitoring tidak cukup hanya dilakukan ketika telur sudah sampai di dapur. Kami perlu melihat langsung prosesnya dari sumbernya,” ujar Joni.

Ia menegaskan telur yang digunakan harus dalam kondisi segar dan ditangani dengan baik sehingga memenuhi standar keamanan pangan.

“Telur yang kami gunakan harus segar, ditangani dengan baik, dan memenuhi standar yang kami tetapkan. Prinsipnya, makanan yang kami sajikan harus aman dan bergizi sebelum sampai kepada penerima manfaat,” tandasnya.

Selain menjaga kualitas pangan, kunjungan tersebut menjadi upaya memperkuat keterlibatan peternak lokal dalam rantai pasok MBG. Penyerapan hasil produksi dari peternak di sekitar Seyegan diharapkan dapat memperpendek rantai distribusi sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“MBG bukan hanya tentang makanan yang sampai ke penerima manfaat. Di belakang satu porsi makanan bergizi ada petani, peternak, UMKM, tenaga kerja, dan banyak pelaku ekonomi lokal. Karena itu, kami ingin ekosistem ini juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat,” jelas Joni.

SPPG Margomulyo juga berdialog dengan para peternak untuk mengetahui kendala produksi sekaligus menyampaikan kebutuhan dan standar bahan baku yang diperlukan. Komunikasi tersebut diharapkan dapat membangun kemitraan yang berkelanjutan antara SPPG dan produsen pangan lokal.

Joni menekankan bahwa kualitas makanan berawal dari kualitas bahan baku. Karena itu, pengawasan diterapkan pada seluruh tahapan, mulai dari pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pengolahan hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat.

“Prinsip kami sederhana, kualitas makanan dimulai dari kualitas bahan bakunya. Kalau kita ingin menghasilkan makanan yang aman dan bergizi, maka proses pengawasan harus dimulai sejak bahan pangan berada di tingkat produsen,” katanya.

Ia berharap penguatan rantai pasok lokal dapat mendukung keberlanjutan program MBG sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di wilayah Seyegan dan sekitarnya.

“Kami ingin SPPG tidak hanya menjadi tempat memasak dan mendistribusikan makanan. SPPG juga harus menjadi bagian dari ekosistem ekonomi dan pangan masyarakat. Semakin kuat rantai pasok lokal, semakin kuat pula keberlanjutan program,” pungkas Joni.

(Joni Prasetyo/KIM Seyegan)