Restorasi Sosial Perlu Dimulai dari Keluarga

Sleman — Upaya memulihkan kembali nilai-nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat dinilai perlu dimulai dari lingkungan paling kecil, yakni keluarga. Restorasi sosial tidak boleh berhenti sebagai sebuah konsep, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut disampaikan mantan Kepala Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Endang Patmintarsih, saat menjadi narasumber dalam Sarasehan Penguatan Nilai-Nilai Kesetiakawanan melalui Restorasi Sosial Berbasis Budaya Jawa Mewujudkan Kesejahteraan Sosial di Aula Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Kamis (13/8/2026).

Menurut Endang, gagasan restorasi sosial muncul dari kesadaran bahwa kehidupan sosial masyarakat saat ini mengalami degradasi. Kesadaran tersebut sekaligus menjadi pijakan untuk melakukan perbaikan.

“Restorasi sosial muncul karena kita mengakui bahwa posisi kehidupan sosial kita sedang mengalami degradasi. Dengan demikian, kita mendapatkan pijakan untuk melakukan perbaikan,” ujar Endang.

Ia menjelaskan, restorasi sosial membawa semangat untuk memperbaiki kondisi bangsa melalui penguatan kembali nilai-nilai luhur yang mulai memudar. Karena itu, gerakan tersebut harus dimulai dari lingkungan terdekat.

Endang mengajak peserta menanamkan nilai-nilai restorasi sosial sejak dari keluarga. Ketahanan keluarga, menurut dia, menjadi fondasi penting dalam membangun kehidupan sosial yang lebih kuat.

“Jangan sampai restorasi sosial hanya menjadi konsep. Kita harus mewujudkannya mulai dari keluarga kecil,” katanya.

Sarasehan tersebut diselenggarakan oleh Dinas Sosial Provinsi DIY bekerja sama dengan Pokok-Pokok Pikiran Anggota DPRD DIY, M. Lisman Puja Kesuma. Peserta berasal dari perwakilan berbagai elemen masyarakat dan lembaga yang ada di Kalurahan Sardonoharjo.

Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menyamakan persepsi, pola pikir, pemahaman, serta tindakan dalam menggerakkan restorasi sosial. Dengan kesamaan tersebut, diharapkan tercipta sinergi antarelemen masyarakat dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial.

Dalam kegiatan itu, peserta juga mendapatkan buku Restorasi Sosial Berbasis Budaya Jawa-Yogyakarta dalam Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial. Buku tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu bahan rujukan untuk memahami sekaligus mengimplementasikan gerakan restorasi sosial berbasis nilai budaya Jawa-Yogyakarta.

Restorasi sosial pada dasarnya diarahkan untuk mengembalikan atau memulihkan kondisi sosial masyarakat yang mengalami memudarnya nilai-nilai luhur jati diri dan kepribadian bangsa.

Nilai-nilai tersebut antara lain rasa setia kawan, kepedulian, sikap saling menolong, gotong royong, saling menghargai, serta toleransi. Nilai-nilai itu dinilai menjadi modal sosial penting dalam membangun masyarakat yang harmonis dan mampu menghadapi berbagai perubahan zaman.

Melalui penguatan nilai-nilai tersebut, restorasi sosial diharapkan tidak sekadar menjadi gerakan seremonial, tetapi berkembang menjadi kebiasaan dalam kehidupan masyarakat. Dimulai dari keluarga, kemudian meluas ke lingkungan masyarakat, sehingga mampu memperkuat solidaritas sosial dan mendukung terwujudnya kesejahteraan sosial. (Andy Ahmad – KIM DSN NGAGLIK)




PPDI Condongcatur Semarakkan HUT ke-81 RI dengan Semangat Kebersamaan dan Kesetaraan

Sleman – Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, komunitas disabilitas bersama Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kalurahan Condongcatur menggelar pertemuan bertema “Membangun Kebersamaan, Mewujudkan Kemandirian & Kesetaraan” di Pendopo Kromoredjan, Kalurahan Condongcatur, Kamis (13/8/2026).

Kegiatan diikuti kader disabilitas, anggota PPDI Condongcatur, dan pendamping keluarga. Suasana semakin semarak dengan pakaian bernuansa merah putih sebagai simbol semangat menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Plt. Lurah Condongcatur, Budi Arto mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai sarana mempererat kebersamaan sekaligus membuka ruang bagi penyandang disabilitas untuk berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat.

“Kami menyambut baik adanya kegiatan ini yang sudah berjalan. Kegiatan seperti ini patut kita dukung,” ujarnya.

Ketua PPDI Condongcatur, Setyawati Marheni menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kalurahan Condongcatur atas dukungan terhadap berbagai kegiatan PPDI dan komunitas disabilitas.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kalurahan Condongcatur yang selalu memberikan support terhadap semua kegiatan yang ada,” katanya.

Selain silaturahmi, kegiatan diisi berbagai perlombaan yang berlangsung meriah dan penuh kegembiraan. Peserta juga mengikuti kado silang berupa sembako senilai sebagai bentuk berbagi dan mempererat rasa kekeluargaan.

Melalui kegiatan ini, PPDI dan komunitas disabilitas Condongcatur menegaskan bahwa semangat kemerdekaan merupakan milik seluruh warga tanpa terkecuali. Kebersamaan dan dukungan berbagai pihak diharapkan terus diperkuat untuk mewujudkan Condongcatur yang inklusif, mandiri, setara, dan ramah disabilitas. (Tri Suhartati KIM Depok)




KPSPAM Banyu Panguripan Wakili Seyegan dalam Lomba Pengelolaan SPAM Perdesaan 2026

Sleman – Kelompok Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum (KPSPAM) Banyu Panguripan Padukuhan Sawahan, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, mewakili Kapanewon Seyegan dalam Lomba Pengelolaan SPAM Perdesaan Tahun 2026 yang digelar Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kabupaten Sleman.

Penilaian berlangsung di Balai Padukuhan Sawahan, Rabu (12/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi sarana apresiasi sekaligus pembinaan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan air bersih dari sisi teknis, administrasi, keuangan, dan kelembagaan.

Lurah Margomulyo, Eko Puji Mulyanto mengatakan KPSPAM Banyu Panguripan sebelumnya menghadapi kendala tingginya kandungan zat besi (Fe) pada sumber air. Kondisi tersebut membuat air belum dapat digunakan untuk konsumsi.

“Di awal tahun 2026 ini, air dari KPSPAM Banyu Panguripan baru bisa dipakai oleh warga Padukuhan Sawahan secara keseluruhan, termasuk untuk konsumsi,” ujarnya.

Kawat Kemakmuran Kapanewon Seyegan, Rini Nurhidayati mengapresiasi upaya pengurus dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas air. Salah satunya dengan memindahkan sumur ke lokasi yang lebih dangkal, sekitar 20 meter. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, kualitas air telah memenuhi syarat untuk dikonsumsi.

“Ini merupakan sebuah inisiatif yang patut diapresiasi. Pengurus berupaya mencari solusi dengan memindahkan sumur dan hasil laboratoriumnya bagus sehingga air layak untuk konsumsi,” katanya.

Meningkatnya kepercayaan masyarakat terlihat dari bertambahnya permintaan Sambungan Rumah (SR), termasuk dua SR yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat.

Ketua KPSPAM Banyu Panguripan, Swasanahadi menyampaikan pihaknya akan menindaklanjuti hasil bimbingan teknis dari DPUPKP, khususnya dalam pembenahan pembukuan dan penguatan kelembagaan.

Ketua Tim Juri DPUPKP, Hariyadi, mengapresiasi kesiapan KPSPAM Banyu Panguripan mengikuti lomba. Ia menegaskan pembinaan tidak berhenti setelah lomba selesai.

“Pengelolaan yang sudah cukup baik ini jangan berhenti hanya di tingkat lomba. DPUPKP siap untuk melakukan pendampingan,” tegasnya.

Dalam penilaian, tim juri mengevaluasi aspek teknis, keuangan, administrasi, pengembangan, dan kelembagaan. Keikutsertaan KPSPAM Banyu Panguripan diharapkan menjadi momentum untuk terus meningkatkan kualitas layanan sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap air minum yang aman dan berkelanjutan. (Sutarto Agus / KIM Seyegan)




Kemenag Sleman Perkuat Ekoteologi melalui Program Calon Pengantin Peduli Lingkungan

Sleman – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sleman terus memperkuat pelaksanaan program Calon Pengantin Peduli Lingkungan (Caping) sebagai bagian dari penguatan ekoteologi. Salah satu pelaksanaan program tersebut berlangsung di KUA Depok Sleman, Rabu (12/8/2026).

Program Caping menjadi langkah konkret Kemenag Sleman dalam mendukung ekoteologi yang termasuk dalam program prioritas Asta Protas Kementerian Agama Republik Indonesia. Melalui program tersebut, Kemenag Sleman mendorong calon pengantin membangun kepedulian terhadap lingkungan sejak awal membentuk keluarga.

Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Depok Sleman, Sunhaji mengatakan Caping mengajak calon pengantin memahami bahwa nilai-nilai spiritual tidak hanya diwujudkan melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui kepedulian dan tindakan nyata dalam menjaga kelestarian alam.

“Melalui pendekatan Caping, calon pengantin tidak hanya memperoleh pembekalan untuk membangun keluarga sakinah, tetapi juga didorong memiliki tanggung jawab sosial terhadap kelestarian lingkungan,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, Kemenag Sleman mengintegrasikan program Caping dengan layanan bimbingan perkawinan. Calon pengantin memperoleh edukasi ekoteologi untuk memahami bahwa menjaga dan merawat lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab keimanan.

Program tersebut juga mendorong calon pengantin berkontribusi secara sukarela melalui wakaf bibit pohon atau tanaman. Bibit yang terkumpul selanjutnya dapat didistribusikan kepada pihak yang membutuhkan maupun ditanam di lokasi yang memerlukan penghijauan.

“Kemenag Sleman juga mengembangkan jejaring kolaborasi agar manfaat program dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas dan berkelanjutan,” jelasnya.

Sunhaji menambahkan, penguatan ekoteologi menjadi bagian dari kebijakan Kementerian Agama dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan. Kemenag Sleman menerjemahkan kebijakan tersebut melalui kegiatan yang menyentuh langsung keluarga sebagai unit terkecil dalam kehidupan masyarakat.

“Kami ingin nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan tumbuh sejak awal rumah tangga dibentuk. Keluarga yang harmonis seharusnya juga mampu membangun hubungan yang selaras dengan lingkungan di sekitarnya,” katanya.

Untuk memperluas partisipasi masyarakat, Kemenag Sleman terus menyosialisasikan program Caping melalui kegiatan bimbingan tatap muka di KUA, publikasi kreatif pada kanal media sosial resmi, serta pendekatan persuasif para penyuluh agama di tengah masyarakat.

Melalui penguatan program Caping, Kemenag Sleman berupaya menghadirkan layanan kepada calon pengantin yang tidak hanya berorientasi pada pembentukan keluarga sakinah, tetapi juga menanamkan kesadaran ekologis.

“Kepedulian terhadap lingkungan yang tumbuh sejak awal kehidupan berumah tangga diharapkan memberikan manfaat jangka panjang bagi kelestarian lingkungan di Bumi Sembada,” tegasnya. (Athiful/KIM Depok)




Kepala SMA Islam 1 Sleman Dilantik, Perkuat Kompetensi Guru dan Mutu Pendidikan

Sleman – Suasana khidmat mewarnai Aula SMA Islam 1 Sleman (SMAIS) Banyuraden, Gamping, Sleman, saat pelantikan kepala sekolah masa bakti 2026/2027 hingga 2029/2030, Selasa (11/8/2026).

Pelantikan dilakukan Ketua Yayasan Pembangunan Islam, Arif Haryono dengan menyerahkan surat keputusan dan menyematkan tanda jabatan kepada Ixwind Umiarti sebagai Kepala SMA Islam 1 Sleman.

Dalam sambutannya, Arif berharap kepemimpinan baru dapat membawa SMA Islam 1 Sleman semakin maju, berkarakter, dan unggul dalam mencetak generasi yang beriman, cerdas, serta berakhlak mulia.

“Kami berharap sekolah mampu mencetak generasi unggul dan berkarakter yang tetap memiliki kecakapan menghadapi perkembangan di era global,” ujarnya.

Usai pelantikan, kegiatan dilanjutkan dengan pembinaan guru yang menghadirkan Pengawas Sekolah, Sutarto. Pembinaan membahas strategi peningkatan kualitas pembelajaran, penguatan manajemen kelas, serta pentingnya inovasi dan kreativitas dalam proses pembelajaran di era digital.

Sutarto menilai tantangan pendidikan saat ini terus berkembang sehingga guru perlu beradaptasi dan menghadirkan metode pembelajaran yang inovatif. Para guru mengikuti kegiatan secara interaktif dan antusias.

Kepala SMA Islam 1 Sleman, Ixwind Umiarti mengajak seluruh sivitas akademika memperkuat sinergi dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu dan berdaya saing.

“Mari kita jadikan momen ini sebagai awal kebangkitan bersama. Dengan kebersamaan, dedikasi, dan kerja keras, kita akan menghadirkan pendidikan terbaik bagi peserta didik,” ujarnya.

Pelantikan dan pembinaan guru tersebut menjadi momentum bagi SMA Islam 1 Sleman untuk memperkuat kepemimpinan, meningkatkan kompetensi pendidik, serta mendorong peningkatan mutu pendidikan.

(Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)