Dua Mahasiswa UNY Lolos Jadi Finalis Pilmapres Tingkat Nasional 2026

Sleman – Dua mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Nosi Anggana dan Kuswantoro, sukses menembus babak final Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Tingkat Nasional 2026. Ajang bergengsi skala nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tersebut berlangsung di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang, Banten, pada Selasa (04/08/2026) hingga Sabtu (08/08/2026).

Nosi Anggana, mahasiswi dari Program Studi Pendidikan Seni Musik UNY, bertanding sebagai finalis Pilmapres pada Kategori Program Sarjana. Sementara itu, Kuswantoro, mahasiswa Program Studi Pendidikan Luar Biasa UNY, tampil berlaga mewakili kampus pada Kategori Program Disabilitas.

Ketua Program Studi Pendidikan Luar Biasa UNY, Sukinah, menyampaikan bahwa pencapaian di tingkat nasional ini merupakan buah dari proses pembinaan yang panjang dan terstruktur, bukan sekadar hasil yang instan.

“Mahasiswa yang akan mengikuti Pilmapres perlu mempersiapkan berbagai aspek sebaik mungkin agar dapat mencapai hasil maksimal, termasuk kesiapan akademik, capaian unggulan, kemampuan komunikasi, dan kondisi psikologis,” ujar Sukinah pada Sabtu (08/08/2026).

PIC Pilmapres UNY, Eko Prianto, mengapresiasi dedikasi dan kerja keras yang ditunjukkan oleh kedua finalis selama masa persiapan hingga pelaksanaan kompetisi di tingkat nasional.

“Sejak awal pembinaan hingga tampil di tingkat nasional, Nosi dan Kuswantoro menunjukkan ketekunan, keberanian untuk terus belajar, serta kemauan menerima masukan. Mereka terus menyempurnakan gagasan, meningkatkan capaian unggulan, dan mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris. Pilmapres bukan garis akhir, melainkan titik awal untuk melangkah lebih jauh. Kami berharap pengalaman ini semakin menguatkan karakter, kepercayaan diri, dan semangat mahasiswa untuk terus berkarya,” tutur Eko Prianto.

Keberhasilan Nosi dan Kuswantoro ini diharapkan dapat menjadi motivasi serta menginspirasi seluruh civitas akademika UNY untuk terus mengukir prestasi di kancah nasional maupun internasional. (Athiful/KIM Depok)




Kirab Budaya dan Upacara Adat Tutup Merti Kalurahan Sumberrejo, Teguhkan Komitmen Merawat Budaya

Sleman – Rangkaian peringatan Merti Kalurahan Sumberrejo mencapai puncaknya melalui kirab budaya dan upacara adat yang diselenggarakan di halaman Kantor Kalurahan Sumberrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pada Minggu (09/08/2026). Mengusung tema “Kanthi Merti Kalurahan Sumberrejo Memetri Lestarine Budaya”, puncak acara ini menjadi ajang konsolidasi masyarakat dalam memperkuat komitmen menjaga warisan tradisi lokal.

Ajang budaya ini dihadiri langsung oleh jajaran Forkopimkap Tempel, termasuk Panewu Tempel, Kapolsek Tempel, dan Danramil Tempel, yang hadir memberikan dukungan penuh terhadap pemeliharaan kearifan lokal wilayah setempat.

Puncak perayaan diawali dengan pawai kirab budaya yang diikuti secara antusias oleh warga berbusana adat Jawa. Suasana semakin semarak sebelum prosesi utama dengan tampilnya pertunjukan drum band dari TK ABA Gendol, sajian tarian tradisional, hingga aksi spontanitas kesenian Topeng Ireng yang menyedot perhatian penonton.

Prosesi dilanjutkan dengan upacara adat secara khidmat menggunakan bahasa Jawa sebagai simbol ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus penghormatan atas warisan para leluhur.

Lurah Sumberrejo, Anjar Purwanto, menegaskan bahwa nilai-nilai kebudayaan tidak boleh hanya dipraktikkan secara seremonial tahunan, melainkan harus dihidupi dalam setiap aspek bermasyarakat.

“Adat dan budaya jangan hanya dilestarikan ketika ada acara Merti Kalurahan. Nilai-nilai budaya harus kita bawa dan kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai Kalurahan Budaya, jangan sampai budaya hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi tuntunan dalam kehidupan masyarakat,” ujar Anjar Purwanto pada Minggu (09/08/2026).

Selain atraksi seni, perhelatan ini memadukan nilai tradisi dengan pemberdayaan ekonomi melalui Festival UMKM Sumberrejo yang menampilkan ragam produk usaha warga lokal. Seluruh rangkaian puncak Merti Kalurahan ditutup secara meriah dengan pertunjukan jathilan “Turonggo Tresno Manunggal” sebagai sarana hiburan rakyat sekaligus ruang regenerasi seni tradisional bagi generasi muda. (SBD/KIM Tempel)




Pasar Jadul Embung Mororejo, Ketika Kuliner Tradisional Menjadi Penggerak Ekonomi Warga

Sleman – Suasana di kawasan Embung Mororejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, berlangsung semarak pada Minggu (09/08/2026) pagi. Pemerintah Kalurahan Mororejo menggelar ajang Pasar Jadul Embung Mororejo yang menyajikan aneka jajanan tradisional dan produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) warga, yang dipadukan dengan kegiatan senam sehat bersama.

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai wadah pemberdayaan ekonomi lokal berbasis potensi desa, sekaligus sarana mengenalkan kembali jajanan warisan nusantara kepada generasi muda serta mengajak masyarakat menerapkan gaya hidup sehat.

Lurah Mororejo, Jaka Ristanta, menyampaikan bahwa perhelatan Pasar Jadul dirancang untuk membuka akses pasar yang lebih luas bagi para pelaku usaha lokal di wilayah Mororejo.

“Pasar Jadul ini kami harapkan tidak hanya menjadi tempat untuk berjualan dan membeli jajanan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan produk UMKM Mororejo. Kami ingin produk yang dibuat warga semakin dikenal dan memiliki pasar yang lebih luas. Kami ingin kegiatan seperti ini bisa menjadi agenda yang berkelanjutan. Tidak hanya menghidupkan kembali suasana pasar tradisional, tetapi juga membangun kebersamaan dan memberikan kesempatan kepada pelaku usaha untuk berkembang,” ujar Jaka Ristanta pada Minggu (09/08/2026).

Selain aktivitas jual beli kuliner tradisional, kegiatan yang diawali dengan senam bersama ini dimanfaatkan warga untuk berolahraga dan bersilaturahmi di kawasan ruang terbuka hijau Embung Mororejo.

Inisiatif terpadu ini membuktikan bahwa pelestarian kearifan lokal yang dikemas secara kreatif mampu menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan sekaligus mempererat ikatan sosial masyarakat di Kabupaten Sleman. (SBD/KIM Tempel)




Dosen UNY Raih Best Presenter International Physics Conference 2026

Sleman – Dosen Departemen Pendidikan Fisika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Tsania Nur Diyana, berhasil meraih penghargaan sebagai Best Presenter dalam ajang International Physics Conference 2026 yang diselenggarakan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Jawa Barat, pada Sabtu (08/08/2026).

Prestasi internasional tersebut diraih usai Tsania mempresentasikan hasil risetnya yang berjudul The Physics Learning Anxiety Scale (PLAS): Instrument Validation and Structural Analysis of Classroom-Based Factors. Riset ini meneliti fenomena kecemasan belajar fisika di kalangan siswa sekolah menengah yang kerap berdampak pada konsentrasi, regulasi diri, hingga capaian prestasi akademik.

Penelitian yang melibatkan 300 siswa berusia 15–18 tahun dari tujuh wilayah di Indonesia ini menghasilkan sebuah instrumen ukur khusus yang dinamakan Physics Learning Anxiety Scale (PLAS). Instrumen ini memuat 23 butir indikator guna memetakan kecemasan belajar berdasarkan empat dimensi utama, yakni lingkungan belajar, metode pengajaran, interaksi dengan guru, serta hubungan dengan teman sebaya.

Tsania Nur Diyana menjelaskan bahwa penelitian tersebut menegaskan pentingnya menciptakan ekosistem pembelajaran sains yang aman secara psikologis di dalam ruang kelas.

“Penelitian ini melihat bahwa kecemasan belajar fisika tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi lingkungan belajar, metode mengajar, serta interaksi sosial di dalam kelas. Temuan tersebut menegaskan bahwa pembelajaran fisika tidak cukup hanya bertumpu pada penguasaan materi. Kondisi kelas yang aman secara psikologis, metode pembelajaran yang mudah dipahami, komunikasi guru dengan siswa, serta hubungan antarteman turut menentukan pengalaman belajar peserta didik,” ujar Tsania Nur Diyana pada Sabtu (08/08/2026).

Instrumen PLAS yang dikembangkan ini diproyeksikan menjadi alat diagnostik bagi para pendidik dan pemangku kebijakan, termasuk di Kabupaten Sleman, untuk mendeteksi potensi hambatan psikologis siswa sejak dini. Melalui pendekatan berbasis data ini, sekolah diharapkan mampu merancang strategi pembelajaran sains yang ramah, adaptif, serta mendukung tumbuh kembang potensi peserta didik secara holistik. (Athiful/KIM Depok)




RSA UGM Dorong KWT Sidodadi Kembangkan Hidroponik Pakcoy Demi Ketahanan Pangan

Sleman – Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM) mendorong Kelompok Wanita Tani (KWT) Sidodadi Kronggahan II mengembangkan budidaya hidroponik tanaman pakcoy di Padukuhan Kronggahan II, Kalurahan Trihanggo, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Minggu (09/08/2026). Langkah yang dikemas melalui program pengabdian masyarakat ini ditujukan untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus membuka peluang ekonomi baru berbasis pertanian perkotaan.

Pendampingan yang telah dirintis sejak tahun 2022 tersebut berfokus pada peningkatan kapasitas para anggota KWT dalam memanfaatkan teknologi budidaya sayuran di lahan terbatas. Metode hidroponik dipilih karena terbukti efisien serta mampu memproduksi pangan segar tanpa bergantung pada ketersediaan lahan tanah yang luas.

Kepala Padukuhan Kronggahan II, Anto Sudadi, menjelaskan bahwa para anggota KWT Sidodadi dibekali pemahaman komprehensif terkait teknik budidaya pakcoy hidroponik, mulai dari penyemaian benih, pemindahan ke instalasi, pengaturan nutrisi air, pemeliharaan, hingga teknik pemanenan.

“Program ini sangat penting karena pengembangan budidaya sayuran di tingkat rumah tangga dapat menjadi bagian dari upaya menyediakan pangan segar secara mandiri. Pakcoy yang relatif mudah dibudidayakan memiliki siklus produksi yang sesuai untuk dikembangkan sebagai komoditas hortikultura kelompok,” ujar Anto Sudadi pada Minggu (09/08/2026).

Direktur Sumber Daya Manusia dan Akademik RSA UGM, Ika Puspita Sari, mengungkapkan bahwa keterlibatan RSA UGM bertujuan untuk mempercepat proses transfer teknologi serta pengetahuan tepat guna kepada masyarakat luas.

“Anggota KWT Sidodadi tidak hanya diperkenalkan dengan teknik budidaya, tetapi juga didorong memahami pentingnya pengelolaan produksi secara terencana agar kegiatan dapat berlangsung secara berkelanjutan. Program pengabdian masyarakat ini menunjukkan pentingnya sinergi perguruan tinggi dan masyarakat dalam mendorong penerapan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan lokal,” kata Ika Puspita Sari.

Pihaknya berharap keberhasilan pengelolaan hidroponik pakcoy secara kolektif ini tidak hanya memenuhi konsumsi gizi keluarga di tingkat lokal, tetapi juga mampu dipasarkan secara komersial untuk meningkatkan pendapatan ekonomi anggota KWT Sidodadi. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)