Lumbung Mataraman Tamanmartani Didorong Jadi Penjaga Ketahanan Pangan Sekaligus Ketahanan Budaya

Sleman – Lumbung Mataraman di Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, diharapkan tidak hanya dimaknai sebagai sarana mewujudkan ketahanan pangan, tetapi juga menjadi ruang pelestarian nilai, moral, dan budaya masyarakat. Melalui konsep tersebut, Lumbung Mataraman diharapkan mampu memperkuat identitas budaya sekaligus menjaga keberlanjutan kearifan lokal di tengah perubahan zaman.

Hal tersebut disampaikan Akademisi Institut Seni Indonesia (ISI), Suwarno Wisetrotomo, usai kegiatan Monitoring dan Evaluasi Kalurahan Mandiri Budaya Tamanmartani yang digelar pada Rabu (5/8/2026). Kegiatan tersebut dihadiri pengurus Desa Prima, Desa Budaya, Desa Preneur, Desa Wisata, BUMKal, serta KDMP Kalurahan Tamanmartani sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia dalam pengembangan Kalurahan Mandiri Budaya.

Menurut Suwarno, secara tradisional lumbung merupakan tempat penyimpanan hasil bumi, seperti padi, jagung, ketela, kedelai, dan berbagai komoditas pangan lainnya. Cadangan tersebut dimanfaatkan ketika masyarakat menghadapi masa paceklik atau krisis pangan sehingga kebutuhan pokok tetap dapat terpenuhi.

Namun demikian, ia menilai makna lumbung tidak berhenti pada fungsi fisiknya sebagai penyimpan cadangan pangan.

“Fungsi lumbung tidak sebatas sebagai tempat penyimpanan cadangan pangan. Lumbung dimaknai sebagai ruang penyimpanan nilai, tata nilai, dan budaya. Ketika masyarakat mulai melupakan nilai-nilai luhur budaya, lumbung perlu kembali dibuka agar nilai-nilai tersebut dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Suwarno.

Ia menambahkan, Tamanmartani sebagai Kalurahan Mandiri Budaya menunjukkan komitmen yang kuat dalam menjaga ketahanan budaya melalui sinergi antara pemerintah kalurahan dan masyarakat. Menurutnya, kehidupan masyarakat Tamanmartani masih mencerminkan nilai-nilai luhur, seperti sopan santun, sikap andap asor, keramahan, semangat bekerja, serta optimisme dalam membangun kehidupan bermasyarakat.

Selain itu, berbagai tradisi dan adat istiadat masih terus dilestarikan, di antaranya Nyadran, Kendhuri, Merti Dusun, hingga budaya gotong royong yang telah diwariskan secara turun-temurun. Berbagai kegiatan tersebut tetap berjalan atas inisiatif masyarakat tanpa bergantung pada bantuan pemerintah.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kesadaran yang kuat untuk menjaga warisan budaya. Karena itu, pemerintah kalurahan bersama pengelola Kalurahan Mandiri Budaya optimistis mampu mempertahankan sekaligus mengembangkan nilai-nilai budaya yang telah mengakar di masyarakat,” jelasnya.

“Pandangan saya mengenai Lumbung Mataraman di Kalurahan Tamanmartani adalah bahwa lumbung ini tidak hanya berfungsi sebagai penangkal krisis ketahanan pangan, tetapi juga sebagai benteng pencegah krisis nilai, krisis moral, dan krisis budaya. Kita harus menjaga agar generasi mendatang tidak kehilangan jati diri Yogyakarta,” tegasnya.

Melalui penguatan konsep Lumbung Mataraman tersebut, Kalurahan Tamanmartani diharapkan mampu menjadi contoh pengembangan Kalurahan Mandiri Budaya yang tidak hanya berorientasi pada penguatan ekonomi dan ketahanan pangan, tetapi juga pada pelestarian nilai-nilai budaya sebagai fondasi kehidupan masyarakat yang berkelanjutan.

(Tri Joko S/KIM Kalasan Bersahabat)




DIY Evaluasi Program Kalurahan Mandiri Budaya di Tamanmartani

Sleman – Pemerintah Daerah DIY menegaskan bahwa Dana Keistimewaan (Danais) bagi Kalurahan Mandiri Budaya bersifat sebagai stimulus untuk mendukung pelaksanaan program sesuai visi dan misi kalurahan. Bantuan tersebut diberikan selama tiga tahun dengan harapan setelahnya kalurahan mampu menjalankan program secara mandiri melalui penguatan potensi lokal.

Hal itu disampaikan Kepala Bagian Rekayasa Perekonomian Biro Perekonomian dan SDA Setda DIY, Hendratmoro, saat memimpin monitoring dan evaluasi (monev) Kalurahan Mandiri Budaya Tamanmartani di Balai Budaya Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Rabu (5/8/2026).

Menurut Hendratmoro, setiap Kalurahan Mandiri Budaya perlu memiliki program unggulan sebagai fondasi untuk mewujudkan visi dan misi pembangunan. Program tersebut diharapkan mampu mendorong penurunan angka kemiskinan dan pengangguran, meningkatkan perekonomian masyarakat, menarik investasi, serta memperkuat kemandirian fiskal kalurahan.

“Tamanmartani yang ditetapkan sebagai Kalurahan Mandiri Budaya pada 2023 kini memasuki tahun kedua pelaksanaan program. Untuk itu, monitoring dilakukan untuk mengevaluasi aspek kebudayaan, kepariwisataan, kewirausahaan dan pengembangan potensi lokal, pemberdayaan perempuan dan kelompok rentan, ketahanan lingkungan, mitigasi bencana, serta keberlanjutan program,” ujarnya.

Sementara itu, Carik Tamanmartani, Tomi Nugroho menjelaskan bahwa Program Kalurahan Mandiri Budaya menjadi strategi pembangunan berbasis potensi lokal yang memadukan pelestarian budaya, penguatan ekonomi masyarakat, ketahanan pangan, dan pemberdayaan masyarakat.

Salah satu program unggulan yang dipaparkan adalah Lumbung Mataraman di Padukuhan Cageran, yang dikembangkan sebagai kawasan pemberdayaan masyarakat melalui penguatan ketahanan pangan, pelestarian lingkungan, edukasi budaya, dan peningkatan ekonomi warga.

Tim monitoring yang terdiri dari unsur Biro Perekonomian dan SDA Setda DIY, Paniradya Kaistimewaan DIY, akademisi, serta sejumlah perangkat daerah melakukan evaluasi melalui diskusi dengan pengelola Kalurahan Mandiri Budaya, kemudian meninjau langsung pelaksanaan program di Padukuhan Cageran.

Melalui monitoring ini, Pemerintah Daerah DIY berharap Program Kalurahan Mandiri Budaya di Tamanmartani dapat berjalan berkelanjutan, memperkuat kemandirian masyarakat, serta memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan warga. (Tri Joko S/KIM Kalasan Bersahabat)




RSA UGM Edukasi Pentingnya ASI Eksklusif untuk Wujudkan Generasi Sehat

Sleman – Air Susu Ibu (ASI) eksklusif merupakan fondasi penting dalam membangun generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas. Pemberian ASI selama enam bulan pertama kehidupan terbukti mendukung tumbuh kembang anak, memperkuat sistem imun, serta menurunkan risiko stunting.

Hal tersebut disampaikan dokter spesialis anak dr. Fita Wirastuti dalam kegiatan publikasi layanan dan promosi kesehatan yang diselenggarakan Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gadjah Mada (UGM) di Joglo Kumbakarno, lobi utara RSA UGM, Kalurahan Trihanggo, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Rabu (5/8/2026). Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Pekan ASI Sedunia sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pola hidup sehat.

Acara dibuka oleh Direksi RSA UGM, Prof. Apt. Ika Puspita Sari, yang menegaskan bahwa rumah sakit tidak hanya berperan sebagai penyedia layanan kesehatan, tetapi juga sebagai pusat edukasi masyarakat untuk mendorong perilaku hidup sehat.

Dalam paparannya, dr. Fita menjelaskan bahwa ASI mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan bayi selama enam bulan pertama, sekaligus mengandung antibodi alami yang membantu melindungi dari berbagai penyakit infeksi dan mendukung perkembangan otak secara optimal.

“ASI tidak hanya bermanfaat bagi bayi, tetapi juga bagi ibu. Menyusui membantu mempercepat pemulihan pascapersalinan, menurunkan risiko kanker payudara dan kanker ovarium, serta mempererat ikatan emosional antara ibu dan anak,” jelasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan pemberian ASI eksklusif membutuhkan dukungan keluarga, tenaga kesehatan, tempat kerja, dan lingkungan sekitar agar ibu dapat menyusui secara optimal.

Selain edukasi kesehatan, kegiatan ini juga melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) Sidodadi dan pelaku UMKM Padukuhan Kronggahan II sebagai bentuk sinergi antara pelayanan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat melalui penyediaan pangan sehat.

Prof. Ika Puspita Sari mengatakan kolaborasi tersebut merupakan bagian dari komitmen RSA UGM dalam membangun ekosistem kesehatan yang berkelanjutan.

“Kesehatan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh pelayanan medis, tetapi juga oleh ketersediaan pangan bergizi, lingkungan yang mendukung, dan penguatan ekonomi keluarga,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, RSA UGM berharap semakin banyak masyarakat memahami pentingnya ASI eksklusif sehingga setiap bayi memperoleh haknya atas nutrisi terbaik sejak lahir, sekaligus mendukung terwujudnya generasi Indonesia yang sehat dan berkualitas. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




SD Negeri Ngetal Reviu Kurikulum 2026/2027, Perkuat Pembelajaran Berbasis Karakter

Sleman – SD Negeri Ngetal, Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, menggelar reviu Kurikulum Tahun Pelajaran 2026/2027 di ruang kelas sekolah, Rabu (5/8/2026). Kegiatan ini menjadi langkah penyempurnaan program pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan perkembangan zaman.

Reviu dihadiri Ketua Korwil Pendidikan Kapanewon Seyegan, Luhur Pambudi, Ketua Komite, Waldjijono, Kepala SD Negeri Ngetal, Anik Rohani, dewan guru, karyawan, perwakilan orang tua, siswa, serta tokoh masyarakat.

Kepala SD Negeri Ngetal, Anik Rohani, menjelaskan bahwa kurikulum menjadi pedoman utama dalam penyelenggaraan pembelajaran. Ia menyampaikan, capaian literasi, numerasi, dan karakter sekolah yang baik mengantarkan SD Negeri Ngetal menerima BOS Kinerja berupa peningkatan kompetensi guru di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) DIY selama empat tahun berturut-turut.

“Sekolah juga didukung sarana prasarana yang memadai, termasuk fasilitas komputer sehingga pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) dapat dilakukan dalam satu sesi,” ujar Anik.

Ia memaparkan berbagai program sekolah, mulai dari pembiasaan harian seperti budaya 5S (senyum, salam, sapa, sopan, santun), salat berjamaah, budaya antre, dan gerakan peduli kebersihan.

“Selain itu, terdapat program mingguan, bulanan, dan tahunan yang memadukan pembelajaran akademik, penguatan karakter, budaya, keagamaan, hingga kepedulian lingkungan,” jelas Anik.

SD Negeri Ngetal juga mengembangkan sejumlah program unggulan, seperti Ngaji Asik, Ngetal Nyeni, Gema Hebat, pendidikan antikorupsi Pak Ngetal, Gerakan Sekolah Sehat, pendidikan kebencanaan, literasi digital, serta program Ngetal Sisik untuk mencegah anak putus sekolah melalui pendataan dan pendampingan.

Pada kesempatan tersebut, sekolah juga meluncurkan branding “Ngetal Dahsyat”, yang merupakan akronim dari Disiplin, Agamis, Hebat, Santun, Yakin, Andil (aktif), dan Terpuji, dengan tagline “SD Ngetal Dahsyat: Luhur ing Budi, Unggul ing Prestasi.”

Ketua Komite, Waldjijono, mengapresiasi kurikulum yang dinilai komprehensif dan sesuai kebutuhan masyarakat. Ia menegaskan komite akan terus mendukung pelaksanaan program sekolah agar berjalan optimal.

Sementara itu, Ketua Korwil Pendidikan Kapanewon Seyegan, Luhur Pambudi, menekankan bahwa kurikulum harus memadukan muatan nasional dan muatan lokal, termasuk Bahasa Jawa, Pendidikan Khas Kejogjaan, serta Program Sleman Religi. Ia juga mengingatkan pentingnya pendidikan keamanan siber, pencegahan penyalahgunaan narkoba, serta upaya bersama mencegah anak putus sekolah.

“Kami berharap kurikulum yang disusun mampu melahirkan peserta didik yang unggul secara akademik sekaligus memiliki karakter, akhlak, dan kepedulian sosial sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan,” tandas Pambudi. (Sulistiyono – KIM Seyegan)




Kalurahan Sinduadi Sosialisasikan Pembangunan BKK Tahun Anggaran 2026

Sleman – Pemerintah Kalurahan Sinduadi menggelar Sosialisasi Pembangunan Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Tahun Anggaran 2026, Rabu (5/8/2026). Kegiatan ini bertujuan menyamakan pemahaman seluruh pemangku kepentingan mengenai pelaksanaan pembangunan yang akan dimulai pada pertengahan Agustus 2026.

Sosialisasi dihadiri Carik Kalurahan Sinduadi, K. Fendy Ramadhan, Ulu-Ulu Kalurahan Sinduadi, Nurul Muktama, para dukuh dari Padukuhan Jombor Kidul, Kutu Dukuh, Karangjati, dan Kutu Tegal, serta ketua RT, RW, Sub Unit LPM, dan perwakilan masyarakat.

Dalam sambutannya, K. Fendy Ramadhan menjelaskan bahwa anggaran pembangunan Kalurahan Sinduadi tahun 2026 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya akibat penyesuaian anggaran untuk sejumlah program prioritas pemerintah.

“Kondisi tersebut perlu diimbangi dengan sinergi dan komunikasi yang baik antara pemerintah kalurahan, pemerintah padukuhan, LPM, dan DPRD agar pembangunan tetap berjalan optimal melalui skema Bantuan Keuangan Khusus (BKK),” jelasnya.

Sementara itu, Ulu-Ulu Kalurahan Sinduadi, Nurul Muktama menyampaikan bahwa pelaksanaan pembangunan BKK dijadwalkan mulai pertengahan Agustus 2026.

“Kami meminta setiap padukuhan segera menyosialisasikan rencana pembangunan kepada masyarakat agar seluruh persiapan dapat dilakukan dengan baik,” tandas Nurul.

Program BKK Tahun 2026 meliputi perkerasan jalan conblock di Padukuhan Jombor Kidul seluas meter persegi, Padukuhan Kutu Tegal seluas meter persegi, pembangunan saluran drainase sepanjang 56 meter di Padukuhan Kutu Dukuh, serta perkerasan jalan conblock seluas 210 meter persegi dan pembangunan delapan sumur resapan di Padukuhan Karangjati.

Melalui sosialisasi ini, Pemerintah Kalurahan Sinduadi berharap seluruh tahapan pembangunan dapat terlaksana sesuai rencana, tepat waktu, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (Y. Edy – KIM Pijar Mlati)