PEMI DIY Unjuk Gigi di J-CoVa 2026, Dorong Pengusaha Muslimah Sleman Naik Kelas

Sleman – Pengurus Daerah Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menegaskan komitmennya dalam memperkuat jejaring ekonomi kreatif dan UMKM lokal dengan ambil bagian pada ajang Jogja Cozy Vaganza (J-CoVa) 2026. Pameran yang berlangsung selama dua hari pada Sabtu (01/08/2026) hingga Minggu (02/08/2026) ini dipusatkan di kawasan Jogja Cozy Space (JOZS), Jalan Damai, Padukuhan Jaban, Kalurahan Sinduharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman.

Kehadiran IPEMI DIY dalam perhelatan pameran tersebut menjadi wadah strategis untuk memamerkan aneka produk unggulan para anggotanya, mulai dari olahan kuliner, produk kriya, hingga busana Muslim.

Ketua IPEMI DIY, Sumarni S. Jasmine, menyampaikan bahwa partisipasi IPEMI di ajang J-CoVa 2026 bukan sekadar untuk menjual produk, melainkan menjadi langkah nyata dalam memperluas akses kemitraan dan pasar bagi pengusaha perempuan.

“Keikutsertaan kami di J-CoVa 2026 ini adalah bukti nyata bahwa pengusaha muslimah memiliki daya saing tinggi dan siap beradaptasi dengan tren pasar masa kini. IPEMI tidak hanya hadir untuk berjualan, tetapi juga sebagai wadah pemberdayaan, pelatihan, dan saling menguatkan antar-pelaku usaha perempuan,” ujar Sumarni S. Jasmine pada Minggu (02/08/2026).

Sumarni menjelaskan bahwa pendampingan dan pembinaan berkelanjutan menjadi kunci penting dalam penguatan kapasitas anggota, mulai dari pendampingan legalitas, sertifikasi halal, digitalisasi pemasaran, hingga perluasan akses permodalan.

“Melalui forum seperti J-CoVa ini, kami mendorong para anggota untuk melengkapi legalitas, melek teknologi, serta berani membuka jaringan baru agar UMKM lokal Sleman dan DIY mampu naik kelas dan menembus pasar yang lebih luas,” tegasnya.

Pameran di kawasan JOZS ini mendapat antusiasme tinggi dari para pengunjung. Selain menampilkan berbagai produk UMKM unggulan, gelaran J-CoVa 2026 juga diisi dengan ruang temu bisnis (business matching), diskusi interaktif, serta pojok layanan sertifikasi halal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis usaha mikro. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




Menjaga Warisan Kuliner Lereng Merapi, Usaha Slondok Renteng Bu Puji Konsisten Pertahankan Cita Rasa Tradisional

Sleman – Industri rumahan Slondok Renteng Bu Puji yang berlokasi di Dusun Boyong, Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, terus mempertahankan resep dan teknik pembuatan tradisional dalam mengolah camilan khas lereng Gunung Merapi. Terletak di sebelah barat kawasan Museum Gunung Merapi (MGM), unit usaha lokal ini menjadi salah satu daya tarik wisatawan yang ingin berburu oleh-oleh sekaligus melihat proses pembuatannya secara langsung.

Pemilik usaha, Puji, menjelaskan bahwa untuk menjaga renyahnya tekstur slondok, pihaknya secara konsisten menggunakan bahan baku ubi kayu atau singkong pilihan yang didatangkan langsung dari kawasan Turi, Sleman. Setiap sesi produksi, industri rumahan yang mempekerjakan dua tenaga kerja ini mampu mengolah hingga 1,5 kuintal singkong.

“Biasanya sekali produksi menggunakan sekitar satu setengah kuintal ubi kayu. Bahan bakunya dipasok dari Turi karena kualitas singkongnya bagus dan menghasilkan slondok yang renyah,” ujar Puji pada Minggu (02/08/2026).

Puji menambahkan bahwa proses pembuatan camilan gurih ini dimulai sejak pukul WIB dini hari. Tahapannya diawali dengan mengupas dan mengukus singkong hingga matang sempurna, lalu dicampur bumbu rempah warisan keluarga. Adonan kemudian dihaluskan menggunakan mesin penggiling otomatis, dibentuk memanjang, dipotong seragam, hingga digoreng sampai renyah.

“Kami sudah mulai bekerja sekitar pukul tiga pagi. Setelah adonan pertama selesai digiling, langsung dibentuk agar proses berikutnya lebih mudah dan hasilnya tetap bagus,” tuturnya.

Selain cita rasa gurih yang khas, keunikan utama produk ini terletak pada kemasan atau penyajian akhirnya. Slondok tidak dikemas menggunakan kantong plastik biasa, melainkan disusun dan diikat membentuk rentengan menggunakan racikan bilah bambu tipis. Setiap renteng berisi tujuh buah slondok, yang menjadi identitas unik sekaligus daya tarik oleh-oleh bernilai budaya bagi para wisatawan. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri)




Tanamkan Budaya Tertib Berlalu Lintas, Polresta Sleman Latih 153 Siswa SD Menjadi Pelopor Keselamatan

Sleman – Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Sleman secara resmi membuka Pelatihan Patroli Keamanan Sekolah (PKS) bagi 153 siswa Sekolah Dasar (SD) di Lapangan SD Muhammadiyah Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, pada Senin (03/08/2026). Pelatihan intensif ini dijadwalkan berlangsung selama hampir tiga pekan, mulai 4 hingga 22 Agustus 2026.

Upacara pembukaan dipimpin langsung oleh Kepala Satuan Lalu Lintas Polresta Sleman, Arfita Dewi. Sebanyak 153 peserta yang terdiri dari 145 siswa SD Muhammadiyah Condongcatur dan 8 siswa SD Muhammadiyah Kompleks Kolombo akan dibekali pengetahuan dasar peraturan lalu lintas, teknik pengaturan keamanan lingkungan sekolah, serta langkah pencegahan risiko kecelakaan.

Kepala Satuan Lalu Lintas Polresta Sleman, Arfita Dewi, menjelaskan bahwa pembentukan PKS tingkat sekolah dasar ini merupakan langkah preventif untuk menanamkan budaya tertib berlalu lintas sejak usia dini.

“Pembentukan PKS ini bertujuan menanamkan kesadaran tertib berlalu lintas serta membentuk generasi muda yang peduli terhadap keselamatan di lingkungan sekolah,” ujar Arfita Dewi pada Senin (03/08/2026).

Sementara itu, Kepala SD Muhammadiyah Condongcatur, Estri Rukmiyanti, menyampaikan bahwa program PKS merupakan agenda tahunan sekolah yang ditujukan untuk memperkuat pembinaan karakter dan jiwa kepemimpinan siswa.

“Melalui PKS, siswa memperoleh pengalaman untuk belajar bertanggung jawab, berani mengambil peran, dan memiliki jiwa melayani. Pengalaman tersebut penting dalam proses pembentukan karakter mereka,” kata Estri Rukmiyanti.

Ia juga menyampaikan apresiasi tinggi atas sinergi dan pendampingan berkelanjutan dari jajaran Polresta Sleman. Melalui kolaborasi ini, para siswa dapat menimba ilmu keselamatan secara langsung dari personel kepolisian yang berkompeten, sekaligus menjadi contoh pelopor keselamatan di lingkungan keluarga dan masyarakat. (Athiful/KIM Depok)




SPS Asparagus Kentungan Perkuat Kolaborasi Orang Tua, Pendidikan Karakter dan Multikultural Jadi Prioritas

Sleman – Satuan PAUD Sejenis (SPS) Asparagus Kentungan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, menyelenggarakan Kelompok Pertemuan Orang Tua (KPO) di ruang kelas sekolah setempat pada Senin (03/08/2026). Pertemuan ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat sinergi antara pihak sekolah dan para wali murid dalam mendukung tumbuh kembang anak pada awal Tahun Ajaran 2026/2027.

Rangkaian agenda yang dipimpin oleh Kepala SPS Asparagus Kentungan, Reni Lestari, memfokuskan pembahasan pada sosialisasi visi lembaga, evaluasi Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), penyusunan program kerja tahunan, serta penguatan pendidikan karakter berbasis multikultural.

Dalam pemaparannya, Reni Lestari menjelaskan bahwa visi lembaga “Santun, Rukun, Mandiri, dan Berkebinekaan” ditanamkan secara konsisten melalui ragam aktivitas harian, mulai dari toleransi beragama hingga pengenalan kebudayaan Nusantara seperti lagu daerah, pakaian adat, dan tarian tradisional.

“Pendidikan anak usia dini bukan hanya tentang mengenalkan huruf, angka, atau kemampuan akademik. Yang jauh lebih penting adalah menanamkan karakter sejak dini. Sekolah dan orang tua harus berjalan berdampingan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang santun, mandiri, bertanggung jawab, serta mampu menghargai perbedaan,” ujar Reni Lestari pada Senin (03/08/2026).

Reni menambahkan bahwa penguatan karakter dan kecintaan terhadap budaya bangsa menjadi benteng krusial bagi anak usia dini di tengah maraknya era distraksi digital dan penggunaan gawai.

Sesi evaluasi MPLS menunjukkan perkembangan positif peserta didik yang kian mandiri, percaya diri, serta mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Sambutan hangat juga disampaikan oleh perwakilan wali murid, Sylvia Puspita, yang mengapresiasi kejelasan kurikulum berbasis multikultural tersebut.

“Kami sangat mengapresiasi pembelajaran berbasis multikultural yang diterapkan sekolah. Ke depan kami berharap pendidikan karakter semakin diperkuat, sehingga anak-anak tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang santun, jujur, disiplin, bertanggung jawab, peduli terhadap sesama, serta bangga terhadap budaya Indonesia,” tutur Sylvia Puspita.

Pertemuan ditutup dengan penyusunan Rencana Kerja Tahun Ajaran 2026/2027 yang dirancang secara partisipatif guna mengoptimalkan aspek moral, kognitif, sosial-emosional, hingga penguatan Profil Pelajar Pancasila secara berkelanjutan. (Wasana/KIM Depok)




Bangun Pengasuhan Harmonis, RA Masyithoh Pangukan Gelar Seminar Healing Parenting

Sleman – RA Masyithoh Pangukan menggelar kegiatan Healing Parenting bertajuk “Orangtua Sehat Mental, Anak Juga Sehat Mental” di Ruang Arjuna BBPPMT, Kalurahan Tridadi, Kapanewon Sleman, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (01/08/2026). Perhelatan yang berlangsung mulai pukul hingga WIB ini diselenggarakan untuk memperkuat sinergi antara lingkungan pendidikan sekolah dan pola pengasuhan di dalam rumah.

Agenda yang diikuti para wali murid tersebut menghadirkan narasumber pakar parenting, Dwi Hastuti. Forum ini menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental orang tua sebagai pilar utama dalam menciptakan iklim keluarga yang harmonis serta mendukung perkembangan jiwa anak secara optimal.

Dalam pemaparannya, Dwi Hastuti menjelaskan bahwa proses pengasuhan anak tidak sebatas pemenuhan kebutuhan fisik semata, melainkan membutuhkan kehadiran emosional yang stabil dan penuh kasih kasih sayang.

“Orang tua yang mampu merawat dirinya akan lebih siap merawat anak dengan cinta. Parenting bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang terus belajar hadir sepenuh hati untuk anak-anak kita,” ujar Dwi Hastuti pada Sabtu (01/08/2026).

Materi seminar membekali para orang tua mengenai teknik pengelolaan emosi, strategi membangun komunikasi yang hangat, serta refleksi diri untuk menciptakan suasana rumah yang aman bagi kesehatan mental anak.

Sementara itu, Kepala RA Masyithoh Pangukan, RR Utsani Wasti, mengapresiasi tingginya antusiasme para orang tua murid. Menurutnya, keberhasilan pendidikan karakter anak sangat ditentukan oleh keselarasan antara pembinaan di sekolah dan pengasuhan keluarga.

“Kami meyakini bahwa sekolah dan keluarga adalah mitra yang tidak dapat dipisahkan. Melalui kegiatan Healing Parenting ini, kami berharap para orang tua memperoleh bekal untuk menjaga kesehatan mentalnya, sehingga mampu menciptakan suasana rumah yang penuh cinta, ketenangan, dan dukungan bagi tumbuh kembang anak. Ketika orang tua bahagia, insyaallah anak-anak juga akan tumbuh menjadi pribadi yang sehat, percaya diri, dan berakhlak mulia,” tutur RR Utsani Wasti.

Acara yang berlangsung interaktif tersebut ditutup dengan sesi diskusi dan tanya jawab seputar dinamika pengasuhan di era modern, menegaskan komitmen RA Masyithoh Pangukan dalam membentuk generasi cerdas yang sehat secara mental dan emosional. (Ajeng/KIM DSN)