Perlinsos Dongkrak Aktivasi IKD, 82 Warga Terlayani hingga Jumat Siang di Condongcatur

Sleman – Antusiasme masyarakat untuk mengaktifkan Identitas Kependudukan Digital (IKD) di Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, terus meningkat. Pada Jumat (28/8/2026) pagi, warga silih berganti mendatangi Kantor Kalurahan Condongcatur untuk mendapatkan layanan aktivasi IKD.

Hingga pukul WIB, sebanyak 82 warga telah terlayani. Pelayanan kemudian dijeda untuk istirahat dan pelaksanaan salat Jumat sebelum kembali dilanjutkan hingga pukul WIB.

Kaur Tata Laksana Kalurahan Condongcatur, Andree Setiawan mengatakan peningkatan permohonan aktivasi IKD terjadi dalam beberapa hari terakhir. Salah satu faktor pendorongnya adalah kebutuhan masyarakat untuk melakukan pendaftaran Perlindungan Sosial (Perlinsos) secara mandiri yang memerlukan akun IKD aktif.

“Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat yang datang untuk aktivasi IKD cukup banyak. Salah satu pendorongnya karena IKD diperlukan dalam pendaftaran Perlinsos secara mandiri. Meskipun program GERUDUK sebagai pelayanan jemput bola sudah kami laksanakan di padukuhan, antusiasme warga yang datang langsung ke Kalurahan Condongcatur setiap hari tetap tinggi,” kata Andree.

Menurutnya, pelayanan aktivasi IKD di Kantor Kalurahan Condongcatur dibuka setiap Senin hingga Kamis pukul – WIB. Khusus Jumat, pelayanan berlangsung hingga pukul WIB dengan jeda istirahat dan salat Jumat.

“Seperti hari ini, sampai pukul WIB sudah 82 warga yang terlayani. Setelah istirahat dan salat Jumat, pelayanan dilanjutkan kembali sampai pukul WIB. Bagi masyarakat yang belum sempat melakukan aktivasi di kalurahan, aktivasi IKD juga dapat dilakukan di Kantor Kapanewon Depok pada hari kerja,” ujarnya.

Tingginya jumlah pemohon menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. Sejumlah warga yang datang merupakan kelompok lanjut usia yang belum terbiasa menggunakan telepon pintar maupun aplikasi digital, sehingga membutuhkan pendampingan secara bertahap.

Salah satu petugas pelayanan IKD, Ririn Ardiana mengatakan pendampingan bagi warga lansia dilakukan dengan sabar agar seluruh tahapan aktivasi dapat diselesaikan.

“Banyak warga lansia yang belum terbiasa menggunakan teknologi dan telepon pintar. Kami harus sabar mendampingi dan memandu satu per satu sehingga prosesnya memang membutuhkan waktu. Kami berusaha membantu sampai tahapan aktivasi dapat diselesaikan,” kata Ririn.

Menurut Ririn, pendampingan tersebut penting agar transformasi pelayanan berbasis digital tetap dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga yang belum terbiasa menggunakan teknologi.

IKD merupakan bentuk digital dari dokumen kependudukan yang dapat diakses melalui telepon pintar. Untuk melakukan aktivasi, masyarakat harus telah melakukan perekaman KTP elektronik, memiliki telepon pintar, alamat surat elektronik, serta nomor telepon aktif. Proses aktivasi dilakukan melalui registrasi dan verifikasi bersama petugas resmi.

Pelayanan aktivasi IKD tidak dipungut biaya. Masyarakat juga diimbau untuk menjaga kerahasiaan PIN, kode aktivasi, dokumen kependudukan, dan data pribadi lainnya serta tidak menyerahkannya kepada pihak yang tidak berkepentingan.

Andree menegaskan, kebutuhan pendaftaran Perlinsos diharapkan dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk semakin mengenal dan memanfaatkan IKD, bukan sekadar sebagai persyaratan administrasi.

“IKD bukan hanya untuk keperluan Perlinsos. Ke depan, pemanfaatan identitas digital akan semakin luas dalam berbagai pelayanan publik. Kami mengajak masyarakat yang sudah memenuhi persyaratan untuk melakukan aktivasi sekaligus menjaga keamanan data pribadinya,” kata Andree.

Melalui pelayanan reguler di kantor kalurahan dan pelayanan jemput bola GERUDUK di padukuhan, Pemerintah Kalurahan Condongcatur terus berupaya mendekatkan layanan administrasi kependudukan kepada masyarakat sekaligus memastikan transformasi digital dapat diakses seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga lanjut usia.

(Wasana/KIM Depok)




Kapolsek Gamping Bekali 345 Taruna Baru STPN Perihal Pentingnya Kamtibmas

Sleman – Sebanyak 345 taruna baru Politeknik Agraria Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) Yogyakarta mendapat pembekalan mengenai keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) dari Kepala Kepolisian Sektor Gamping, AKP Bowo Susilo, dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Taruna Baru (PKKTB) Tahun Akademik 2026/2027 di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (27/8/2026).

Pembekalan yang berlangsung mulai pukul WIB di Pendopo Kampus Politeknik Agraria STPN, Banyuraden, Kapanewon Gamping, tersebut diarahkan untuk membangun kesadaran taruna baru mengenai pentingnya menjaga keamanan, ketertiban, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap lingkungan kampus maupun masyarakat.

AKP Bowo Susilo dalam materinya menekankan bahwa terciptanya lingkungan pendidikan yang aman dan kondusif tidak hanya bergantung pada aparat keamanan, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh warga kampus. Kesadaran untuk mengenali dan mencegah potensi gangguan keamanan perlu dibangun sejak taruna mulai menjalani kehidupan akademik.

“Keamanan dan ketertiban bukan semata-mata tanggung jawab aparat keamanan, tetapi merupakan tanggung jawab bersama. Taruna sebagai bagian dari lingkungan kampus dan masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga situasi tetap aman dan kondusif,” tandasnya di hadapan para taruna.

Ia pun mengingatkan para taruna agar membangun karakter disiplin dan bertanggung jawab selama menjalani pendidikan. Kepatuhan terhadap aturan, sikap saling menghormati, serta kemampuan menjaga perilaku di lingkungan sosial menjadi modal penting bagi taruna dalam membangun kehidupan kampus yang tertib.

Menurut AKP Bowo Susilo, kesadaran hukum perlu berjalan beriringan dengan perkembangan teknologi dan aktivitas generasi muda di ruang digital. Para taruna diharapkan mampu menggunakan media sosial secara bijak, tidak mudah terhasut, serta menghindari tindakan yang dapat menimbulkan konflik maupun merugikan diri sendiri dan orang lain.

“Institusi pendidikan punya posisi strategis dalam membentuk generasi muda yang memiliki kompetensi akademik, sekaligus memiliki kepedulian sosial dan kesadaran terhadap keamanan lingkungan. Karena itu, para taruna harus ikut menjaga nama baik almamater serta menciptakan suasana belajar yang nyaman dan produktif,” jelasnya.

Dalam kesempatan ini, AKP Bowo Susilo didampingi Kepala Unit Binmas Polsek Gamping, Iptu Mamik Susanti bersama Kepala Seksi Umum Polsek Gamping, Aiptu Anton guna memperkuat sinergi kepolisian dengan Politeknik Agraria STPN dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman dan kondusif.

“Jadilah taruna yang disiplin, bertanggung jawab, dan mampu menjaga diri serta lingkungan. Jangan mudah terprovokasi, baik oleh informasi di lingkungan sekitar maupun di media sosial. Gunakan masa pendidikan ini untuk membangun karakter dan prestasi, sehingga setelah menyelesaikan pendidikan nanti dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat,” pesan AKP Bowo. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Tingkatkan Literasi Digital, Bhabinkamtibmas Nogotirto Edukasi Warga Cegah Penipuan Online

Sleman – Pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan online menjadi perhatian dalam kegiatan pembinaan dan penyuluhan kepada warga Perumahan Nogotirto IV, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Kamis (27/8/2026). Kegiatan tersebut dilakukan Bhabinkamtibmas Kalurahan Nogotirto bersama mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta untuk memperkuat literasi keamanan digital masyarakat.

Dalam penyuluhan, warga diberikan pemahaman mengenai berbagai modus kejahatan siber yang memanfaatkan komunikasi digital. Penipuan dapat dilakukan melalui pesan singkat, media sosial, aplikasi percakapan, hingga platform transaksi digital dengan mengatasnamakan pihak atau lembaga tertentu untuk mendapatkan kepercayaan calon korban.

Bhabinkamtibmas Nogotirto, Aiptu Eko Yulianto, mengimbau masyarakat agar bersikap kritis ketika menerima informasi atau tawaran yang tidak dikenal melalui internet. Warga diminta tidak memberikan data pribadi, kode OTP (One-Time Password), PIN (Personal Identification Number), kata sandi, maupun informasi perbankan kepada pihak lain.

“Pelaku penipuan kerap memanfaatkan situasi yang membuat korban panik atau tergiur keuntungan. Karena itu, kita perlu membiasakan diri melakukan verifikasi terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan, terutama ketika mendapatkan informasi mengenai hadiah, investasi, pinjaman, pekerjaan, maupun transaksi yang meminta pembayaran,” tegas Eko.

Pembinaan juga menekankan pentingnya menjaga keamanan data pribadi. Informasi seperti NIK, nomor rekening, foto dokumen kependudukan, dan kredensial akun digital perlu dilindungi agar tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Keterlibatan mahasiswa UNISA Yogyakarta turut memperkuat edukasi mengenai pentingnya literasi digital di masyarakat. Menurut Eko, literasi digital perlu dilakukan secara berkelanjutan agar warga dari berbagai kelompok usia mampu mengenali risiko penggunaan teknologi dan mengambil langkah pencegahan secara tepat.

Warga juga diimbau segera berkoordinasi dengan pihak berwenang apabila menemukan dugaan penipuan. Pelaporan secara cepat diharapkan dapat mencegah kerugian lebih besar sekaligus membantu aparat mengantisipasi modus serupa di lingkungan masyarakat.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun keamanan lingkungan yang tidak hanya berfokus pada gangguan keamanan konvensional, tetapi juga ancaman yang berkembang di ruang digital.

“Kolaborasi antara Bhabinkamtibmas, masyarakat, dan kalangan akademisi perlu dilakukan untuk membangun kesadaran bersama mengenai keamanan dan etika dalam bermedia digital,” ujar Eko.

Melalui kegiatan tersebut, warga Perumahan Nogotirto IV diharapkan semakin waspada terhadap berbagai modus penipuan online, kritis dalam menyikapi informasi, serta mampu menjaga keamanan data pribadi dan melindungi keluarga dari ancaman kejahatan siber. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Pasar Bela Negara Bahas Sleman Produktif, Dorong UMKM Semakin Aktif dan Mandiri

Sleman – Program Sleman Produktif menjadi topik utama dalam Talkshow Pasar Bela Negara yang digelar Jumat (28/8/2026) pagi di sisi utara Lapangan Pemda Sleman. Kegiatan yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sleman tersebut menghadirkan Ketua BAZNAS Kabupaten Sleman, Muhyi Darmaji, sebagai narasumber.

Mengusung tema “Sleman Produktif, Usaha Makin Aktif”, talkshow membahas program pemberdayaan ekonomi yang ditujukan bagi pelaku usaha ultra mikro agar mampu mengembangkan usahanya secara produktif dan berkelanjutan.

Muhyi Darmaji menjelaskan, Sleman Produktif merupakan program BAZNAS Kabupaten Sleman yang berorientasi pada pemberdayaan ekonomi mustahik melalui pengembangan usaha. Program tersebut tidak hanya memberikan bantuan permodalan, tetapi juga pendampingan agar bantuan dapat dikelola secara optimal dan memberikan dampak terhadap perkembangan usaha.

“Program ini tidak berhenti pada pemberian modal. Kami juga memberikan pendampingan agar penerima manfaat dapat mengelola bantuan dengan baik dan mengembangkan usahanya,” jelas Muhyi.

Dalam talkshow tersebut, masyarakat juga mendapatkan informasi mengenai kriteria penerima manfaat, mekanisme pengajuan, tata kelola bantuan, hingga proses pendampingan. Program Sleman Produktif ditujukan bagi masyarakat yang memenuhi kriteria sebagai mustahik dan memiliki usaha yang berpotensi untuk dikembangkan.

Calon penerima manfaat terlebih dahulu melalui proses survei dan verifikasi untuk memastikan kelayakan serta kebutuhan bantuan. Mekanisme tersebut dilakukan agar bantuan dapat diberikan secara tepat sasaran kepada masyarakat yang membutuhkan sekaligus memiliki potensi mengembangkan usaha.

Muhyi menegaskan, pendampingan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Program Sleman Produktif. Penerima manfaat mendapatkan pembekalan mengenai pengelolaan usaha, manajemen kelompok, pencatatan keuangan, pengembangan produk, hingga pemantauan perkembangan usaha.

Pendampingan tersebut diberikan secara gratis. Pendamping membantu penerima manfaat mengelola bantuan sekaligus memperkuat sistem usaha yang telah berjalan.

Melalui talkshow tersebut, masyarakat diajak memahami bahwa pengembangan UMKM tidak cukup hanya dengan tambahan modal. Pengelolaan keuangan, kualitas produk, pemasaran, manajemen usaha, serta kemampuan menjaga keberlanjutan bisnis menjadi faktor penting agar usaha dapat berkembang.

Program Sleman Produktif menggabungkan stimulan permodalan dengan pendampingan usaha. Melalui pendekatan tersebut, BAZNAS Sleman mendorong penerima manfaat tidak hanya mampu mempertahankan usaha, tetapi juga berkembang menjadi pelaku usaha yang lebih mandiri dan produktif. (Joko Yugiyanto/KIM Godean)




KKN UII Unit 75 Ajak Warga Jamblangan Ubah Sampah Organik Jadi Kompos Lewat Biopori

Sleman – Persoalan sampah organik dan genangan air saat musim penghujan mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Indonesia (UII) Unit 75 menghadirkan solusi sederhana yang dapat diterapkan masyarakat. Melalui sosialisasi dan praktik pembuatan biopori, mahasiswa mengajak warga Padukuhan Jamblangan memanfaatkan sampah organik sekaligus meningkatkan daya resap tanah.

Kegiatan tersebut digelar di rumah Dukuh Jamblangan, Kamis (27/8/2026), dengan melibatkan sekitar 40 warga yang merupakan perwakilan dari tiga RW. Kegiatan ini menjadi bagian dari tiga program kerja KKN Unit 75 UII Posko Dusun Jamblangan, yakni Bimbingan Belajar (Bimbel), pengajaran Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), serta pengelolaan lingkungan melalui pembuatan biopori.

KKN Unit 75 UII yang beranggotakan sembilan mahasiswa dari berbagai jurusan tersebut akan melaksanakan rangkaian kegiatan selama satu bulan.

Ketua Unit 75 KKN UII, Fauzan Al Fuadi, mengatakan sosialisasi biopori dilatarbelakangi masih belum optimalnya pengelolaan sampah organik atau sampah basah di lingkungan masyarakat.

“Masih banyak sampah basah atau organik yang belum terkelola dengan baik. Karena itu, perlu dicarikan solusi yang sederhana dan bisa diterapkan oleh masyarakat. Salah satu yang kami tawarkan adalah pembuatan biopori,” ujar Fauzan.

Menurutnya, biopori tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk mengelola sampah organik rumah tangga, tetapi juga membantu meningkatkan resapan air sehingga dapat mengurangi potensi genangan saat musim penghujan.

Penanggung jawab sosialisasi biopori, Siti Mulyana Saleh, menjelaskan biopori merupakan pori atau lubang-lubang kecil di dalam tanah yang terbentuk melalui aktivitas organisme tanah dan akar tanaman. Teknologi sederhana tersebut dinilai sesuai diterapkan di Jamblangan karena dapat menjawab dua persoalan sekaligus, yakni pengelolaan sampah organik dan genangan air.

“Biopori ini bisa dimanfaatkan bukan hanya sebagai tempat untuk mengelola sampah organik, tetapi juga sebagai lubang resapan dan sarana untuk memanen air hujan,” jelas Cici, sapaan Siti Mulyana Saleh.

Mahasiswi Jurusan Kimia tersebut menambahkan, biopori memiliki sejumlah manfaat, antara lain meningkatkan resapan air, membantu mengolah sampah organik, menyuburkan tanah, serta mendukung terbentuknya ekosistem tanah yang lebih baik.

Selain membantu pengelolaan sampah dan resapan air, biopori juga dapat menghasilkan kompos. Sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang akan mengalami proses penguraian sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai kompos untuk tanaman.

“Selain untuk meresapkan air dan mengelola sampah organik rumah tangga, biopori juga bisa menghasilkan kompos, mengaktifkan organisme tanah, dan menjaga kesuburan tanah,” terang Cici.

Usai mendapatkan penjelasan, warga diajak mempraktikkan langsung pembuatan biopori menggunakan perangkat yang telah disiapkan mahasiswa. Tahapannya meliputi penentuan lokasi, pembuatan lubang pada tanah, pemasangan pipa paralon, pengisian sampah organik, dan pemasangan penutup.

Cici menjelaskan, pipa paralon yang digunakan memiliki panjang ideal sekitar satu meter dan diameter empat inci. Bagian dinding pipa dibuat berlubang agar air dapat meresap ke dalam tanah.

Untuk mempercepat proses penguraian, sampah organik yang dimasukkan sebaiknya dipotong menjadi bagian-bagian kecil. Warga juga dapat menambahkan daun kering atau sedikit tanah pada bagian atas untuk membantu mengurangi bau.

Kompos dari biopori diperkirakan dapat dipanen setelah sekitar dua hingga tiga bulan. Dengan demikian, sampah organik rumah tangga tidak hanya berkurang, tetapi juga dapat kembali dimanfaatkan sebagai penyubur tanaman.

Kegiatan ditutup dengan penyerahan satu unit biopori kepada Karang Taruna Padukuhan Jamblangan. Selain itu, KKN Unit 75 UII menyerahkan tiga tempat sampah portabel kepada tiga RW di Padukuhan Jamblangan.

Penyerahan tersebut diharapkan menjadi langkah awal bagi masyarakat untuk melanjutkan praktik pengelolaan lingkungan secara mandiri setelah masa KKN berakhir.

Melalui program ini, mahasiswa KKN Unit 75 UII mendorong masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap sampah rumah tangga. Sampah organik yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat dimanfaatkan kembali menjadi kompos sekaligus membantu meningkatkan resapan air dan menjaga kesuburan tanah.

Dengan pemanfaatan biopori, satu lubang sederhana diharapkan mampu memberikan manfaat ganda bagi masyarakat Jamblangan, mulai dari mengurangi sampah organik, meresapkan air hujan, hingga menghasilkan kompos untuk tanaman. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)