Papar Hasil SMD dan MMD, Kalurahan Margorejo Perkuat Perencanaan Kesehatan Berbasis Data

Sleman – Pemerintah Kalurahan Margorejo menggelar kegiatan pemaparan hasil Survei Mawas Diri (SMD) dan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) bersama pamong kalurahan, dukuh, serta kader kesehatan di Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pada Senin (03/08/2026). Forum musyawarah ini diselenggarakan untuk memotret realita kesehatan warga sekaligus menyusun prioritas penanganan berbasis data konkrit di lapangan.

Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber utama, yakni petugas Promosi Kesehatan Puskesmas Tempel I, Mellyana Fitri, serta Bidan Desa Margorejo, Farida Nurul Aini. Mellyana memaparkan bahwa pemetaan data kesehatan masyarakat menjadi fondasi penting agar setiap program intervensi yang dirancang pemerintah kalurahan tepat sasaran dan berdaya guna.

“Hasil survei menunjukkan beberapa isu yang masih menjadi perhatian bersama, seperti perilaku merokok, pengaruh penggunaan gawai pada anak, pemanfaatan Cek Kesehatan Gratis (CKG), aktivitas fisik, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), keluarga berencana, kesehatan remaja, hingga kesehatan mental. Data ini bukan untuk menyalahkan masyarakat, tetapi menjadi dasar menyusun solusi yang tepat,” ujar Mellyana Fitri pada Senin (03/08/2026).

Berdasarkan paparan hasil temuan, perilaku merokok menempati urutan teratas sebagai isu kesehatan dominan yang perlu diintervensi. Selain itu, dampak negatif penggunaan gawai pada anak juga disorot akibat maraknya indikasi perubahan perilaku dan penurunan konsentrasi. Survei juga mencatat masih ditemukannya kebiasaan warga membakar sampah rumah tangga, minimnya partisipasi kelas ibu hamil, serta belum optimalnya pemanfaatan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Bidan Desa Margorejo, Farida Nurul Aini, menegaskan bahwa penuntasan berbagai isu kesehatan warga membutuhkan komitmen lintas sektor, mulai dari tingkat keluarga hingga aparatur kalurahan.

“Musyawarah ini menjadi wadah menyamakan persepsi dan menyusun komitmen bersama. Ketika pamong, dukuh, kader kesehatan, dan masyarakat bergerak bersama berdasarkan data, upaya pencegahan penyakit dan peningkatan kualitas hidup akan lebih efektif,” tutur Farida Nurul Aini.

Rangkaian hasil SMD dan kesepakatan dalam MMD tersebut selanjutnya dijadikan sebagai acuan resmi penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) program kesehatan Kalurahan Margorejo guna mendorong budaya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara berkelanjutan. (SBD/KIM Tempel)




Asah Kreativitas Anak, Gelaran Jogja Cozy Vaganza 2026 Semarak dengan Lomba Menghias Donat

Sleman – Area balkon gedung Jogja Cozy Space (JOZS), Padukuhan Jaban, Kalurahan Sinduharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, tampak riuh dipenuhi anak-anak yang antusias mengikuti Lomba Menghias Donat pada Minggu (02/08/2026). Rangkaian kompetisi anak ini menjadi bagian dari kemeriahan ajang Jogja Cozy Vaganza (J-CoVa) 2026, sebuah pameran UMKM yang digagas Forum Komunikasi (FORKOM) UMKM Kabupaten Sleman selama dua hari pada 1–2 Agustus 2026.

Sebanyak 27 anak dari tingkat PAUD hingga SD/MI se-Kapanewon Ngaglik memadati lokasi perlombaan. Salah satu peserta, Anindira Anggun Maheswari (8), tampak tekun mempercantik tiga potong donat menggunakan semprotan cairan glaze warna-warni yang dipadu taburan meses dan choco chip.

Kehadiran kompetisi kreasi kuliner cilik tersebut dirancang sebagai wadah edukasi interaktif yang ramah anak di tengah gelaran expo bisnis. Koordinator Seksi Lomba J-CoVa, Atik Nurhayati, menjelaskan bahwa menghias makanan memberikan ruang eksplorasi sensorik dan motorik yang lebih kaya dibandingkan media kertas gambar.

“Jika lomba mewarnai pada umumnya menggunakan media kertas gambar dan berfokus pada teknik perpaduan warna murni, lomba menghias donat ini memberi ruang nyata bagi anak-anak untuk berkreasi langsung dengan aneka bahan topping dan dekorasi produk pangan,” terang Atik Nurhayati pada Minggu (02/08/2026).

Ia menambahkan, pemilihan media pangan ini melatih ketelitian, kesabaran, serta ketangkasan motorik halus anak. Melalui ajang ini, penyelenggara berharap pameran UMKM tidak sekadar menjadi pusat transaksi ekonomi, melainkan juga menghadirkan dampak sosial yang edukatif.

“Kami sangat berharap anak-anak tidak hanya menikmati setiap detik proses berkreasi yang menyenangkan, tetapi juga semakin percaya diri dengan kemampuan mereka. Semoga pengalaman di ajang J-CoVa ini dapat terus menginspirasi serta memicu minat dan ketertarikan mereka di dunia kuliner sejak usia dini,” pungkas Atik.

Kegembiraan juga dirasakan langsung oleh para peserta usai menyelesaikan karya dekorasi donat mereka di hadapan juri.

“Saya senang bisa ikut lomba ini, soalnya seru bisa menghias donat sendiri pakai warna-warni glaze dan cokelat meses. Donatnya jadi kelihatan cantik dan aku jadi makin suka makan kue,” tutur Anindira Anggun Maheswari. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




Wujudkan Kampung ASRI, 6 RT di Padukuhan Gondangan Ikuti Lomba Pemanfaatan Pekarangan dan Pengelolaan Sampah

Sleman – Enam Rukun Tetangga (RT 01 hingga RT 06) di Padukuhan Gondangan, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, mengikuti penilaian Lomba Pemanfaatan Pekarangan dan Pengelolaan Sampah pada Minggu (02/08/2026). Kegiatan yang berlangsung sejak pukul WIB ini diselenggarakan untuk mengukur serta meningkatkan kesadaran warga dalam menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.

Penilaian lomba dilakukan secara intensif oleh tim juri gabungan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman, Pemerintah Kalurahan Sardonoharjo, serta akademisi Fakultas Teknik Lingkungan Universitas Proklamasi 45 (UP45) Yogyakarta.

Aspek penilaian meliputi pengelolaan sampah rumah tangga dengan bobot terbesar 40 persen, pemanfaatan pekarangan 25 persen, kebersihan dan kerapian lingkungan 20 persen, serta partisipasi pemuda peduli lingkungan sebesar 15 persen, beserta nilai bonus inovasi maksimal 5 poin.

Setiap wilayah menunjukkan inovasi khas. RT 01 mengelola hutan rakyat seluas meter persegi serta integrasi pupuk kandang, RT 03 konsisten memilah sampah dari dapur rumah tangga, sementara RT 04 mengoperasikan 30 titik lubang resapan biopori. Adapun RT 05 membawa pengalaman pemeliharaan lingkungan secara konsisten hingga meraih penghargaan Program Kampung Iklim (ProKlim) tingkat nasional.

Tokoh warga RT 05, Sigit Prawoto, menegaskan bahwa kebiasaan merawat lingkungan di wilayahnya telah terbangun sebagai kebutuhan harian warga, bukan sebatas saat perlombaan.

“Kegiatan ini telah berlangsung sekitar lima tahun dan dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika ada perlombaan. Warga memiliki penjadwalan untuk perawatan dan pemeliharaan lingkungan sehingga kebersihan menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari,” ujar Sigit Prawoto pada Minggu (02/08/2026).

Pada akhir penjurian, panitia menetapkan Juara I, II, dan III yang berhak menerima uang pembinaan serta piala bergilir. Melalui kompetisi ini, Pemerintah Kalurahan Sardonoharjo berharap budaya gotong royong dan kesadaran mengolah sampah dari sumbernya dapat terus dipertahankan demi menciptakan kawasan pemukiman yang bersih, hijau, sehat, dan berkelanjutan. (Egi Prayoga/KIM DSN Ngaglik)




35 Stand UMKM Ramaikan Dakwah Pencerahan Muhammadiyah di Lereng Merapi

Sleman – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman bekerja sama dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pakem menyelenggarakan peringatan Hari Ber-Muhammadiyah Kabupaten Sleman di Museum Gunung Merapi (MGM), Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (01/08/2026). Perhelatan yang dihadiri ribuan warga dan simpatisan ini menjadi ajang penguatan dakwah pencerahan yang memadukan kegiatan keagamaan dengan pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

Mengusung tema “Dakwah Lereng Merapi: Mencerahkan, Memberdayakan, dan Memajukan Peradaban”, rangkaian acara tersebut diisi dengan pengajian akbar, silaturahmi antarwarga persyarikatan, pemaparan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), serta bazar UMKM binaan dari berbagai PCM se-Kabupaten Sleman.

Panitia penyelenggara, Wahyu Dwihantoro, memaparkan bahwa hadirnya puluhan stan UMKM menjadi daya tarik tersendiri yang menghidupkan suasana sejak pagi hari di kawasan lereng Gunung Merapi.

“Salah satu daya tarik acara adalah kehadiran sekitar 35 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) binaan PCM Pakem dan berbagai PCM lainnya di Sleman. Puluhan stan menyajikan beragam kuliner khas, makanan kekinian, hingga produk unggulan lokal yang mendapat sambutan hangat dari ribuan pengunjung,” ujar Wahyu Dwihantoro pada Sabtu (01/08/2026).

Area bazar menyuguhkan ragam pilihan kuliner, mulai dari camilan kekinian favorit anak-anak hingga kuliner tradisional seperti soto, jamu beras kencur, dan kunyit asam. Produk olahan salak khas Kaliurang, seperti risoles salak, puding salak, hingga abon salak, turut menjadi primadona yang diburu para pengunjung.

Selain sektor kuliner, stan produk kesehatan juga mendapat perhatian luas dari masyarakat. Salah satunya adalah stan susu kambing etawa asal Seyegan yang memberikan penawaran potongan harga khusus selama acara berlangsung, yakni dari harga normal menjadi per kemasan.

Melalui perpaduan kegiatan keagamaan dan ajang transaksi ekonomi lokal ini, PDM Sleman menegaskan komitmennya bahwa dakwah Muhammadiyah bergerak secara nyata dalam memberdayakan perekonomian umat dan memajukan peradaban di kawasan lereng Merapi. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri)




Program Padat Karya BKK Pokir DPRD DIY Rampung, Bangkitkan Ekonomi dan Infrastruktur Padukuhan Sedogan

Sleman – Program Padat Karya yang bersumber dari Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Dana Pokok Pikiran (Pokir) Anggota DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta, Hari Sugiharta, sukses merampungkan pembangunan infrastruktur jalan lingkungan hingga 100 persen di Padukuhan Sedogan, Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pada Senin (03/08/2026).

Pembangunan akses jalan sepanjang pemukiman warga tersebut dikerjakan dengan spesifikasi pengecoran sesuai standar SNI menggunakan formulasi campuran 3-2-1. Keberadaan fasilitas baru ini diproyeksikan bakal mempermudah konektivitas warga, mempercepat jalur distribusi hasil panen pertanian, serta menggerakkan roda perekonomian lokal.

Selain menghadirkan fasilitas fisik yang representatif, proyek bernilai Rp200 juta tersebut terbukti menyerap tenaga kerja dari warga setempat selama 20 hari masa kerja. Setiap pekerja mendapatkan pengupahan harian sesuai kualifikasi, yakni untuk tenaga kerja, untuk tukang, dan untuk posisi mandor dengan alokasi waktu kerja lima jam per hari.

Lurah Lumbungrejo, M. Misbah Al Hakim, menyampaikan bahwa skema padat karya menjadi instrumen efektif dalam mendorong pemberdayaan masyarakat pedesaan.

“Program ini memberi manfaat ganda. Masyarakat memperoleh penghasilan melalui kesempatan kerja, sementara desa mendapatkan infrastruktur yang berkualitas. Jalan yang baik akan memperlancar akses menuju sawah, memudahkan distribusi hasil pertanian, dan mendukung roda perekonomian warga,” ujar M. Misbah Al Hakim pada Senin (03/08/2026).

Membuka ruang sinergi yang makin luas, Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo berencana melanjutkan ekspansi pembangunan jalan lingkungan pada tahun 2027 mendatang melalui dukungan anggaran Pokir Provinsi DIY di dua lokasi strategis lainnya, yaitu Padukuhan Wonokerso serta jalur penghubung Jalan Ojolali–Wonokerso. (SBD/KIM Tempel)