Susu Kambing Prabhu Farm Curi Perhatian Pengunjung Jogja Cozy Vaganza 2026

Sleman – Stand Prabhu Farm menjadi salah satu daya tarik utama yang ramai diserbu pengunjung dalam ajang Jogja Cozy Vaganza 2026 di Jalan Damai, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (01/08/2026). Pelaku usaha agribisnis peternakan dan pelatihan asal Purwomartani, Kalasan, tersebut hadir memasarkan ragam varian produk susu kambing segar serta olahan kuliner turunannya.

Guna menjaga kualitas dan kesegaran produk selama pameran berlangsung dua hari pada Sabtu hingga Minggu (01–02/08/2026), Prabhu Farm memboyong perlengkapan pameran secara mandiri, mulai dari tenda penampung, etalase kaca berpendingin, hingga lemari pembeku khusus.

Divisi Marketing dan Produksi Prabhu Farm, David Andi Perdana, menjelaskan bahwa seluruh produk susu kambing murni yang mereka olah diproduksi secara alami tanpa menggunakan bahan pengawet sintesis.

“Susu kambing kami tanpa pengawet, sehingga jika dibiarkan lebih dari empat jam di luar pendingin, kualitasnya akan menurun dan bisa menjadi basi,” ujar David Andi Perdana pada Sabtu (01/08/2026).

David memaparkan bahwa kunci keberhasilan menarik minat pembeli terletak pada pembagian tugas tim yang terstruktur serta strategi edukasi langsung melalui tes rasa. Susu kambing aneka rasa yang disajikan dingin dalam kemasan botol kecil ditawarkan kepada pengunjung untuk dicicipi menggunakan gelas sekali pakai sebelum membeli.

Selain mengenalkan produk olahan, Prabhu Farm memanfaatkan momentum pameran untuk mempromosikan program edukasi farm tour di area peternakan mereka di Purwomartani. Melalui program tersebut, masyarakat dan keluarga dapat belajar secara interaktif mulai dari memberi pakan, menyusui anak kambing, memerah susu, mengenal teknologi kandang komunal, hingga berinteraksi langsung dengan 350 ekor ternak. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




Resmikan Masjid Al Hidayah Nogotirto, Panewu Gamping Dorong Pengembangan Dakwah Digital

Sleman – Panewu Gamping, Suyanto, mendorong pengelola masjid di wilayahnya untuk memadukan fungsi rumah ibadah dengan perkembangan teknologi informasi melalui pengembangan dakwah digital. Langkah tersebut dinilai krusial guna memperluas jangkauan syiar keagamaan serta menebar kemanfaatan sosial bagi masyarakat luas.

Pernyataan tersebut disampaikan Suyanto saat meresmikan Masjid Al Hidayah yang berlokasi di Padukuhan Kaingan, Kalurahan Nogotirto, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Minggu (02/08/2026).

Dalam sambutannya, Suyanto menjelaskan bahwa transformasi digital telah mengubah pola komunikasi masyarakat modern, terutama generasi muda. Karena itu, pengelola masjid perlu responsif dengan memanfaatkan berbagai platform media sosial seperti YouTube, TikTok, dan media digital lainnya sebagai sarana penyebaran konten kajian keislaman yang edukatif dan mencerahkan.

“Masjid harus mampu mengikuti perkembangan zaman. Selain menjadi tempat ibadah, masjid juga dapat menjadi pusat dakwah digital yang menyebarkan nilai-nilai keagamaan dan kebaikan kepada masyarakat secara lebih luas,” ujar Suyanto pada Minggu (02/08/2026).

Ia menambahkan bahwa kehadiran materi dakwah yang sejuk dan mencerahkan di ruang digital sangat penting untuk mengimbangi derasnya arus informasi negatif yang beredar di media sosial.

“Jangan sampai ruang digital justru lebih banyak diisi dengan hal-hal yang tidak memberikan manfaat. Masjid dapat mengambil peran dengan menghadirkan konten yang memberikan pencerahan, memperkuat keimanan, dan mengajak masyarakat untuk berbuat kebaikan,” tutur Suyanto.

Meski mendorong adaptasi teknologi, Suyanto menegaskan bahwa digitalisasi bertujuan memperkuat peran masjid, bukan menggantikan fungsi utamanya sebagai ruang perjumpaan fisik masyarakat. Masjid Al Hidayah diharapkan tetap memelihara kegiatan interaksi sosial, seperti pendidikan keagamaan, pembinaan pemuda, serta aksi pemberdayaan ekonomi dan kebersamaan warga.

Melalui integrasi antara fungsi ibadah, sosial, dan pemanfaatan teknologi secara bijak, Masjid Al Hidayah Nogotirto diharapkan mampu menjadi pusat peradaban umat yang adaptif, relevan, serta membawa dampak positif berkelanjutan bagi masyarakat. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Lestarikan Nilai Luhur Budaya Jawa, Forum Budaya Sinduadi Gelar Macapatan Rutin Bulanan

Sleman – Forum Budaya Sinduadi menggelar kegiatan Macapatan rutin bulanan yang diikuti oleh perwakilan kelompok budaya dari 18 padukuhan di Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, pada Minggu (02/08/2026). Kegiatan ini diselenggarakan sebagai langkah konkrit untuk melestarikan seni tradisi Jawa serta mempererat kebersamaan antarpegiat budaya di tingkat lokal.

Acara dibuka oleh Ketua Forum Budaya Sinduadi yang juga menjabat sebagai Kamituwa Kalurahan Sinduadi, Hadiyan. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya menjaga warisan leluhur agar tetap lestari dan relevan bagi generasi penerus.

“Pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama agar adat istiadat, seni tradisi, dan nilai-nilai sosial budaya lokal tetap hidup dan diwariskan kepada generasi muda,” ujar Hadiyan pada Minggu (02/08/2026).

Kegiatan yang dipandu oleh Sekretaris Forum Budaya Sinduadi, Armadi, menghadirkan abdi dalem Keraton Yogyakarta sekaligus budayawan, Projosuwasono, sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa tembang macapat mengandung filosofi mendalam mengenai 11 fase perjalanan hidup manusia, mulai dari sebelum lahir hingga kembali kepada Sang Pencipta.

Projosuwasono menguraikan perjalanan hidup tersebut yang tercermin lewat urutan tembang Maskumambang, Mijil, Kinanthi, Sinom, Asmarandana, Gambuh, Dhandhanggula, Durma, Pangkur, Megatruh, hingga Pocung. Setiap bait tembang dinilai sarat akan tuntunan moral, pendidikan karakter, serta penguatan jati diri masyarakat.

Sebagai penutup sesi, Projosuwasono mempersembahkan tembang macapat karyanya sendiri yang bertemakan Kemerdekaan Republik Indonesia. Tembang tersebut berisi ungkapan rasa syukur atas kemerdekaan bangsa, semangat persatuan, cinta tanah air, serta ajakan untuk mengisi kemerdekaan melalui karya dan pelestarian budaya.

Melalui penyelenggaraan rutin ini, Forum Budaya Sinduadi berharap seni macapat dapat terus menjadi wadah pembelajaran bersama sekaligus benteng pembentuk karakter masyarakat di era modern. (Y. Edy/KIM Pijar Mlati)




Wakil Kepala SMP Muhammadiyah 3 Depok Raih Predikat Peserta Teraktif Diksuscakep DIY

Sleman – Wakil Kepala SMP Muhammadiyah 3 Depok, Ary Gunawan, berhasil meraih predikat sebagai peserta teraktif dalam Pendidikan Khusus Calon Kepala (Diksuscakep) Sekolah/Madrasah Muhammadiyah se-Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan pelatihan kepemimpinan tersebut berlangsung di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) DIY, Kabupaten Sleman, sejak Selasa (28/07/2026) hingga Sabtu (01/08/2026).

Pelatihan intensif yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY ini diikuti oleh para calon pemimpin lembaga pendidikan Muhammadiyah dari berbagai daerah. Ary Gunawan terpilih menjadi peserta teraktif berkat partisipasi dinamisnya sepanjang proses pembelajaran, ruang diskusi, serta penyelesaian materi simulasi kepemimpinan.

Dalam penutupan kegiatan, Ary Gunawan menyampaikan bahwa program Diksuscakep memberikan dampak signifikan dalam mematangkan kapasitas manajerial dan kepemimpinan para calon kepala sekolah.

“Kegiatan Diksuscakep ini memberikan pengalaman dan bekal kepemimpinan bagi calon kepala sekolah. Materi yang diberikan oleh fasilitator sangat sesuai dengan kebutuhan dan dinamika pengelolaan sekolah,” ujar Ary Gunawan pada Sabtu (01/08/2026).

Ia menambahkan bahwa pembekalan materi yang didapatkan tidak hanya mengasah pemahaman teoritis mengenai tugas pokok kepala sekolah, tetapi juga memberikan taktik aplikatif untuk menghadapi berbagai tantangan pengelolaan sekolah modern. Forum tersebut sekaligus menjadi wadah pertukaran gagasan serta praktik baik antar pengelola sekolah dan madrasah Muhammadiyah se-DIY.

Melalui capaian dan pengalaman selama Diksuscakep, Ary Gunawan berharap ilmu yang diperoleh dapat langsung diterapkan untuk meningkatkan mutu serta kesiapan manajerial di SMP Muhammadiyah 3 Depok demi melahirkan lembaga pendidikan yang unggul dan berdaya saing. (Athiful/KIM Depok)




Mantapkan Tata Kelola Kelembagaan, Pemerintah Kalurahan Tamanmartani Gelar Rakor Empat Pilar Mandiri Budaya

Sleman – Pemerintah Kalurahan Tamanmartani menggelar rapat koordinasi bersama pengurus pengelola empat pilar Kalurahan Mandiri Budaya di Ruang Rapat Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (01/08/2026). Pertemuan ini diselenggarakan untuk memantapkan manajemen kelembagaan, mensinkronkan pelaksanaan program, serta mengukur capaian kinerja organisasi secara berkelanjutan.

Rapat koordinasi tersebut mempertemukan jajaran pengurus dari empat pilar penyangga Kalurahan Mandiri Budaya, yakni Desa Budaya, Desa Wisata, Desa Prima, dan Desa Preneur, dengan melibatkan pula pengurus Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Maju Mapan serta Koperasi Desa Merah Putih.

Carik Kalurahan Tamanmartani, Tomi Nugroho, menjelaskan bahwa evaluasi dan sinkronisasi program ini krusial dilakukan mengingat status Kalurahan Mandiri Budaya telah disandang Tamanmartani dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta sejak dua tahun lalu.

“Rapat koordinasi bertujuan memantapkan manajemen dan tata kelola kelembagaan, agar semua kegiatan makin efektif dan efisien mendukung pelaksanaan program empat pilar penyangga Kalurahan Mandiri Budaya,” ujar Tomi Nugroho pada Sabtu (01/08/2026).

Sejauh ini, Kalurahan Mandiri Budaya Tamanmartani telah berhasil merealisasikan berbagai program unggulan, di antaranya pengembangan Lumbung Mataram dengan percontohan beras ungu dan peternakan terpadu, penyelenggaraan Pawiyatan Jawi bagi pramuka, pembentukan jalur wisata berbasis budaya, perlindungan perempuan dan anak melalui aktivitas ekonomi, serta pembinaan UMKM dan mitigasi bencana. Seluruh program tersebut didukung pemanfaatan Bantuan Dana Keistimewaan yang dikelola secara terukur.

Kamituwa Kalurahan Tamanmartani, Awan Parades, menambahkan bahwa tata kelola administrasi dan peran lembaga penyangga ekonomi seperti BUMKal dan Koperasi Desa Merah Putih menjadi kunci sukses keterpaduan pilar budaya.

“Koperasi Desa Merah Putih berperan nyata sebagai penampung dan pemasar produk UMKM, termasuk hasil kerja Lumbung Mataram berupa beras ungu,” tutur Awan Parades.

Dalam kesempatan yang sama, Tim Monev Desa Budaya Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Joko Saptono, mengingatkan pentingnya kerapian pengadministrasian dan pembagian kerja pengurus yang transparan.

“Tulislah apa yang akan dikerjakan, kerjakan apa yang telah ditulis, serta catat apa yang telah dikerjakan, berikut bukti dokumentasi. Yang juga tidak kalah pentingnya adalah pembagian kerja yang jelas di antara pengurus,” tegas Joko Saptono.

Melalui penguatan tata kelola dan sinergi antarpilar ini, Pemerintah Kalurahan Tamanmartani optimistis mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat berbasis pelestarian budaya lokal secara akuntabel. (Tri Joko S/KIM Kalasan Bersahabat)