Sedekah Sampah Wijaya Kusuma Dorong Pengelolaan Sampah Mandiri Tingkat Rumah Tangga di Maguwoharjo

Sleman – Komunitas Sedekah Sampah Wijaya Kusuma menggelar aksi pengumpulan dan pemilahan sampah rumah tangga di Padukuhan Sanggrahan, Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, pada Minggu (02/08/2026). Gerakan berbasis lingkungan dan sosial ini diselenggarakan untuk mendorong masyarakat mengelola sampah secara mandiri langsung dari sumbernya.

Dalam kegiatan tersebut, warga membawa sampah anorganik bernilai ekonomis yang sebelumnya telah dipilah berdasarkan jenisnya. Langkah ini difokuskan untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah skala lokal serta mengurangi timbulan sampah di kawasan pemukiman.

Ketua Sedekah Sampah Wijaya Kusuma, Wiwik Setyowati, menjelaskan bahwa aksi ini diselenggarakan guna mendukung program Sleman Tuntas Sampah yang ditargetkan menjangkau seluruh padukuhan di Kabupaten Sleman.

“Gerakan ini mengajak masyarakat memilah dan mengelola sampah rumah tangga yang masih memiliki nilai ekonomis. Penuntasan persoalan sampah tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Seluruh pihak perlu terlibat aktif, mulai dari rumah tangga, padukuhan, kalurahan, kapanewon, hingga tingkat kabupaten,” ujar Wiwik Setyowati pada Minggu (02/08/2026).

Wiwik menambahkan, hasil pengolahan sampah anorganik yang terkumpul nantinya akan dimanfaatkan kembali untuk mendanai berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan di wilayah setempat.

Petugas Pendamping Pengolahan Sampah Kalurahan Maguwoharjo, Sri Rahayu, memberikan apresiasi atas sinergi dan antusiasme warga Padukuhan Sanggrahan yang secara konsisten menjalankan aksi pemilahan sampah. Menurutnya, partisipasi aktif masyarakat merupakan kunci utama keberlanjutan pengelolaan lingkungan.

“Konsistensi warga dalam memilah sampah dapat membantu mengurangi timbulan sampah sekaligus memperkuat program pengelolaan sampah di Kalurahan Maguwoharjo,” tutur Sri Rahayu.

Melalui keberlanjutan gerakan Sedekah Sampah Wijaya Kusuma, masyarakat di tingkat padukuhan diharapkan makin terbiasa memisahkan sampah organik, anorganik, dan residu sejak dari rumah tangga demi mempercepat terwujudnya kawasan bebas sampah di Kabupaten Sleman. (Athiful/KIM Depok)




Ubah Limbah Jadi Berkah, Warga Nanggulan Maguwoharjo Rutin “Panen” di Kandang Botol Plastik

Sleman – Warga Padukuhan Nanggulan, Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, kembali menegaskan komitmennya dalam pelestarian lingkungan melalui gerakan Sedekah Sampah Berkah yang digelar pada Minggu (02/08/2026). Gerakan swadaya ini difokuskan pada pengumpulan serta pemilahan limbah botol plastik rumah tangga guna menekan volume sampah anorganik di wilayah setempat.

Untuk memaksimalkan pengumpulan, warga memanfaatkan wadah penampungan khusus yang dikenal dengan sebutan “kandang botol”. Keberadaan fasilitas sederhana ini mempermudah masyarakat sekitar menyalurkan limbah plastik secara terstruktur sehingga tidak mencemari lingkungan pemukiman.

Ketua Sedekah Sampah Berkah, Heny Widiastuti, menjelaskan bahwa wadah tersebut menjadi sarana edukasi sekaligus aksi nyata dalam mengelola sampah langsung dari sumbernya.

“Setiap bulannya kami melakukan ‘panen’ sampah botol plastik ini. Hasil yang terkumpul nantinya akan disalurkan untuk diolah kembali, sehingga memiliki nilai guna dan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Heny Widiastuti pada Minggu (02/08/2026).

Melalui kegiatan yang rutin dilaksanakan ini, warga Padukuhan Nanggulan tidak hanya diajak bijak mengelola limbah rumah tangga, tetapi juga mentransformasikan sampah bernilai ekonomis menjadi program aksi sosial yang bermanfaat. Gerakan lingkungan berbasis komunitas ini diharapkan terus konsisten serta menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Kabupaten Sleman dalam mengurangi ancaman sampah plastik. (Sri Rahayu/KIM Depok)




Aksi Gotong Royong HUT Ke-81 RI, Warga Condongcatur Olah Sampah Organik Jadi Kompos

Sleman – Warga RT 10 RW 13 Perumnas Condongcatur, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia melalui aksi gotong royong membersihkan lingkungan dan mengolah sampah organik pada Jumat (31/07/2026) sore.

Kegiatan yang berlangsung pukul hingga WIB ini dipimpin langsung oleh Ketua RT 10, Bambang Sutrisno, serta didukung oleh Ketua RW 13 Guntoro dan Ketua Bank Sampah Apel Herliyanti. Sebanyak 19 warga yang terdiri dari kelompok pria, anggota PKK, dan pengurus Bank Sampah Apel bahu-membahu menata kawasan permukiman di sepanjang Jalan Mawar III, Jalan Cempaka, hingga gang-gang sekitar.

Selain memasang bendera Merah Putih, umbul-umbul, dan mengecat jalan lingkungan, warga menerapkan sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas. Seluruh rumput dan dedaunan kering hasil pembersihan tidak dibuang ke tempat pembuangan akhir, melainkan langsung dipilah dan dimasukkan ke dalam empat unit komposter untuk diolah menjadi pupuk organik.

Ketua RT 10 RW 13, Bambang Sutrisno, menyampaikan bahwa momentum peringatan kemerdekaan ini dimanfaatkan untuk memperkuat budaya pemilahan sampah di tingkat rumah tangga.

“Semangat gotong royong adalah kekuatan masyarakat. Melalui kegiatan ini kami ingin mengajak seluruh warga menjaga kebersihan lingkungan sekaligus membiasakan pengelolaan sampah organik agar memiliki nilai manfaat. Harapan kami, budaya kerja bakti tidak hanya dilakukan menjelang HUT Kemerdekaan, tetapi menjadi kegiatan rutin yang terus memperkuat kebersamaan warga,” ujar Bambang Sutrisno pada Jumat (31/07/2026).

Ketua Bank Sampah Apel, Herliyanti, menambahkan bahwa pemanfaatan komposter menjadi langkah efektif untuk mengurangi volume sampah sekaligus menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.

“Rumput dan daun hasil kerja bakti jangan dianggap sebagai limbah. Dengan komposter, semuanya dapat diolah menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi tanaman. Kami berharap semakin banyak warga yang membiasakan memilah dan mengelola sampah organik sehingga lingkungan menjadi lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan,” tutur Herliyanti.

Sementara itu, Ketua RW 13 Guntoro mengapresiasi kebersamaan dan kesadaran lingkungan yang ditunjukkan oleh warganya. Rangkaian aksi kebersihan dan edukasi lingkungan tersebut kemudian ditutup dengan tradisi ramah tamah dan makan bersama yang disiapkan oleh ibu-ibu PKK. (Wasana/KIM Depok)




Peringatkan Bahaya Etomidate dalam Vape, BNNP DIY Imbau Keluarga Perketat Pengawasan Generasi Muda

Sleman – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman baru penyalahgunaan etomidate melalui cairan rokok elektronik atau vape. Peringatan tersebut disampaikan oleh Konselor BNNP DIY, Riza Mahmuda, dalam Kajian Sehat Rohani Jasmani (Seroja) Banyuraden yang berlangsung di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Minggu (02/08/2026).

Dalam forum edukasi masyarakat tersebut, Riza memaparkan bahwa etomidate sejatinya merupakan obat anestesi medis yang penggunaannya wajib di bawah pengawasan ketat tenaga kesehatan. Namun, peredaran zat tersebut yang disalahgunakan dengan cara dicampurkan ke dalam cairan vape kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama generasi muda.

Riza mengingatkan agar masyarakat tidak terkecoh dan menganggap penggunaan rokok elektronik selalu aman. Produk cairan vape yang tidak jelas asal-usul maupun kandungannya sangat berpotensi menyusupkan zat berbahaya yang merusak organ tubuh.

“Etomidate merupakan obat anestesi yang bekerja cepat dan apabila penggunaannya di luar indikasi medis dapat menimbulkan efek yang serius bagi tubuh,” tegas Riza Mahmuda pada Minggu (02/08/2026).

Ia menambahkan bahwa bentuk penyalahgunaan zat berbahaya saat ini makin sulit dikenali karena memanfaatkan perangkat modern yang dekat dengan gaya hidup harian anak muda.

“Ancaman penyalahgunaan zat kini tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah dikenali, tetapi dapat menyusup melalui berbagai produk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk perangkat rokok elektronik,” lanjutnya.

Guna membendung ancaman tersebut, BNNP DIY menekankan pentingnya benteng pertahanan dari lingkungan keluarga melalui komunikasi yang terbuka, pengawasan bijaksana, serta pendampingan edukatif agar anak memiliki ketahanan diri. Upaya pencegahan ini memerlukan sinergi berkelanjutan antara keluarga, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, pemerintah, dan aparat penegak hukum demi menciptakan lingkungan yang aman dari peredaran zat adiktif. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Perkuat Mutu Pendidikan, Sekolah Muhammadiyah Sleman Didorong Bangun Kemitraan Strategis

Sleman – Kemitraan strategis yang terjalin antara lembaga pendidikan dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, persyarikatan, hingga alumni dinilai menjadi kunci utama dalam mempercepat peningkatan mutu sekolah-sekolah Muhammadiyah di Kabupaten Sleman. Langkah kolaboratif tersebut krusial dilakukan agar sekolah mampu berkembang secara adaptif dan berkelanjutan.

Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Balai Besar Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Seni dan Budaya periode 2020–2025, Sarjilah, dalam perhelatan yang berlangsung di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) DIY, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (01/08/2026).

Dalam pemaparannya, Sarjilah menjelaskan bahwa sekolah tidak dapat berdiri sendiri atau sekadar mengandalkan sumber daya internal dalam menghadapi tantangan pendidikan modern. Pembangunan jejaring kemitraan membuka akses luas terhadap pelatihan kompetensi guru, penyediaan beasiswa, pembaruan kurikulum, program kesehatan sekolah, peluang magang siswa, hingga pemenuhan sarana pembelajaran.

“Kerja sama perlu dibangun berdasarkan kebutuhan nyata sekolah dan manfaat bersama agar dapat diwujudkan melalui program yang berkelanjutan,” ujar Sarjilah pada Sabtu (01/08/2026).

Ia merinci bahwa proses pembentukan kemitraan harus diawali dengan pemetaan kebutuhan sekolah secara terukur, diikuti penjajakan komunikasi, penyusunan kesepakatan tertulis yang akuntabel, hingga evaluasi program secara berkala. Dalam forum tersebut, para peserta yang terdiri dari calon kepala sekolah juga dibekali simulasi penyusunan peta jejaring serta teknik komunikasi efektif bersama calon mitra kerja sama.

Indikator keberhasilan dari kolaborasi ini tidak hanya diukur dari terealisasinya kegiatan, melainkan juga peningkatan kapasitas pengajar, kelengkapan fasilitas belajar, hingga meningkatnya kepercayaan publik terhadap sekolah.

“Semoga kegiatan ini dapat mendorong calon kepala sekolah membangun kolaborasi yang tepat sasaran untuk memperkuat mutu dan layanan pendidikan Muhammadiyah di Kabupaten Sleman nantinya,” tutur Sarjilah.

Melalui penguatan kemitraan multidimensi ini, sekolah-sekolah Muhammadiyah di Kabupaten Sleman diharapkan mampu menghadirkan layanan pendidikan yang unggul, berdaya saing tinggi, serta berdampak langsung bagi kemajuan peserta didik. (Athiful/KIM Depok)