Jaga Ketersediaan Air Bersih, SDN Sidoarum Edukasi Warga Sekolah Pemanfaatan Air Hujan

Sleman – Mengukuhkan komitmen pelestarian lingkungan, SD Negeri Sidoarum bekerja sama dengan Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman menggelar Sosialisasi Pemanfaatan Air Hujan di SD Negeri Sidoarum, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman, pada Jumat (31/07/2026). Kegiatan bertema “Menjaga Bumi dan Air Hujan” ini diselenggarakan sebagai langkah nyata menindaklanjuti nota kesepahaman kedua lembaga untuk mengedukasi warga sekolah mengenai pengelolaan air hujan secara berkelanjutan.
Sosialisasi yang dipusatkan di ruang kelas II dan III tersebut diikuti oleh seluruh siswa, guru, serta karyawan sekolah. Melalui pendekatan interaktif, para peserta diajak memahami peran krusial pengelolaan sumber daya air demi keberlangsungan ekosistem dan kehidupan di masa depan.
Kepala Sekolah SDN Sidoarum, Sujariyah, menegaskan bahwa pemahaman akan pentingnya pemanfaatan air hujan harus ditanamkan kepada anak-anak sejak usia dini.
“Air hujan merupakan bagian penting dari siklus kehidupan. Karena itu, kita perlu belajar bagaimana memanfaatkan dan mengelolanya dengan baik agar dapat memberikan manfaat bagi kehidupan,” ujar Sujariyah.
Dalam sesi pemaparan materi, Pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih, mengajak siswa dan guru mempraktikkan pengujian kualitas air menggunakan alat pendeteksi Total Dissolved Solids (TDS). Dari uji coba tersebut, terbukti bahwa air hujan yang ditampung dengan prosedur yang benar memiliki kandungan zat terlarut yang sangat rendah, bahkan dapat menyentuh angka nol pada skala TDS.
“Pengukuran TDS ini untuk memahami potensi air hujan sebagai sumber air alternatif apabila dikelola dengan baik, sekaligus menjadi pengalaman edukatif bagi warga sekolah,” kata Sri Wahyuningsih.
Ia juga mengenalkan konsep 5M, yaitu Menampung, Mengolah, Meminum, Menabung, dan Mandiri, yang mudah diterapkan menggunakan alat penampungan sederhana di rumah. Sri Wahyuningsih berharap warga sekolah dapat memanfaatkan fasilitas teknologi Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan (ISLAH) serta teknologi elektrolisis yang telah ada di sekolah saat musim hujan tiba, sehingga terbentuk budaya baru yang memandang air hujan sebagai solusi krisis air bersih. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)



