Pacu Target Sleman Tuntas Sampah 2029, Pemkab Sleman Bentuk 1.212 KPSM di Seluruh Padukuhan

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman mempercepat langkah nyata menuju target “Sleman Tuntas Sampah 2029” dengan memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Sebagai strategi utama, Pemkab Sleman memacu pembentukan Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) di seluruh padukuhan untuk menjadi ujung tombak penanganan sampah langsung dari sumbernya.

Program yang masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Sleman 2025–2029 ini menempatkan sektor rumah tangga sebagai titik awal perubahan. Melalui pemilahan sampah sejak dari dapur, volume sampah yang masuk ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) diharapkan dapat ditekan secara signifikan.

Komitmen tersebut dipaparkan oleh Koordinator Pendamping Kalurahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman Wilayah Sleman Barat, Amita Rusdianingrum, saat hadir sebagai narasumber dalam Sosialisasi Pengelolaan Sampah Tingkat Padukuhan di Kalurahan Sidoluhur, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman, pada Kamis (30/07/2026).

Di hadapan pamong kalurahan, Direktur BUMKal, tokoh masyarakat, serta perwakilan Padukuhan Pandean dan Kragilan, Amita Rusdianingrum menegaskan bahwa keikutsertaan warga hingga tingkat padukuhan menjadi kunci mendesak penanganan sampah daerah.

“Target kami adalah terbentuknya KPSM di seluruh padukuhan di Sleman agar penanganan sampah bisa dilakukan secara mandiri dari tingkat lokal. Pemilahan sampah dari rumah tangga menjadi syarat mutlak keberhasilan program ini. Sampah harus dipilah sejak dari dapur menjadi organik, anorganik, dan residu,” ujar Amita Rusdianingrum.

Guna memastikan efektivitas di lapangan, Pemkab Sleman mewajibkan setiap KPSM memiliki legalitas resmi berupa Surat Keputusan (SK) dan terintegrasi dalam sistem pemantauan digital SIOSESTU. Integrasi ini bertujuan untuk memantau perkembangan serta mengevaluasi kinerja pengelolaan sampah secara lebih terukur dan transparan.

Selain itu, DLH Kabupaten Sleman memperkuat sarana penunjang seperti Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) dan bank sampah, sembari menggiatkan kampanye pengurangan plastik sekali pakai serta pendampingan langsung dari rumah ke rumah bersama kader Program Kampung Iklim (Proklim) dan Satgas Kalurahan.

“Kami terus mendorong penerapan prinsip 3R, yakni Reduce, Reuse, dan Recycle, termasuk pengomposan rumah tangga agar volume sampah yang dikirim ke TPST dapat ditekan,” tutur Amita Rusdianingrum.

Seluruh langkah strategis yang mengacu pada Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 4 Tahun 2015 ini diharapkan mampu membawa Kabupaten Sleman menjadi percontohan daerah dengan pengelolaan sampah berkelanjutan di Daerah Istimewa Yogyakarta. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Sidoluhur Bergerak, Pengelolaan Sampah Berbasis Padukuhan Terus Diperkuat

Sleman – Kalurahan Sidoluhur, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman, terus memperkuat komitmennya dalam mewujudkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Langkah nyata ini diwujudkan melalui program sosialisasi pengelolaan sampah tingkat padukuhan yang didanai Dana Desa dengan sasaran 13 padukuhan, yang diawali dengan kegiatan perdana di Pendopo Kalurahan Sidoluhur pada Kamis (30/07/2026).

Program edukasi ini diselenggarakan sebagai langkah krusial dalam menindaklanjuti Surat Edaran Bupati Sleman yang mendorong pembentukan Lembaga Pengelolaan Sampah di setiap padukuhan guna mendukung target Sleman Tuntas Sampah.

Lurah Sidoluhur, Hernawan Zudanto, menegaskan bahwa gerakan pemilahan sampah dari rumah tangga di wilayahnya sebenarnya telah berjalan dan disokong infrastruktur terpadu, mulai dari bank sampah padukuhan, TPS3R Luhur Berseri, hingga insinerator yang dikelola BUMKal Luhur Sembada sejak 2024. Melalui skema ini, warga diajak memilah sampah organik dan anorganik dari sumbernya sehingga hanya sampah residu yang masuk ke fasilitas pengolahan akhir. Sebagai dorongan, Pemerintah Kalurahan Sidoluhur memberikan insentif khusus berupa penurunan tarif retribusi sampah bagi warga yang disiplin memilah dari rumah.

Dalam sosialisasi yang diikuti perwakilan Padukuhan Pandean dan Kragilan tersebut, Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) Kapanewon Godean, Farid Fakhrudin, memaparkan pentingnya peran aktif masyarakat di tengah melonjaknya volume sampah daerah.

“Produksi sampah per orang per hari telah mencapai sekitar 0,52 kilogram. Dengan total produksi lebih dari 500 ton setiap hari, tiga TPST yang dimiliki Kabupaten Sleman baru mampu menangani sekitar separuhnya. Karena itu, pengurangan sampah harus dimulai dari rumah tangga melalui pemilahan sampah,” ujar Farid Fakhrudin.

Ia menerangkan bahwa komposisi sampah didominasi oleh limbah organik sebanyak 55 persen, plastik 20 persen, kertas 13 persen, sampah lainnya 9 persen, serta residu yang hanya 3 persen. Farid turut membagikan kisah sukses KSM Rukun Makmur Gancahan yang mengawali gerakan ‘ronda sampah–dudah sampah’ secara bergotong royong sebagai inspirasi.

“Saya percaya masyarakat Sidoluhur memiliki potensi besar. Jika pemilahan sampah dilakukan secara disiplin dan berkelanjutan oleh seluruh warga, maka pengurangan sampah dapat diwujudkan secara masif dan menjadi contoh bagi wilayah lain,” tutur Farid Fakhrudin.

Melalui rangkaian sosialisasi ke seluruh padukuhan ini, Pemerintah Kalurahan Sidoluhur berharap budaya memilah sampah dari rumah tangga semakin mengakar luas, sehingga efektif memangkas beban sampah akhir sekaligus mewujudkan Sleman yang bersih dan berkelanjutan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Siapkan Mental dan Fisik, 41 Calon Anggota Paskibra Kapanewon Turi Resmi Ikuti Pelatihan

Sleman – Pemerintah Kapanewon Turi resmi membuka pelatihan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) tingkat Kapanewon di GOR Kalurahan Donokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, pada Jumat (31/07/2026). Pelatihan ini diselenggarakan untuk mematangkan kesiapan fisik, mental, serta keterampilan para anggota Paskibra yang akan bertugas pada upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia mendatang.

Sebanyak 41 siswa-siswi terpilih yang terdiri dari 22 putra dan 19 putri mengikuti pelatihan intensif tersebut. Upacara pembukaan ditandai dengan pemakaian topi secara simbolis kepada perwakilan peserta oleh Panewu Turi, Joko Susila. Acara ini turut dihadiri oleh Danramil Turi, Wakil Kapolsek Turi, Babinsa, Bhabinkamtibmas se-Kapanewon Turi, perwakilan Puskesmas, serta jajaran staf Jawatan Keamanan Kapanewon Turi.

Dalam pengarahannya, Panewu Turi, Joko Susila, menegaskan pentingnya menjaga soliditas, fokus, dan kedisiplinan selama menjalani seluruh tahapan pembekalan.

“Kami meminta agar para calon anggota Paskibra selalu bersatu, memiliki semangat yang tinggi, serta mempersiapkan mental dan fisik. Anak-anak harus betul-betul disiplin serta fokus menyerap apa yang diberikan oleh tim pelatih. Selamat berlatih, semoga saat hari upacara nanti pelaksanaan tugas dapat berjalan dengan sukses,” ujar Joko Susila.

Tim pelatih yang mendampingi para peserta terdiri dari unsur TNI dan Polri, yakni Sertu Hartanto, Serka Iswamudin, Aipda Mujiyono, dan Aiptu Kusriyanto. Usai pembukaan, Danramil Turi, Supriyanto, memberikan pengarahan teknis mengenai alur dan tahapan latihan.

Tahap awal materi teknik dan teori dilaksanakan di GOR Kalurahan Donokerto selama dua hari. Selanjutnya, latihan teknis lapangan akan dipusatkan di Lapangan Donokerto pada 6–13 Agustus 2026, yang kemudian diakhiri dengan pelaksanaan gladi bersih pada Jumat, 14 Agustus 2026 mendatang. Rangkaian pembukaan pelatihan diakhiri dengan doa bersama demi kelancaran dan suksesnya pengibaran bendera pada perayaan kemerdekaan RI di wilayah Kapanewon Turi. (Suharno/KIM Kertomandiri Turi)




Jawab Meningkatnya Kebutuhan Warga, RS Condongcatur Tambah Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Sleman – Rumah Sakit (RS) Condongcatur memperkuat kualitas dan kapasitas pelayanan kesehatannya dengan menambah dokter spesialis penyakit dalam mulai Senin (03/08/2026). Penambahan tenaga medis ini menjadikan layanan Klinik Penyakit Dalam RS Condongcatur kini diperkuat oleh empat dokter spesialis guna memperluas jangkauan layanan sekaligus memangkas waktu tunggu pasien.

Langkah strategis tersebut diambil pihak manajemen RS Condongcatur untuk merespons tingginya penanganan penyakit tidak menular di tengah masyarakat, seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung, gangguan ginjal, hingga penyakit saluran cerna. Dokter spesialis baru yang bergabung adalah Karina Sasti, melengkapi tiga dokter spesialis penyakit dalam yang telah bertugas sebelumnya, yaitu Woro Rukmi, Nurhayati, dan R.M. Agit Sena A.

Kepala Bagian Pelayanan dan Penunjang Medis RS Condongcatur, Sendy Komarudin, menyampaikan bahwa penambahan dokter ini merupakan bentuk komitmen rumah sakit dalam mengoptimalkan pemenuhan hak kesehatan warga.

“RS Condongcatur kini memiliki empat dokter spesialis penyakit dalam. Penambahan ini diharapkan dapat memperluas akses pelayanan, mengurangi waktu tunggu pasien, serta memberikan pelayanan yang lebih optimal, nyaman, dan berkualitas,” ujar Sendy Komarudin.

Ia menambahkan bahwa operasional Klinik Penyakit Dalam juga disokong oleh fasilitas penunjang medis modern, seperti laboratorium, radiologi, elektrokardiografi (EKG), serta unit farmasi terintegrasi.

“Masyarakat dapat mengakses pelayanan menggunakan BPJS Kesehatan maupun sebagai pasien umum sesuai ketentuan yang berlaku,” tutur Sendy Komarudin.

Dengan bertambahnya jajaran dokter spesialis ini, masyarakat Kabupaten Sleman dan sekitarnya kini memiliki lebih banyak pilihan jadwal konsultasi sehingga penanganan medis dapat dilakukan secara lebih cepat, responsif, dan komprehensif. (Athiful/KIM Depok)




Satu Tahun Penerapan AIK Multikultural, UNISA Yogyakarta Perkuat Komitmen Kampus Inklusif

Sleman – Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta mencatatkan capaian penting dalam mewujudkan lingkungan akademik yang inklusif dan ramah keberagaman. Tepat pada akhir Juli 2026, UNISA Yogyakarta berhasil menuntaskan satu tahun pelaksanaan pembelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) Multikultural bagi mahasiswa non-Muslim yang telah berlangsung sepanjang tahun akademik 2025/2026, Jumat (31/07/2026).

Program yang diselenggarakan di kampus UNISA Yogyakarta, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, tersebut diikuti oleh 50 mahasiswa non-Muslim dari berbagai program studi. Melalui skema ini, mahasiswa pemeluk agama Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Buddha, maupun Konghucu tidak lagi mengikuti mata kuliah keimanan dan ibadah Islam reguler, melainkan mendapatkan mata kuliah pengganti bertajuk Islam dan Agama-Agama Dunia serta Mata Kuliah Etika dengan perspektif multikultural.

Langkah ini merupakan wujud nyata penerjemahan mandat Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Melalui pendekatan tersebut, perbedaan agama dipandang sebagai niscaya yang direspon dengan saling mengenal, menghargai, dan memahami antar-pemeluk kepercayaan.

Dosen AIK UNISA Yogyakarta pengampu materi AIK Multikultural, Iwan Setiawan, menjelaskan bahwa proses pembelajaran dirancang secara komprehensif melalui perpaduan metode daring (online) dan luring (offline).

“Pembelajaran AIK Multikultural dilaksanakan sesuai dengan rencana pembelajaran. Ada teori, ada tugas, dan ada proyek. Ketiganya ini diramu dalam pembelajaran online dan offline, sehingga mata kuliah AIK Multikultural lebih banyak membangun dialog antar-mahasiswa yang berbeda agama dan juga mengenalkan Muhammadiyah kepada mahasiswa dalam bentuk proyek yang dilaksanakan oleh mahasiswa,” ujar Iwan Setiawan.

Keberhasilan penyelenggaraan AIK Multikultural selama dua semester ini kian mempertegas posisi UNISA Yogyakarta sebagai institusi pendidikan tinggi yang terbuka, inklusif, dan menjamin kesetaraan hak belajar bagi seluruh anak bangsa tanpa terkendala perbedaan latar belakang agama. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri)