Sasar 94 Balita, Kalurahan Condongcatur Gelar Validasi Data Gizi dan Pemantauan PMT

Sleman – Puskesmas Depok II bekerja sama dengan Tim Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) Condongcatur menyelenggarakan kegiatan validasi data status gizi balita di Ruang Wacana Loka, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman pada Sabtu (12/9/2026). Kegiatan ini menyasar 94 balita penerima manfaat program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal.

Validasi tersebut ditujukan bagi balita dengan kategori gizi stunting, wasting, dan underweight yang selama ini rutin mendapatkan asupan makanan tambahan serta pendampingan harian. Proses validasi dilakukan melalui penimbangan berat badan dan pengukuran ulang tinggi serta panjang badan untuk memastikan keakuratan data antropometri anak secara riil.

Pengampu Gizi Puskesmas Depok II, Winariyanti, menjelaskan bahwa presisi dalam pengukuran awal menjadi kunci utama dalam merumuskan intervensi gizi serta menentukan evaluasi kesehatan balita di tingkat dinas.

“Penimbangan dan pengukuran ulang dilakukan untuk memvalidasi hasil pengukuran sebelumnya. Hasilnya digunakan sebagai bagian dari data status gizi tahunan yang dilaporkan kepada dinas kesehatan,” ujar Winariyanti.

Selain pemantauan fisik, tim tenaga kesehatan bersama ahli gizi Dwi Anisa Purnamasari turut memberikan edukasi langsung kepada para orang tua. Langkah ini penting mengingat keberhasilan penanganan masalah gizi balita sangat bergantung pada pola pengasuhan serta pemberian nutrisi seimbang di lingkungan rumah tangga.

Upaya intensif yang mengolaborasikan 40 Posyandu, Puskesmas Depok II, dan Rumah Sakit Condong Catur ini mencatatkan tren positif. Data Pemerintah Kalurahan Condongcatur menunjukkan penurunan angka kasus stunting dari 59 kasus pada 2024 menjadi 51 kasus pada 2025.

Melalui keakuratan data hasil validasi ini, Pemerintah Kalurahan Condongcatur bersama Puskesmas Depok II berharap dapat mengambil langkah intervensi medis maupun pendampingan gizi yang lebih terukur, tepat sasaran, dan berkelanjutan. (Wasana/KIM Depok)




Tingkatkan Transparansi Pengelolaan Anggaran, Aparatur Margorejo Ikuti Bimtek Siskeudes

Sleman – Pemerintah Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, memperkuat kapasitas dan kesiapan aparaturnya dalam mengoperasikan Sistem Keuangan Desa (Siskeudes). Penguatan teknis tersebut diwujudkan melalui bimbingan teknis (bimtek) yang digelar di ruang rapat Kalurahan Margorejo, Sleman pada Senin (14/9/2026).

Kegiatan bimtek ini diikuti oleh jajaran perwakilan lurah, carik, kepala seksi (kasi), kepala urusan (kaur), hingga staf administrasi keuangan. Pelatihan ini diselenggarakan untuk meningkatkan kecakapan serta pemahaman aparatur terhadap seluruh tahapan tata kelola keuangan berbasis digital sesuai regulasi yang berlaku.

Carik Margorejo, Ariyanto Wibowo, yang hadir memberikan sambutan mewakili Lurah Margorejo, menegaskan pentingnya ketelitian dan persepsi yang seragam antar-aparatur dalam mengelola anggaran kalurahan.

“Pengelolaan keuangan membutuhkan ketelitian dan pemahaman yang sama di antara aparatur. Karena itu, bimtek seperti ini penting agar setiap proses dapat dilaksanakan sesuai ketentuan,” kata Ariyanto Wibowo.

Materi bimbingan teknis dipandu langsung oleh Prasetya Noor Handoyo, Tenaga Administrasi Keuangan Kalurahan dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan Kabupaten Sleman. Dalam pemaparannya, Prasetya mengulas secara mendalam prosedur penggunaan fitur Siskeudes, penyusunan tahapan administrasi, hingga solusi atas berbagai kendala teknis di lapangan.

Melalui pembekalan intensif ini, para peserta memperoleh kejelasan acuan teknis dalam menyelesaikan tugas penatausahaan keuangan sesuai peran masing-masing. Langkah ini diharapkan dapat mewujudkan tata kelola keuangan Pemerintah Kalurahan Margorejo yang akuntabel, transparan, dan tertib administrasi. (SBD/KIM Tempel)




Latih Mental Bertanding, 33 Pecatur Cilik Ikuti Kompetisi Catur Usia Dini Kabupaten Sleman

Sleman – Sebanyak 33 pecatur cilik jenjang SD/MI sederajat mengikuti Kompetisi Catur Klub Olahraga Usia Dini Tingkat Kabupaten Sleman Tahun 2026. Ajang pembinan atlet muda ini berlangsung di Ruang Pangripta Bappeda Sleman pada Senin (14/9/2026) hingga Selasa (15/9/2026) mulai pukul WIB.

Para peserta merupakan siswa kelas 1 hingga kelas 6 SD yang mewakili berbagai klub catur dan kapanewon di Kabupaten Sleman. Kompetisi diselenggarakan berdasarkan jadwal resmi Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Sleman melalui surat dispensasi Nomor guna menjaring bakat-bakat muda secara terarah dan berjenjang.

Ketua Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PERCASI) Kabupaten Sleman, Nuradi Indrawijaya, menegaskan bahwa kejuaraan tingkat usia dini ini menjadi investasi jangka panjang untuk mengasah mentalitas, tingkat konsentrasi, serta kemampuan analisis anak.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya belajar bermain catur, tetapi juga belajar bagaimana berpikir, mengambil keputusan, berkonsentrasi, mengendalikan emosi, dan menghargai lawan. Karena itu, kompetisi usia dini seperti ini sangat penting sebagai bagian dari proses pembentukan karakter sekaligus pembinaan atlet. Hari ini kita tidak sedang hanya mencari siapa yang menjadi juara, tetapi melihat proses tumbuhnya pecatur-pecatur muda Sleman,” ujar Nuradi Indrawijaya.

Ia menambahkan bahwa jam terbang melalui pengalaman bertanding langsung menjadi faktor penentu kematangan atlet di masa depan agar mampu membawa nama harum Sleman dan DIY di level nasional maupun internasional.

Dukungan serupa disampaikan perwakilan Kepala Dispora Kabupaten Sleman, Agustin Eni. Pihaknya mengapresiasi penyelenggaraan kompetisi ini sebagai bagian penting dari penguatan ekosistem olahraga daerah yang berkesinambungan.

Melalui sinergi antara PERCASI dan Pemkab Sleman, kompetisi catur usia dini ini diharapkan dapat terus mencetak bibit unggul yang siap dibina secara konsisten menuju jenjang prestasi yang lebih tinggi. (Kusnadi/KIM Berbah)




Kurangi Kecanduan Gadget pada Anak, Permainan Karambol Dikenalkan Kembali di FKY 2026

Sleman – Permainan papan tradisional karambol kembali dikenalkan kepada generasi muda sebagai alternatif aktivitas produktif untuk mengikis ketergantungan anak terhadap gadget. Pengenalan ini dihadirkan oleh Zona Ayo Dolanan bekerja sama dengan Peken Klangenan Kotagede dalam ajang Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026 di bekas Pabrik Gula Beran, Kabupaten Sleman pada Minggu (13/9/2026).

Permainan karambol menarik perhatian banyak pengunjung, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Lewat ajang tersebut, anak-anak diajak aktif mencoba secara langsung ketimbang sekadar menjadi penonton, dalam suasana yang menyenangkan dan penuh kebersamaan.

Pengelola sekaligus inisiator Peken Klangenan Kotagede, Awang Kaguna, menyampaikan bahwa pengenalan karambol penting dilakukan guna menyediakan pilihan rekreasi fisik yang edukatif serta mampu mengalihkan perhatian anak dari layar gawai.

“Pengenalan permainan seperti karambol perlu dilakukan karena anak membutuhkan pilihan kegiatan yang mampu mengalihkan perhatian dari layar gadget tanpa kehilangan unsur hiburan. Permainan tradisional dan permainan papan dapat menjadi ruang bagi anak untuk bermain secara aktif sekaligus mengembangkan berbagai keterampilan,” ujar Awang Kaguna.

Ia menambahkan bahwa selain melatih motorik halus, konsentrasi, dan interaksi sosial, karambol secara tidak langsung mengajarkan konsep edukasi dasar kepada anak saat mengatur strategi permainan.

“Dengan memainkan karambol secara tidak langsung, anak akan mengenal konsep matematika dasar. Tanpa sadar anak belajar sudut, pantulan, dan perkiraan jarak,” kata Awang Kaguna.

Inisiatif menghadirkan kembali karambol di FKY 2026 membuktikan bahwa permainan tradisional tetap relevan dan menarik bagi kehidupan anak masa kini jika dikemas dengan baik. Langkah ini diharapkan mampu menjaga keberlanjutan budaya bermain yang sehat, melatih sosialisasi antarteman, serta memperkuat tumbuh kembang anak secara positif di tengah gempuran era digital. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Optimalisasi Air Hujan Jadi Solusi Sumber Air Bersih Alternatif Hadapi Perubahan Iklim

Sleman – Masyarakat diserukan untuk mulai memanfaatkan air hujan sebagai sumber air bersih alternatif demi mengantisipasi ancaman krisis air akibat perubahan iklim global. Seruan edukatif ini disampaikan oleh relawan Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman, AJ Purwanto dan Indah Cahya, di stan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026 yang berlangsung di Beran, Kabupaten Sleman pada Minggu (13/9/2026).

Dalam ajang budaya tersebut, SAH Banyu Bening memperkenalkan metode pengolahan air hujan menggunakan Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan (ISLAH) dan teknologi elektrolisa agar air limpasan dari atap layak dikonsumsi sebagai air minum.

AJ Purwanto menekankan pentingnya mengubah persepsi publik yang selama ini menganggap air hujan sebagai limbah cair yang harus segera dialirkan ke saluran drainase.

“Air hujan jangan hanya dipandang sebagai air yang harus dibuang. Kita perlu mengubah cara pandang bahwa hujan adalah sumber daya yang bisa ditampung, diolah, dan dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari. Harapannya masyarakat mulai dari sekarang mau menampung air hujan, jangan menunggu krisis air terjadi baru kita mencari sumber air,” ujar Purwanto.

Ia menerangkan bahwa pemanenan air hujan perlu disiapkan secara terencana, mulai dari kebersihan bidang tangkapan atap rumah, sistem penyaringan, hingga penampungan yang higienis.

Senada dengan Purwanto, Indah Cahya menambahkan bahwa teknologi pemanenan air hujan dapat diterapkan secara masif mulai dari skala rumah tangga, fasilitas umum, sekolah, hingga komunitas. Gerakan ini dinilai efektif untuk mereduksi ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan air tanah.

“Yang terpenting adalah membangun kesadaran bahwa setiap rumah sebenarnya memiliki potensi sumber air dari atap ketika hujan turun. Tinggal bagaimana air tersebut ditangkap dan dikelola dengan benar,” kata Indah Cahya.

Selain menjaga ketahanan air mandiri saat musim kemarau, pemanenan air hujan juga memberikan manfaat ekologis untuk menekan limpasan air permukaan yang kerap memicu banjir. Melalui edukasi di FKY 2026, SAH Banyu Bening berharap gerakan memanen air hujan dapat meluas menjadi bagian dari mitigasi iklim berbasis masyarakat. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)