KIM DSN Ajak Muda-Mudi GNFI Diskusikan Arah Pendidikan Indonesia Lewat Storytelling

Sleman — Persoalan pendidikan Indonesia yang kerap dipandang serius dan kompleks dapat dibicarakan dengan cara yang ringan, kreatif, dan dekat dengan generasi muda. Hal tersebut terlihat dalam storytelling bertajuk “Negeri yang Gemar Mengukur: Pendidikan Indonesia” yang dibawakan Kak Egi pada pra-opening off-air Good Talk Talkshow and Networking Session “Mau Dibawa ke Mana Sistem Pendidikan Kita?”. Acara tersebut diselenggarakan Good News From Indonesia (GNFI), pada Kamis (24/9/2026), di Gedung Museum Muhammadiyah.

Melalui storytelling, Kak Egi mengajak peserta merefleksikan berbagai persoalan pendidikan di Indonesia, khususnya kecenderungan mengukur keberhasilan pendidikan melalui angka, nilai, dan berbagai indikator capaian.

Dengan gaya bertutur yang ringan, diselingi humor dan satire, persoalan pendidikan yang kompleks dikemas menjadi cerita yang mudah diikuti. Peserta tidak hanya diajak mendengarkan, tetapi juga merefleksikan pengalaman mereka sendiri dalam menjalani proses pendidikan.

Salah satu peserta, Ircham, menilai penyampaian materi melalui storytelling menjadi hal yang unik dan menarik.

“Unik dan menarik. Pembahasan yang berat terkait pendidikan Indonesia, tetapi disampaikan secara storytelling,” ujar Ircham.

Menurutnya, pendekatan tersebut membuat pembahasan mengenai pendidikan terasa lebih dekat dan tidak kaku, khususnya bagi generasi muda.

Storytelling “Negeri yang Gemar Mengukur” sekaligus menjadi pengantar bagi peserta untuk mengikuti pembahasan yang lebih luas dalam forum “Mau Dibawa ke Mana Sistem Pendidikan Kita?”. Diskusi tersebut tidak hanya berkaitan dengan kebijakan dan sistem pendidikan, tetapi juga bagaimana pendidikan tetap menempatkan manusia sebagai pusat dari proses belajar.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa diskusi mengenai pendidikan dapat dikemas melalui berbagai medium kreatif. Cerita, humor, dan pengalaman sehari-hari dapat menjadi pintu masuk untuk membangun percakapan yang lebih reflektif mengenai pendidikan.

Kehadiran generasi muda dalam forum GNFI turut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai masa depan pendidikan tidak hanya menjadi ruang bagi pemerintah, akademisi, guru, dan pengambil kebijakan. Generasi muda juga memiliki ruang untuk menyampaikan pengalaman, gagasan, dan pandangan mengenai pendidikan yang mereka jalani.

Melalui storytelling, isu pendidikan yang kompleks dihadirkan dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari cerita tentang “negeri yang gemar mengukur”, peserta diajak kembali pada pertanyaan mendasar: pendidikan sebenarnya hendak membawa manusia ke mana?

Pertanyaan tersebut menjadi ruang refleksi bersama bahwa pendidikan tidak semata-mata berbicara tentang angka yang dapat diukur, tetapi juga tentang manusia yang tumbuh, belajar, membangun karakter, dan mempersiapkan masa depan.

(Egi Prayoga – KIM DSN Ngaglik)




MPK dan OSIS MAN 4 Sleman Gelar Musyawarah Besar, Sampaikan LPJ Kepengurusan

Sleman — Majelis Perwakilan Kelas (MPK) dan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) MAN 4 Sleman menggelar Musyawarah Besar (Mubes) sebagai bentuk pertanggungjawaban kepengurusan selama satu periode. Kegiatan berlangsung di Aula 2 MAN 4 Sleman, Jumat (25/9/2026), dengan agenda utama penyampaian Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) masing-masing organisasi.

Mubes diikuti 43 murid yang merupakan anggota MPK dan OSIS. Kegiatan turut dihadiri Staf Wakabid Kesiswaan MAN 4 Sleman Edy Suparyanto, Pembina OSIS Agus Musthofah, dan Pembina MPK Nira Intan Sari.

Mewakili madrasah, Edy Suparyanto menyampaikan bahwa Mubes tidak sekadar menjadi agenda rutin organisasi, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran murid dalam berdemokrasi dan berorganisasi.

“Mubes merupakan proses belajar berdemokrasi, belajar bermusyawarah, belajar menyampaikan pendapat, sekaligus belajar menghargai pendapat orang lain,” ujar Edy saat memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan.

Ia juga mengajak para murid menjadikan organisasi sebagai ruang untuk belajar kepemimpinan, mengembangkan kreativitas, membangun kepedulian sosial, dan menumbuhkan karakter yang baik. Menurutnya, kepemimpinan tidak selalu ditunjukkan melalui banyak berbicara, tetapi juga melalui keteladanan, tindakan, dan kesediaan memberikan manfaat bagi orang lain.

Dalam forum tersebut, masing-masing organisasi menyampaikan laporan kegiatan, tingkat keterlaksanaan program, hingga laporan keuangan. Penyampaian LPJ dilakukan secara terbuka sebagai bentuk transparansi dan pertanggungjawaban pengurus.

“Semua kami sampaikan secara transparan. Terima kasih atas kerja sama selama ini dan terima kasih atas kritik serta saran terhadap laporan pertanggungjawaban kami,” ujar Wakil Ketua OSIS, Rezika Nur Safitri saat menyampaikan LPJ.

Melalui Mubes, evaluasi kepengurusan tidak hanya menjadi bentuk pertanggungjawaban, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran untuk meningkatkan kualitas tata kelola organisasi pada periode berikutnya.

Kegiatan berlangsung lancar dengan antusiasme peserta selama proses penyampaian laporan, tanggapan, dan evaluasi. Mubes diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi murid untuk semakin dewasa dalam berorganisasi, bertanggung jawab, serta mampu menyampaikan gagasan secara santun dan konstruktif. (Edy/KIM Sumber Biwar Moyudan)




Perkamuda MA DIY 2026 Resmi Ditutup, Perkuat Karakter dan Kepemimpinan Generasi Madrasah

Sleman — Perkemahan Murid Madrasah (Perkamuda) Madrasah Aliyah (MA) DIY Tahun 2026 resmi berakhir pada Rabu (23/9/2026). Sebanyak 456 murid MA se-DIY mengikuti rangkaian kegiatan yang tidak hanya mengasah keterampilan dan jiwa kompetitif, tetapi juga menumbuhkan kemandirian, tanggung jawab, kerja sama, serta karakter kepemimpinan.

Penutupan Perkamuda ditandai dengan pemukulan gong oleh Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Sidik Pramono. Dalam sambutannya, Sidik menegaskan bahwa kegiatan kepramukaan di madrasah memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang berkarakter dan mandiri.

Selama perkemahan, peserta mengikuti berbagai kegiatan kepramukaan dan perlombaan. Mereka juga terlibat dalam aktivitas kelompok yang menuntut kedisiplinan, kerja sama, kemandirian, dan tanggung jawab. Berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran di luar kelas yang diharapkan dapat membekali peserta dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Menurut Sidik, Perkamuda tidak sekadar menjadi ajang berkumpul dan berkompetisi, tetapi juga merupakan bagian dari proses pendidikan karakter di lingkungan madrasah.

Ia menyampaikan empat pesan utama kepada para peserta. Pertama, menjaga integritas iman dan nasionalisme. Kedua, membangun keterampilan dan kemandirian. Ketiga, menumbuhkan semangat moderasi beragama dan kepedulian sosial. Keempat, membangun karakter melalui Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).

“Dalam pelaksanaannya, kegiatan perkemahan madrasah tetap melaksanakan kewajiban salat dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta rasa nasionalisme,” ungkapnya.

Terkait Kurikulum Berbasis Cinta, Sidik menekankan pentingnya menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, ilmu pengetahuan, diri sendiri, sesama, serta alam.

“Terbangunnya karakter yang berdasar Kurikulum Berbasis Cinta agar senantiasa disebarluaskan sehingga terbangun di lingkungan sekitar akan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya makin meningkat, kecintaan terhadap ilmu, diri sendiri dan sesama, dan kecintaan terhadap alam,” jelas Sidik.

Ia berharap pengalaman yang diperoleh selama Perkamuda tidak berhenti setelah kegiatan berakhir. Para peserta diharapkan mampu menjadi duta pramuka yang membawa dan membagikan praktik baik di madrasah maupun lingkungan sekitar, khususnya dalam membangun toleransi, moderasi beragama, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap lingkungan.

“Pramuka madrasah harus mampu melahirkan generasi muda yang berkarakter, mandiri, kreatif, inovatif, berdedikasi, memiliki akhlak dan budi pekerti luhur, tanggung jawab, kepedulian sosial, moderasi beragama serta cinta lingkungan,” pesan Sidik.

Pada penutupan Perkamuda MA DIY 2026 turut diumumkan para juara dari berbagai cabang lomba dan kontingen terbaik. Dari 14 cabang lomba yang dipertandingkan, Kontingen MA Kabupaten Sleman menduduki peringkat pertama, disusul Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul, dan Kabupaten Kulon Progo.

Menutup sambutannya, Sidik mengingatkan bahwa semangat berprestasi tidak hanya diukur dari hasil akhir, tetapi juga dari proses dan usaha yang dilakukan.

“Prestasi bukan hanya tentang siapa yang berada di urutan pertama, tetapi tentang siapa yang terus berusaha memberikan yang terbaik. Terus berkarya, terus berprestasi dan terus menginspirasi. Pramuka Madrasah Istimewa, berkarakter tangguh berbasis cinta,” pungkasnya. (Edy – KIM Sumber Biwara)




Pembuatan Sumur Resapan dan Biopori Jadi Mitigasi Jelang Musim Hujan

Sleman — Musim kemarau panjang diperkirakan segera berakhir. Memasuki musim hujan, masyarakat perlu meningkatkan kesiapsiagaan terhadap berbagai risiko yang dapat muncul, termasuk genangan dan aliran permukaan yang berpotensi memicu erosi.

Salah satu langkah mitigasi yang dapat dilakukan adalah konservasi tanah dan air melalui pembuatan sumur resapan, biopori, rorak, maupun metode lainnya. Namun, penerapan metode tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan karakteristik lahan.

Pengamat dan pemerhati lingkungan sekaligus juri Program Kampung Iklim (ProKlim), Mohammad Kundarto mengatakan pemilihan metode konservasi tanah dan air tidak dapat dilakukan secara seragam. Hal tersebut disampaikannya saat mengunjungi Kampung Iklim di Berbah, Kabupaten Sleman, Kamis (24/9/2026).

“Perlu kebijakan yang mendalam untuk menentukan pilihan metode mana yang sesuai dengan kondisi lingkungan sekitar kita,” ujar Kundarto.

Dosen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta tersebut menjelaskan, masyarakat selama ini kerap menjadikan biopori sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Namun, menurutnya, masih terdapat berbagai metode lain yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan, seperti rorak, sumur resapan, biopori jumbo, dan metode lainnya.

“Penggiat lingkungan beberapa waktu lalu pernah ‘latah’ dengan biopori. Apa-apa maunya dibangun biopori dan kemudian menyebutkan berapa jumlah lubang biopori yang sudah dibuat. Padahal, ada berbagai macam metode untuk mengelola konservasi tanah dan air,” jelasnya.

Kundarto menekankan pentingnya memahami fungsi dan penerapan masing-masing metode, terutama dalam kaitannya dengan kemampuan meresapkan air dan mengolah seresah tanaman menjadi kompos.

Menurutnya, biopori ideal diterapkan di kawasan permukiman padat, baik perkotaan maupun perdesaan, terutama pada wilayah yang memiliki keterbatasan lahan terbuka dan mengalami genangan ringan ketika hujan deras.

“Biopori dirancang dengan lubang yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu dalam. Karena itu, kapasitasnya untuk menyerap aliran permukaan maupun menampung sampah organik juga terbatas,” terangnya.

Untuk kawasan yang masih memiliki ruang terbuka dan membutuhkan kapasitas peresapan lebih besar, dapat diterapkan biopori jumbo. Ukuran diameter dan kedalamannya lebih besar dibandingkan biopori biasa, dengan kapasitas yang lebih sesuai untuk menampung aliran air.

Selain itu, terdapat konsep Teba yang memiliki ukuran lebih besar, menyerupai lubang sumur tetapi tidak terlalu dalam. Metode ini lebih difokuskan pada proses pengomposan. Namun, bagian dasar dapat dibiarkan berupa permukaan tanah tanpa lapisan kedap air sehingga tetap memungkinkan air meresap ke dalam tanah.

Sementara itu, rorak lebih sesuai diterapkan pada lahan yang luas, seperti pekarangan rumah di wilayah perdesaan. Rorak juga dapat dibuat di kawasan lereng perbukitan dengan dikombinasikan bersama sistem terasering.

“Rorak di dekat permukiman berfungsi meresapkan air sekaligus menjadi media pengomposan. Sedangkan rorak di lereng perbukitan lebih dominan berfungsi sebagai peresap air dari aliran permukaan yang berlebihan sehingga dapat mengurangi potensi erosi dan longsor,” jelas Kundarto.

Adapun sumur resapan, lanjutnya, tidak disarankan dibangun pada kawasan dengan muka air tanah dangkal, terutama kurang dari satu meter. Kondisi ideal untuk pembangunan sumur resapan adalah pada wilayah dengan kedalaman muka air tanah sekitar tiga meter atau lebih.

“Jika air tanah terlalu dangkal, saluran drainase dapat menjadi pilihan untuk mengurangi genangan. Sumur resapan lebih direkomendasikan pada lahan yang mudah meresapkan air untuk membantu menambah cadangan air tanah,” katanya.

Kundarto menegaskan bahwa pemilihan metode, bahan, dan penerapan konservasi tanah dan air harus didasarkan pada kondisi setempat. Metode yang sesuai pada suatu wilayah belum tentu dapat diterapkan pada wilayah lain karena setiap lahan memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda.

“Pemilihan metode juga harus mempertimbangkan latar belakang serta tujuan pembuatannya. Para penggiat lingkungan perlu berdiskusi bersama secara cermat dan mendalam ketika menentukan metode dan bahan dalam kegiatan konservasi tanah dan air,” pungkasnya. (Kusnadi, KIM Berbah)




Jaga Sportivitas, ORADO Gelar Technical Meeting Jelang Turnamen Domino Piala Panglima TNI di Sleman

Sleman — Technical meeting digelar untuk mematangkan pelaksanaan Turnamen Domino ORADO memperebutkan Piala Panglima TNI dalam rangka memperingati HUT ke-81 TNI. Kegiatan tersebut menjadi forum untuk menyamakan pemahaman peserta dan panitia mengenai aturan serta mekanisme pertandingan.

Technical meeting yang diikuti 64 tim tersebut berlangsung di Ruang Rapat Lantai III Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, Kamis (24/9/2026). Agenda kegiatan meliputi penjelasan peraturan pertandingan The Law of Domino 101 yang dikeluarkan Federasi Olahraga Domino Nasional (ORADO), serta pengambilan nomor urut peserta.

Ketua ORADO Daerah Istimewa Yogyakarta, Lilik Syaiful Ahmad mengatakan penyamaan persepsi diperlukan agar seluruh peserta memahami ketentuan pertandingan secara sama. Penjelasan tersebut mencakup sistem kompetisi, tata cara permainan, penyusunan bagan pertandingan, hingga mekanisme penanganan persoalan yang mungkin terjadi selama pertandingan.

“Penyamaan persepsi menjadi penting dalam kompetisi domino karena setiap peserta harus memiliki pemahaman yang sama terhadap regulasi yang telah ditetapkan. Dengan demikian, potensi perbedaan penafsiran yang dapat mengganggu jalannya pertandingan dapat diminimalkan,” jelas Lilik.

Selain membahas regulasi, technical meeting juga menjadi sarana koordinasi antara panitia, perangkat pertandingan, dan peserta. Melalui komunikasi langsung, berbagai persoalan teknis dapat diklarifikasi sebelum kompetisi dimulai.

Lilik menambahkan, Turnamen Domino ORADO Piala Panglima TNI akan digelar di Pendhapa Parasamya Sleman sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 TNI. Turnamen tersebut sekaligus menjadi wadah bagi para pehobi domino untuk menyalurkan minat dan kemampuan melalui kompetisi yang terukur.

“Penyelenggaraan kompetisi dengan aturan yang jelas menjadi bagian dari upaya mendorong olahraga domino berkembang secara lebih tertib dan profesional. Kepatuhan peserta terhadap regulasi menjadi salah satu unsur penting untuk menjaga kualitas pertandingan,” tandasnya.

Ia berharap semangat kompetisi dalam turnamen tetap berjalan seiring dengan penerapan sportivitas dan kebersamaan. Peserta tidak hanya dituntut memiliki kemampuan bermain, tetapi juga menghormati aturan dan keputusan perangkat pertandingan.

Dengan pelaksanaan technical meeting, panitia dan peserta diharapkan memiliki pedoman yang sama sebelum turnamen dimulai. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mengembangkan olahraga domino secara lebih terorganisasi melalui kompetisi yang menerapkan aturan secara jelas dan konsisten.

(Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Gamping)