Pelatihan SIOSESTU di Seyegan Dongkrak Kepesertaan KPSM, 14 Kelompok Berhasil Terverifikasi

Sleman — Kapanewon Seyegan memfasilitasi pelatihan dan pendampingan registrasi Sistem Operasional Pengelolaan Sampah Terpadu (SIOSESTU) bagi 30 perwakilan Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) di Ruang Puntadewa Lantai II Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, pada Jumat (11/09/2026). Langkah ini dilakukan guna memacu partisipasi serta keterlibatan aktif kelompok pengelola sampah berbasis masyarakat dalam sistem pendataan digital Pemerintah Kabupaten Sleman.

Kegiatan pelatihan tersebut menyasar KPSM yang telah memiliki Surat Keputusan (SK) dari Lurah setempat serta mengoperasikan unit bank sampah maupun sedekah sampah. Melalui pendampingan teknis secara intensif, sebanyak 14 KPSM berhasil menyelesaikan kendala administrasi dan resmi terverifikasi dalam sistem SIOSESTU pada hari yang sama, sehingga menambah total KPSM terdaftar di wilayah Seyegan menjadi 39 kelompok.

Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) Kapanewon Seyegan, Sutarto Agus, menyampaikan bahwa percepatan verifikasi data ini menjadi resolusi penting mengingat capaian kepesertaan SIOSESTU wilayah Seyegan sempat stagnan pada periode awal tahun.

“Menurut laporan dari DLH Sleman, dalam rentang Januari sampai Agustus 2026 progres kepesertaan KPSM dalam SIOSESTU untuk wilayah Seyegan masih nol persen. Harapannya, dengan pelatihan ini jumlah KPSM yang terverifikasi di SIOSESTU akan terus bertambah,” ujar Sutarto Agus.

Senada dengan hal tersebut, Kawat Kemakmuran Kapanewon Seyegan, Rini Nurhidayati, mengimbau seluruh pengurus KPSM untuk memanfaatkan momentum pendaftaran ini, mengingat SIOSESTU menjadi syarat utama seleksi administrasi Penilaian Pengelolaan Sampah Kabupaten Sleman yang digelar pada September 2026.

“Bagi KPSM yang sudah operasional, dengan mendaftar dan terverifikasi di SIOSESTU pada bulan September ini, secara otomatis menjadi peserta penilaian pengelolaan sampah,” jelas Rini Nurhidayati.

Sementara itu, P3S Kawasan Seyegan selaku pemateri teknis, Fairuzhuda, secara langsung mendampingi para peserta dalam mengunggah berkas SK serta melengkapi struktur kepengurusan guna meminimalisasi hambatan verifikasi di lapangan. Terverifikasinya belasan KPSM baru ini diharapkan dapat memperkuat tata kelola sampah mandiri di Kapanewon Seyegan sekaligus menyukseskan program pengelolaan lingkungan berkelanjutan di tingkat kabupaten. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Tiga MA Negeri Sleman Unjuk Inovasi di Extranas VIII Lamongan

Sleman — Tiga Madrasah Aliyah Negeri (MAN) asal Kabupaten Sleman, yakni MAN 1 Sleman, MAN 4 Sleman, dan MAN 5 Sleman, turut memamerkan berbagai produk inovasi dan kreativitas siswa dalam ajang Expo dan Rapat Kerja Nasional (Extranas) Madrasah Aliyah Plus Keterampilan (MAPK) VIII Tahun 2026. Kegiatan nasional bertajuk “Dari Madrasah untuk Dunia” tersebut dipusatkan di MAN 1 Lamongan dan Sport Center Lamongan, Jawa Timur, pada Kamis (10/09/2026) hingga Minggu (13/09/2026).

Ajang tahunan ini diikuti ratusan peserta yang mewakili madrasah aliyah plus keterampilan dari 19 provinsi di Indonesia. Sebanyak sembilan bidang kompetensi diperlombakan secara luring maupun daring, meliputi Expo Madrasah, Kriya, Business Plan, Video Profile, Video Cinematic, Poster, Desain Logo, Komik Digital, hingga Best Practice, yang menyoroti program keahlian seperti Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP), Desain Komunikasi Visual (DKV), dan Tata Busana.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Amien Suyitno, secara resmi membuka acara tersebut dengan menekankan pentingnya peran madrasah dalam melahirkan generasi berjiwa sosial dan berdaya saing tinggi.

“Berikan tongkat untuk orang yang buta, berikan payung, lindungi orang kesusahan, berikan makanan bagi yang membutuhkan, berikan pakaian bagi orang yang telanjang,” ujar Amien Suyitno seraya mengutip ajaran Sunan Drajat di hadapan para peserta expo.

Sementara itu, Ketua Tim MAN 4 Sleman, Umi Hidayati, mengungkapkan kebanggaannya atas antusiasme pengunjung serta kesiapan seluruh perwakilan madrasah asal Sleman dalam menguji wawasan dan keterampilan di tingkat nasional.

“Kami mengikuti semua yang dilombakan. Seluruh tim berusaha maksimal dan total. Mohon doanya semoga meraih yang terbaik,” kata Umi Hidayati pada Sabtu (12/09/2026).

Keikutsertaan tiga MAN asal Kabupaten Sleman ini diharapkan dapat memperluas jejaring kemitraan, mengasah kedewasaan berkarya para siswa, serta membuktikan kapasitas madrasah berbasis keterampilan dalam menjawab tantangan dunia kerja dan industri masa depan. (Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)




UWM Yogyakarta Serahkan Bantuan Sarana Produksi untuk Penguatan UMKM Unggulan Banyuraden

Sleman — Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta menyerahkan bantuan sarana produksi kepada kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Jumat (11/09/2026). Penyerahan bantuan berupa peralatan pembuatan lapis legit batik, bubuk empon-empon, serta sirup empon-empon ini berlangsung di Kantor Kalurahan Banyuraden sebagai bagian dari upaya mendukung pengembangan produk unggulan berbasis potensi lokal.

Program bertajuk Pemberdayaan Desa Banyuraden Melalui Pengembangan Brand Image Produk ini telah diinisiasi UWM Yogyakarta selama tiga tahun sejak 2024. Penyerahan sarana produksi diserahkan langsung oleh perwakilan akademisi UWM Yogyakarta, Ambar Rukmini, kepada Lurah Banyuraden, Sudarisman, untuk menstimulasi kapasitas olah pangan serta daya saing produk lokal di pasar yang lebih luas.

Guru Besar Bidang Teknologi Pangan dan Gizi UWM Yogyakarta, Ambar Rukmini, menyampaikan bahwa diversifikasi serta penguatan citra produk menjadi kunci utama dalam menaikkan nilai tambah komoditas lokal.

“Lapis legit batik dan produk olahan empon-empon memiliki peluang dikembangkan sebagai produk yang merepresentasikan potensi Banyuraden. Diversifikasi empon-empon dalam bentuk bubuk dan sirup juga diharapkan memperluas pilihan produk sekaligus meningkatkan nilai tambah bahan baku lokal,” jelas Ambar Rukmini.

Lurah Banyuraden, Sudarisman, menyambut positif konsistensi kemitraan dengan perguruan tinggi dalam mendorong kemandirian ekonomi warga melalui strategi pemasaran dan pengemasan produk yang modern.

“Penguatan brand image menjadi bagian penting dalam pengembangan produk karena kualitas produk harus diikuti identitas merek, kemasan, dan strategi pemasaran yang jelas. Dengan demikian, produk masyarakat tidak hanya diproduksi untuk memenuhi kebutuhan lokal, tetapi memiliki peluang menjangkau pasar yang lebih luas,” ujar Sudarisman.

Melalui sinergi berkelanjutan antara UWM Yogyakarta dan Pemerintah Kalurahan Banyuraden ini, kelompok UMKM setempat diharapkan dapat mengelola sarana produksi secara konsisten dan profesional sehingga mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat secara inklusif. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Genap Berusia 114 Tahun, SD Negeri 1 Godean Menjadi Saksi Bisu Perjalanan 3 Zaman

Sleman — Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Godean yang berlokasi di Padukuhan Gatak, Kalurahan Sidoluhur, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman, menggelar perayaan Hari Ulang Tahun ke-114 pada Jumat (11/09/2026). Momentum bersejarah bagi sekolah yang berdiri sejak 12 September 1912 ini diwarnai dengan pemotongan tumpeng, pelepasan balon berhadiah, kirab budaya 14 gunungan, pentas seni siswa, hingga aksi kepedulian sosial.

Keberadaan SD Negeri 1 Godean memiliki keunikan sejarah tersendiri karena telah melintasi tiga era perjalanan bangsa, yaitu zaman penjajahan Belanda, masa pendudukan Jepang, hingga era kemerdekaan Republik Indonesia. Sekolah yang pada awal berdirinya dikenal luas oleh masyarakat dengan sebutan “Sekolah Angka Loro” ini terus bertahan dan berkembang melayani kebutuhan pendidikan dasar warga setempat melintasi rentang waktu lebih dari satu abad.

Kepala SD Negeri 1 Godean, Jumadi, menegaskan bahwa usia panjang sekolah yang berdiri jauh sebelum kemerdekaan ini harus menjadi pemantik semangat untuk terus meningkatkan mutu pembelajaran bagi 350 siswa yang terdaftar dari kelas satu hingga enam.

“Sekolah ini awalnya dikenal dengan sebutan ‘Sekolah Angka Loro’ dan telah mengalami tiga zaman, yakni zaman penjajahan Belanda, Jepang, dan zaman kemerdekaan. Marilah di hari jadi ini kita jadikan sarana evaluasi bersama antara guru, karyawan, orang tua siswa, dan komite sekolah agar SD ini bisa tumbuh dan berkembang serta memberikan pelayanan pendidikan terbaik bagi seluruh siswa,” ujar Jumadi.

Peringatan hari jadi tersebut turut dimeriahkan dengan kirab 14 gunungan yang dilepas oleh Koordinator Wilayah Pendidikan Godean, Tuginem, yang mengarak produk kreasi dari 12 kelas, komite sekolah, serta jajaran guru dan karyawan mengelilingi rute permukiman warga. Rangkaian perayaan juga dilengkapi penyerahan bantuan alat tulis dari mantan guru setempat, Ahyadi, kepada 15 siswa kurang mampu, serta kerja sama dengan Rumah Sakit Universitas Gadjah Mada (RS UGM) berupa pemeriksaan gigi gratis, santunan untuk 60 siswa, dan pembagian 60 paket bingkisan bagi warga di sekitar lingkungan sekolah. (Giek/KIM Moyudan)




Pasar Kolombo Uji Coba Belanja Daring Melalui Platform Digital, Gratis Ongkir Selama Sebulan

Sleman — Pasar Kolombo yang berlokasi di Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, resmi memulai uji coba layanan belanja daring melalui laman pada Sabtu (12/09/2026). Program pengujian dan riset sistem Pasar Rakyat Digital V2.0 yang dikembangkan bersama Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada (PUSEKRA UGM) ini berlangsung hingga 12 Oktober 2026 mendatang dengan menyediakannya fasilitas bebas biaya pengiriman bagi para konsumen.

Jangkauan area riset riset ini mencakup radius 2,5 kilometer dari lokasi pasar yang meliputi sebagian wilayah Kapanewon Depok, Mlati, dan Ngaglik. Melalui platform tersebut, masyarakat dapat memesan berbagai kebutuhan bahan pangan pokok serta produk harian pedagang, melakukan transaksi pembayaran secara nontunai menggunakan kode QRIS, dan menerima pesanan yang diantarkan langsung oleh kurir pada hari berikutnya.

Peneliti PUSEKRA UGM, Puthut Indroyono, menyampaikan bahwa pengujian lapangan ini bertujuan mengevaluasi keandalan sistem sekaligus menjadi sarana edukasi bagi pedagang dan pengelola pasar tradisional agar siap beradaptasi dengan perubahan pola konsumsi masyarakat modern.

“Dari pelaksanaan uji coba ini, kami ingin melihat apa yang sudah berjalan baik dan apa yang masih perlu disempurnakan, sehingga apabila nantinya dikembangkan lebih luas, kita sudah lebih siap dan manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” kata Puthut Indroyono.

Sejalan dengan hal tersebut, Peneliti PUSEKRA UGM lainnya, Hempri Suyatna, menegaskan bahwa penerapan inovasi digital ini tidak bertujuan menggantikan pasar fisik, melainkan membangun ekosistem berbasis gotong royong yang memperkuat daya saing pedagang kecil di tengah pesatnya persaingan ekonomi digital.

Lurah Pasar Kolombo, Kuwat, menyambut positif kolaborasi tersebut dan berkomitmen memberikan dukungan penuh terhadap pemanfaatan teknologi bagi kesejahteraan para pedagang pasar rakyat.

“Harapannya selalu memberikan kemudahan kepada konsumen. Dengan adanya layanan ini, masyarakat dapat berbelanja ke Pasar Kolombo bahkan tanpa harus datang secara langsung. Kami dari pengurus Pasar Kolombo akan menyiapkan hal-hal yang mendukung pelaksanaan. Harapannya pasarnya semakin besar dan pedagangnya semakin sejahtera,” ujar Kuwat.

Pengembangan platform ini diharapkan menjadi model percontohan transformasi digital yang inklusif bagi pasar-pasar tradisional lainnya di Kabupaten Sleman, sehingga kemudahan akses pembeli dapat berjalan beriringan dengan peningkatan ekonomi kerakyatan. (Wasana/KIM Depok)