Realisasi PBB-P2 Condongcatur Capai 85,53 Persen, Kepala BKAD Sleman Apresiasi Layanan Jemput Bola

Sleman — Pemerintah Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, kembali mengoptimalkan penerimaan daerah melalui layanan jemput bola Pekan Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) di Pendopo Kromoredjan pada Rabu (28/10/2026). Hingga pelaksanaan kegiatan, realisasi PBB-P2 di kalurahan tersebut berhasil menembus angka 85,53 persen.

Dalam pelayanan yang berlangsung pukul – WIB itu, tercatat sebanyak 73 Wajib Pajak (WP) melakukan pembayaran dengan total penerimaan mencapai . Menariknya, warga yang selesai membayar pajak disuguhi hidangan soto ayam dan es teh gratis sebagai bentuk apresiasi dan sentuhan pelayanan yang humanis.

Plt. Lurah Condongcatur, Budi Arto, menyampaikan bahwa Pekan PBB ini merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran bersama akan pentingnya pajak bagi keberlangsungan pembangunan daerah.

“Pekan PBB ini merupakan momentum untuk meningkatkan kesadaran dan kepatuhan masyarakat dalam memenuhi kewajiban membayar Pajak Bumi dan Bangunan. Pajak yang kita bayarkan sangat penting untuk mendukung pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Budi Arto.

Kaur Danarta Kalurahan Condongcatur, Fernandya Riski Hartantri, menjelaskan bahwa potensi PBB-P2 tahun 2026 di Condongcatur mencakup Nomor Objek Pajak (NOP) dengan total ketetapan . Pihaknya optimistis dapat melampaui target 90 persen pada akhir tahun anggaran melalui kanal pelayanan harian serta kemudahan sistem pembayaran digital.

Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Sleman, Wawan Hariawan, yang hadir meninjau langsung pelaksanaan kegiatan memberikan apresiasi tinggi atas terobosan pelayanan tersebut.

“Kami mengapresiasi Kalurahan Condongcatur yang telah menggelar layanan PBB-P2 jemput bola. Ini adalah wujud nyata kolaborasi untuk mendekatkan pelayanan kepada wajib pajak. Kepatuhan pajak hari ini adalah fondasi pelayanan publik Sleman yang lebih baik esok hari,” tutur Wawan.

Guna mendorong penyelesaian sisa tunggakan pajak, BKAD Sleman turut mensosialisasikan program pembebasan sanksi denda administrasi PBB-P2 untuk tahun pajak 2013–2026 yang berlaku mulai 20 Oktober hingga 31 Desember 2026. (Wasana/KIM Depok)




Tiga Pecatur Sleman Borong Medali Emas untuk DIY di Kejurnas Catur ke-51 Serang

Sleman — Kontingen Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sukses menorehkan prestasi membanggakan pada ajang Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Catur ke-51 di Serang, Banten, yang berlangsung pada 23–29 Oktober 2026. Berdasarkan hasil akhir kejuaraan, DIY menduduki peringkat ketiga nasional dengan raihan 3 medali emas dan 1 medali perunggu.

Menariknya, seluruh medali emas yang disumbangkan bagi kontingen DIY diborong oleh tiga atlet catur asal Kabupaten Sleman, yakni Safira Devi Herfeza, Chavi Alisha, dan Keny Horasino Bach.

Ketua Percasi Kabupaten Sleman, Nuradi Indrawijaya, menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas pencapaian gemilang para atlet Sleman di kancah nasional tersebut. Hal tersebut diungkapkannya di Sekretariat Percasi Sleman, Jalan Kaliurang Km 14, Tegalmanding, Kalurahan Umbulmartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, pada Rabu malam (28/10/2026).

“Sungguh, prestasi ini merupakan hasil dari proses panjang yang ditempa melalui kerja keras, ketekunan, disiplin, dan perjuangan tanpa kenal lelah,” ucap Nuradi.

Ia menambahkan, kemenangan ini bukan akhir dari segalanya, melainkan momentum untuk terus meningkatkan kualitas diri dan menjaga kedisiplinan dalam berlatih. Capaian ini juga menjadi bukti keberhasilan pembinaan berkesinambungan yang dilakukan oleh Percasi Sleman berkat sinergi bersama KONI Kabupaten Sleman, Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora), serta para pemangku kepentingan terkait.

“Dengan kerja keras, kebersamaan, serta dukungan Percasi Sleman, KONI, Dispora, dan seluruh pihak terkait, saya yakin akan lahir lebih banyak pecatur hebat yang mampu mengharumkan nama Sleman, DIY, dan Indonesia di masa mendatang,” pungkas Nuradi. (Kusnadi/KIM Berbah)




Hadapi Transisi Musim, Masyarakat Diminta Waspadai Banjir dan Longsor

Sleman – Hujan yang mengguyur wilayah DIY dalam beberapa hari terakhir menjadi penanda peralihan dari musim kemarau panjang yang dipengaruhi fenomena Super El Niño. Meski membawa kelegaan setelah berbulan-bulan mengalami kondisi kering, awal musim hujan juga perlu diwaspadai karena berpotensi memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor.

“Maka, kedatangan musim hujan menjadi berkah tersendiri dalam upaya pemadaman kebakaran hutan,” ungkap dosen Ilmu Tanah UPN Veteran Yogyakarta sekaligus penggiat dan Yuri Proklim, Muhamad Kundarto saat kunjungan Kampung Iklim di Jogotirto, Berbah, Sleman, Rabu (28/10/2026).

Kundarto menjelaskan, hujan lebat di satu sisi mampu menurunkan jumlah titik api secara drastis dan membantu membasahi kembali lahan gambut yang mengalami kekeringan di bagian permukaan. Kondisi tersebut berkaitan dengan penurunan permukaan air hingga lebih dari 40 sentimeter.

Selain itu, hujan juga dapat membantu membersihkan udara dari debu yang sebelumnya berkontribusi terhadap peningkatan gangguan kesehatan saluran pernapasan. Kondisi ini menjadi kabar baik bagi upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan serta pengurangan dampak kesehatan akibat kemarau panjang.

Namun, di sisi lain, awal musim hujan menjadi pengingat akan meningkatnya potensi bencana seiring menuju puncak musim hujan pada Desember hingga Februari. Pada periode tersebut, intensitas curah hujan diperkirakan semakin tinggi.

Kundarto menerangkan, ketika hujan mulai turun di lahan yang sebelumnya kering, air akan meresap ke dalam tanah. Seiring meningkatnya kejenuhan tanah, aliran permukaan mulai terbentuk dan semakin kuat ketika intensitas hujan meningkat.

Aliran permukaan tersebut dapat mengikis dan mengangkut butiran tanah sehingga memicu erosi. Ketika tekanan air semakin besar dan daya ikat tanah berkurang akibat kerusakan vegetasi, risiko terjadinya tanah longsor pun meningkat.

Aliran permukaan selanjutnya akan menuju badan sungai terdekat. Akumulasi aliran air dari kawasan hulu dapat meningkatkan risiko banjir bandang, terutama di titik-titik pertemuan aliran yang mengalami hambatan alam. Sementara itu, peningkatan debit air sungai juga dapat memicu banjir di kawasan hilir.

“Akumulasi aliran sungai di kawasan hulu tersebut mampu menghasilkan banjir bandang di beberapa titik pertemuan aliran yang terakumulasi akibat hambatan alam. Akumulasi juga akan menghasilkan bencana banjir di kawasan hilir,” jelas Kundarto.

Ancaman akibat pergeseran musim juga dapat berdampak pada sektor pertanian pangan. Pergeseran kalender tanam yang mundur sekitar 20–30 hari berpotensi memengaruhi jadwal musim tanam pada akhir tahun dan masa panen pada awal tahun berikutnya.

“Para petani yang salah memprediksi waktu tanam bisa mengalami ancaman gagal panen. Jika musim panen mundur dan terjadi pula gagal panen, ini akan memicu kelangkaan pasokan dan lonjakan harga di awal tahun,” pungkas Kundarto.

Menghadapi kondisi tersebut, seluruh pihak perlu berkolaborasi dan bersinergi untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap pergeseran musim. Fokus penanggulangan yang sebelumnya diarahkan pada kebakaran hutan dan lahan perlu diperluas pada upaya mitigasi banjir dan tanah longsor.

Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda-tanda alam, terutama di wilayah dengan lereng curam hingga sangat curam

“Perubahan iklim mendorong batas antar musim menjadi semakin ekstrem dan sering tidak dapat diprediksi secara konvensional. Butuh kecepatan beradaptasi untuk menentukan strategi dari menghadapi kebakaran menuju pengendalian air, erosi, longsor, dan banjir,” tandas Kundarto. (Kusnadi/KIM Berbah)




Tak Surut oleh Hujan, Semangat Sumpah Pemuda Menggema di Kapanewon Depok

Sleman – Hujan yang mengguyur wilayah Yogyakarta sejak Rabu (28/10/2026) dini hari sempat menunda pelaksanaan Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 di halaman Kantor Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman. Meski demikian, gerimis yang reda sekitar pukul WIB tidak menyurutkan semangat peserta untuk mengikuti upacara dengan tertib dan khidmat.

Upacara diikuti unsur pemerintah kapanewon dan kalurahan, TNI-Polri, tenaga kesehatan, tenaga pendidik, serta instansi lainnya. Bertindak sebagai inspektur upacara, Kepala Puskesmas Depok III, drg. Erna Sofiana, membacakan amanat Bupati Sleman, Harda Kiswaya.

Mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”, peringatan tahun ini menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, ketangguhan, dan kepedulian generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman.

Dalam amanatnya, Bupati Sleman mengajak masyarakat meneladani semangat para pemuda yang mengikrarkan persatuan pada 28 Oktober 1928, dengan mengesampingkan perbedaan suku, agama, dan bahasa.

“Persatuan merupakan kekuatan utama dalam menghadapi berbagai tantangan. Nilai-nilai Sumpah Pemuda harus terus kita hidupkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” demikian amanat Bupati Sleman yang dibacakan oleh drg. Erna Sofiana.

Bupati juga menekankan tiga nilai utama dalam tema peringatan, yakni patriotik, gigih, dan berempati. Patriotik diwujudkan melalui kecintaan terhadap tanah air dan komitmen menjaga persatuan. Gigih mencerminkan ketangguhan, kreativitas, serta semangat pantang menyerah, sedangkan berempati diwujudkan melalui kepedulian sosial dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Nilai tersebut selaras dengan pitutur luhur Jawa, “Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah,” yang bermakna kerukunan membawa kekuatan, sedangkan perpecahan mendatangkan kehancuran. Bupati juga mengingatkan pentingnya menerapkan tepa slira dan mulat sarira, yakni menghargai perasaan orang lain serta senantiasa melakukan introspeksi diri.

Selain itu, generasi muda diajak berperan aktif dalam pengurangan risiko bencana, sejalan dengan momentum Bulan Pengurangan Risiko Bencana 2026 yang mengusung tema “Ketangguhan Berawal dari Rumah”. Pemuda diharapkan mengenali potensi ancaman bencana, memahami jalur evakuasi dan titik kumpul, serta memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan informasi yang bermanfaat.

“Jangan hanya menjadi penonton perubahan, tetapi jadilah pelaku yang membawa manfaat bagi sesama,” demikian pesan Bupati Sleman dalam amanatnya.

Pelaksanaan upacara melibatkan petugas gabungan Kapanewon Depok dan Koramil 11/Depok. Pengadministrasi Perkantoran Kapanewon Depok, Agung Nugraha bertugas sebagai perwira upacara, sedangkan Bamin Tuud Koramil 11/Depok, Peltu Rochman bertindak sebagai komandan upacara.

Pengibaran Sang Merah Putih dilaksanakan oleh Serma Supaat, Sertu Sunardi, dan Serda Jati Hary Prayuda dari Koramil 11/Depok. Rangkaian upacara juga diisi pembacaan Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Panca Prasetya KORPRI, serta doa.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 di Kapanewon Depok menjadi pengingat bahwa semangat persatuan tidak sekadar diwujudkan melalui upacara, tetapi juga melalui kedisiplinan, kepedulian, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. (Wasana/KIM Depok)




Sumpah Pemuda Bukan Sekadar Sejarah, Panewu Tempel Ajak Generasi Muda Perkuat Kepedulian

Sleman — Semangat Sumpah Pemuda tidak cukup dimaknai sebagai sejarah perjuangan masa lalu. Nilai persatuan perlu diwujudkan melalui kecintaan terhadap tanah air, ketangguhan menghadapi perubahan zaman, dan kepedulian terhadap sesama.

Pesan tersebut disampaikan Panewu Tempel, Rasyid Ratnadi Sosiawan saat menjadi pembina upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda tingkat Kapanewon Tempel, di halaman Kantor Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Rabu (28/10/2026).

Upacara diikuti seluruh pamong kapanewon serta pamong dan staf kalurahan se-Kapanewon Tempel. Pemerintah Kalurahan Margorejo bertugas sebagai pelaksana upacara.

Dalam amanatnya, Rasyid mengajak generasi muda menjadikan nilai-nilai Sumpah Pemuda sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, terdapat tiga hal penting yang perlu terus ditumbuhkan, yakni cinta tanah air, ketangguhan menghadapi tantangan zaman, dan empati terhadap sesama.

“Pemuda harus meningkatkan cinta tanah air. Semangat kebangsaan jangan hanya menjadi slogan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kecintaan terhadap tanah air dapat diwujudkan dengan menjaga persatuan, menghormati perbedaan, serta mengambil bagian dalam pembangunan sesuai kemampuan masing-masing. Menurutnya, keberagaman harus menjadi kekuatan yang menyatukan, bukan menjadi sumber perpecahan.

Selain nasionalisme, Rasyid menekankan pentingnya membangun karakter tangguh agar generasi muda mampu menghadapi perubahan zaman yang berlangsung semakin cepat.

“Pemuda harus tangguh menghadapi tantangan zaman. Mereka perlu terus belajar, mengembangkan kemampuan, dan beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan jati diri serta nilai-nilai kebangsaan,” katanya.

Menurutnya, ketangguhan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghadapi persaingan, tetapi juga keberanian untuk bangkit ketika menghadapi kesulitan. Generasi muda diharapkan mampu memanfaatkan perkembangan teknologi dan informasi secara bijak serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Di sisi lain, kemampuan dan pencapaian pribadi perlu diimbangi dengan kepedulian sosial. Rasyid mengingatkan agar semangat meraih kemajuan tidak membuat generasi muda kehilangan kepekaan terhadap lingkungan sekitar.

“Penting bagi kita untuk berempati terhadap sesama. Jangan sampai kesibukan mengejar kemajuan membuat kita kehilangan kepedulian terhadap orang-orang di sekitar,” tuturnya.

Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak berhenti setelah upacara selesai. Semangat persatuan perlu diwujudkan dalam pelayanan pemerintahan, kehidupan bermasyarakat, serta berbagai tindakan nyata yang memperkuat kebersamaan. (SBD/KIM TEMPEL)