Pokjanal DBD Kapanewon Depok Perkuat Sinergi Lintas Sektor melalui Gerakan “Bergerak Serentak Cegah DBD Sejak Dini”

Sleman – Kapanewon Depok memperkuat sinergi lintas sektor dalam upaya meningkatkan kewaspadaan dan menekan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui pertemuan Kelompok Kerja Operasional Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (Pokjanal DBD), Selasa (27/10/2026).

Mengusung tema “Bergerak Serentak Cegah DBD Sejak Dini”, kegiatan yang berlangsung di Gedung Sasana Anglocita Tama, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, tersebut diikuti berbagai unsur terkait, mulai dari pemerintah kapanewon, pemerintah kalurahan, puskesmas, dukuh, hingga kader Jumantik.

Pertemuan dihadiri Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Depok FX Suhyadi, perwakilan Pemerintah Kalurahan Condongcatur, Caturtunggal, dan Maguwoharjo, para dukuh, kader Jumantik, serta perwakilan Puskesmas Depok I, Depok II, dan Depok III.

Dalam sambutannya, FX Suhyadi menyampaikan bahwa pertemuan Pokjanal DBD menjadi salah satu upaya memperkuat koordinasi dan sinergi lintas sektor dalam menekan kasus DBD di wilayah Kapanewon Depok.

“Melalui gerakan bersama, seluruh unsur terkait diharapkan dapat meningkatkan kepedulian dan berperan aktif dalam melakukan pencegahan DBD sejak dini,” ujarnya.

Sementara itu, materi mengenai perkembangan kasus DBD dan Angka Bebas Jentik (ABJ) disampaikan oleh perwakilan Puskesmas Depok, Indah Putrianti. Ia menjelaskan, kasus DBD di wilayah Kapanewon Depok cenderung mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian, kewaspadaan dan upaya pencegahan tetap perlu ditingkatkan agar kasus DBD dapat terus ditekan.

Indah juga memaparkan cakupan ABJ pada September 2026. Kalurahan Condongcatur mencatat ABJ sebesar 92,60 persen, Caturtunggal sebesar 92,57 persen, dan Maguwoharjo sebesar 90,24 persen.

“Penanggulangan DBD di Kapanewon Depok masih menghadapi sejumlah tantangan. Tingginya mobilitas penduduk, termasuk banyaknya rumah kos, menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pengendalian DBD,” tutur Indah.

Selain itu, ketergantungan terhadap tindakan pengasapan atau fogging serta masih kurangnya partisipasi masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk juga menjadi perhatian bersama.

Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan tiga pilar peran lintas sektor, yakni komitmen struktural, surveilans rutin, dan kemandirian masyarakat. Komitmen struktural diperlukan untuk memperkuat dukungan dan koordinasi antarinstansi. Sementara surveilans rutin dilakukan melalui pemantauan kondisi lingkungan dan jentik nyamuk secara berkala.

Adapun kemandirian masyarakat diwujudkan melalui keterlibatan aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan dan melaksanakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

Sebagai rencana tindak lanjut (RTL), pertemuan tersebut menghasilkan tiga langkah utama, yakni pembuatan Surat Keputusan (SK) Pokjanal DBD, pelaksanaan Gerakan PSN Serentak, serta optimalisasi pelaporan berkala oleh kader Jumantik.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat koordinasi, meningkatkan efektivitas pemantauan jentik, serta mendorong keterlibatan masyarakat dalam upaya pencegahan DBD. (Tri Suhartati KIM Depok)




Edukasi Pengembangan Ruminansia untuk Peningkatan Kesejahteraan Keluarga

Sleman – Sejumlah akademisi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM) memberikan edukasi tentang pengembangan ternak ruminansia, khususnya kambing, kepada kader dan tokoh masyarakat di Bina Keluarga Lansia (BKL) Mugi Waras, Padukuhan Blendung, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Selasa (27/10/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Hibah Departemen Reproduksi dan Obstetri FKH UGM. Sebanyak 20 akademisi terlibat dalam kegiatan ini, terdiri atas Dekan FKH UGM, Prof. Agung Budiyanto, dosen, serta mahasiswa jenjang S1, S2, dan S3.

Hadir dalam kegiatan tersebut Koordinator Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) Kapanewon Moyudan, Lurah Sumbersari, Dukuh Blendung, Ketua BKL Mugi Waras Djumanah beserta kader, ketua RT/RW, serta tokoh masyarakat setempat.

Dukuh Blendung, Anas Rizky Ikhwanudin, menyampaikan terima kasih atas dipilihnya Blendung sebagai lokasi pengabdian masyarakat FKH UGM tahun 2026. Menurutnya, edukasi yang diberikan memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam memelihara kambing.

“Ilmu yang diberikan dari FKH UGM ini sangat bermanfaat bagi masyarakat kami sehingga ke depan dapat memelihara kambing dengan baik,” ujar Anas.

Hal senada disampaikan Koordinator PKB Moyudan, Wahyu Aryanti Rosaria Bawaningsih. Ia menyampaikan apresiasi atas kembali dipilihnya BKL Mugi Waras sebagai lokasi berbagi ilmu dari FKH UGM.

Sementara itu, Pembina Pengabdian Masyarakat FKH UGM 2026, Prof. Asmarani Kusumawati, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam menjalin hubungan dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

“Diharapkan kegiatan ini dapat mengembangkan wawasan masyarakat dalam memelihara kambing sehingga dapat meningkatkan produksi untuk kesejahteraan, khususnya keluarga lansia,” tutur Asmarani.

Materi edukasi disampaikan oleh tim pengabdian yang terdiri atas mahasiswa dari berbagai jenjang pendidikan. Materi meliputi reproduksi ternak, pengelolaan kandang yang baik, pemberian pakan yang sehat, serta pengenalan dan penanganan penyakit pada kambing.

Pada akhir kegiatan, Dekan FKH UGM, Agung Budiyanto menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Prof. Agung Budiyanto. (Eny Ms/KIM Sumber Biwara Moyudan)




Ziarah ke Makam Mantan Lurah Awali Rangkaian HUT ke-80 Kalurahan Sinduharjo

Sleman — Pemerintah Kalurahan Sinduharjo menggelar ziarah ke makam para mantan lurah sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kalurahan Sinduharjo. Kegiatan yang berlangsung khidmat ini diikuti oleh jajaran pamong kalurahan pada Senin (26/10/2026).

Rombongan ziarah yang berangkat langsung dari kantor kalurahan dipimpin oleh Lurah Sinduharjo, Sudarja, dengan menyusuri sejumlah tempat pemakaman umum.

Kepala Dusun Pedak, Ginanto, menjelaskan bahwa rute ziarah dimulai dari Makam Dusun Pedak, Rejondani, Dayu, dan berakhir di Ngabean Wetan.

Di Makam Pedak, rombongan memanjatkan doa bersama serta melakukan tabur bunga di pusara almarhum Darto Taruno dan sejumlah tokoh serta mantan lurah lainnya, seperti Budi Susanto, Ranu Pratomo, Panto Pratomo, dan Marto Atmojo. Rangkaian doa di lokasi tersebut dipimpin oleh Rois Dusun Pedak, Wahono.

Perjalanan ziarah kemudian dilanjutkan ke Makam Rejondani untuk mendoakan almarhum H. Djamburi dan H. Ahmad Ihsan. Rombongan selanjutnya mendatangi Makam Dayu Prujakan guna berziarah ke makam Wiro Dimejo, Surono, Warsono, dan Dwijo Suyoto, sebelum akhirnya ditutup di Makam Ngabean Wetan.

“Doa dipanjatkan kepada beliau-beliau yang pernah berjasa pada kalurahan, semoga diampuni dosanya dan mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya,” tutur Wahono.

Pemerintah Kalurahan Sinduharjo menyatakan bahwa kegiatan ziarah ini merupakan agenda rutin tahunan yang sarat makna sebagai wujud penerapan prinsip jas merah—jangan sekali-kali melupakan sejarah. Tradisi ini digelar untuk menghormati jasa para pemimpin terdahulu yang telah meletakkan fondasi pembangunan wilayah, sekaligus memohon doa agar Kalurahan Sinduharjo semakin maju dan sejahtera ke depannya. (Ony/KIM Pararta Guna Gamping)




Edukasi Satwa Liar, Destana Banyuraden Ajak Warga Cegah Bahaya Gigitan Ular

Sleman — Pemahaman mengenai penanganan satwa liar sangat penting dimiliki masyarakat untuk mengenali potensi bahaya di lingkungan permukiman, mencegah risiko gigitan ular, serta menjaga keseimbangan ekosistem. Pemahaman ini diusung oleh Relawan Desa Tangguh Bencana (Destana) Banyuraden, Kahana, di sela-sela kegiatan bazar usaha mikro dan kecil (UMK) Banyuraden di Lapangan Sepak Bola Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Senin (26/10/2026).

Melalui kegiatan simulasi edukatif, Kahana mengimbau warga agar menyikapi perjumpaan dengan ular secara tenang, terukur, dan tidak bertindak spontan yang dapat membahayakan diri sendiri.

“Edukasi ini diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan warga sekaligus membangun pemahaman bahwa penanganan satwa liar membutuhkan pengetahuan, bukan sekadar keberanian,” ucap Kahana sambil memandu warga berinteraksi dengan ular sanca kembang (Malayopython reticulatus).

Secara ekologis, ular memegang peran penting sebagai predator pengendali populasi tikus dan hama di kawasan permukiman maupun pertanian. Oleh sebab itu, membunuh ular secara sembarangan bukanlah solusi yang tepat.

Kahana menerangkan dari sisi ilmiah bahwa efek bisa ular dikelompokkan menjadi tiga jenis utama, yakni neurotoksik yang menyerang sistem saraf, hemotoksik yang mengganggu pembekuan darah, serta sitotoksik yang merusak sel dan jaringan tubuh.

“Efek bisa ular berbeda menurut spesies dan tidak selalu terbatas pada satu kelompok,” tandasnya.

Sebagai langkah pencegahan, warga diimbau untuk selalu menjaga kebersihan rumah dan pekarangan, memangkas tumpukan barang bekas, memadai penerangan malam hari, serta segera menghubungi petugas atau relawan terlatih apabila menemukan keberadaan ular di sekitar tempat tinggal.

“Ular tidak boleh dipegang atau ditangkap sendiri, termasuk ketika jenisnya dianggap tidak berbisa, karena identifikasi berdasarkan warna dan bentuk tubuh saja dapat menyesatkan. Langkah tersebut membantu mencegah cedera sekaligus memungkinkan satwa ditangani secara lebih aman,” tegas Kahana. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Wiyana: Sumber Ide yang Kuat Jadi Fondasi Kreativitas dalam Menulis Cerkak

Sleman — Kemampuan menemukan sumber ide menjadi kunci penting dalam proses kreatif menulis cerita cekak (cerkak) atau cerita pendek berbahasa Jawa. Ide yang berangkat dari pengalaman sehari-hari dapat dikembangkan menjadi karya sastra yang menarik, bermakna, serta dekat dengan realitas masyarakat. Hal tersebut disampaikan oleh pegiat sastra Jawa, Wiyana, dalam Pelatihan Menulis Alamkara bersama Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi di RM Sega Welud, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (24/10/2026).

Wiyana menjelaskan bahwa inspirasi menulis tidak harus menunggu datangnya peristiwa besar, melainkan dapat digali dari kepekaan mengamati lingkungan sekitar.

“Kemampuan menangkap hal-hal sederhana menjadi langkah awal untuk melahirkan cerita yang memiliki daya tarik bagi pembaca,” terangnya di hadapan para peserta pelatihan.

Menurut Wiyana, sumber ide dapat berasal dari berbagai hal, mulai dari pengalaman pribadi yang autentik, peristiwa sehari-hari di tengah masyarakat, percakapan antartingkah laku warga, hingga informasi aktual yang bersumber dari media sosial. Kendati demikian, penulis diingatkan untuk selalu mengolah bahan-bahan tersebut melalui imajinasi dan struktur cerita yang matang.

“Meski demikian, penulis perlu memeriksa kebenaran informasi dan tidak sekadar menyalin peristiwa, melainkan mengembangkannya melalui imajinasi, penokohan, konflik, dan alur cerita yang terstruktur,” timpalnya.

Selain itu, sejarah, mitos, karya sastra, film, hingga lirik lagu turut menjadi sumber inspirasi yang kaya untuk memperluas wawasan dan teknik bercerita. Melalui pemahaman ini, para peserta pelatihan diharapkan mampu mengoptimalkan potensi ide di sekitarnya untuk menghasilkan karya sastra yang orisinal.

“Penguatan kemampuan menulis cerkak menjadi sarana ekspresi dan pengembangan literasi, sekaligus berkontribusi dalam merawat bahasa, budaya, serta nilai-nilai kehidupan masyarakat Jawa agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman,” pungkas Wiyana. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)